Ikatan Cinta Suami Korea

Ikatan Cinta Suami Korea
Rindu keluarga


__ADS_3

Perdebatan pun masih berlangsung antara Liam dan Ji Eun. Liam menuduh Ji Eun yang telah sengaja membasahi lantai dengan sabun. Sementara Ji Eun sedikitpun tidak mengakui bahwa itu merupakan perbuatannya. Dia marah besar hingga hendak menjebak rambut Liam namun Norin mencegahnya terlebih dulu.


"Hentikan...!"teriak Norin hingga kedua pelayan itu terdiam seketika.


"Aku tidak tau ini perbuatan siapa? tapi jika nanti aku mengetahui siapa orang yang hendak mencelakai kami, aku tidak segan segan akan melapor kan orang itu pada suamiku."Norin mengancam mereka semua meskipun sebenarnya dia memiliki firasat yang sama dengan Liam bahwa Ji Eun lah dalangnya. Tapi mengingat tidak ada bukti yang menjurus bahwa Ji Eun sebagai pelakunya, dia tidak berani menuduhnya begitu saja.


"Sekarang kalian bubar dan kerjakan pekerjaan kalian masing masing," titah Norin.


Sebelum Ji Eun pergi, dia menatap tajam ke arah Liam dan mengacungkan jempol terbalik sembari ter sersenyum miring. Sontak saja apa yang Ji Eun lakukan membuat Liam emosi dan hendak menyerangnya namun Liu lebih dulu mencegahnya.


"Tahan emosimu Liam," kata Liu. Menahan Liam mendekati Ji Eun. Dengan terpaksa Liam menahan kemarahannya pada wanita yang selalu berulah itu.


"Pantas saja tidak ada pria yang mau menikahi mu hingga tua, karena kau wanita jelek dan bar bar, ha ha ha."Kemudian Ji Eun melangkah pergi sembari tertawa keras mengejek Liam, sementara Yuan mengekor di belakangnya. Yuan sendiri merupakan paman Ji Eun yang bekerja sebagai penanggung jawab taman jadi hal yang wajar jika Liam mencurigai mereka telah bersekongkol.


Liam menatap kesal ke arah Ji Eun yang sedang berjalan sembari menertawakan nya. Rasanya dia ingin sekali merobek mulut wanita itu jika tidak di halangi oleh Liu.


Norin melirik Suhe, salah satu pelayan memiliki usia yang sama dengannya. Suhe sendiri sudah menikah dan memiliki satu orang Puteri dan saat ini tinggal bersama orang tua nya di kampung halamannya. Sementara suaminya bekerja sebagai buruh proyek.


"Suhe, apa anda masih merasa sakit"tanya Norin.


"Sudah tidak lagi nyonya."


"Syukur lah kalau begitu anda boleh kembali bekerja."


"Baik, nyonya."Kemudian Suhe beranjak pergi.


"Nyonya, saya merasa semua ini atas ulah Ji Eun," kata Liam, setelah Suhe menjauh.


"Tapi kita tidak memiliki bukti Bibi Liam, kita tidak boleh menuduh seseorang tanpa bukti."


"Apa yang di katakan nyonya muda benar Liam, kita tidak bisa sembarang menuduh Ji Eun.


"Tapi kita harus berhati hati pada Ji Eun dan Yuan karena mereka adalah ular yang sewaktu waktu bisa mematok kita."


Liu manggut-manggut.


Norin menarik nafas pendek."Ya sudah bibi Liam, bibi boleh kembali," titah Norin.

__ADS_1


"Ah ya, nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu,"ucap Liam, kemudian bergegas pergi.


"Bibi Liu, apa kita akan memulai masak sekarang?"tanya Norin pada Liu setelah kepergian Liam.


"Oh ya nyonya, lebih baik sekarang saja karena hari semakin sore dan saya takut tuan serta nyonya besar akan segera kembali." Liu menyetujui. Setelah itu, mereka beranjak pergi beriringan menuju dapur.


Norin dan Liu mulai sibuk di dapur, memasak menu yang di inginkan oleh tuan besar Hoon. Terlihat Norin bersemangat sekali karena hal ini lah yang dia inginkan dari mertuanya menyuruh nya memasak dan mereka menghargai lalu memakan hasil masakannya. Merupakan keinginan yang sangat sederhana namun meskipun sederhana sangatlah berarti bagi seorang wanita berhijab itu.


"Nyonya apakah dagingnya di potong dadu saja?"tanya Liu, dia sedang memegang daging dan pisau dan bersiap memotongnya.


"Iya bi, potong dadu ukuran kecil saja," jawab Norin, dia sendiri sibuk meracik bumbu rendang yang telah di belinya beberapa waktu yang lalu di sebuah toko Asia.


Butuh waktu yang lama untuk memasak rendang agar tekstur dagingnya empuk merata.


"Heemmm harum sekali nyonya."Liu mengendus rendang yang sedang di masak di dalam panci dan ketika Norin membuka tutup panci itu terendus wangi rempah rempah khas rendang.


Norin tersenyum mendengar pujian Liu. Melihat daging rendang, mengingatkan nya pada keluarganya di Indonesia dan dia sangat merindukan mereka.


Liu mengernyitkan kening melihat wajah sang nyonya muda tanpa ekspresi namun tangannya mengaduk aduk isi panci.


Norin terperanjat."Ah, ya Bi, maaf."


"Nyonya kenapa?"


Norin memberikan senyuman."Tidak apa apa Bi, saya hanya rindu keluarga saya di Indonesia."


"Jika rindu kenapa tidak pulang dulu saja ke Indonesia?"


Norin menggeleng pelan." Saya tidak ingin mengganggu suami saya yang sedang sibuk, ucap Norin.


Liu manggut manggut kecil.


Norin mematikan api kompor setelah rendang itu benar benar matang dan empuk. Kemudian dia menoleh ke arah Liu yang sedang mengelap meja makan kemudian dia memanggilnya.


"Bibi Liu!"


Liu menghentikan pergerakan tangannya lalu menoleh ke arah Norin."Iya nyonya,"sahutnya.

__ADS_1


"Semua menu sudah masak, tolong nanti di tata yang rapih, saya mau ke ruangan saya dulu."


"Baik nyonya,"jawab bibi Liu kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Norin melangkah lebar menuju ke arah kamarnya dengan harapan agar cepat sampai. Selain sedikit lelah setelah berjibaku di dapur selama dua jam, dia juga belum melaksanakan ibadah ashar apalagi waktu sudah semakin sore.


Di tengah perjalanan menuju kamar, Norin berpapasan dengan nyonya besar Hoon yang baru saja tiba. Norin memberikan senyuman dan membungkukkan sedikit punggungnya sebagai penghormatan pada ibu mertuanya. Tapi wanita paruh baya namun nampak masih sangat muda itu memancarkan wajah datar saja.


"Kebetulan kau ada di sini," ucap nyonya Hoon ketika Norin baru saja akan melangkah, namun kemudian dia mengurungkannya.


"Iya nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?"Norin menawarkan diri.


"Aku haus, buatkan aku jus apel sekarang dan bawa ke kamarku,"titah nyonya Hoon.


Norin terdiam, dia merasa bingung. Di satu sisi dia tidak ingin menolak permintaan sang ibu mertua karena hal itu merupakan salah satu bakti yang dapat dia tunjukan pada mertuanya. Namun di sisi lain, Norin belum melaksanakan ibadah ashar.


"Heh, kenapa diam. Apa kau mau menolak perintahku?"nyonya Hoon mulai emosi.


Norin menggeleng cepat." Bukan nyonya bukan seperti itu. Baik saya akan membuatnya sekarang juga."


Tanpa bicara lagi Norin segera berjalan cepat menuju dapur untuk membuatkan minuman segar yang telah di pinta oleh nyonya besar Hoon.


Liu menatap heran pada wanita yang sudah pamit pergi namun tiba tiba kembali lagi dengan langkah terburu buru.


"Nyonya, ada apa?"tanya Liu.


"Oh, bibi tolong saya, nyonya besar ingin di buatkan jus apel," ucap norin.


"Baik nyonya, saya akan membantu nyonya membuatnya."


Dengan cepat Norin dan Liu membuat satu gelas minuman segar dari bahan dasar apel. Sebenarnya bukan hal yang sulit namun karena Norin di buru oleh waktu yang mana dia sendiri belum melaksanakan ibadah ashar oleh karena itu dia meminta bantuan pada Liu.


"Sudah selesai nyonya, biarkan saya yang membawa pada nyonya besar," tawar Liu.


"Tidak usah bi, biar saya yang membawa ke kamarnya karena saya tidak ingin nyonya besar akan marah jika orang lain yang membawanya, sebab, tadi dia sendiri yang memintanya pada saya."


Setelah berbicara, Norin segera membawa satu gelas minuman segar itu menuju kamar nyonya besar Hoon.

__ADS_1


__ADS_2