
Malam ini tidak ada yang bisa Shin lakukan selain duduk termenung memikirkan dimana keberadaan istrinya. Bahkan dia sampai melewatkan makan malamnya. Shin pikir mana mungkin dia bisa makan enak sementara istrinya di luar sana tidak tau bagaimana kabarnya. Apakah dia dalam keadaan baik baik saja atau...Shin geleng-geleng kepala mengusir pemikiran buruk tentang Norin.
"Kamu dimana sayang? tolong maafkan aku jika aku benar benar melukai hatimu dan membuat mu marah. Tolong kembali lah! aku janji tidak akan lagi menyakiti perasaan mu secuil pun. Kau tau, aku tidak bisa hidup tanpa mu. Tolong kembali lah dan jangan tinggalkan aku sayang." Shin menatap nanar photo Norin yang terdapat di ponselnya. Dia mengelus wajah cantik itu dan menciumi nya terus menerus. Bersamaan dengan itu, sudut matanya mengeluarkan air mata. Sesedih itu Shin malam ini tanpa kehadiran Norin di sisinya.
Tok tok
Sebuah ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya. Shin memencet tombol pintu setelah tahu siapa yang sedang berdiri di balik pintu kamar nya.
Tuan besar memasuki kamar Shin setelah pintu terbuka lebar. Shin melirik sekilas pada sang ayah yang sedang berjalan ke arahnya dan memfokuskan kembali menatap wajah cantik istrinya. Tak lama kemudian, Liu mengekor di belakang tuan besar membawa sebuah nampan.
"Tolong letak kan saja di atas meja itu, Liu!" titah tuan besar pada Liu yang sedang memegang nampan.
"Baik, Tuan." Liu meletak kan nampan berisi menu makanan di atas meja tepat di hadapan Shin yang sedang duduk dan fokus menatap layar ponselnya. Namun ternyata di balik itu Shin melirik aktifitas Liu dengan ekor matanya."Siapa yang menyuruh bibi repot-repot membawakan makanan untuk ku?"Tanya Shin dingin.
"Aku, aku yang menyuruhnya untuk membawakan nya kemari." Sebelum Liu menjawab pertanyaan Shin, tuan besar lebih dulu menjawabnya.
Shin melirik kesal pada sang ayah." Aku bukan anak kecil dad."
"Tapi bagiku saat ini kau seperti anak kecil."Ucap tuan besar meledek.
Shin mendengus kesal.
"Makan lah, kau belum makan malam bukan?"
"Aku tidak mungkin bisa makan jika aku belum tau apakah istriku sudah makan atau belum di luar sana."
Tuan besar terdiam memikirkan cara untuk membujuk Shin agar dia mau makan.
__ADS_1
"Kalau kau tidak makan kau akan sakit dan kalau kau sakit bagaimana bisa mencari istrimu?"
Shin menghentikan gerakan jarinya di atas layar ponsel. Apa yang dikatakan oleh ayahnya benar jika dia sakit bagaimana bisa mencari keberadaan istrinya. Shin pun mengalihkan pandangannya pada makanan yang terhidang lalu mulai memakannya. Dia makan dengan lahap dan tidak menghiraukan keberadaan sang ayah yang masih berdiri tegak di sampingnya. Tuan besar tersenyum melihat tingkah laku Shin.
"Apa kau sudah menghubungi keluarganya di Indonesia?"tanya tuan besar pada Shin yang sedang mengunyah makanan.
Shin buru buru menelan makanan yang ada di dalam mulutnya." Kenapa kamu bisa berpikir ke arah keluarganya, dad?" Shin balik bertanya dengan nada menyelidik.
Tuan besar menggaruk tengkuknya."Ya, ya siapa tau saja dia pulang ke Indonesia tanpa memberitahu kita."
"Tidak mungkin. Istriku pasti akan meminta ijin padaku terlebih dahulu sekalipun hanya ke taman belakang. Dan istriku tidak akan pergi selangkah pun jika aku tidak mengijinkan nya. Jangan samakan istriku dan mommy yang pulang pergi sesuka hatinya dad. Istriku sangat berbeda sekalipun dia marah padaku karena kesalahan ku dia tetap akan selalu menurut padaku. Kau tau dad, apa yang membuat aku sangat mencintainya? bukan sekedar kecantikan wajah yang dia miliki tapi kecantikan hatinya yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata kata."
Tuan besar Hoon hanya diam. Dia tidak bisa bertanya maupun berkata apa apa lagi pada Shin yang sudah sangat jelas bahwa sang putra tunggal nya itu sangat mengagumi serta mencintai wanita yang sedang dia tuntut untuk segera memberikan seorang cucu.
Tuan besar menghela nafas berat."Istirahat lah, aku tidak ingin kau sakit. Besok kita cari istrimu lagi." Setelah berkata tuan besar beranjak pergi dari kamar Shin dengan perasaan bimbang.
Shin masih betah berbaring di bawah selimut tebal. Tadi malam entah jam berapa dia baru bisa tidur setelah sekian lama meratapi wajah Norin di layar ponsel hingga dia tertidur sembari memeluk ponsel miliknya itu.
Getaran ponsel yang berada di atas dadanya mengusik tidurnya dan seketika itu pula dia membuka kelopak matanya lebar lebar. Berharap orang yang menelponnya itu adalah istrinya, istri yang sangat di rindukan nya. Namun setelah dia mengetahui siapa yang sudah mengganggu tidur lelapnya, dia langsung melempar ponsel itu ke atas kasur.
"Menyebalkan sekali pagi pagi sudah mengganggu ku saja." Umpat Shin kesal.
Tak lama ponsel itu bergetar kembali namun Shin tidak menghiraukannya. Dia justru kembali menutupi tubuhnya dengan selimut lalu memejamkan matanya.
"Liu!" Tuan besar Hoon menghampiri Liu ketika sedang merapikan menu makanan di atas meja untuk sarapan pagi ini.
Liu menoleh padanya dan menyahut." Iya tuan."
__ADS_1
"Apa kau sudah melihat tuan muda turun dari kamarnya?"
Liu menggeleng." Belum tuan, tuan muda nampaknya belum turun."
Tuan besar melihat pada jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukan pukul delapan pagi.
"Kau_antar kan saja makanan ke kamarnya. Nampak nya dia tidak akan makan satu meja denganku pagi ini."
"Baik tuan. Tapi, apa Nyonya besar juga tidak akan turun untuk sarapan di sini, tuan?" Liu terpaksa bertanya karena dia tidak melihat keberadaan nyonya besar di samping tuan besar.
Tuan besar menggeleng." Tadi malam dia pergi ke London dan aku tidak tahu kapan dia akan kembali."
Liu terdiam. Dia tidak mengerti pada pasangan suami istri ini. Sudah puluhan tahun mereka tinggal bersama, satu atap dan satu kamar tapi kenapa hidup mereka seperti orang lain. Tidak pernah peduli pada urusan masing masing. Liu tahu mereka menikah karena perjodohan dan tentu saja tanpa cinta. Tapi yang membuat Liu heran kenapa mereka bertahan hingga puluhan tahun? Liu tidak yakin penyebabnya karena tuan muda Hoon yang membuat mereka bertahan karena sejak tuan muda masih kecil mereka sudah tidak peduli.
"Emm, sebentar Liu." Tuan besar mencegah Liu yang hendak beranjak.
"Iya tuan, apa ada hal lain yang perlu saya lakukan lagi?"
"Aku sudah lama sekali tidak makan makanan lezat itu."
"Maksud tuan?"
"Maksud ku, aku minta kamu masak beef rendang untuk makan malam ku nanti. Aku yakin Hoon pun ingin memakannya."
Seketika Liu tercengang mendapat perintah untuk memasak beef rendang. Mana mungkin dia bisa memasaknya karena dia tidak tau resep bumbu beef rendang itu meskipun beberapa kali dia membantu nyonya muda memasaknya dia tidak pernah memperhatikan soal bumbu.
"Kenapa Liu, apa kau keberatan?" Tuan besar merasa aneh melihat sikap Liu yang seolah olah terkejut sekali.
__ADS_1
"Ma..maaf tuan, sebenarnya...beef rendang yang sering kali tuan makan itu....masakan nyonya muda Norin bukan saya." Ucap Liu menunduk. Liu berterus terang karena tidak ingin terus menerus berbohong. Dia ingin tuan besar mengetahui lalu menghargai betapa berharganya nyonya muda yang selama ini di perlakukan tidak baik olehnya serta nyonya besar. Meskipun dia harus menanggung akibatnya mendapat kemurkaan dari tuan besar.