Ikatan Cinta Suami Korea

Ikatan Cinta Suami Korea
Pelayan arogan


__ADS_3

"Sabar ya sayang, aku sudah memanggil seorang dokter semoga dia segera datang kemari," kata Shin, dia menggenggam erat tangan Norin serta menciuminya. Sembari memejamkan mata Norin mengangguk dengan posisi terlentang.


Shin duduk di tepi ranjang dan mengelus pipi sang istri yang sedang memejamkan mata dan di saat itu pula Ji Eun berdiri di samping Shin dan berkata," tuan, saya sudah menyelesaikan membersihkan kamar mandi, apa ada yang harus saya lakukan lagi tuan?"


Shin melirik ke arah samping dimana Ji Eun sedang berdiri. Dia merasa ada yang aneh dengan penampilan pelayan itu, rok nya terangkat lebih tinggi, belahan dadanya semakin panjang dan besar, seolah olah pelayan itu sedang menggodanya. Shin segera mengalihkan pandangannya kembali karena dia merasa jijik melihatnya, kemudian dia bertanya,"kenapa cepat sekali? apa kau yakin kamar mandi kami sudah benar benar bersih?" Shin bicara tanpa melihat ke arahnya.


"Be..benar tuan, saya sudah membersihkan nya, tapi jika tuan tidak percaya silahkan cek saja."Ji Eun gugup namun dia berusaha tenang dan memberikan keyakinan pada Shin seolah olah dia benar benar sudah mengerjakan apa yang Shin perintahkan. Shin diam namun bukan berarti dia percaya begitu saja pada pelayan itu. Dia bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi yang letaknya berdekatan dengan walk in closet.


Ji Eun mengekor di belakang Shin, dia pikir ini kesempatannya untuk menggoda sang tuan di kamar mandi nanti dengan penampilannya yang super se xi dia meyakini Shin akan tergoda padanya. Namun baru beberapa langkah Shin menyadari bahwa pelayan itu sedang mengikutinya. Shin menghentikan langkahnya, dengan posisi membelakangi dia bertanya,"siapa yang menyuruhmu mengikuti ku?"


Ji Eun terkejut kemudian terdiam namun tak lama kemudian dia berucap,"maaf tuan saya hanya..."


"Diam kau di situ, awas saja kalau kau mengikuti ku." Shin memotong ucapan Ji Eun dan mengancamnya. Kemudian Shin melanjutkan lagi langkahnya.


Ji Eun kesal, rencananya tidak berhasil untuk menggoda sang tuan. Kemudian dia melirik dan menatap kesal pada wanita yang tengah berbaring dan memejamkan mata lalu mengumpat." Dasar wanita aneh yang menyebalkan dan tidak tau diri, merepotkan ku saja."


Meskipun matanya terpejam namun telinganya mendengar percakapan antara Shin dan Ji Eun serta umpatan yang keluar dari mulut Ji Eun barusan. Norin membuka mata kemudian melirik ke arah Ji Eun yang sedang berdiri sambil bersedekap dada dan menatap kesal ke arahnya. Ji Eun sedikit terkejut karena wanita yang membuatnya kesal telah membuka mata dan melihat ke arahnya.


"Saya minta maaf Ji Eun, karena suami saya telah merepotkan mu," kata Norin dengan lirih.


Ji Eun berdecak kesal dan berkata," Jangan pura pura menyesal, kau sengaja bukan mau membalas dendam karena aku lebih memihak pada nyonya besar Hoon."


"Balas dendam? saya tidak memiliki masalah apapun dengan mu kenapa harus balas dendam?"


"Ck, dasar wanita munafik,"ucap Ji Eun dengan suara sedikit keras sehingga dia tidak menyadari Shin telah mendengarnya.


"Apa yang kau katakan pada istriku Ji Eun?" Shin membentak Ji Eun secara tiba tiba dan bentakannya membuatnya terperanjat dan membesarkan matanya. Norin sendiri pun sama terkejutnya dengan Ji Eun kemudian dia segera duduk.

__ADS_1


Shin melangkah mendekati ranjang kemudian meraih bahu Norin dan menatap tajam ke arah pelayan muda yang memakai seragam cukup se xi.


"Apa yang kau katakan tadi, hah?" Shin mengulang pertanyaannya karena Ji Eun belum menjawab. Ji Eun merasa ketakutan mendapat bentakan dari Shin kemudian dia menundukkan mukanya.


"Jawab?" bentak Shin lagi dan Ji Eun semakin menundukkan mukanya.


"Istighfar sayang!" Norin menyarankan Shin untuk mengucapkan kalimat istighfar agar amarahnya terkendali sembari mengelus sebelah tangannya.


"Astaghfiruallah hal adzim." Kemudian Shin mengusap wajahnya dan setelah emosinya mereda Shin membawa kepala Norin ke dalam dekapan dada bidangnya dan berkata,"maaf sayang, aku hanya membenci siapa pun yang menyakiti mu termasuk pelayan itu," tunjuk Shin pada Ji Eun.


Ji Eun yang mendapat kemarahan dari Shin dan melihat perlakuan Shin yang romantis pada wanita yang dia benci membuat dadanya bergemuruh hebat, dia semakin membenci Norin dan dalam hati dia bersumpah tidak akan membiarkan Norin hidup tenang di rumah keluarga Hoon.


"Kamu hanya salah paham saja, dia tidak menyakiti ku jangan berlebihan."Norin membela Ji Eun karena dia merasa bersalah gara gara dirinya berbohong pada Shin sehingga Ji Eun di minta untuk membersihkan kamar mandi padahal pelayan itu tidak pernah membersihkan kamar mereka sebelumnya.


Norin merasa heran ketika Shin memanggil seorang pelayan yang biasa membersihkan kamar mereka namun kenapa yang datang adalah Ji Eun, seorang pelayan paling muda dan tidak pernah menyukainya sejak kehadirannya di rumah besar keluarga Hoon. Shin sendiri tidak pernah memperhatikan bahkan tidak pernah tau wajah pelayan yang sering membersihkan kamarnya. Oleh karena itu, di saat Ji Eun berdiri di depan pintu dia mempersilahkannya saja untuk memasuki kamarnya.


"Sayang sudah lah jangan di perpanjang." kemudian Norin melihat ke arah Ji Eun yang masih berdiri mematung.


"Ji Eun, kemana bibi Liam? kenapa kau yang kemari? kenapa bukan bibi Liam?" Norin bertanya namun Ji Eun mengalihkan pandangannya, tidak ingin menjawab karena dia merasa suara nya mahal.


"Heh, apa kau tuli, istriku bertanya kenapa kau diam saja?" Shin menjadi kesal kembali karena sikap Ji Eun yang terkesan arogan.


"Maaf tuan, saya tidak tau dimana Liam," jawab Ji Eun kemudian, dengan perasaan yang semakin kesal namun dia tahan.


"Sayang, sebenarnya siapa bibi Liam?" tanya Shin pada Norin, dia penasaran pada orang yang Norin tanyakan pada Ji Eun.


"Bibi Liam itu pelayan yang sudah biasa membersihkan kamar ini."Norin menjelaskan.

__ADS_1


"Oh, jadi bukan pelayan itu? pantas saja dia tidak becus membersihkan kamar mandi kita. heh, dengar aku, cari bibi Liam sekarang juga dan aku minta ini untuk terakhir kalinya kau menginjak kan kaki mu di kamar kami." Shin berkata dengan tegas, karena Shin sendiri tidak ingin sembarangan orang memasuki kamar pribadinya.


Ji Eun tertegun mendapat peringatan dari Shin, mulutnya sedikit terbuka. Rasanya dia sia sia saja mengurung bibi Liam di kamarnya dan pada akhirnya usahanya untuk menggoda tuan muda hoon gagal total.


"Cepat pergi dari sini dan cari bibi Liam," usir Shin. Ji Eun menghentak kan kakinya kemudian beranjak pergi dengan perasaan yang amat sangat kesal serta dendam.


"Dasar pelayan arogan, kenapa mommy mempekerjakan pelayan yang bersikap sombong seperti dia dan tidak becus bekerja." Shin mengumpat.


Norin menghela nafas pendek kemudian bersandar di dada bidang Shin dan berkata," jangan bersikap kasar pada para pekerja di sini sayang, kasihan mereka."


"Tergantung, jika pelayan itu baik serta menghormati mu aku akan bersikap baik pula pada mereka, tapi jika mereka bersikap seperti wanita tadi aku tidak akan segan segan untuk berbuat kasar padanya. Tidak ada yang boleh menyakiti istriku termasuk orang tuaku."Kemudian Shin mengecupi pucuk kepalanya dan tanpa terasa air matanya menetes, Norin terharu dan amat sangat bersyukur di saat dia berada di negara asing yang sangat jauh dari keluarganya dan hidup dengan orang orang yang tidak menyukainya Norin masih memiliki seorang pelindung yaitu suaminya sendiri.


Lima menit berlalu, sebuah ketukan pintu terdengar. Shin dan Norin menoleh ke arah pintu bersamaan kemudian mereka saling pandang lalu Shin menerka,"itu pasti Han."


"Han?" ucap ulang Norin, dahinya mengernyit.


"Iya sayang, sebentar ya aku mau melihat monitor dulu kita kira siapa yang mengetuk pintu."Shin melepaskan dekapan Norin kemudian berjalan ke arah monitor. Setelah melihat dia tersenyum lalu memencet sebuah tombol dan pintu terbuka otomatis.


Setelah pintu terbuka nampak pria tampan berkaca mata memakai jas putih sedang berdiri dan tersenyum ke arah Shin. Shin berjalan mendekatinya.


"Selamat malam tuan muda hoon!"sapa pria itu, senyumannya belum terlepas dari bibirnya.


Shin mendengus kesal dan berkata."Kau Han kenapa lama sekali?kau tau aku menunggumu sejak satu jam yang lalu?"


"Maaf tuan, hari ini aku menangani banyak pasien di rumah sakit." Pria itu beralasan.


"Bisa tidak kau tak panggil aku tuan, Han?" Shin protes dengan wajah kesal. Bagaimana tidak kesal teman sekolah sekaligus dokter keluarganya itu selalu memanggilnya tuan. Sementara Han tertawa lebar, hampir dua tahun lamanya tidak bertemu dengan teman dinginnya itu, dia merasa Shin memiliki banyak perubahan mulai dari sikap dan gaya bahasanya.

__ADS_1


__ADS_2