
"Liu...!"panggil tuan besar Hoon pada pelayan wanita berusia empat puluh lima tahun dan sudah puluhan tahun bekerja dengannya. Liu mendekat lima langkah dan berdiri tepat di samping pria paruh baya yang masih nampak gagah dan sudah menjadi majikanya selama separuh usianya.
"Iya tuan besar,"sahut Liu dengan sedikit membungkuk kan punggungnya.
Tuan besar Hoon melirik dimana pelayan itu berdiri kemudian berkata,"aku ingin request untuk menu nanti malam. Kau siapkan seperti menu tadi malam."
Liu terdiam, mulutnya sedikit menganga menampakkan wajah bingungnya.
"Bagaimana Liu?"tanya tuan Hoon.
"Eeeeee....."Liu berfikir sembari ekor matanya melirik pada Norin yang juga tengah menatapnya, karena Liu tidak bisa memutuskan dia bersedia atau tidak, sebab, menu itu merupakan hasil resep sang nyonya muda.
Norin mengerti kebingungan pelayan yang seolah olah mengharap jawaban darinya. Kemudian dia sedikit mengangguk sebagai isyarat bahwa dirinya menyanggupi untuk membantu menyiapkan apa yang tuan besar Hoon inginkan. Liu yang mendapat sinyal dari Norin mengembangkan senyum kemudian menjawab dengan cepat dan tegas.
"Baik, tuan besar, saya bersedia."
Tuan besar Hoon manggut-manggut kecil, kemudian meminta Liu menyingkir dari sampingnya dan Liu menurutinya. Setelah Liu menyingkir, pandangannya di alihkan pada putera satu satunya dan berkata,"Kau ingat, hari ini akan ada pertemuan penting dan Daddy harap kau datang tepat waktu."
Shin mengangguk.
Tuan besar Hoon bangkit lalu beranjak pergi begitu saja dari meja makan. Shin berdecak kesal melihat ayahnya yang pergi tanpa pamit pada mereka.
"Dasar pria tua tak tau malu, main pergi saja tanpa mengucapkan terima kasih dulu pada istriku,"umpat Shin kesal.
"Huuss...Jangan bicara seperti itu biarkan saja, yang penting Daddy mau memakan hasil buatan ku itu sudah lebih dari cukup," ucap Norin tulus.
"Bagaimana tidak memakannya, hasil olahan istri ku memang sangat enak. Lihat itu di atas piringnya tidak ada sisa sedikitpun, dia memakannya sampai habis."
Norin melihat pada sebuah piring yang di tunjuk oleh Shin, piring bekas tuan besar Hoon sarapan, seulas senyum tersungging di bibirnya.Tidak biasanya tuan besar Hoon memakan sesuatu hingga habis karena biasanya dia selalu menyisakan makanan di atas piringnya.
"Sayang, aku harus berangkat kerja sekarang apa kamu mau mengantar aku hingga depan?"
__ADS_1
"Tentu saja."
Kemudian mereka bangkit lalu melangkah beriringan dengan tangan yang saling bertautan hingga sampai pada sebuah mobil yang sudah menunggu dan bersiap membawa Shin hingga kantor.
"Sayang, aku berangkat kerja dulu dan mungkin akan pulang sedikit terlambat,"ucap Shin sebelum menaiki mobilnya.
Norin mengangguk sembari tersenyum. Kemudian dia mencium tak'jim tangan sang suami dan Shin mengecup keningnya. Hal itu bertepatan dengan keluarnya nyonya besar Hoon yang hendak pergi dengan mobilnya. Shin dan Norin menyadari jika ada nyonya Hoon di dekat mereka lalu menoleh padanya.
"Kau mau kemana mom?" tanya Shin.
"Bukan urusan mu,"jawab nyonya Hoon dengan ketus, kemudian melangkah anggun menuju mobil yang sudah dibukakan oleh sopir pribadinya. Shin geleng-geleng kepala saja melihat sikap serta penampilan ibunya. Memakai pakaian terbuka layaknya seperti seorang gadis muda. Sebenarnya Shin malu sekali melihatnya terutama dia malu pada istrinya yang berpakaian tertutup.
"Ya sudah sana pergi nanti kau terlambat," titah Norin setelah nyonya Hoon pergi.
"Meskipun terlambat siapa yang akan berani memarahiku?"canda Shin.
"Setidaknya seorang bos itu harus memberi contoh yang baik pada bawahannya agar mereka mencontohnya."
Norin memandangi mobil yang di tumpangi oleh suaminya hingga menjauh. Setelah tidak terlihat lagi oleh matanya, dia beranjak masuk ke dalam rumah.
"Bibi Liu..."panggil Norin seraya berjalan ke arah Liu yang sedang sibuk membereskan meja makan. Liu menghentikan pergerakan tangannya kemudian menoleh.
"Iya nyonya muda,"sahut Liu.
"Apa stok saos khusus sandwich masih tersedia?"tanya Norin setelah mendekat.
"Maaf nyonya sudah habis dan tinggal ini," kata Liu sembari menunjukkan satu botol saos yang ada di tangannya, saos hasil buatan tangan Norin sendiri.
Karena Shin penyuka sandwich Norin berinisiatif membuat saos sendiri. Menurutnya membuat sendiri terjamin kualitasnya baik dari segi bahan hingga prosesnya. Selain itu, saos buatannya juga terjamin kebersihannya dan sehat. Karena selain tidak menggunakan bahan pengawet, bahan-bahan yang di olah merupakan bahan-bahan yang masih segar.
Mulanya Norin ragu, dia takut saos buatannya tidak sesuai dengan selera suaminya, namun siapa sangka Shin sangat menyukainya. Norin sendiri tidak pernah memberitahu tentang saos yang sering Shin konsumsi hampir tiap pagi dan Shin pun tidak pernah mempertanyakan tentang saos tersebut.
__ADS_1
"Oh begitu, berarti saya harus segera membuat nya lagi bi."
"Tapi maaf nyonya bahan mentah nya pun sudah habis."
"Apa bibi serius?"
Liu mengangguk.
"Norin menghembuskan nafas besar."Ya sudah bibi, nanti saya akan membelinya terlebih dahulu."
Norin berjalan menuju kamarnya, di tengah jalan dia melihat Ji Eun dan Liam sedang berdebat, entah apa yang mereka perdebatkan sehingga suara mereka terdengar begitu nyaring di telinganya. Dari jarak yang tidak terlalu jauh Norin memperhatikan perdebatan antara dua pelayan yang berbeda usia itu.
"Enak saja kau menyuruhku untuk melakukan pekerjaan yang bukan pekerjaanku. Apa kau pikir kau nyonya di rumah ini?"sungut Liam, dia nampak begitu marah pada Ji Eun karena Ji Eun memintanya untuk membersihkan area yang bukan bagiannya.
"Apa kau tidak tau siapa aku di rumah ini? aku adalah calon nyonya di rumah ini, jadi apa pun yang aku perintahkan padamu harus kau turuti," balas Ji Eun dengan percaya diri.
Liam berdecak,"Jangan berkhayal terlalu tinggi Ji Eun, apa kau pikir hidup mu sedang di negeri dongeng? seorang pelayan menikah dengan seorang anak raja. ha ha ha. Kau itu hidup di dunia nyata sebagai pelayan dan tidak akan pernah menikah dengan anak raja," ejek Liam dengan nada pedas.
Ji Eun tersenyum miring mendapat ejekan dari lawan bicaranya kemudian masih dengan percaya diri yang tinggi dia membalasnya." Lihat saja, setelah aku menikah dengan tuan muda Hoon, kau pelayan pertama yang akan aku singkirkan dari rumah ini."
"Ha ha..jangan bermimpi bisa menikahi tuan muda Hoon, kau lihat istrinya jauh lebih sempurna dari pada kau dan tuan muda Hoon sangat mencintainya. Lebih baik kau berkaca di cermin yang besar Ji Eun agar kau sadar siapa dirimu."
Dada ji Eun bergemuruh hebat mendapat ejekan dari wanita satu profesi dengannya. Terlebih dia di bandingkan dengan istri tuan muda Hoon, wanita yang sangat di bencinya. Kedua tangannya mengepal, dia mendekat hendak meraih rambut Liam sambil berkata," dasar perawan tua cerewet." Bersama dengan itu Ji Eun berhasil menarik rambut Liam yang sudah nampak memutih dan Liam sendiri tidak sempat menghindari gerakan cepat tangan Ji Eun.
"Awww,"pekik Liam, rambut nya di tarik kuat oleh Ji Eun.
"Brengsek kau Ji Eun, lepaskan rambut ku." Liam mengumpat kesal. Dia berusaha meraih tangan Ji Eun yang sedang menarik kuat rambutnya.
"Tunjuk kan padaku sehebat apa kau bisa melawan ku perawan tua yang tak laku laku," ejek Ji Eun, sembari terus menarik rambut Liam ke belakang.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Norin menatap geram pada tingkah Ji Eun yang telah menyakiti sesama seprofesinya. Kemudian dia berjalan cepat mendekati mereka.
__ADS_1
"Lepas kan rambut bibi Liam, Ji Eun!" Suara lantang Norin menggema di rumah besar tersebut.