
"Noriiin." Teriakan Shin menggema di dalam Paviliun tersebut.
Orang orang ikut terkejut melihatnya begitu pula dengan tuan besar Hoon. Dia tidak menyangka sang menantu yang tidak di sukainya berada di paviliun ini dalam ke adaan tidak sadar kan diri. Benak nya bertanya tanya apa yang sedang Norin lakukan di paviliun ini? dan kenapa ia bisa tidak sadarkan diri selama dua hari.
Shin berjongkok lalu membalik kan tubuh wanita yang sangat di cintai dan mengecek denyut nadi di tangannya serta nafas di hidungnya.
Airmata Shin seketika berderai melihat tubuh tak berdaya itu."Sayang, apa yang terjadi? kenapa kamu bisa berada di sini?" Dalam tangis ia bertanya sembari mengelus elus pipinya. Namun Norin tak kunjung sadarkan diri. Shin mengangkat tubuh nya dan di saat itu pula ia berteriak pada orang-orang yang sedang melihat ke arahnya.
"Somebody help me, please."
Park lebih dulu melangkah mendekati nya." I Will help you, sir." Kemudian dia ikut membantu menggotong tubuh Norin dan membawanya keluar hingga menaikan di atas mobil mini.
"Biar aku saja yang menyetir, tuan." Park menawarkan diri dan di angguk kan oleh Shin.
Sepanjang jalan Shin mengeluarkan air mata sembari mengecupi tangan lemah Norin tanpa malu dan tanpa mempedulikan tamu penting yang sedang menyetir.
"Maaf kan aku sayang, maafkan aku." Shin terus meminta maaf seolah olah hal ini terjadi karena salahnya.
"Be patient, sir. Istri anda pasti akan baik baik saja." Park menenangkan Shin yang nampak rapuh.
Tiba di rumah besar Shin memindahkan Tubuh Norin ke dalam mobil dan lagi Park menawarkan diri untuk menyetir. Shin pun tidak menolaknya.
"Liu..Liu...." Liam berteriak mencari Liu. Liu yang sedang melintas menoleh ke arahnya.
"Ada apa? kenapa kau berteriak?"
"Nyonya...Nyonya....nyonya..." ucap Liam yang tak mampu berucap dengan sempurna sebab terlalu tersengal sengal.
"Tenang kan dirimu dulu Liam."
Liam menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Setelah merasa nafasnya kembali normal dia mulai bicara.
"Tadi aku melihat tuan muda mengangkat tubuh nyonya muda dari mobil mini ke mobil besar."
Liu tercengang mendengar kabar yang di sampaikan oleh Liam." Apa maksudmu?
"Seperti nya tuan muda telah menemukan nyonya muda, Liu."
__ADS_1
"Apa, apa kau serius?"
"Iya, aku serius. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."
"Ya tuhaan." Liu menengadahkan wajahnya ke atas lalu meneteskan airmata. dia sangat bersyukur karena nyonya muda yang dia sayangi telah di temukan.
Tanpa mereka sadari sepasang telinga telah menguping pembicaraan mereka. Kemudian dia buru buru menjauh.
Ji Eun melangkah cepat ke arah taman belakang mencari Yuan. Namun ketika ekor matanya sedang mencari keberadaan Yuan yang belum kunjung di temukan, dia melihat tuan besar Hoon beserta rombongan datang beriringan menggunakan mobil mini.
"Kamu kemana paman?" Ucap ji Eun dengan kesal. Kemudian dia menghentak kan kakinya dan masuk kembali.
Tuan besar Hoon melangkah lebar memasuki rumahnya. Di tengah langkahnya dia melihat Liu sedang berbicara dengan Liam lalu menghampiri nya.
"Liu.."
Liu dan Liam menoleh." Tuan," ucap Liu. Sementara Liam setelah memberi hormat pada tuan besar dia langsung beranjak pergi.
"Apa, apa nyonya muda sudah di ketemukan tuan?" Tanya Liu dengan tatapan penuh harap. Dia berharap bahwa kabar yang di sampaikan oleh Liam itu benar.
Tuan besar mengangguk." Iya, Liu. Dia di temukan sedang tidak sadarkan diri di dalam Paviliun."
"kamu benar Liu, aku akan segera menyelidikinya."
"Iya, Tuan. Tuan harus segera menyelidikinya karena ini tidak adil untuk nyonya muda. Kasihan dia."
"Kamu tidak usah khawatir Liu. Aku akan segera melakukan."
Setelah berbicara Tuan besar beranjak pergi namun baru beberapa langkah Liu memanggilnya.
"Kenapa Liu?"
"Apa saya boleh ijin menjenguk nyonya muda ke rumah sakit?"
"Kamu mau kesana?"
Liu mengangguk.
__ADS_1
"Ya sudah, ikut dengan ku saja."
"Apa tuan tidak keberatan?"
"Kenapa harus keberatan. Kamu tunggu sebentar. Aku mau siap-siap dulu."
Liu mengangguk.
Sementara di rumah sakit. Park turun lebih dulu dari mobil lalu berteriak.
"Help...help...help, please." Park berteriak memanggil petugas medis. Tak lama kemudian dua petugas medis datang sembari mendorong brankar.
Kemudian Park membuka pintu mobil. Shin yang masih memeluk tubuh Norin segera menurunkan nya.
Selama mendorong brankar Shin membiarkan air matanya berjatuhan tanpa ada rasa malu pada orang-orang yang memperhatikannya hingga sampai pada sebuah pintu ruangan, seorang dokter dan dua orang perawat ikut masuk ke dalam ruangan itu.
"Tuan, tolong tunggu di luar saja." Seorang perawat mencegah Shin yang hendak ikut masuk ke dalam ruangan.
"Saya suami nya. Saya mau temani istri saya." Shin berusaha mengalihkan tangan perawat yang sedang menahan pintu.
"Iya tuan. Saya mengerti tapi mohon maaf. kehadiran tuan di dalam justru akan memperlambat kerja kami. Jadi tolong di mengerti tuan karena pasien harus segera di tangani."
Kemudian Shin luluh dan membiarkan perawat itu menutup pintu. Shin menyender kan tubuhnya ke dinding dengan lesu dia merosot kan tubuhnya hingga terduduk di atas lantai lalu menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut yang menekuk. Kedua bahunya seketika bergetar.
Tuan besar berulang kali memperhatikan raut wajah Liu yang sering kali menyeka air matanya.
"Kamu menangis Liu?"
"Saya hanya khawatir pada nyonya muda, tuan. Saya takut terjadi apa apa dengan nyonya muda."
Dari pancaran sorot mata Liu, tuan besar dapat melihat sebuah ketulusan Liu menyayangi Norin. Tuan besar merasa dadanya begitu nyeri. Liu yang notabane nya orang lain saja begitu peduli dan sayang pada orang yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Sementara dirinya dan istrinya yang sudah jelas memiliki hubungan dengan norin tidak pernah menyayanginya bahkan menuntut nya untuk segera memberikan keturunan. Tuan besar mengusap wajahnya dan merutuki dirinya di dalam hati.
Di tengah Shin merasa amat sangat rapuh setelah mendengar bahwa Norin dalam keadaan kritis oleh dokter yang menanganinya, tuan besar dan Liu datang. Hoon!"
Shin mendongak melihat pada orang tua yang yang baru saja datang. Tak lama kemudian, dia menghambur ke pelukan Liu dan menumpahkan air matanya.
Liu mengusap usap punggung Shin dan berkata." Tuan muda sabar dan berdoa ya! Nyonya muda orang baik dan kuat. Dia pasti kuat melawan sakitnya."
__ADS_1
Tuan besar tercengang melihat pemandangan yang tidak pernah di lihat sebelumnya. Bagaimana bisa Shin lebih memilih memeluk Liu dari pada dirinya sebagai orang tua kandungnya.