Ikatan Cinta Suami Korea

Ikatan Cinta Suami Korea
Terkurung di Paviliun


__ADS_3

Norin mengendarai mobil mini menuju paviliun yang terletak di lapangan golf private milik keluarga Hoon dan terletak cukup jauh dari rumah besar itu.


Tidak hanya di Indonesia, di korea pun keluarga Hoon memiliki lapangan golf pribadi dan hanya di peruntukan khusus untuk keluarga Hoon, saudara, teman, relasi atau tamu penting.


Sementara di sebuah kamar. Liu sedang sibuk memasang kan cat kuku pada kuku-kuku cantik milik nyonya besar Hoon. Selama bekerja di rumah keluarga Hoon baru kali ini dia mendapat perintah untuk memasang kan cat kuku itu pada wanita yang sudah menjadi nyonya besar nya selama puluhan tahun.


"Aku sedang malas pergi ke salon kecantikan langganan ku. Oleh karena itu, aku memintamu untuk membantuku memasangkan cat kuku ini di kuku-kuku ku. Kau tau Liu, karena hanya kau pelayan yang aku percayai di rumah ini." Ujar nyonya besar di sela sela Liu memasangkan kutek berwarna merah pekat di kuku jari kaki miliknya.


"Iya nyonya." Liu tidak protes meskipun hal itu bukan lah pekerjaan nya karena Pekerjaannya hanya berbelanja kebutuhan dapur, memasak serta membersihkan area dapur. Namun Liu bisa apa jika sang majikan sudah berkehendak atas dirinya karena Liu sadar dia hanya seorang pelayan di rumah itu.


Nampak kecemasan di raut wajah Liu mengingat nyonya muda sedang menunggu lama dirinya. Sementara dia belum di perbolehkan keluar oleh nyonya besar dari dalam kamarnya."Kasihan nyonya muda. Dia pasti sedang menunggu ku." Liu bermonolog.


"Kau kenapa Liu?" Tanya nyonya besar ketika menyadari perubahan raut wajah Liu yang nampak cemas.


Liu terperangah."Oh, tidak apa apa nyonya. Saya, saya sebenarnya saat ini akan berbelanja kebutuhan dapur nyonya."


Nyonya besar terdiam dan nampak berpikir. Namun tak selang lama dia pun bersuara."Oh begitu, ya sudah kau selesai kan dulu pekerjaanmu sekarang setelah selesai kau boleh pergi."


Liu mengangguk tanpa bicara namun bathin nya berkata." Butuh berapa lama lagi aku menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya bukan keahlian ku. Kenapa nyonya besar tiba tiba menyuruhku memasangkan kutek kuku padahal dia tau aku tidak pandai. ini aneh sekali."


Norin tiba di sebuah hamparan padang rumput yang sangat luas. Lapangan golf itu sendiri memiliki ukuran luas yang sama dengan lapangan golf yang berada di Indonesia. Selain itu lapangan golf itu pun memiliki paviliun ukuran serta desain yang sama dengan paviliun di Indonesia. Namun yang membedakannya adalah lapangan golf di Indonesia memiliki aliran sungai yang mengalir, sementara di Korea hanya berupa danau buatan yang tenang. Selain itu, ketika musim dingin tiba, lapangan golf ini kerap kali tertutup oleh salju dan selama itu pula tidak bisa di gunakan untuk bermain golf melainkan berubah fungsi menjadi tempat bermain ski.

__ADS_1


Setelah tiba di sebuah paviliun, nampak paviliun itu terlihat sepi tidak ada tanda tanda pergerakan aktifitas manusia di dalam paviliun itu. Yang ada hanya kicauan burung-burung yang bertengger di dahan pohon-pohon. Norin penasaran, dia pun turun dan berjalan untuk memasuki paviliun tersebut.


Ketika Norin memasuki pintu paviliun yang tidak terkunci dia langsung memanggil nama Liu serta nyonya besar berulang kali tapi tidak ada sahutan dari mereka. Tiba tiba sekelebat bayangan hitam melintas. Norin sempat terkejut dan mengucapkan kalimat istighfar setelah melihat bayangan hitam tersebut. Dia takut sekali jika bayangan hitam itu akan menyakiti dirinya.


Braakk


Norin terperanjat. Tiba tiba pintu tertutup dengan sendirinya seperti tertiup angin. Lagi lagi Norin terkejut oleh suara bantingan pintu itu lalu berjalan cepat mendekatinya dan berusaha membuka pintu itu tapi sayangnya pintu tersebut tidak bisa di buka dan terkunci rapat.


"Hei, siapa di luar yang telah mengunci pintunya? cepat buka." Teriak Norin namun tidak ada sahutan dari luar.


"Hei, tolong buka pintunya!" Teriak ulang Norin.


Norin terus berteriak berulang kali hingga suaranya serak namun tetap saja tidak ada yang membukakan pintu itu. Kemudian Norin segera merogoh ponsel miliknya yang tersimpan di saku gamis untuk memberi tau pada Shin bahwa dirinya terkurung di paviliun namun sayangnya ponsel itu mati kehabisan daya.


Norin menyenderkan tubuhnya di daun pintu. Kedua lututnya melemas hingga dia tak mampu menopang beban tubuhnya lalu dia terduduk di atas lantai. Kedua sudut mata bulat miliknya mulai mengeluarkan cairan bening dan mengalir ke dasar pipi mulusnya begitu saja.


"Kenapa, kenapa Ji Eun tega berbuat seperti ini padaku? kenapa aku begitu bodoh percaya saja padanya?Tapi, siapa yang telah mengunci ku disini? jika Ji Eun rasanya tidak mungkin karena dia berada di rumah. Apa Ji Eun sedang bekerja sama dengan seseorang untuk mengurung ku disini? tapi siapa orang itu?" Norin bermonolog sembari berlinang air mata.


"Sudah selesai nyonya." Ucap Liu, memberitahu nyonya besar bahwa pekerjaan nya sudah selesai.


Nyonya besar memeriksa setiap jari jari yang telah terpasang kutek itu dengan detail. Setelah memeriksa semuanya dan terlihat sempurna, senyum pun mengembang di bibirnya lalu berucap.

__ADS_1


"Emm, Not bad."


Liu bernafas lega, setidaknya jerih payahnya di hargai dan tak harus mengulanginya kembali." Jadi apa sekarang saya boleh pergi nyonya?" Tanya nya pada wanita yang masih memandangi kuku-kuku warna merah pekat.


"Ya, kau boleh pergi sekarang dan tolong kau panggil kan Ji Eun kemari."Ucap nya tanpa melihat ke arah Liu melainkan melihat pada jari jarinya sembari membolak balik kan nya.


"Baik nyonya, saya permisi dulu." Setelah berucap Liu keluar dari kamar nyonya besar lalu berjalan menuju tangga untuk turun ke lantai dasar. Sebenarnya di depan kamar nyonya besar terdapat lif namun Liu melewatinya begitu saja karena semua pelayan tidak di perkenankan menaikinya karena lif itu hanya di peruntukan untuk pemilik rumah saja.


Tiba di lantai dasar dia berjalan untuk mencari nyonya muda di tempat semula namun setelah tiba di sana dia tidak menemukan sang nyonya muda melainkan hanya ada Liam yang sedang mengelap meja.


"Liam !" sapa Liu.


Liam menghentikan pergerakan tangannya lalu menoleh." Liu, ada apa?"


"Apa kau melihat nyonya muda? tadi sebelum aku ke kamar nyonya besar dia ada disini menungguku.


"Aku tidak melihat keberadaan nyonya muda dan sejak tadi aku disini tidak ada nyonya muda."


"Ya Tuhan, kemana nyonya muda apa dia sudah pergi lebih dulu atau sedang berada di kamarnya?" Liu bergumam.


"Lebih baik kau cari saja dulu di kamarnya siapa tau dia berada di sana." Saran Liam.

__ADS_1


"Ah ya kau benar." Kemudian Liu berjalan dan menaiki anak tangga kembali untuk mencari keberadaan Norin di kamarnya.


__ADS_2