Ikatan Cinta Suami Korea

Ikatan Cinta Suami Korea
Perdebatan di dalam lif


__ADS_3

Keesokan hari.


Shin menggendong Norin ala bridal style hendak memasuki sebuah lif yang terdapat di rumah nya. Sebenarnya Shin sendiri sangat jarang menggunakan lif dan sebagai akses menuju kamarnya dia lebih sering menggunakan anak tangga.


Di tengah sedang menunggu lif terbuka, sebuah pintu kamar yang letaknya saling berhadapan dengan pintu lif itu terbuka lalu muncul dua sosok orang yang sangat Norin segani dan hormati di rumah besar itu. Norin sendiri baru pertama kali nya menaiki lif dan dia baru mengetahui dimana letak kamar mertuanya. Setelah melihat kedua mertuanya berada di belakang Shin dan menatap dingin padanya, dia meminta Shin untuk menurun kan nya namun Shin tidak ingin menurunkannya.


Shin sendiri menyadari keberadaan orang tuanya yang sudah berdiri di belakangnya namun Shin tidak ingin menyapanya.


"Tolong turunkan aku, aku bisa berjalan sendiri," kata Norin dengan pelan. Untuk kedua kalinya Norin meminta pada Shin.


Shin geleng kepala."No,"ucap Shin, dia masih tidak ingin menurunkannya.


Norin melirik ke arah belakang kembali dan hal itu bertepatan dengan tatapan tajam nyonya Hoon padanya. Namun meskipun mendapat tatapan tajam Norin memaksakan diri untuk mengangguk kecil dan tersenyum tipis pada nyonya Hoon. Setelah itu dia menundukkan wajahnya.


Setelah pintu lif terbuka, Shin lebih dulu memasukinya kemudian di ikuti oleh tuan serta nyonya besar Hoon di belakangnya.


Satu lif bersama dengan mertuanya membuat Norin merasa gugup dan tidak enak hati karena posisinya yang sedang di gendong oleh Shin.


"Tolong turunkan aku, biarkan aku berjalan saja,"pinta Norin, dan ini untuk ketiga kalinya dia meminta untuk di turunkan.


"Tidak, aku tidak ingin sakit mu semakin parah jika memaksa berjalan."Shin menolak kembali.


"Tapi...!"


"Sudah, turuti saja apa kata suamimu."Shin memotong ucapan Norin yang belum sempat terlontar. Norin terdiam, dia tidak ingin membuka suaranya lagi.


Tiba tiba nyonya Hoon berdecak dan berkata,"kau berlebihan sekali Hoon memperlakukannya seperti seorang ratu saja. Padahal lukanya hanya luka kecil."Nyonya Hoon menyindir sinis. Tuan Hoon melirik pada istrinya dengan ekor matanya.

__ADS_1


"Tidak berlebihan mom, istriku memang sedang sakit dan aku tidak ingin luka di kakinya semakin parah jika di paksa bergerak." Shin menimpalinya dengan sedikit kesal sekaligus menunjukan rasa ke khawatirannya pada Norin.


Nyonya Hoon mencebik kan bibirnya melihat dan mendengar sikap Shin pada istrinya yang di anggapnya berlebihan.


"Kau mau membawa dia kemana?" tanya tuan besar Hoon yang tiba tiba saja bersuara setelah cukup lama membisu.


"Aku akan membawanya ke rumah sakit," jawab Shin.


"Lagi pula dia aneh sekali kenapa tidak mau di obati oleh Han tadi malam? merepotkan saja,"kata nyonya Hoon, dia masih saja menunjukan sikap sinis nya.


Norin yang mendengar ucapan nyonya Hoon merendah diri. Menurut Norin apa yang di katakan oleh nyonya Hoon adalah benar bahwa dia telah merepotkan suaminya.


"Istriku tidak pernah merepotkan aku, aku ini suaminya dan sudah kewajiban ku untuk melindunginya, menjaganya, merawatnya dan menafkahinya lahir dan bathin."


Jawaban tegas Shin membuat jakun tuan besar Hoon naik turun, sementara nyonya Hoon terdiam seketika.


"Sudah ku katakan tadi malam bahwa istriku tidak ingin di sentuh oleh yang bukan muhrimnya dan aku sendiri tidak akan membiarkan pria lain menyentuhnya," sambung Shin kemudian.


"Kau tidak melupakan bahwa hari ini akan ada pertemuan penting dengan pengusaha dari jepang bukan?"tuan besar Hoon berkata dengan suara keras. Dia kesal pada putera nya yang lebih mementingkan istrinya yang tidak sakit parah daripada mementingkan sebuah kerja sama yang akan mendatangkan keuntungan yang besar.


"Kesembuhan istriku jauh lebih penting dari pada sekedar keuntungan yang didapat dari sebuah kerja sama. Tapi Daddy tenang saja aku akan menyuruh asisten ku untuk mewakilinya," jawab Shin, kemudian melangkah kan kembali kedua kakinya.


Jawaban Shin membuat tuan besar Hoon terdiam, tangannya mengepal menahan kekesalan pada putera satu satunya.


"Lihat, dia sudah berani membangkang perintah mu.Wanita itu memang telah memberi pengaruh buruk untuk Hoon," kata nyonya Hoon, dia menghasut suaminya agar semakin membenci Norin."


"Lihat saja tidak lama lagi kau akan terdepak dari rumah ini serta dari Hoon wanita sialan," ucap nya dengan sorot mata tajam serta senyum menyeringai menatap punggung Shin yang sedang berjalan ke arah luar. Tuan besar Hoon melirik ke arah nyonya Hoon kemudian tersenyum miring lalu melangkah pergi.

__ADS_1


Shin dan Norin memasuki sebuah mobil mewah berwarna hitam yang sudah terparkir di depan pintu. Kemudian Shin meletak kan tubuh Norin dengan hati hati di jok mobil.


"Maaf tuan muda, kita hendak kemana kali ini?" tanya sang sopir.


Shin yang baru selesai membenarkan letak duduk Norin menoleh ke arah sang sopir."Apa kau lupa tadi malam aku bicara apa padamu?" kata Shin, sang sopir menggaruk tengkuknya, dia bingung karena tuan muda Hoon tidak pernah memberi tahu apa apa padanya.


"Tapi tuan, sungguh tuan belum bicara apa apa pada saya." Sang sopir mengelak karena dia merasa sang tuan belum pernah bicara sepatah katapun tadi malam padanya.


"Benar kah?" Shin memijit dahi nya." Seperti nya aku sudah pernah memberi tahu seseorang tapi aku lupa siapa orang itu," sambung nya kemudian. Sang sopir mengerutkan keningnya, sementara Norin hanya tersenyum saja melihat tingkah Shin yang pelupa.


"Ya sudah bawa kami ke Gwang zhu hospital." titah Shin kemudian.


"Baik tuan."Sang sopir mulai melajukan mobilnya ke arah rumah sakit yang di perintahkan.


Norin mengalihkan pandangannya ke arah samping, dia melihat orang orang yang sedang lalu lalang di sepanjang perjalan nya menuju rumah sakit.


"Sayang." Shin menyapa.


Norin mengalikan pandangannya, dia memiringkan wajahnya dan menatap pada Shin." Kenapa?"


"Apa kamu betah berada di negara ini? khusus nya berada di rumah orang tuaku?" Shin bertanya. Norin terdiam, dia bingung harus mengakuinya bagaimana. Di satu sisi Norin lebih ingin tinggal di negaranya, namun di sisi lain Norin tidak ingin egois memisahkan Shin dengan kedua orang tuanya jika dia meminta Shin untuk tinggal di Indonesia saja. Selain itu, Norin tidak melupakan surat perjanjian itu dan tidak ingin mengingkarinya jika enam bulan ke depan dia belum saja bisa memberikan kabar tentang kehamilannya pada kedua mertuanya.


Norin tersenyum hambar kemudian mengangguk dan berkata," ya, aku betah tinggal di rumah orang tuamu."


"Apa kamu yakin?" Shin memastikan.


Norin mengangguk kembali. Shin tersenyum lalu meraih pipinya dan membelainya dengan lembut.

__ADS_1


"Maafkan sikap orang tuaku, tetap lah berusaha untuk menaklukan hati mereka. Sekeras kerasnya batu pasti akan terkikis oleh tetesan air meskipun harus menunggunya bertahun lamanya."


Norin tersenyum getir, apakah dia bisa bertahan hingga sekian tahun lamanya untuk menaklukan hati mertuanya yang sekeras batu? sementara tuan serta nyonya Hoon memberi waktu padanya hanya satu tahun saja.


__ADS_2