Ikatan Cinta Suami Korea

Ikatan Cinta Suami Korea
Nafkah bathin siang hari


__ADS_3

"Please, jangan perlakukan aku seperti orang cacat yang tidak bisa berjalan."Norin protes dan menolak di gendong oleh Shin ketika akan menuruni mobil setelah mereka tiba di rumah.


"Okey, okey." Pada akhirnya Shin menyerah setelah berkali kali membujuk Norin agar mau di gendong olehnya.


Norin sendiri sedikit kesal pada suaminya karena gara gara di perlakukan berlebihan olehnya, dokter wanita yang memeriksanya tadi menyinggung perasaannya sehingga dia merasa berkecil hati.


Kemudian Norin turun dari mobil secara perlahan. Ketika tangan Shin hendak memegang lengannya untuk membantunya turun dia segera menepis pelan.


"I can, don't worry,"ucap Norin.


"Aku takut kamu terjatuh sayang," kata Shin. Raut wajahnya terlihat cemas karena sang istri tetap pada pendiriannya untuk berjalan sendiri tanpa bantuannya.


"Percaya saja, aku pasti bisa," kata Norin sembari berusaha melangkah dengan pelan.


Meskipun tidak ingin di gendong serta di tuntun oleh suaminya, Shin tidak membiarkan Norin jalan sendiri melainkan dia ikut berjalan pelan di sampingnya dan siap siaga sewaktu waktu takut norin terjatuh. Di tengah berjalan pelan memasuki rumahnya Shin dan Norin menghentikan langkah mereka ketika berpapasan dengan nyonya Hoon namun beliau melewati mereka begitu saja tanpa menyapa dengan penampilan yang cukup glamor dan terbuka.


Ekor mata Shin melirik dan mengikuti nyonya Hoon yang sedang berjalan melewatinya kemudian bertanya."Mom, where are you going?


Nyonya Hoon menghentikan langkahnya yang sudah melangkah dengan jarak lima meter dari berdirinya Shin dan Norin. Kemudian dia memiringkan tubuhnya menoleh ke belakang.


"Hangout,"ucap nya singkat.


"Apa dengan penampilan serba terbuka seperti itu? come on mom, you are an old woman not a girl anymore."

__ADS_1


Nyonya Hoon mendengus dan menatap kesal pada putera satu satunya karena setelah menikah dengan Norin putranya itu berubah sikap menjadi aneh dan sering kali mengomentari penampilannya setiap kali dia menggunakan pakaian yang terbuka. Karena sebelumnya Shin tidak pernah peduli pada apa yang nyonya Hoon pakai sekalipun memakai bikini di depan umum.


"Tidak perlu menasehati ku Hoon, kau urusi saja istri cacat mu itu." Setelah berkata, nyonya Hoon melenggang pergi dengan anggun.


Shin geleng-geleng kepala melihat sikap dan tingkah nyonya Hoon seperti anak muda dan melupakan usianya.


"Dari muda hingga tua tidak pernah berubah bahkan semakin menjadi jadi saja tingkahnya." Shin menggerutu kesal.


Tidak dapat di pungkiri meskipun usianya hampir memasuki kepala enam, nyonya Hoon terlihat seperti wanita yang masih berusia empat puluh tahun. Terlihat awet muda dan cantik. Tentu saja hal itu tidak lepas dari perawatan yang sangat mahal selama ini.


Setelah itu, Shin dan Norin melanjutkan langkah mereka memasuki rumah megah milik keluarga Hoon.


"Sayang, kita naik lif saja agar kamu tidak kepayahan menaiki tangga," tawar Shin, ketika mereka sudah berada di dalam rumah. Mulanya Norin berpikir demikian namun setelah dia teringat jika lif itu adalah lif khusus mertuanya bahkan para pelayannya saja di larang menaikinya Norin menolaknya.


"Tidak, aku mau menaiki anak tangga saja." Norin menolaknya kemudian dia melanjutkan langkahnya menuju tangga sebelum Shin bicara lagi. Shin geleng kepala saja mendapati sikap istrinya yang terlihat aneh hari ini.


Melihat Norin celaka menjadi kepuasaan tersendiri bagi Ji Eun. Dia senang sekali melihat kondisi Norin yang seperti itu. Sembari melihat pada kakinya dia berkata dengan sinis."Kenapa tidak patah saja sekalian kaki mu agar kau tidak bisa berjalan dan menjadi orang cacat selamanya."


Norin menelan saliva nya terlebih dahulu sebelum menimpali ocehan pelayan se xi di hadapannya. Entah apa salah Norin sehingga Ji Eun begitu membencinya dan sampai hati berkata demikian.


"Jika perkataan mu itu berbalik padamu bagaimana? mulut mu harimau mu. Oleh karena itu hati hati jika berkata pada seseorang karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, bisa saja hal itu terjadi padamu sendiri,"kata Norin dengan santai.


Ji Eun mulai kesal pada wanita di hadapannya yang berani menimpalinya. Bersamaan dengan itu, terlihat Shin berjalan ke arah mereka seketika Ji Eun berubah sikap dan buru buru membenarkan penampilannya yang di rasa kurang menarik. Norin geleng-geleng kepala saja melihat tingkahnya.

__ADS_1


"Selamat siang tuan muda Hoon!"sapa Ji Eun, sembari memberikan senyuman pada Shin. Shin melirik ke arahnya dengan wajah datar dan bertanya,"sedang apa kau di sini? apa kau mengganggu istriku?" tuduh Shin.


Mata sipit Ji Eun terangkat, tidak menyangka Shin menuduhnya meskipun tuduhannya memang benar. Dengan gugup dia menyangkal." Ti..tidak tuan, saya tidak sengaja bertemu dengan nyonya muda disini."


Shin tidak menanggapi jawaban Ji Eun melainkan meraih pinggang Norin lalu mengangkatnya ala bridal style. Norin terkejut namun tidak berontak dan membiarkan suami nya mengangkat tubuhnya serta membawanya menaiki anak tangga. Hal itu membuat Ji Eun merasa geram dan kesal karena Shin menunjukan keromantisannya di depan matanya sendiri.


Shin membawa tubuh Norin menaiki anak tangga satu persatu hingga memasuki kamarnya, kemudian meletak kan tubuhnya di atas tempat tidur. Setelah itu, Shin melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuhnya satu persatu hingga hanya menyisakan celana boxer nya saja.


Dengan posisi duduk Norin mengernyitkan dahinya melihat sang suami tiba tiba melepaskan semua pakaiannya di hadapannya. Shin mendekati sang istri yang sedang terbengong melihatnya lalu duduk di hadapannya dan membelai pipinya.


"Kamu mau apa? kenapa tidak memakai baju?" tanya Norin dengan polosnya.


Sembari tersenyum menggoda Shin bertanya."Menurutmu aku mau apa jika sudah tidak memakai pakaian?"


"Ya...ya...tidak tau." Tiba tiba Norin menjadi gugup padahal melihat tubuh polos Shin itu sudah hal yang biasa tapi siang ini entah mengapa dia merasa gugup.


"Aku akan menghukum istriku karena sudah mengabaikan suaminya tadi."


Sebelum Norin protes Shin lebih dulu memagut bibirnya sehingga Norin tidak bisa bicara. Shin menikmati bibir yang halal di sentuh itu dengan lembut membuat membuat si empunya bibir terhanyut lalu membalas ciumannya. Mereka saling pagut, mengecap dan bertukar saliva. Setelah itu Shin melepaskan jilbab besar yang menutupi mahkota indahnya, menggerai rambut panjang dan lurus yang selama ini hanya dia saja yang melihatnya.


"Kamu cantik sekali sayang,"ucap shin, kemudian mengecup pucuk kepala nya, mencium keningnya, pipi lalu turun ke bibir. Mereka berpagutan kembali hingga terjadilah penyatuan di antara mereka sebagai pasangan halal yang saling mencintai.


Shin terkulai lemas setelah selesai memberikan nafkah bathin di siang hari. Berharap benih yang telah dia semai di rahim wanita yang sangat di cintai nya tumbuh dan melengkapi kebahagiaan sang istri yang selama ini dia harapkan kehadirannya. Dengan peluh yang membanjiri di kedua insan yang sudah melakukan kewajiban sebagai pasangan suami istri, Shin mengecupi wajahnya, kemudian berpindah mengecupi perut rata dan polos nya sambil berkata.

__ADS_1


"Hai baby, cepatlah tumbuh di rahim mamamu, buatlah dia bahagia karena kebahagiaan yang papa berikan pada mama mu tidak lah cukup tanpa kehadiranmu nak."


Norin menitik kan air mata mendengar perkataan suaminya. Dia teringat pada perjanjian dengan orang tua pria yang sangat di cintai nya. Dalam hati dia berkata." Lima bulan lagi waktumu Norin, lima bulan lagi."


__ADS_2