Ikatan Cinta Suami Korea

Ikatan Cinta Suami Korea
Menemukan Norin


__ADS_3

Tangan cekatan Liu sibuk mengelap meja kitchen set. Tanpa ia sadari tuan besar memperhatikan gerak gerik nya di belakang punggung nya.


"Ehem, apa kamu sedang sibuk, Liu?"


Liu terperanjat lalu berbalik."Tu..tuan besar." Pupil matanya melebar melihat kedatangan tuan besar ke area dapur yang tak pernah di sangka. Sebab, tidak biasanya tuan besar mencari nya hingga ke tempat dimana dia sering menghabiskan waktu kesehariannya.


Tuan besar tersenyum melihat ekspresi terkejut Liu lalu melangkah lebih dekat." Apa aku mengejutkan mu, Liu?"


Liu menggelengkan kepalanya lalu menunduk.


"Apa kamu sangat sibuk?"


Liu menegak kan arah pandangan nya dan menatap tuan besar."Sedikit tuan. Apa...apa ada yang bisa saya bantu, tuan?" Liu balik bertanya.


"Emm, ada tapi karena kamu sedang sibuk jadi nanti saja. Ya sudah. Maaf aku sudah mengganggu mu." Setelah berkata, tuan besar beranjak pergi meninggalkan Liu yang tengah terbengong. Namun baru beberapa langkah dia berbalik kembali dan melihat pada Liu.


"Oya Liu, aku hampir lupa. Nanti akan ada tamu penting yang akan berkunjung ke rumah ini. Kalau kamu tidak keberatan bisakah kamu menghidangkan makan siang untuk tamu-tamu ku nanti?"


Liu mengangguk cepat."Tentu saja tuan, tentu saja bisa."


Tuan besar menggaruk pelipisnya dan manggut-manggut kecil." Baik kalau begitu. Tapi nanti kamu jangan masak sendirian suruh pelayan yang lain untuk ikut membantumu karena....aku tidak ingin kamu kelelahan." Setelah berucap, tuan besar menyunggingkan senyum lalu beranjak pergi meninggalkan Liu yang sedang menatap bengong ke arahnya. Liu merasa heran pada perubahan sikap tuan besar yang lebih hangat padanya. Sikap yang tidak biasa tuan besar tunjukan padanya sebelumnya.


"Ada apa dengan tuan besar? kenapa sikap nya berubah hangat padaku?aneh sekali."


Sementara di area taman belakang rumah besar itu, Ji Eun melangkah setengah berlari menuju dimana Yuan berada sembari memanggil namanya.


"Paman, paman!"


Kedua ekor mata Yuan mengedar ke segala arah ketika menangkap suara berisik Ji Eun. Setelah itu, dia menautkan kedua alisnya setelah melihat Ji Eun sedang berlari ke arahnya.


"Kenapa kau lari lari seperti itu, Ji Eun?" Tanya Yuan setelah ji Eun berada di hadapannya.


"Paman, apa kau sudah mendengar Tuan besar akan ke lapangan golf pagi ini?" Ji Eun balik bertanya dengan nafas yang tersengal sengal.


Seketika muka Yuan memancarkan muka tercengang mendengar kabar yang di sampaikan oleh Ji Eun." Apa..apa kau serius?" Yuan bertanya dengan cemas.


"Aku serius, paman. Aku mendengarnya sendiri jika hari ini akan ada tamu penting dan tuan besar akan menjamunya dengan bermain golf."


Yuan terdiam dengan pikirannya.


"Paman, apa kira-kira wanita itu sudah mati?"


Yuan nampak berpikir sembari menggaruk kecil keningnya." Aku tidak tau tapi...Emm, aku rasa sudah. Dua hari tidak makan siapa yang akan tahan."

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya kita cek dulu?"


"Tidak usah."


"Bagaimana jika dia masih hidup?"


"Tidak. Aku rasa dia sudah mati."


"Semoga saja. Tapi paman, kenapa nyonya besar pergi ke luar negeri? apa dia tidak ingin melihat menantunya sudah membusuk?"


Yuan mengedik kan kedua bahunya dan berkata."Mana ku tahu. Sudah lah kau pergi. Aku mau bekerja lagi."


"Aku sangat tidak sabar menunggu berita itu hahaha." Ji Eun tertawa keras sembari melangkah pergi.


Shin keluar dari kolam renang dalam keadaan bugar setelah menghabiskan waktu setengah jam olah raga berenang. Kemudian dia menutupi tubuhnya dengan handuk kimono dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Selamat pagi Tuan muda?" Liu menyapa nya sembari membawa nampan berisi satu gelas air jeruk.


Shin melirik ke samping kanannya dimana Liu sedang meletak kan minuman itu di atas meja."Oh, bibi, kenapa harus repot membawakan aku minuman?"


Setelah meletak kan gelas itu, Liu melirik Shin dan berucap," tidak apa tuan. Saya rasa tuan pasti haus."


Shin tersenyum lalu mengambil gelas itu." Terima kasih bibi," ucap nya, kemudian meneguk nya.


"Baik Bi, terima kasih. Aku pergi dulu." Kemudian Shin beranjak meninggalkan Liu seorang diri.


Liu menatap kepergian Shin dengan perasaan iba." Kasihan tuan muda, semoga nyonya muda segera di temukan."


Dua jam berlalu. Shin dan tuan besar menyambut hangat kedatangan tamu yang sudah di tunggu oleh mereka.


"Selamat pagi dan selamat datang di kediaman kami, tuan Park? Tuan besar menyapa pria yang nampak masih sangat muda dan tampan. Begitu pula dengan Shin menyapa dan memberi hormat pada pria itu.


"Saya senang, akhirnya saya bisa berkunjung ke istana anda yang megah ini, tuan Yeun."


"Anda berlebihan sekali, tuan Park. Rumah anda jauh lebih megah."


Pria itu tertawa renyah." Tidak, tuan Yeun. Rumah itu rumah orang tua saya dan saya sendiri hanya tinggal di apartemen kecil saja.


"Ha ha ha. Anda terlalu merendah kan diri anda tuan Park."


"Ha ha ha."


"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kita langsung ke lokasi saja."

__ADS_1


"Baik lah."


Shin mengiringi langkah para tamu yang berjumlah empat orang hingga sampai di lokasi.


Tiba di lapangan golf, pandangan park mengedar ke segala penjuru. "Wow, its really amazing."


Tuan besar tertawa lebar mendengar pujian park. Sementara Shin menyunggingkan senyum tipis.


"Emm, tuan. Apakah disini ada toilet?" Tanya salah satu tamu pada tuan besar.


"Ada tuan, di dalam Paviliun sana," tunjuk tuan besar pada paviliun yang berjarak seratus meter dari tempat mereka berdiri.


"Oh."


"Apa tidak sebaiknya kita istirahat di paviliun terlebih dahulu," kata Shin pada mereka.


"Nanti saja setelah kita bermain golf. Saya sudah tidak sabar ingin segera bermain.


"Kalau begitu saya ingin buang air kecil dulu di paviliun itu."


"Jangan lama lama Jack," ucap park.


"Baik tuan." Kemudian pria itu melangkah cepat menuju paviliun. Keinginan untuk membuang air kecil itu sudah tidak dapat di tahan lagi.


Pria itu memasuki paviliun yang tidak terkunci. Setelah terbuka, dia masuk lalu tergesa gesa mencari sebuah toilet.


Brughh


"Aduh." Tiba tiba pria itu terjatuh setelah tanpa sengaja menabrak tubuh manusia yang tergelak di atas lantai dalam keadaan meringkuk. Seketika itu pula pupil matanya membesar lalu berlari terbirit birit keluar Paviliun.


"Ada mayat, ada mayat." Teriak nya sembari berlari ke arah perkumpulan orang-orang yang tengah bermain golf.


Semua orang yang ada di sana menoleh pada pria yang berlari ke arah mereka.


"Hei, Jack, kenapa kau berlari ?" tanya park.


"A..ada...ada..ada mayat...di..di Paviliun ,tu..tuan!" jawab pria itu dengan nafas tersengal sengal.


"Mayat! mayat apa maksud mu?" Tanya tuan besar dengan wajah terkejut sekaligus tidak percaya.


"Ma...manusia tuan."


Tiba tiba shin merasa gelisah kemudian Dia melangkah cepat ke arah paviliun di ekori oleh tuan besar serta para tamu lainnya.

__ADS_1


Setelah berada di paviliun, betapa terkejutnya Shin telah mendapati tubuh wanita yang sudah dua hari ini di carinya sedang meringkuk di atas lantai.


__ADS_2