
Tuan besar dan Liu menoleh pada Shin yang akan menggeser kursi untuk di duduki olehnya. Liu tersenyum senang melihat tuan muda yang dua hari ini nampak murung karena kehilangan nyonya muda yang saat ini entah dimana keberadaannya. Dia senang akhirnya Shin nampak semangat lagi menjalani hari hatinya.
Begitu pula dengan tuan besar Hoon. Bibirnya menyungging kan senyum lebar melihat sang putra datang dan akan sarapan bersamanya.
"Selamat pagi tuan muda!" Liu balik menyapa dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Liu yang tidak memiliki seorang anak sudah menganggap Shin seperti anaknya sendiri meskipun dia tidak melahirkan nya.
"Are you okey?" Tiba tiba tuan besar bertanya.
Shin menoleh pada sang ayah yang menyapanya."Yeah dad, im okey."
"Im so glad to hear that." Tuan besar tersenyum mendengar jawaban Shin yang nampak semangat pagi ini. Awalnya dia pikir Shin akan terus mengurung diri di kamarnya tanpa ingin melakukan aktifitas apapun termasuk makan bersama dengannya.
"Apa sudah ada kabar tentang keberadaan istrimu?" Tuan besar bertanya ketika Shin hendak mengambil dua lembar roti tawar.
Lagi, Shin menoleh padanya lalu menggeleng."Belum dad, tapi aku yakin aku pasti akan menemukan nya dan Allah pasti akan melindungi istriku dimana pun dia berada." Ucap Shin. Sembari mengolesi roti tawar dengan selai.
Jakun tuan besar Hoon naik turun seperti merasa kesulitan menelan saliva nya. Untuk kesekian kalinya Shin menyebut nama Tuhannya di depan nya secara langsung. Tuan besar yang terlahir dari keluarga atheis tentu tidak mengerti tentang apa itu tuhan? karena selama ini dia menganggap kehebatan serta kekayaan manusia tidak ada sangkut pautnya dengan tuhan. Menurut tuan besar apa yang istimewa dari nama tuhan yang sering kali di sebut oleh sang putra. Tuhan yang sama sekali tidak pernah terlihat bagaimana bentuk rupanya.
Mendengar sang putera yang selalu mengagungkan nama Tuhannya dan selalu mengaitkan kehidupan manusia bahkan makhluk yang ada di muka bumi ini dengan tuhan membuat nya ada sedikit ketertarikan untuk mengetahui bagaimana tuhan yang sering kali Shin sebut Allah itu.
"Nyonya muda orang yang sangat baik tuan, saya yakin Tuhan pasti akan selalu menjaga dan melindunginya dimana pun dia berada. Dan saya yakin nyonya muda pasti akan segera di temukan dalam keadaan sehat." Liu tiba tiba berucap menenangkan Shin yang kembali teringat pada sang istri.
Shin melirik Liu. Sorot matanya mulai berkaca kaca."Terima kasih doanya bibi. Bibi satu satu nya orang yang selalu menenangkan perasaanku di rumah ini ketika aku dalam keadaan down."
"Saya sudah menganggap tuan seperti anak saya sendiri meskipun bukan terlahir dari rahim saya. Apa pun yang di rasa kan oleh tuan saya pasti akan merasakan nya juga meskipun kita tidak memiliki ikatan darah."
"Aku tidak butuh ikatan darah bi, untuk apa? orang yang memiliki ikatan darah yang lebih kental dengan ku saja tidak pernah peduli padaku sejak aku baru di lahir kan di dunia ini. Aku butuh seorang figur orang tua seperti bibi yang mau menyemangati ketika aku dalam keadaanku seperti ini bukan melainkan pergi meninggalkan ku demi kesenangan nya sendiri."
__ADS_1
Dada tuan besar Hoon tiba tiba terasa sesak mendengar curahan hati Shin pada Liu yang sudah di anggapnya seperti seorang ibu. Curahan hati yang dia tujukan pada istrinya. Seorang istri yang tidak pernah mengurusnya bahkan tidak pernah mengurus darah dagingnya sendiri. Shin hanya di lahir kan namun setelah lahir baby sitter lah yang merawat nya sementara dirinya hanya sibuk dengan urusannya sendiri.
Tuan besar Hoon menatap Liu begitu pula dengan Liu yang tanpa sengaja melihat ke arah nya sehingga pandangan mereka bertemu namun Liu segera menundukkan wajahnya. Entah mengapa tatapan tuan besar kali ini membuat Liu malu dan salah tingkah.
Tuan besar kagum pada wanita yang sudah menghabiskan separuh hidupnya mengabdi di keluarga Hoon. Begitu dia terlihat sangat tulus mengurus keluarga Hoon tanpa lelah. Mulai dari mengurus kakek Hoon hingga wafat sampai mengurus keluarganya sejak Shin masih sangat belia. Tuan besar berpikir sikap keibuan wanita seperti itulah yang dia butuhkan dulu sebelum menerima perjodohan dengan Hyun Jung.
Liu mengelus punggung Shin yang sedang menumpahkan unek-unek yang dia rasakan selama ini.
"Tuan muda itu pria yang hebat dan kuat di tambah lagi di dampingi seorang istri yang begitu mencintai tuan. Kelak jika tuan dan nyonya sudah memiliki seorang anak jadikan pengalaman hidup tuan untuk tidak akan pernah menyia nyiakan nya. Satu pesan saya pada tuan, jangan pernah memanjakan seorang anak dengan harta yang melimpah sebanyak apapun harta yang tuan miliki. Ajari dia dengan kesederhanaan agar anak bisa mulai membedakan antara kebutuhan dan keinginan, anak belajar menghargai dan merawat yang mereka telah punyai dan meningkatkan rasa syukur serta berbagi kepada sesama. Hingga anak itu tumbuh menjadi sosok dewasa yang memiliki rasa tanggung jawab menghargai sesama manusia." Shin menyimak nasehat Liu yang panjang. Tentu saja nasehat sederhana seperti itu yang dia butuhkan dari figur orang tua.
"Liu, mau kemana?" Tanya tuan besar ketika Liu sudah menenangkan Shin dan hendak beranjak pergi.
"Saya...mau ke dapur tuan."
"Apa kamu tidak mau membuat kan aku sarapan?"
"Aku ingin di buatkan sandwich seperti kemarin."
"Em, apa menggunakan saos buatan nyonya muda?"
"Tentu saja." Ucap tuan besar dengan raut wajah berseri.
Shin yang sedang fokus memakan roti nya melirik Liu." Jangan banyak banyak bi, nanti cepat habis. Kalau habis siapa yang akan membuatnya? istriku saja belum kembali."
Liu tersenyum tipis. Sementara tuan besar menatap kesal ke arah Shin yang sudah melarangnya untuk tidak mengkonsumi saos lebih banyak dari biasanya.
"Liu, nanti kamu belajarlah membuat saos seperti itu agar aku bisa memakan hasil olahan mu dan biar putera ku ini tidak lagi meledek ku.
__ADS_1
Shin memajukan bibir bawahnya sementara Liu tersenyum." Nanti kalau nyonya besar sudah kembali ke rumah ini saya akan belajar padanya tuan." Ucap Liu.
"Ba..bagus itu." ucap tuan besar sedikit gugup.
"Iya, tuan." Setelah itu Liu dengan cekatan membuat kan sandwich seperti yang tuan besar inginkan.
"Hoon!" Ucap tuan besar di sela sela sarapan sandwich buatan Liu.
Shin mendongak melihat pada sang ayah yang sedang menatapnya." Kenapa dad?"
"Apa, apa hari ini kau mau menemani kami bermain golf?"
"Bagaimana dengan pekerjaan kantor?" Shin balik bertanya.
"Untuk hari ini serahkan saja urusan kantor pada asisten mu. Aku juga begitu karena aku tidak dapat menolak keinginan mereka untuk bermain golf pagi ini. Padahal aku sudah menawarkan mereka pada hari weekend saja tapi mereka tidak mau."
"Ya dad, aku mau ikut bermain golf dengan kalian. Lagi pula aku sudah lama sekali tidak bermain golf dengan mu."
"Karena kau selalu menolak ketika aku mengajak mu."
Shin tersenyum mendengar keluhan sang ayah. Shin sendiri entah mengapa hari ini dia ingin sekali bermain golf. Padahal selama ini dia orang yang begitu sulit jika tidak di paksa oleh tuan besar hoon.
"Kira kira jam berapa mereka datang kemari, dad?"
"Sekitar dalam dua jam lagi."
"Ya sudah kalau begitu aku mau berenang dulu." Shin beranjak dari duduknya setelah roti di piringnya telah habis.
__ADS_1