Ikatan Cinta Suami Korea

Ikatan Cinta Suami Korea
Peran seorang istri


__ADS_3

Seperti biasa, sepasang suami istri yang saling mencintai datang dengan tangan saling bertautan untuk ikut makan malam bersama dengan kedua orang tuanya. Kemudian sang suami menggeser kursi untuk di duduki oleh sang istri yang sangat di cintai nya. Sikap romantis yang selalu mereka tunjukkan setiap kali akan makan bersama membuat nyonya besar Hoon merasa muak sekali melihatnya hingga kali ini dia merasa tidak tahan melihat perlakuan lembut puteranya pada wanita yang dia benci. Dalam hati dia bertanya, kenapa puteranya hanya memperlakukan lembut istrinya sementara pada dirinya sendiri yang notabene nya sebagai ibu kandungnya tidak pernah. Bahkan suaminya sendiripun tidak pernah berlaku lembut padanya.


Sreeettt


Dia berdiri dan hendak beranjak dari tempat duduknya ketika sang putera dan menantunya baru saja mendaratkan pinggul mereka di atas kursi. Namun sebelum nyonya besar beranjak pergi, tuan besar menahan tangannya lebih dulu.


"Kau mau kemana Hyun jung?"tanya tuan besar, sembari memegang tangannya agar tidak pergi.


Nyonya besar melirik pada tangan yang sedang dipegang oleh suaminya." Lepaskan tanganku, aku mau pergi dan makan diluar saja karena aku tidak berselera makan di meja ini malam ini,"jawab nyonya besar, namun sorot matanya menatap tajam ke arah wanita berhijab yang sedang menunduk kan wajahnya.


Norin sendiri mengerti, kehadirannya lah yang membuat nyonya besar tidak ingin makan di meja yang sama dengan nya. Ingin rasanya dia beranjak dari meja makan itu namun dia tidak enak hati pada suaminya terlebih pada sang ayah mertuanya.


"Duduk,"titah tuan besar, pelan namun tegas.


Nyonya besar berdecak kesal."Kenapa kau menahan ku? aku ingin makan di luar."


"Duduk,"bentak ulang tuan besar. Suara kerasnya cukup membuat Norin terperanjat namun tidak bagi Shin. Dia sudah biasa mendengar bentakan sang ayah ketika marah padanya.


Nyonya besar melirik kesal pada suaminya yang mana telah berani membentaknya di depan sang putera terlebih di depan menantu yang sangat di bencinya. Dia merasa wibawanya sebagai nyonya satu satunya di rumah besar itu turun dan rendah.


"Kau berani membentak ku Yeun?"nyonya besar melawan, dia tidak terima, dia menatap tajam pada suami yang sudah berani membentaknya.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak berani membentak mu? apa kau lupa siapa aku di rumah ini? aku adalah kepala keluarga, jadi kalian semua harus menghargai ku dan menuruti perintahku. Dan kau Hyun Jung, lihat meja ini, begitu banyak hidangan lezat kenapa kau bilang tidak berselera?"apa kau tidak bisa menghargai jerih payah orang yang sudah memasaknya untuk kita?"


Tuan besar mengira nyonya besar marah karena menu yang di hidangkan tidak sesuai dengan seleranya. Namun sebenarnya kemarahan nyonya besar bukanlah soal makanan yang di hidangkan melainkan melihat keromantisan yang di tujukan oleh Shin terhadap istrinya yang membuat dirinya iri dan semakin membencinya.


Dada nyonya besar terlihat naik turun menahan amarahnya setelah di bentak oleh tuan besar. Dia tidak bisa meluapkan kemarahannya saat ini karena dia sendiri tidak mampu melawan kekuatan suaminya.


"Liu..."


"Iya tuan besar,"sahut Liu yang sedang berdiri di belakang nyonya besar.


"Berapa lama kau membutuhkan waktu membuat hidangan lezat ini?"


"Kau dengar Hyun Jung, Liu memasaknya selama dua jam. Apa kau pikir dua jam itu waktu yang sebentar? kenapa kau tidak bisa menghargai jerih payahnya?"


Nyonya besar masih tetap berdiri angkuh. Dia masih saja merasa gengsi jika menuruti perintah suaminya sendiri.


"Duduk, aku katakan duduk,"titah tuan besar. Namun untuk ketiga kalinya dia menuruti perintah suaminya karena dia tidak ingin di bentak kembali.


Liu yang merasa di puji dan di bela oleh tuan besar merasa tidak enak hati pada wanita berhijab yang hanya menunduk kan wajahnya saja. Mestinya apa yang di ucapkan oleh tuan besar lebih pantas di tujukan pada nya karena dialah yang memasak semua ini, Liu hanya sekedar membantunya saja.


Shin menggenggam telapak tangan Norin, dia merasa bangga padanya, karena ayahnya telah memuji masakannya bahkan membelanya meskipun hanya melalui perantara pelayan nya. Sembari menunduk norin melirik suaminya. Shin tersenyum tipis padanya dan dia membalas senyumannya.

__ADS_1


"Ehem."Tanpa mereka sadari kelakuan mereka berdua telah di perhatikan oleh tuan besar Hoon. Shin melepas genggaman tangannya dan membenarkan kembali duduknya.


"Apa bisa mulai makan sekarang dad? aku sudah sangat lapar,"tanya Shin.


Tuang besar Hoon mengangguk. Shin tersenyum melihatnya dan dengan rasa tidak sabar dia hendak mengambil centong di atas nasi namun Norin lebih dulu mengambil centong itu.


"Biar aku saja yang mengambil nya untuk mu," kata Norin, lalu menyendok kan satu centong nasi ke atas piring milik Shin dan menaruh lauk pauk di atasnya.


"Terima kasih sayang,"ucap Shin dan Norin mengangguk.


Apa yang di lakukan oleh Norin pun tak luput dari perhatian sorot mata tua tuan besar Hoon. Dia merasa kagum melihat puteranya mendapat perlakuan baik dari istrinya. Dia melirik nyonya besar Hoon yang hanya memasang wajah masam saja. Dia berharap istrinya pun dapat bersikap seperti sang menantu yang dapat melayaninya di meja makan namun nyonya besar tidak peka dan tidak peduli karena dari dulu pun nyonya besar tidak pernah bersikap manis padanya. Dan dengan terpaksa tuan besar Hoon mengambil makanannya sendiri karena dia tidak mungkin mengharap pada istrinya untuk bersikap sama dengan sang menantu.


Sejak dari pertama menikah, nyonya Hoon sudah di manja kan dengan harta meskipun dulu perusahaanya belum sesukses sekarang. Apa pun yang Hyun Jung inginkan selalu di turuti olehnya. Bukan karena cinta namun karena rasa tanggung jawabnya sebagai seorang suami yang wajib membahagiakan istri dengan harta karena mereka sendiri menikah atas perjodohan kedua orang tuanya. Namun apa yang di lakukan oleh tuan besar tidak ada timbal baliknya dari nyonya besar meskipun hal kecil. Tuan besar tidak mempedulikan sikap nyonya besar padanya selama usia pernikahan mereka. Bagi tuan besar, yang terpenting adalah nyonya besar tercukupi kebutuhan materinya. Hingga dia menua dan memiliki seorang menantu serta melihat bagaimana cara perlakuan manis sang menantu terhadap puteranya, tuan besar Hoon baru menyadari akan penting nya peran seorang istri.


Mereka makan dalam diam hingga makanan di atas piring tuan besar Hoon habis tak tersisa. Dia melirik ke depannya masih ada sisa makanan yang belum habis. Shin yang mengetahui jika sang ayah sedang memperhatikan sisa makanan itu menggodanya.


"Habis kan saja Daddy, tidak apa apa aku dan istriku sudah kenyang benarkan sayang?"


Norin tersenyum dan mengangguk.


Setelah Shin berkata dan tanpa ada rasa malu, tuan besar meletak kan beberapa makanan di atas piring nya lalu memakannya hingga habis. Norin tersenyum tipis melihatnya, saking tipisnya hingga tak nampak jika hanya sekilas melihatnya. Dia senang sekali masakannya di sukai oleh sang ayah mertua meskipun beliau sendiri tidak mengetahui bahwa yang sedang di makan olehnya merupakan hasil olahannya.

__ADS_1


__ADS_2