
Setelah berada di depan pintu kamar Norin, Liu berulang kali mengetuk pintu itu dan berteriak memanggil nama nyonya muda namun pintu itu tetap saja tidak terbuka. Cukup lama Liu berada di situ hingga dia menduga bahwa sang nyonya muda tidak ada di dalam kamarnya.
"Jika nyonya muda tidak ada di dalam kamarnya lantas kemana dia? apa dia sudah pergi ke supermarket lebih dulu karena terlalu lama menungguku?"Bathin Liu bertanya.
Setelah meyakinkan diri bahwa Norin tidak ada di kamarnya, Liu segera menuruni anak tangga dan ketika dia baru saja mendaratkan kedua kakinya di lantai dasar, Yuan melintasinya.
"Hei, Yuan!" panggil Liu.
Yuan menoleh." Kau memanggilku, Liu?"Tanya Yuan.
"Ya, kau, lantas siapa lagi pemilik nama Yuan kalau bukan kau?"
Yuan memajukan bibir bawahnya kemudian mendekati Liu." Tidak biasanya kau memanggilku, apa ada hal yang penting?"
"Kau tau dimana Ji Eun berada?"
"Ck, aku tidak mengantonginya."Jawab Yuan sembari tersenyum menggoda. Jawaban nyeleneh Yuan membuat Liu kesal."Aku bertanya serius Yuan. Jangan main main denganku."Ucap Liu dengan nada di naik kan tiga oktaf serta tatapan tajam.
Ucapan kalimat Liu bernada membentak itu membuat Yuan tersentak. Dia tidak menyangka Liu bisa semarah itu padahal niatnya hanya becanda saja namun siapa sangka Liu balik marah padanya.
"Maaf aku hanya becanda Liu, tadi aku melihat Ji Eun sedang berada di kamarnya."
"Tolong panggil dia kemari." Titah Liu kemudian.
"Baik, aku akan memanggilkan nya untuk mu." Setelah berucap, Yuan beranjak pergi menuruti kemauan Liu. Ya, Yuan tidak pernah bisa membantah apapun yang di perintahkan oleh Liu karena Yuan menyukai nya sejak dari dulu namun sayangnya Liu tidak pernah menyadarinya.
Sementara di paviliun, Norin berusaha mencari celah agar bisa keluar dari paviliun itu namun sangat sulit. Paviliun itu hanya memiliki pintu utama dan di kelilingi oleh kaca besar, tebal, anti pecah dan tidak tembus pandang. Apabila berdiri di balik kaca itu maka orang yang ada di luar tidak akan dapat melihat jika ada orang di dalam paviliun tersebut.
Norin terduduk lemah di atas sofa, air matanya terus mengalir deras. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain berdoa memohon pertolongan pada Tuhannya.
__ADS_1
Lapangan golf itu tidak pernah di gunakan tiap hari dan hanya akan di gunakan ketika weekend saja atau ketika ada acara acara tertentu. Jadi, untuk hari hari biasa tempat itu akan sepi seperti saat ini.
Yuan dan Ji Eun mendekati Liu setelah Yuan berhasil membujuk Ji Eun yang pada awalnya tidak ingin menemui Liu. Gengsi Ji Eun sangat tinggi meskipun dia seorang pelayan tapi dia tidak ingin di anggap pelayan oleh rekan rekan seprofesi nya. Dia tidak akan datang mendekati orang yang telah memanggilkan melainkan orang itu harus datang padanya dengan sendirinya kecuali nyonya besar, tuan besar atau tuan muda Hoon yang memanggil dia pasti akan bersikap selayaknya seorang pelayan.
Ji Eun datang dengan wajah menekuk dan sama sekali tidak enak di pandang oleh Liu. Dia sendiri tau apa yang membuat raut muka Ji Eun demikian apa lagi kalau tidak sedang kesal padanya.
"Terima kasih Yuan kau membawa pelayan seperti ratu ini datang menemui ku." Sindir Liu."
Ji Eun memiringkan bibirnya dan menyilangkan kedua tangannya di atas perut.
"Tidak usah banyak bicara wanita tua, kau mau apa memanggilku?" tanya Ji Eun ketus.
"Ck, aku tidak akan memanggilmu jika bukan atas perintah nyonya besar."
Ji Eun menyipitkan sebelah matanya." Apa maksudmu?"
Ji Eun dan Yuan saling pandang kemudian setenang mungkin dia menjawab." Mana ku tau dimana keberadaanya. Apa kau pikir aku ini baby sitter nya?"
"Aku bertanya padamu siapa tau kau melihatnya. Tidak perlu kau bicara ketus denganku karena walau bagaimana pun aku ini lebih tua dari mu. Dan satu hal lagi, apa kau lupa siapa orang yang sudah membuatmu bisa bekerja di rumah keluarga Hoon? aku bukan ?"
Ji Eun nampak terperangah. Tentu saja dia tidak lupa ketika sang majikan tidak menerimanya bekerja disini, Liu lah yang meyakinkan dua majikan itu hingga mereka mau mempekerjakannya. Tapi, hal itu tidak membuat Ji Eun merasa berhutang budi dan nyaris melupakan jasa Liu mengingat dia selalu membela wanita yang di anggap sebagai nyonya muda di rumah ini.
Ji Eun tersenyum miring melihat punggung Liu yang sudah berjalan menjauhinya. Kemudian melirik Yuan yang hanya berdiam diri sejak dari tadi.
"Apa wanita itu benar benar sudah terkurung dan di pastikan tidak akan bisa keluar dari tempat itu paman?"
"Beres." Jawab yuan singkat.
"Bagus. Sini mana kuncinya?" Ji Eun menadah kan tangannya.
__ADS_1
Yuan merogoh kantong lalu memberikan kunci itu pas Ji Eun.
"Awas saja kalau kau memberi tau Liu dimana keberadaan wanita itu saat ini. Kau akan tau akibatnya paman." Ancam Ji Eun.
Yuan memilih diam saja karena dia berada di situasi yang serba salah.
Ji Eun melangkah dengan wajah berseri seri menuju kamar nyonya besar. Betapa senangnya dia hari ini bisa mengurung wanita itu di paviliun dengan mulus. Setelah berada di kamar nyonya besar dia langsung masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Nyonya besar!" sapa Ji Eun pada wanita yang sedang berdiri memunggunginya dan melihat pada pemandangan yang di suguhkan di balik kaca besar kamarnya.
Dia memiringkan kepala melihat Ji Eun dengan ekor mata." Apa kau sudah mengerjakan apa yang ku perintahkan?" tanya nya.
"Sudah beres nyonya dan saya bisa memastikan wanita itu tidak akan bisa keluar."
"Kau yakin?"
"Seratus persen yakin."
"Apa kau bisa memastikan tidak ada yang melihat dia pergi ke sana?"
"Tidak ada nyonya. Liu berada di kamar nyonya, Liam sibuk dengan pekerjaannya begitu pula dengan Suhe."
"Bagus, dan apa kau sudah memastikan di sana tidak ada bahan makanan?"
"Sudah di pastikan tidak ada nyonya. Dan ini saya membawa kuncinya nyonya." Ji Eun menyodorkan kunci itu pada nyonya besar, Kunci yang telah di berikan oleh Yuan.
Nyonya besar Hoon berbalik menghadap Ji Eun. Kemudian dia meraih kunci dari tangan wanita kepercayaannya itu lalu mengangkat kunci itu tepat di hadapan wajahnya.
"Rasakan kau wanita bodoh. Tidak akan ada orang yang akan menolong mu dan ku pastikan kau akan mati kelaparan lalu suami tercinta mu akan menemukan tubuhmu dalam keadaan sudah membusuk." Senyum menyeringai tersungging di bibir merahnya.
__ADS_1