
Shin memegang keningnya lalu menyugar sedikit rambutnya kebelakang setelah mendengar cerita dari Liu bahwa dia tidak jadi ke super market dengan Norin tapi norin tidak ada di rumah. Dia diam dalam waktu yang cukup lama memikirkan dimana keberadaan istrinya. Setelah cukup lama berpikir dia berkata pada wanita paruh baya yang masih setia menunggunya bicara." Cepat kerahkan semua orang yang ada di rumah ini untuk mencari keberadaan istriku bibi Liu."
"Baik tuan." Wanita paruh baya itu pun bergegas pergi menjauhi Shin untuk memberitahu pada semua rekan rekan seprofesinya agar mencari keberadaan nyonya muda yang menghilang.
Shin berjalan mondar mandir sembari memikirkan kemana dia harus mencari istrinya. Norin tidak pernah pergi keluar sendiri selain dengan Liu atau dirinya. Norin sendiri tidak banyak tahu tentang tempat di Seoul yang dia tau hanya supermarket saja.
Sempat terpikir olehnya apakah Norin nekat pergi ke supermarket sendiri ketika Liu sedang melayani mommy nya. Tapi jika demikian dengan siapa dan di antar oleh siapa dia ke supermarket? seketika Shin teringat pada sopir pribadi nyonya besar karena hanya dia satu satunya sopir yang sedang berada di rumah sementara sopir pribadi shin serta tuan besar sedang mengantar mereka ke kantor.
Shin berjalan tergesa gesa keluar dan mencari sopir pribadi nyonya besar dan ketika dia menemukan sopir itu, dia pun memanggilnya.
"Hei, kau kemari!" Panggil Shin pada pria muda sedang mengelap mobil mewah khusus nyonya besar. Pria itu menoleh." Saya tuan!" sahut pria itu sembari menunjuk pada dirinya sendiri.
"Ya, kau siapa lagi orang yang ada di situ selain kau sendiri."
Pria itu segera meletak kan kanebo nya dan membersihkan tangannya terlebih dahulu. Setelah itu, dia menghampiri Shin yang sedang berdiri di undakan tangga teras.
Setelah berdiri di depan Shin dia bertanya," ada apa tuan, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Ya, aku ingin bertanya padamu. Sejak kapan kau berada disini?"
"Memang kenapa tuan?" Pria itu balik bertanya.
"Jawab saja apa yang aku tanyakan padamu."
"Sejak siang, tuan."
"Apa mommy ku pulang sejak siang tadi?"
"Benar tuan."
"Apa kau mengantar istriku ke supermarket?"
__ADS_1
"Ti..tidak tuan. Tapi, emm sa..saya melihat nyonya muda menaiki sebuah taksi." Ucap pria itu dengan gugup dan pandangan yang tidak fokus.
"What, istriku naik taksi! apa kau tidak salah melihat? apa kau tidak tau jika istriku tidak pernah naik taksi."
"Tapi saya melihatnya seperti itu tuan. Pada saat saya dan nyonya baru tiba di rumah ini kami melihat beliau menaiki sebuah taksi."
"Apa kau sedang tidak berbohong?"Tanya Shin menyelidik.
"Ti...tidak, saya tidak bohong. Kalau tuan tidak percaya tanyakan saja."
Shin tidak bertanya lagi melainkan berjalan cepat menuju mobil nya." Cepat antar aku ke supermarket biasa aku dan istriku ke sana." Ucap nya sembari membuka pintu mobil.
"Baik tuan." Sang sopir membawa Shin menuju supermarket yang di tuju.
Sementara Liu sibuk ke sana kemari mencari rekan rekan kerjanya.
"Liam!" teriak Liu memanggil Liam yang sedang membantunya di dapur. Wanita paruh baya itu pun menghampirinya.
"Ada apa Liu?"Tanya Liam.
"Aku tidak yakin jika si wanita ular itu mau membantu kita mencari nyonya muda." Liam sudah menduga lebih awal jika Ji Eun tidak akan mau membantu mereka apa lagi wanita itu tidak menyukai nyonya muda.
"Ini perintah tuan besar dan dia harus mau dan tidak boleh menolak."
"Kalau begitu kau saja yang berbicara dengannya aku tidak sudi."
"Ya sudah biar aku yang berbicara nanti. Ayok sekarang kita cari mereka terlebih dahulu." Kemudian Liu dan Liam bergegas meninggalkan dapur.
Setelah mereka menghampiri Suhe yang sedang berada di ruang laundry terlebih dahulu, mereka pun melanjutkan mencari Ji Eun dan Yuan bersama sama.
"Itu mereka!" tunjuk Suhe pada dua orang yang sedang mengobrol sembari bersenda gurau di taman belakang. Setelah berjalan ke sana kemari mencari keberadaan Ji Eun akhirnya mereka menemukannya juga.
__ADS_1
"Ji Eun, Yuan, kemari kalian!" Panggil Liu dengan suara keras karena jarak mereka cukup jauh.
Ji Eun dan Yuan menoleh pada mereka dan seketika itu pula senyum miring tersungging di bibir Ji Eun."Jangan menghiraukan panggilan para perawan tua itu paman. Biarkan saja mereka yang datang pada kita." Ucap Ji Eun, mempengaruhi Yuan agar tidak mendatangi mereka karena gengsinya yang tinggi. Dia sendiri tidak ingin di samakan level nya dengan mereka.
"Tapi ada apa, tidak biasanya mereka datang ramai ramai mencari kita."
"Mungkin mereka akan menanyakan tentang wanita yang mereka sanjung setinggi langit itu."
"Yuan, kemari kau! kenapa diam saja di situ?" Liu memanggil Yuan dengan kesal.
Jika Liu yang memanggilnya dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja karena menurut nya bisa bicara dengan Liu itu merupakan hal yang langka. Selain jarang bertemu dengan wanita itu, Liu juga wanita yang acuh padanya dan pelit bicara jika bukan karena urusan pekerjaan.
Yuan hendak melangkah namun Ji Eun lebih dulu menahan lengan pria itu dan menatap tajam padanya sehingga Yuan mengurungkan niatnya untuk menemui Liu dan yang lainnya.
"Sudah aku katakan padamu jangan mendekati mereka, biarkan saja mereka yang datang kemari." Ji Eun berkata dengan kesal karena sang paman tidak mau menuruti perintahnya.
"Tapi Ji Eun, mereka ingin bicara dengan kita."
"Ya, aku tau, kenapa kau tidak mengerti saja maksud ku paman. Sekali lagi aku katakan padamu biar mereka yang datang pada kita jangan kita yang datang pada mereka."
Liu dan Liam nampak geram karena dua orang itu masih diam di tempat tidak beranjak mendekat. Padahal Liu sudah menyuruhnya berulang kali. Mereka pun terpaksa mengalah untuk mendekati Ji Eun dan Yuan.
"Kalian itu benar benar membuat aku kesal saja." Ucap Liu ketika sudah berada di hadapan mereka.
"Maaf Liu, aku, aku.." Yuan melirik Ji Eun sedang menatap nya tajam seolah olah mengancamnya agar tidak berbicara. Lalu dia pun tidak melanjutkan kalimatnya lagi.
Ternyata Liam memperhatikan ekspresi wajah Ji Eun dan dia berkeyakinan bahwa Yuan di ancam agar tidak mendekati mereka ketika memanggilnya tadi lalu dia pun menyunggingkan senyum sinis." Ck, kenapa kau senang sekali mengancam orang Ji Eun? dan kau Yuan mau saja jadi boneka si wanita ular ini." Sindir Liam dengan sinis.
"Jangan asal nuduh kau perawan tua. Aku.."
"Sudah, sudah jangan berdebat. Aku sedang tidak ingin melihat kalian berdebat." Dengan perasaan kesal Liu menyela obrolan sinis antara Liam dan Ji Eun.
__ADS_1
"Ji Eun, Yuan, kami kemari atas perintah tuan muda Hoon untuk meminta kalian agar membantu kami mencari nyonya muda." Sambung Liu.
Ji Eun dan Yuan saling pandang setelah mendapat perintah dari tuan muda Hoon untuk mencari istrinya yang sedang mereka sekap atas perintah nyonya besar Hoon.