
"Aku tidak pernah melupakannya dan perasaan itu masih ada."
Kalimat itu terngiang kembali di pikirannya, kalimat yang mampu mengiris hatinya hingga terluka dan terasa perih. Norin menengadahkan wajahnya ke atas berharap air mata yang sedang terbendung oleh kedua kelopak matanya tak tumpah ruah. Namun, sekuat apa pun dia menahannya tetap saja pada akhirnya air mata itu mengalir dengan deras.
"Kenapa rasanya sakit sekali mendengar pengakuan suamiku?apa dia memang benar benar masih mencintai mantan sekaligus cinta pertamanya itu? lantas....kenapa dia mengikuti agama ku dan menikahi ku? apa aku ini hanya sebagai pelariannya saja?"
Pertanyaan demi pertanyaan berlomba lomba di benak nya. Berharap apa yang di pertanyakan itu tak sama dengan jawaban yang di nantikan.
Norin masih mampu bertahan dari tuntutan dan tekanan kedua mertua yang mengharapkan seorang keturunan dari rahimnya yang hingga sekarang belum terpenuhi. Bahkan sang mertua tidak tanggung membuat surat perjanjian jika Norin tidak bisa memberikan seorang keturunan untuk mereka maka dia harus melepas Shin atau membiarkan Shin menikah lagi.
Namun, norin tidak akan mampu bertahan jika sosok yang membuatnya bertahan dan memberi kekuatan selama ini untuk tetap berada di sampingnya dan tinggal di rumah besarnya sudah mengakui perasaannya bahwa ada wanita lain yang mengisi hatinya selama ini. Lantas apa lagi yang harus dia pertahan kan?
Di tengah tangisnya Norin melirik ke arah jam weker yang terpajang di atas nakas sudah menunjukan waktu sholat Maghrib, Norin berfikir lebih baik dia menjalankan ibadah terlebih dahulu karena baginya selain sebagai kewajiban, sholat merupakan penenang dan penyejuk hati serta pikirannya di tengah keresahan.
"Aku pasrah kan hidup dan mati ku, jiwa dan ragaku, serta jodoh ku padamu ya Rob, jika jodoh ku hanya selintas bersama suamiku, aku ikhlas jika itu memang sudah ketentuan darimu."
Air mata mengalir deras di tengah doanya membasahi mukena berwarna putih. Norin merasa bebannya sangat berat dan dia hanya bisa mencurahkan isi hati pada Tuhannya.
Shin berjalan gontai menuruni anak tangga. Dia menyesali ucapan nya, ucapan yang membuat istrinya merasa kecewa padanya.
"Kenapa aku harus menjawab pertanyaan bodoh itu? kenapa lidahku ini menjawabnya demikian? tidak, aku tidak memiliki perasaan apa apa lagi pada wanita itu. Aku hanya mencintai istri ku, mencintai istri sholehah ku," bathin Shin berkata.
Tiba di lantai dasar, langkah gontai Shin menyita perhatian beberapa orang termasuk tuan besar Hoon yang baru datang dan sedang berbicara dengan Han.Tuan besar melihat pada sang putra yang berjalan tanpa semangat melintasinya.
"Hoon!"panggil tuan besar. Shin menghentikan langkahnya dan berdiri di tempat namun dia tidak menoleh ke arah sang ayah melainkan menatap kosong ke arah depan.
__ADS_1
Tuan besar Hoon melangkah mendekatinya dan memperhatikan raut wajah sang putera yang terlihat lesu tanpa gairah.
"Ada apa denganmu?"tanya tuan besar.
"Tidak ada,"jawab Shin tanpa ekspresi.
Tuan besar Hoon berdecak."Jangan bohong Hoon, apa kau pikir aku tidak tau? dasar anak bodoh, kalau kau masih mencintai mantan kekasih mu kenapa kau tidak menikahinya saja dan kenapa kau malah menikahi wanita Indonesia itu?"
Shin mengalihkan pandangannya ke arah Han lalu menatap tajam padanya. Dia melangkah mendekati pria berkaca mata itu dengan kedua tangan yang mengepal.
"Brengsek kau Han,"
bugh
bugh
Shin tak dapat menahan amarah pada Han, apalagi jika berkaitan dengan sang istri yang sangat di cintai nya. Han yang tidak sempat menghindar dari tinjuan shin yang secara tiba tiba itu membungkuk sembari memegang perutnya yang mendapat dua kali tinjuan.
Tuan besar Hoon tercengang melihat kemarahan sang putera satu satunya pada dokter pribadinya.
"Kau... me...memukul ku Hoon,"ucap Han, meringis menahan sakit.
"Kau datang kemari sengaja hanya untuk membuat kekacauan. Dengar brengsek, aku tidak pernah lagi mencintai perempuan itu dan aku hanya mencintai istriku, hanya istriku."
"Kau menyalahkan aku lagi Hoon? uhuk uhuk. Aku hanya menjawab apa yang ayah mu tanyakan padaku. Apa aku salah jika aku berkata jujur padanya tentang perasaanmu pada Yoona, karena apa yang aku katakan itu adalah kalimat yang keluar dari mulutmu sendiri."
__ADS_1
"Brengsek kau, kau sengaja memancingku." Shin hendak memukul Han kembali namun tuan besar Hoon lebih dulu menahannya.
"Lepas kan Daddy lepas kan, aku ingin meninju mulutnya,"geram Shin.
"Hentikan Hoon, hentikan. Dan kau Han cepat pergi dari rumah ini," titah tuan besar sembari menahan tubuh Shin.
Tanpa berkata lagi Han beranjak pergi dan dalam langkahnya dia tersenyum menyeringai."Tidak mengapa perutku sakit yang penting aku puas melihat kekacauan pernikahan mu Hoon."
Setelah kepergian Han, Shin menepis lengan sang ayah kasar kemudian beranjak pergi dengan langkah lebar. Tuan besar Hoon menatap punggung puteranya dengan pikiran yang membingungkan. Menurut Han, sang putera masih mencintai mantan kekasihnya tapi kenapa Shin begitu marah ketika menyinggung soal perasannya pada mantan kekasihnya itu. Jika memang dia masih mencintai mantan kekasihnya seharusnya Shin tidak amat sangat marah.
Shin melangkah kan kembali kedua kakinya menuju kamarnya. Semarah dan sekecewa apapun Norin padanya dia tidak ingin meninggalkan nya. Tiba di kamar, Shin melihat Norin sedang tertidur di atas sajadah dalam keadaan masih memakai peralatan ibadah. Di tangan kanan terdapat tasbih, wajahnya terlihat sembab dan banyak jejak air mata membasahi mukena serta sajadah.
Shin tak kuasa melihatnya, dia merasa benar benar sudah menyakiti wanita yang dicintai nya meskipun hanya berupa sebuah kalimat yang di ucap kan tanpa sadar.
Kemudian Shin mengangkat tubuh wanita memilukan itu dan meletak kan nya di atas ranjang. Setelah itu, Shin melepaskan mukena yang masih menempel di tubuhnya secara perlahan agar tak mengusik tidurnya.
Shin memandangi wajah sembab itu dengan lekat, berulang kali dia melabuhkan ciuman di keningnya.
"Maaf kan aku sayang, maafkan aku. Percaya lah..aku sangat mencintaimu. Kamu satu satunya wanita yang aku cintai di dunia ini. Rasa cintaku padamu melebihi rasa cintaku pada mommy,"bathin Shin berucap.
Shin memperhatikan luka yang terdapat pada kening sebelah kanan. Luka itu terlihat sedikit menganga meskipun tidak lagi mengeluarkan darah. Shin segera mencari obat luka, dia tidak ingin luka itu menjadi infeksi karena tidak di obati.
Setelah selesai mengobati, dia menyimpan obat itu kembali dan kemudian Shin ikut merebahkan tubuhnya di samping wanita yang tengah tertidur pulas lalu memeluknya.
Tengah malam Norin terjaga dari tidurnya dan mendapati Shin sedang tertidur sembari memeluknya. Perlahan dia mengalihkan tangannya yang melingkar dari perutnya.
__ADS_1
"Jangan pergi, tetaplah disini bersama ku."