Ikatan Cinta Suami Korea

Ikatan Cinta Suami Korea
Sikap protektif Shin


__ADS_3

Norin memandangi wajah tampan Shin yang sedang terpejam sembari merangkulnya. Nampak kelelahan setelah memberikan nafkah bathin untuknya. Dia tersenyum lalu mengelus lembut pipi mulus pria tampan itu sehingga perbuatannya mengusiknya.


"Kenapa sayang, apa kamu mau menambah lagi, hem?"goda Shin dengan suara serak, namun kedua matanya masih dalam keadaan terpejam.


Norin memajukan bibirnya lalu menggeleng cepat. Shin mengeratkan pelukannya sehingga membuat Norin kesulitan bergerak.


"Benar kah kamu tidak ingin menambah lagi?"goda Shin kembali, kedua kelopak matanya masih dalam keadaan tertutup.


Norin merasa kesal telah di goda oleh Shin meskipun sebenarnya dia tidak menampik bahwa dirinya ingin melakukan hal itu kembali. Norin menarik hidungnya dengan gemas sehingga Shin membuka matanya karena merasa kesulitan bernafas. Di saat itu pula, seolah olah Shin mengetahui isi hati Norin, dia kembali memagut bibir candu nya itu. Bak gayung bersambut, Norin membalas pagutan nya hingga hal itu berujung pada penyatuan kembali.


Shin merubuhkan tubuh lemas nya di samping Norin setelah berhasil menabur benih di rahim sang istri untuk kedua kalinya di waktu yang sama dengan harapan sosok malaikat kecil segera hadir di rahim wanita yang sangat dicintainya. Shin tahu, kebahagiaan Norin adalah memiliki seorang anak bukan harta yang melimpah. Sekalipun dia memberikan harta sebesar gunung fuji. Oleh sebab itu, Shin selalu berusaha melakukan yang terbaik atas segala hal termasuk nafkah bathin.


Lagi, Shin mengelus serta mengecupi perut rata milik sang istri. Bersamaan dengan itu, Norin membelai dan mengelus rambut Shin dengan kasih sayang dan penuh cinta.


"I love you so much my angel,"ucap Shin, sembari mengecup kening Norin.


"I love you too," balas Norin dengan senyuman mengembang di bibirnya.


Di sore hari.


Norin membuka kelopak matanya dan mendapati wajah suaminya yang tengah mendekur halus. Mereka tertidur setelah melakukan kegiatan panas di atas ranjang. Norin tersenyum menatapnya kemudian melabuhkan kecupan lembut di keningnya. Setelah itu, dia mengalihkan tangan kekar Shin di atas perutnya dengan pelan karena Norin tidak ingin mengusik tidur lelapnya.


Norin menatap wajah tampan itu kembali sebelum dia bangkit dan meninggalkannya ke kamar mandi.


"Maaf sayang, sudah membuat mu lelah hari ini."


Setelah berkata, dia mengambil pakaian nya yang teronggok di atas lantai kemudian bergegas ke kamar mandi untuk melaksanakan mandi besar setelah melakukan penyatuan.


Ketika Norin sudah selesai dengan rutinitas mandinya dan menutupi tubuh nya dengan kimono serta rambut basah yang di bungkus oleh handuk kecil, dia hendak keluar namun baru saja membuka pintu, sosok tubuh tinggi tegap mendorong nya kembali masuk ke dalam kamar mandi yang berukuran besar.

__ADS_1


Norin kesal di buat nya kemudian protes." Kenapa mendorongku?"


"Kenapa tidak membangunkan suamimu?" Shin balik bertanya. Netra matanya menatap lekat wajah wanita yang sedang dia kungkung.


"Kamu kan sedang tidur aku tidak tega membangunkan mu,"ucap Norin membela diri dan menatap balik suaminya.


Shin tidak membalas ucapan Norin melainkan me lu mat bibir menggoda itu. Untuk kali ini Norin tidak membalasnya karena dia sadar harus melaksanakan ibadah ashar. Norin mendorong pelan tubuh suaminya sehingga bibirnya terlepas dari ciuman rakus sang suami.


"Kamu sudah membuat wudhu ku batal," kata Norin dengan kesal. Wajahnya menekuk.


Shin mengacak acak rambutnya hingga semakin terlihat berantakan kemudian dia tersenyum nyengir.


"Maaf," ucap Shin.


Norin tidak menggubris ucapan maaf suaminya melainkan melenggang begitu saja meninggalkan nya untuk mengulang wudhu kembali. Sementara Shin hanya memperhatikannya saja.


Norin mengangguk.


Sembari menunggu Shin selesai mandi Norin mempersiapkan kebutuhan suaminya seperti baju koko, sarung dan peci lalu meletakkan nya di atas tempat tidur agar nanti Shin tidak perlu repot lagi mencarinya di walk in closet. Hal ini merupakan salah satu rutinitasnya ketika hendak beribadah.


Shin kembali dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah terlihat segar. Dia tersenyum ke arah sang istri yang sudah menunggunya di atas sajadah. Kemudian dia segera memakai pakaian yang sudah di sediakan oleh Norin. Setelah itu, mereka melaksanakan ibadah bersama yang mana Shin menjadi imam sholat. Mereka melaksanakan ibadah dengan khusuk hingga sampai akhir dan mengucapkan salam. Setelah selesai, Norin mencium tangan suaminya dengan tak'jim dan Shin mengecup keningnya dengan lembut. Hal itu merupakan kebiasaan mereka setelah setelah selesai melaksanakan ibadah bersama.


"Sayang, aku boleh tidak membantu bibi Liu memasak di dapur?"ijin Norin pada suaminya yang terlihat sedang sibuk.


Shin yang sedang duduk di atas sofa dan menatap layar notebook mengangkat wajah nya melihat ke arah Norin yang sedang berdiri di hadapannya.


"Jangan, untuk apa kamu membantunya. Aku tidak ingin kamu capek sayang. Apalagi kaki mu sedang sakit." Shin melarangnya dengan beralasan.


"Aku bosan di kamar terus, kaki ku sudah sembuh. lagi pula aku hanya akan membantunya sedikit saja nanti." Norin masih memaksa.

__ADS_1


Shin menutup layar notebook nya kemudian menyenderkan punggungnya di senderan sofa.


"Kemari,"ucap Shin, menepuk sofa di sampingnya.


Norin menurut dia mendekati Shin lalu duduk di samping nya. Shin meraih kepalanya lalu membawanya ke dalam dada bidang nya.


"Maaf sayang, aku sudah mengabaikan mu sehingga kamu merasa bosan ada di kamar ini," kata Shin. Dia sadar dua jam telah mengabaikan istrinya hanya karena mengurusi pekerjanya.


Shin sadar bahwa istrinya tidak memiliki teman di negaranya dan teman satu satunya yang dia miliki hanyalah dirinya sendiri. Jadi wajar saja jika Norin merasa bosan dan kesepian bilamana Shin berdiam diri dan tidak mengajak ngobrol atau sekedar becanda. Apalagi kedua orang tuanya bersikap dingin padanya.


"Sayang..."


"Hem,"


"Apa kamu tidak merindukan masakan ku?" tanya Norin dalam dekapan Shin.


"Emm...rindu sekali,"sembari mengelus elus sebelah lengan Norin.


"Kalau begitu kamu mengijinkan aku memasak?"Norin mendongak tinggi melihat pada wajah Shin.


Shin menundukkan pandangannya dimana wajah Norin tengah memelas padanya."Kamu benar benar ingin memasaknya untuk ku?"


Norin mengangguk."Pleaseee.."


"Cup," sebuah ciuman mendarat di bibir Norin.


"Istriku pandai sekali beralasan," kata Shin, setelah mengecup sekilas bibirnya.


Norin menekuk kan wajahnya karena Shin tidak mengijinkan kan nya padahal memasak adalah hobinya. Begitu lah Shin, ketika dia sedang tidak bekerja dan berada di rumah maka Shin tidak akan membiarkan Norin melakukan pekerjaan ringan atau berat. Dia hanya meminta Norin untuk menemaninya saja sepanjang hari. Namun berbeda ketika Shin sedang tidak berada di rumah maka akan ada saja pekerjaan yang harus Norin kerjaan sesuai yang diperintah kan oleh nyonya Hoon padanya.

__ADS_1


__ADS_2