
Apa yang Shin katakan membuat Norin bertanya tanya apakah yang dilakukan nya itu merupakan sebuah kesalahan dan dosa besar hanya karena tidak mendahulukan melayani sang suami melainkan lebih mendahulukan melayani sang ayah mertua meskipun dia tidak berniat mengabaikan sang suami di meja makan. Tidak ingin menambah perdebatan lebih panjang Norin membuatkan dua sandwich itu sekaligus untuk ayah mertua dan juga suaminya.
Tuan besar Hoon menatap kagum pada kecekatan menantunya yang sedang menumpuk dua roti dan diberi isi sayuran, lembaran daging, keju dan saos khusus buatan nya. Wajar saja jika dia merasa kagum padanya karena dia tidak pernah melihat nyonya besar Hoon melakukan apa yang Norin sedang lakukan yaitu membuatkan sarapan untuknya.
Begitu pula dengan Shin menatap tak kalah kagum. Namun yang membuat Shin kagum adalah senyum manis terukir di bibir yang sudah dua hari ini tak di sentuh olehnya.
Nyonya besar Hoon tiba tiba meletak kan roti panggang miliknya begitu saja di atas piring. Roti yang tinggal separuh telah di makan olehnya itu sudah tidak bernafsu lagi untuk di habiskan setelah melihat suami dan anak nya begitu antusias melihat sang menantu yang tak di anggap sedang mempertunjukan keahlian nya.
Sreeettt
Sebuah kebiasaannya jika dia sudah tak suka maka dia akan pergi dari meja makan begitu saja tanpa pamit terlebih dahulu pada orang orang yang ada di sana.
Suara geseran kursi mengalihkan perhatian tuan besar Hoon serta Shin begitu pula dengan Norin. Mereka menoleh pada nyonya besar Hoon yang sudah berdiri tegak bersiap hendak pergi dari meja makan.
"Kau mau kemana Hyun Jung?" Tanya tuan besar pada wanita yang sudah menemani separuh hidupnya tanpa cinta itu.
"Apa urusan mu?"Tanya balik nyonya besar dengan teramat kesal.
"Tentu saja urusanku karena kau istri ku. Apa pun yang mau kau lakukan aku harus tau." Tuan besar membalas pertanyaan sinis nya.
"Hoh, kau ingin tau apa saja yang aku lakukan tapi kau tak pernah ingin tau apa saja yang aku rasakan. Apa kah itu adil untuk ku?"
"Apa maksudmu? Bukan kah hidupmu sudah bahagia? kau hidup tanpa kekurangan karena aku selalu mencukupi segala kebutuhan mu." Sejak pertama nikah tuan besar selalu mencukupi apa pun yang menjadi kebutuhannya. Namun entah mengapa dia merasa apa yang sudah dia berikan selalu tidak cukup dimata nyonya besar seperti saat ini.
__ADS_1
"Apa kau pikir semua itu sudah cukup puas?" tanya nyonya Hoon dengan suara lantang dan bola mata yang membesar.
"Apa, apa? kau mau apa hah, apa yang bisa membuat dirimu merasa cukup puas?"Tuan besar tak kalah lantang.
"Ck, tidak perlu aku mengatakan padamu tentu kau paham apa yang akan membuat aku merasa cukup."Setelah berkata, dia melirik tajam ke arah Norin yang sedang menyimak pertengkaran kedua mertuanya. Norin merasa saliva nya tercekat di tenggorakan melihat sorot mata nyonya besar yang begitu tajam dan menusuk hati.
"Apa mungkin yang dapat membuat nyonya besar merasa cukup puas itu adalah kepergian aku dari rumah ini? Norin bermonolog.
Tuan besar nampak terdiam karena dia sudah paham apa yang menjadi keinginan istrinya. Sementara Shin mengikuti arah pandangan sang ibu yang tertuju pada Norin.
"Apa maksudmu mom?"tanya Shin, dia berharap perdebatan orang tuanya bukan lah Norin pemicunya melainkan orang lain.
Nyonya besar Hoon yang sudah berjalan dua langkah hanya mengacungkan tangan nya tanpa menoleh pada Shin kemudian berlalu pergi.
Norin yang mendengar umpatan sang ayah mertua hanya mampu terdiam. Namun tak lama dia melanjutkan pekerjaannya setelah mendapat lirikan tuan besar Hoon.
Beberapa menit kemudian. Dua sandwich buatan Norin sudah terselesaikan dengan sempurna. Kemudian dia memberikan satu sandwich untuk sang suami dan satu lagi untuk sang ayah mertua.
"Silahkan dad, semoga daddy suka." Ucap Norin sembari meletak kan piring berisi sandwich itu di depan tuan besar Hoon di sertai senyum yang mengembang di bibirnya.
"Thanks."Setelah berucap hanya satu kata saja, Tuan besar Hoon langsung menikmati sandwich nya tanpa jeda.
Norin menyunggingkan senyum melihatnya kemudian mengambil dua lembar roti lalu mengolesinya dengan selai strawberry kesukaannya.
__ADS_1
Shin melirik kesal ke arah sang ayah. Bagaimana tidak kesal, sang ayah di persilahkan untuk menikmati sandwich buatannya dengan lembut sementara dirinya tidak. Dia merasa sang ayah telah berhasil mengambil alih perhatian Norin padanya sehingga dia sedikit mengabaikannya.
Setelah selesai sarapan, Norin mengantar Shin hingga pada mobil yang sedang menunggunya di luar rumah. Meskipun tidak ada obrolan sepanjang menuju mobil, Norin tetap bersikap seperti biasa yaitu mencium tangan suaminya dengan tak'jim ketika hendak berangkat kerja. Namun ketika Shin hendak melabuhkan ciuman di keningnya Norin mengalihkan wajahnya sehingga ciuman Shin hanya berlabuh di samping kepalanya. Shin memejamkan matanya menahan kekesalan pada sikap istrinya yang sulit sekali di taklukan. Shin pikir kemarahan Norin tak berlangsung lama namun ternyata sebaliknya sudah dua hari ini Norin lebih banyak diam berbicara pun seperlunya saja, hal itu cukup membuat Shin merasa frustasi.
"Pergilah, hati hati!"Dua kalimat yang di lontarkan Norin tak membuat Shin langsung beranjak masuk kedalam mobil. Apa lagi Norin berucap tanpa melihat ke arah wajahnya.
"Apa hanya seperti itu melepas suaminya yang akan pergi bekerja?"Sindir Shin, sorot matanya tak lepas dari wajah Norin yang masih memalingkan pandangannya.
Norin menghembuskan nafas kasar."Lantas aku harus bagaimana?"Bersamaan dengan bertanya Norin menatap balik sorot mata sipit shin.
Shin memegang sebelah pundak Norin." Bersikap lah seperti biasanya, sayang. Seperti biasa bagaimana kamu bersikap padaku. Kau tahu jika aku rindu sekali pada sikap hangat mu." Ucap Shin dengan nada yang terdengar lembut.
Norin menyipitkan bola matanya."Bersikap seperti biasa, memang nya sikap seperti biasa yang seperti apa selama ini ku tunjuk kan padamu? karena aku merasa sikapku biasa saja dan seperti biasanya aku bersikap padamu." Dia pura pura tidak mengerti atas apa yang di ucap kan oleh Shin padanya.
Shin memegang kedua bahunya."Sayang, please! jangan pura pura tidak mengerti. Apa kau tidak tahu bagaimana perasaanku padamu?"
Norin menyunggingkan senyum miring."Ya, kau benar aku memang tidak pernah tahu bagaimana perasaanmu sesungguhnya pada ku, Tuan muda Hoon!" Ucap Norin dengan nada di tekankan.
Shin melepaskan tangannya dari kedua belah bahu Norin, kemudian mengusap wajahnya.
"Aku, aku tidak tau lagi bagaimana caranya aku meyakinkan mu bahwa aku mencintai mu hanya mencintaimu Norin."
"Cinta dan kasihan hampir sama, semoga kau tidak keliru membedakan antara mana yang benar benar cinta dan mana yang hanya merasa kasihan semata."
__ADS_1
Shin pun terdiam, dia merasa kehabisan kata kata untuk meyakinkan bahwa dia benar benar mencintainya dan bukan hanya sekedar kasihan dan rasa tanggung jawab karena pernah menodainya.