
Norin meminta ijin pada Shin untuk berbelanja dengan Liu ke market Asia yang letaknya cukup jauh dari rumah besar keluarga Hoon. Namun Shin tidak mengijinkan nya dengan alasan keselamatan. Shin tidak ingin terjadi hal hal buruk menimpa dirinya di luar sana karena Norin orang asing di negaranya. Meskipun Norin sudah berulang kali memberi keyakinan pada Shin bahwa dirinya akan baik baik saja tapi Shin tetap tidak mengijinkan nya.
Saat ini Norin hanya duduk diam di atas sofa. Tidak ada kegiatan yang dapat dikerjakan membuat dirinya cukup merasa bosan dan jenuh. Shin melirik sang istri yang hanya diam tanpa ekspresi di balik layar notebook yang tengah di pegang olehnya. Shin menutup notebook itu lalu beralih tempat merapatkan tubuhnya dengan wanita berhijab yang tengah berdiam diri.
"Apa kau marah aku telah melarang mu pergi dengan bibi Liu?"tanya Shin.
Norin melirik." Tidak, aku hanya jenuh saja karena tidak memilki kegiatan apa pun."
Shin meraih tangannya dan menggenggamnya."Apa kamu mau kita jalan jalan mengelilingi kota Seoul?"saran Shin.
Norin menggeleng karena jalan jalan bukan lah hobinya.
"Lantas apa yang ingin kamu lakukan agar kamu tidak merasa jenuh sayang?"
"Aku..hanya ingin pergi ke toko Asia," jawab Norin dengan ragu.
"Benar kah? ya sudah kita pergi ke sana sekarang."
Norin menatap wajah Shin."Apa kamu serius?"tanya nya dengan mata berbinar binar.
Shin mengangguk."Iya sayang."Lalu mengelus pucuk kepalanya.
Norin tersenyum lebar kemudian meletak kan wajahnya di dada bidang sang suami yang sedang mengelus pucuk kepalanya itu. Shin berpikir kenapa keinginan istrinya selalu sederhana? bukan menginginkan hadiah berlian, mobil mewah atau jalan jalan ke luar negeri melainkan hanya ingin pergi ke sebuah market untuk membeli bahan bahan makanan.
"Sayang, aku tunggu kamu di bawah ya, aku ingin berbicara dengan bibi Liu terlebih dahulu,"kata Shin pada wanita berhijab yang sedang mematut dirinya di cermin. Norin melirik Shin melalu cermin lalu mengangguk.
Norin sedikit menaburkan bedak di wajah mulusnya dan melukis bibirnya dengan lipstik berwarna senada dengan bibirnya sehingga tak nampak jika dia sedang menggunakan lipstik. Niat Norin bersolek bukan untuk memamerkan kecantikan nya pada orang lain melainkan karena kali ini dia akan pergi bersama suaminya. Norin tidak ingin membuat sang suami merasa malu telah berjalan dengan wanita berpenampilan aneh dan berwajah pucat. Oleh karena itu, dia harus berpenampilan cantik demi sang suami.
Setelah merasa penampilannya cukup sempurna, Norin keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju lantai dasar. Ketika baru saja mendaratkan kedua kakinya di lantai marmer putih itu dia melihat seorang pria tampan berkaca mata sedang berjalan ke arahnya. Norin menghentikan langkahnya dan diam di tempat. Pria itu menatapnya tanpa mengedipkan kedua kelopak matanya. Dia terpesona oleh penampilan Norin yang berbeda dari pertama serta kedua kali melihatnya.
"Cantik sekali."Pria itu bergumam memujinya.
Norin segera menunduk kan wajahnya menghindari tatapan pria yang tiba tiba menghampirinya.
"Emm..se...selamat siang nyonya muda Hoon?"sapa pria berkaca mata minus itu dengan sedikit gugup.
Norin mengangguk pelan."Maaf, nama saya Norin dokter Han,"ucap nya dengan wajah menunduk.
"Ah ya, rasanya senang sekali masih bisa di ingat oleh nyonya Norin,"kata Han.
__ADS_1
Meskipun dalam keadaan menunduk Han bisa melihat bahwa wanita berpakaian tertutup itu menyunggingkan senyum manis.
"Ehm, apa kabar nyonya? apa luka di kakinya sudah sembuh?"tanya Han basa basi.
"Alhamdulilah, sudah dokter."
"Al...Al..." Han mencoba mengikuti ucapan yang di lontarkan oleh Norin namun dia kesulitan.
"Alhamdulilah,"ucap Norin.
Ah,ya...Al...hamdulilah apa maksudnya nyonya?"
Dari kejauhan Shin melihat Norin sedang mengobrol dengan seorang pria di bawah undakan tangga. Namun dia tidak dapat melihat rupa pria itu karena dalam posisi berdiri membelakanginya. Shin penasaran, kemudian segera menghampiri mereka.
Setelah mendekat Shin baru mengenali siapa pria yang sedang memandang istrinya yang terlihat cantik sekali.
"O, kau rupanya, ada perlu apa tiba tiba kau datang ke rumahku tanpa di suruh, Han?" tanya Shin dengan suara bariton nya sembari melangkah lebar ke arah mereka.
Norin mengangkat wajahnya setelah mendengar keberadaan suara suaminya berada di sekitar mereka. Sementara Han berbalik dan nampak Shin sedang berjalan dan menatap datar ke arah mereka terutama pada pria tinggi berkaca mata.
"Hi, bro!" sapa Han, lalu menggaruk tengkuknya dan tersenyum lebar.
"Cantik sekali istriku ini!"puji Shin, menatap penuh cinta pada wanita yang sedang di rangkul nya. Norin memberikan senyuman manis padanya.
Han terbengong dengan mulut sedikit terbuka melihat sikap mereka yang selalu kompak dan romantis setiap kali bertemu dengannya seolah olah menunjukan jika mereka merupakan pasangan yang berbahagia. Han sendiri hanya dapat menelan saliva nya melihat keromantisan mereka. Dia tidak menyangka sahabat yang selalu bersikap dingin pada setiap wanita itu bisa menjadi budak cinta seorang wanita berpenampilan tertutup namun sangat cantik dan anggun.
Setelah itu, Shin menoleh pada pria berkaca mata yang sedang memperhatikan mereka dengan pandangan menelisik. Han salah tingkah dan gestur tubuhnya bergerak gerak.
"Tumben sekali kau kemari, apa ada hal yang penting?"
"Apa kau akan membiarkan tamu ini berdiri saja?"protes Han.
"Oh, kau ingin duduk? aku tidak banyak wak.."
"Tidak apa apa sayang, kamu temani dokter Han dulu saja. Kasihan, dia sudah datang jauh jauh siapa tau ada hal penting yang ingin di bicarakan dengan mu,"kata Norin, dia memotong kalimat yang hendak di lontarkan oleh Shin, karena dia tahu bahwa sang suami akan menolaknya oleh karena itu dia segera memotong ucapan nya.
"Apa kau tidak apa apa?"tanya Shin memastikan.
Norin mengangguk dan tersenyum. Kemudian melepaskan diri dari rangkulan Shin dan beranjak pergi menjauhi mereka.
__ADS_1
Shin dan Han secara bersamaan menatap punggung wanita anggun yang terbalut oleh gamis besar hingga sampai di kejauhan.
Shin melirik Han yang masih saja menatap istrinya padahal dia sudah berada jauh dari mereka."Kenapa kau menatap istriku seperti itu?"tanya Shin dengan nada menyelidik.
Han salah tingkah lalu membenarkan letak kacamatanya padahal letak nya sudah benar.
"Aku...aku hanya kagum saja," jawab Han sedikit gugup.
"Kagum, kau mengagumi wanita yang sudah memiliki seorang suami?"tanya Shin dengan nada tak suka.
Han semakin salah tingkah namun dia berusaha bersikap biasa."Come on bro, apa yang salah jika aku mengagumi istri sahabatku sendiri? aku kagum padamu memiliki istri sepertinya dan aku juga kagum pada istrimu karena....penampilannya berbeda dari wanita di negara kita."
"Benarkah hanya itu?"
Han berdecak kesal."Apa yang kau pikirkan tentang ku? apa kau pikir aku menyukai istrimu? ha ha ha, impossible bro."
Shin mengangkat kedua bahunya dan berkata," how know dan aku harap kau tak sedang berbohong." Setelah berkata Shin menepuk pundak Han."Come on bro, kita duduk di sana,"tunjuk Shin pada suatu tempat. Kemudian mereka melangkah beriringan menuju kolam renang yang terletak di halaman belakang.
Norin berjalan ke arah dapur dan nampak Liu sedang sibuk di sana.
"Bibi..!"panggil Norin sembari melangkah ke arah wanita paruh baya itu.
Liu berbalik."Oh, nyonya, bukan kah nyonya akan ke market Asia? saya pikir sudah pergi dengan tuan muda."
"Iya bibi, tapi sepertinya akan tertunda sebentar."
"Kenapa nyonya?"
"Ada tamu suamiku baru saja datang dan mereka sedang mengobrol."
"Oh, begitu. Apa saya harus membuatkan minuman untuk tamu tuan muda, nyonya?"
"Tidak perlu bi, biar saya saja yang membuatnya. Bukankah bibi sedang sibuk?"
"Tapi..."
"Tidak apa apa Bi, silahkan lanjutkan lagi pekerjaan bibi."
"Ah ya nyonya baiklah kalau begitu."
__ADS_1
Liu mengerjakan pekerjaannya kembali dan Norin mulai sibuk meracik teh untuk dua pria yang sudah bersahabat sejak sekolah.