Ikatan Cinta Suami Korea

Ikatan Cinta Suami Korea
Saran bibi Liu


__ADS_3

"Selamat sore bibi Liu?"sapa Norin pada wanita paruh baya yang terlihat sedang sibuk serta berdiri membelakanginya.


Bibi Liu menoleh lalu berbalik." Nyonya muda. Kenapa nyonya muda kemari bukan kah sedang ada tuan muda Hoon?"dia sedikit terkejut melihat keberadaan Norin di dapur.


"Tidak apa apa Bi, saya sudah meminta ijin padanya. Lagi pula sepertinya saya sudah lama tidak memasak dan saya ingin memakan hasil olahan saya sendiri malam ini, apakah boleh?"


"Tentu saja boleh nyonya, kenapa harus meminta ijin pada saya yang bukan siapa siapa di rumah ini."Bibi Liu merendah diri.


Norin tersenyum."Bibi masih keluarga Hoon, bukan kah bibi sudah bekerja disini saat Hoon masih kecil."


"Benar nyonya, pada saat tuan muda berusia empat belas tahun."


"Apa, keluarga Hoon? Ha ha ha....jangan mimpi Liu." Tiba tiba Ji Eun memasuki dapur dan berkata sinis.


Bibi Liu terlihat kesal melihat keberadaanya di dapur, padahal dapur bukan areanya.


"Heh, Ji Eun, untuk apa kau kemari? dapur bukan area mu," kata bibi Liu dengan kesal.


Ji Eun berdecak."Lagi pula siapa yang mau membersikan dapur ini. Percaya diri sekali kau. Yang cocok membersihkan dapur memang hanya kau, kotor."


"Dasar pelayan tak tau diri."Bibi Liu tersulut emosi dan hendak mendekati Ji Eun namun Norin mencegahnya.


Ji Eun tersenyum sinis kemudian melangkah pergi.


Setelah kepergian Ji Eun, Norin dan bibi Liu bersiap siap untuk memasak.


"Nyonya, apa tidak sebaiknya nyonya memasak untuk tuan serta nyonya besar Hoon juga? maaf nyonya, bukan maksud saya ingin meringankan pekerjaan saya tapi apa nyonya tidak ingin mencoba mengambil hati mereka lewat masakan nyonya. Sebab, saya rasa masakan nyonya sangat enak." Bibi Liu tiba tiba menyarankan.


Norin menggeleng cepat." Tidak bibi, saya takut masakan saya tidak sesuai dengan lidah mereka lagi pula saya hanya bisa membuat makanan indonesia saja."Norin ingat saat dia membuatkan bekal untuk suaminya nyonya Hoon menghina masakannya. Setelah itu dia merasa berkecil hati.


"Tapi apa salahnya di coba nyonya. Begini saja, nyonya masak saja dulu dan saya tidak akan memberi tahu mereka jika nyonya yang memasak. Sampai melihat respon mereka, bagaimana nyonya?"


"Apakah begitu bi?"


"Iya Nyonya."


Norin terdiam sejenak namun kemudian mengangguk.

__ADS_1


Norin bersiap siap untuk memasak, dia akan memasak khas makanan Indonesia. Dia tidak mengerjakan sendiri melainkan di bantu oleh bibi Liu. Dalam hati Norin berharap semoga kedua mertuanya menyukai masakannya.


Dua jam berlalu dan tepat pukul setengah delapan malam, masakan hasil olahannya sudah tersaji di atas meja makan dengan sempurna. Norin tersenyum memandangnya. Ada nasi, rendang daging, ikan bakar, omelet sayur plus daging serta capcay. Semua makanan itu adalah makanan kesukaan Shin, oleh karena itu dia memasaknya.


Bibi Liu pun ikut tersenyum melihatnya." nyonya, semoga tuan serta nyonya besar menyukai masakan nyonya yang terlihat menggiur kan ini," kata bibi Liu.


"Mudah mudahan bibi. Emm, oya Bi, saya mau kembali ke kamar dulu ya."


"Silahkan nyonya."


Kemudian Norin bergegas kembali ke kamarnya sebelum tuan serta nyonya besar datang ke ruang makan. Namun di tengah langkahnya menuju kamar, dia berpapasan dengan tuan serta nyonya Hoon. Norin membungkuk kan sedikit punggungnya sambil tersenyum tipis sebagai penghormatan pada kedua mertuanya meskipun raut wajah mereka terkesan dingin. Setelah itu Norin melanjutkan langkahnya tapi baru dua langkah nyonya hoon berseru dengan sinis.


"Lima bulan lagi waktumu. Kau tidak lupa bukan? ck, aku sudah katakan padamu kau wanita yang tidak akan bisa memiliki seorang anak."


Norin memejamkan matanya sejenak, dadanya terasa sesak sekali mendengarnya. Sembari memegang dada dia berkata,"iya Nyonya, saya tidak lupa." Kemudian melangkah pergi.


Tuan Hoon melirik istri nya yang sedang tersenyum sinis melihat pada menantunya yang berjalan sambil menyeka air matanya.


"Apa kau sudah puas Hyun Jung?"tanya tuan besar Hoon tanpa ekspresi.


"Tentu saja belum puas dan aku akan puas setelah dia keluar dari rumah ini."Senyum menyeringai nampak tersungging di bibirnya.


Tiba di depan pintu kamarnya Norin membenar kan wajahnya terlebih dahulu, menghilangkan jejak air mata yang sempat mengalir. Dia tidak ingin Shin mempertanyakannya jika tau bahwa dirinya telah menangis.


"Kenapa lama sekali masaknya? apa yang kamu masak? apa kamu tidak tau jika aku merindu?"cecar Shin, ketika Norin baru memasuki kamarnya.


Norin tidak langsung menjawabnya melainkan menatap nya dengan pupil mata yang membesar. Shin tertawa renyah kemudian menakup wajahnya dan berkata,"Kau tau apa yang membuat pertama kali aku jatuh cinta padamu? mata besar mu ini....cup...cup." Shin mencium kedua matanya secara bergantian." Dan bibir cerewet mu ini...cup." Berpindah pada bibirnya.


Norin melepaskan diri dari pagutan setelah merasa kehabisan nafas kemudian menghirup udara sebanyak banyaknya. Sementara Shin hanya tersenyum saja melihatnya.


"Kamu masak apa tadi sayang?" tanya shin sembari menyisir rambut indah sang istri. Norin memandangi wajah Shin yang sedang fokus membantunya menyisir rambut panjangnya melalui cermin.


Karena Shin tidak mendengar suara Norin, dia menghentikan pergerakan tangannya lalu menoleh ke arah cermin dan mendapati istrinya yang sedang menatapnya melalui cermin.


"Hei, kau kenapa melihat ku seperti itu?"


"Apa aku tidak boleh menatap suamiku yang tampan?" Norin balik bertanya.

__ADS_1


Senyum mengembang di bibir Shin, jarang sekali dia mendapat pujian dari istrinya itu dan kali ini dia mendengar nya langsung.


"Benar kah aku ini tampan?"


"He'em."


"Apa karena aku tampan kamu mencintaiku?"


Norin menggeleng.


"Lantas?


"Hatimu dan.....perjuangan mu untuk mendapatkan cinta ku."


"Meskipun aku mendapatkan mu dengan cara yang kotor dan memaksa? Aku mengambil mahkota berharga mu dengan paksa dan menikahi mu tanpa sepengetahuan mu."


"Kenapa kamu mengungkit masa lalu yang sudah aku lupakan?"


"Karena aku selalu di bayangi rasa bersalah dan dosa."


Norin berdiri tegak dan menghadap Shin, meraih tangannya dan menggenggamnya.


"Aku sudah memaafkan mu sayang, aku ikhlas. Kita tidak perlu lagi mengungkit apa yang sudah terjadi. Dan satu hal yang harus kamu tau bahwa aku mencintai mu lahir dan bathin." Norin mengecupi tangan yang sedang di genggam olehnya.


"Benarkah kamu benar benar sudah ikhlas dan tidak terpaksa?"


Norin mengangguk.


"Terima kasih sayang, terima kasih." Shin membawa tubuh norin ke dalam dekapannya.


Shin dan Norin menuruni anak tangga dengan tangan yang saling bertautan. Dari bawah tangga sepasang mata memperhatikan mereka dengan perasaan kesal. Hingga Shin dan Norin menapaki lantai dasar, sepasang mata itu masih saja memperhatikan nya.


Shin yang menyadari bahwa ada seorang pelayan yang memperhatikannya menoleh ke arah kemudian berkata dengan nada membentak." Heh, kenapa kau berdiri di situ dan memperhatikan kami? apa kau tidak ada pekerjaan?"


Ji Eun tersentak, dia tidak menyangka keberadaanya di ketahui oleh Shin.


"Ma..maaf tuan, saya hanya sedang lewat saja." Kemudian Ji Eun beranjak pergi.

__ADS_1


Shin merasa risih dengan keberadaan pelayan itu di rumahnya, dia merasa gerak geriknya selalu di perhatikan oleh pelayan itu seperti seorang mata mata saja. Jika bukan karena nyonya Hoon yang mempertahankan nya Shin sudah mendepaknya.


__ADS_2