Ikatan Cinta Suami Korea

Ikatan Cinta Suami Korea
Sandwich untuk Daddy


__ADS_3

Shin menyelesaikan rutinitas mandi dengan cepat. Dia tidak ingin membuat Norin menunggunya terlalu lama karena dia sudah mengatakan bahwa dia akan membantu Norin untuk mengeringkan rambutnya.


Shin keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk pendek sebatas pinggang, menampakkan otot otot yang terbentuk. Kemudian dia berjalan menghampiri Norin yang masih duduk di meja rias namun dalam keadaan penampilan yang sudah rapih dan tertutup. Shin mengernyitkan dahinya, bukan kah tadi Norin mau menunggunya tapi kenapa terlihat sudah rapih.


Dari pantulan cermin Shin melihat Norin sedang menaburkan sedikit bedak di wajahnya. Norin memandang Shin yang sedang berdiri di belakangnya dan hanya menggunankan handuk kemudian memberikan senyuman termanisnya.


"Sayang Kamu sudah....."


"Sudah, aku sudah mengeringkan rambutku. pakai dulu pakaianmu aku sudah menyediakan nya." Norin memotong ucapan Shin kemudian bangkit dan berjalan ke arah king size dimana tadi dia meletak kan pakaian kerja Shin. Setelah itu dia mendekati Shin dan akan membantunya untuk memakaikan kemeja namun Shin memegang tangannya dan berkata.


"Aku bukan anak kecil sayang, tapi aku pria dewasa, aku bisa memakainya sendiri. Lagi pula kamu bukan pelayan ku melainkan istriku."


"Aku tidak pernah merasa di perlakukan seperti pelayan oleh mu, aku hanya merasa ini merupakan salah satu tugasku sebagai istrimu. Tolong jangan mengurangi pahalaku."


Shin melepaskan tangannya, dia akan mengalah jika norin sudah berbicara masalah pahala. Shin membiarkan tangan cekatan istrinya mendandaninya sedemikian rupa sampai dia benar benar terlihat gagah dan tampan.


"Tampan sekali suamiku," ucap Norin sembari memasangkan sebuah dasi bermotif garis garis halus di lehernya.


"Benar kah?"tanya shin, memandang lekat wajah cantik sang istri.


"He'em."


Kemudian Shin meraih daku Norin lalu mengecupnya dengan singkat."Terima kasih sayang, i love you."


Norin mengembangkan senyum.


"Sudah selesai sayang?"tanya shin.


"Emm sudah," sembari membenarkan letak jas hitam yang di gunakan oleh Shin.


"Sayang."


"He'em."


"Sepertinya sore ini aku akan pulang sedikit terlambat."

__ADS_1


"Owh, begitu."


"Yeah, apa kamu tidak apa apa."


"Jangan di pikirkan," ucap Shin kemudian meraih tangannya.


"Kalau begitu mari kita sarapan dulu sayang," ajak Norin kemudian.


Shin mengangguk.


Shin dan Norin berjalan beriringan dan dengan tangan yang saling bertautan mendekati meja makan. Seperti biasa tuan serta nyonya Hoon sudah lebih dulu berada di sana sebelum mereka datang.


"Good morning dad, mom!," sapa Shin.


"Hem," sahut tuan Hoon tanpa menoleh. Sementara nyonya besar hoon diam saja.


"Duduk sayang," kata Shin pada Norin, setelah menggeser bangku untuknya.


Norin tersenyum."Terima kasih," ucap nya, kemudian duduk.


"Sandwich buatan mu saja, aku rindu makanan hasil olahan tangan istriku yang cantiknya seperti bidadari ini." Shin merayu Norin seolah olah dia menganggap tidak ada orang tuanya di antara mereka. Norin tersipu malu terlebih di rayu di depan kedua mertuanya.


Kemudian dengan cekatan dia membuat sebuah sandwich dari roti gandum yang bahan bahannya sudah tersedia di atas meja. Kesibukannya membuat sandwich membuat dirinya menjadi pusat perhatian empat pasang mata yang menatap dingin ke arahnya. Tuan Hoon tidak menampik bahwa dirinya mengagumi sosok menantunya. Namun ego nya jauh lebih besar daripada sekedar rasa kagum padanya. Sementara nyonya Hoon sendiri hanya memandang sinis saja melihatnya.


Setelah selesai Norin meletak kan sandwich itu di atas piring Shin. Senyum Shin mengembang melihat sebuah sandwich buatan sang istri sudah berada di hadapannya.


"Menggiurkan sekali, terima kasih ya sayang!"ucap Shin, kemudian membelai pipinya.


Norin mengangguk lalu tersenyum.


"Treeng...streeet"


Nyonya Hoon meletak kan garpu dan pisaunya di atas piring yang berisi setengah roti panggang milik nya. Kemudian menggeser kursi dengan kasar lalu beranjak pergi begitu saja meninggalkan tiga orang yang terbengong melihatnya. Nyonya Hoon benar benar tidak suka melihat keromantisan yang di berikan oleh Shin terhadap menantu yang sama sekali tidak disukainya. Dia berfikir lebih baik menyingkir daripada melihatnya.


Sementara tuan besar Hoon, dia melirik dingin ke arah Shin dan Norin lalu bertanya," tidak bisakah kalian tidak bersikap seperti itu di depan kami?"

__ADS_1


"Sikap, sikap apa maksud Daddy? kami ini pasangan suami istri, apa salah kalau kami bersikap hangat dan lembut serta saling menyayangi satu sama lain? Jangan samakan kami dengan sikap Daddy dan mommy. Berstatus pasangan suami istri tapi bersikap seperti pada orang lain yang tidak memiliki hubungan apapun."


Brakkk


Tuan Hoon menggebrak meja dan hal itu membuat Norin terperanjat. Namun tidak dengan Shin dia menatap kesal ke arah sang ayah.


"Jangan berani kamu membicarakan hubunganku dengan mommy mu Hoon,"kata tuan Hoon, menatap tajam ke arah Shin.


Shin berdecak mengejek."Aku heran pada kalian, tidak saling cinta kenapa bisa lahir aku?"


"Hoon,"bentak tuan Hoon.


"Aku tidak mengerti dengan sikap kalian dad. Kalian tau, sikap kalian membuat aku tidak betah tinggal di rumah ini."


Norin memegang tangan Shin agar dia berhenti berbicara yang dapat membuat tuan besar Hoon semakin marah.


Shin melirik ke arah Norin dan bertanya."Sayang bagaimana kalau kita pindah dan tinggal saja di Indonesia? setidak nya di sana jauh lebih nyaman."


Norin melirik ke arah tuan Hoon yang tengah marah kemudian melirik lagi pada Shin." Sayang lebih baik di makan dulu sandwich ini, apa kamu tidak kasihan padaku sudah susah payah membuatnya?"ucap norin, mencairkan suasana yang menegang.


Shin menghembuskan nafas berat lalu melirik pada istrinya yang sedang memelas."Tentu saja sayang, aku akan memakannya."Kemudian Shin mulai memakan sandwich miliknya.


Norin melirik piring di hadapan tuan besar Hoon terlihat masih kosong, dan dengan ragu dia bertanya,"apa...Daddy mau aku buatkan sandwich seperti Hoon?"


Merasa dirinya di tanyai oleh sang menantu, ekor mata tuanya melirik pada wanita muda yang selama ini berusaha bersikap baik padanya namun tak pernah dia hiraukan. Sesaat dia terdiam seperti sedang berpikir, namun tak lama kemudian dia mengangguk meskipun ragu.


Norin menghela nafas lega, dia tidak menyangka sang ayah mertua menerima tawarannya. Dan Norin berharap ini merupakan awal yang baik untuk hubungan antara dirinya dengan kedua mertuanya.


"Tunggu sebentar ya dad aku buatkan dulu!" kemudian dengan penuh semangat serta senyum yang tersungging di bibirnya, Norin membuatkan sandwich special untuk untuk tuan besar Hoon.


Shin memperhatikan raut wajah Norin terlihat tulus dan bahagia sekali. Shin mengerti bahwa salah satu sumber kebahagiaannya adalah sikap hangat kedua orang tuanya yang semestinya dia dapatkan namun belum pernah di dapatkannya. Shin selalu berdoa semoga kedua orang tuanya dapat menerima istrinya di tengah tengah mereka suatu hari nanti.


Norin sudah selesai membuat sandwich, kemudian dia berjalan memutar lalu meletak kan sandwich itu di hadapan tuan besar Hoon.


"Silahkan dad, semoga Daddy menyukainya."

__ADS_1


__ADS_2