Ikatan Cinta Suami Korea

Ikatan Cinta Suami Korea
Lantai licin


__ADS_3

Ji Eun melihat pada wanita berhijab yang sedang berjalan ke arahnya. Namun, dia tidak langsung melepaskan tangannya dari rambut Liam melainkan menantang balik pada wanita yang sudah menyuruhnya untuk melepaskan tangannya dari rambut Liam.


"Apa urusan mu menyuruhku untuk melepaskan perawan tua ini," kata Ji Eun dengan sinis.


Mendengar kata "perawan tua" dari mulut Ji Eun membuat Norin teringat pada masa lalunya. Masa sebelum dia dinikahi oleh Shin, dia sering kali di sebut sebagai perawan tua oleh orang orang yang tidak menyukainya. Norin menelan saliva nya kemudian membalas perkataan Ji Eun.


"Kau memang wanita tak punya hati. Tega sekali menyakiti sesama mu, sama sama seorang wanita."


"Cih, jangan samakan aku dengan perempuan tua ini, jelas sekali beda level."


"Beda level, apa yang membedakannya? bukan kah kau sendiri seorang pelayan di rumah ini sama dengan bibi Liam?"


Ji Eun menatap tajam pada Norin, dia tidak menerima perkataanya. Tangan nya semakin kuat menarik rambut Liam sebagai bentuk kekesalannya pada wanita berhijab itu. Perbuatanya membuat Liam memekik kesakitan.


Norin semakin cemas pada wanita yang sedang di sakiti oleh Ji Eun." Lepas kan tidak? kalau tidak aku akan mengadukan mu pada suamiku sekarang juga,"ancam Norin, dia merogoh ponselnya yang tersimpan di saku gamis besar yang sedang dipakainya dan mengeluarkan ponsel tersebut.


Ji Eun melihat wanita berhijab itu sedang memainkan ponselnya menjadi panik. Dia tidak menyangka jika ancaman wanita itu bukan hanya sekedar ancaman semata melainkan benar benar akan mengadukan perbuatanya pada majikan idamannya. Dengan berat hati Ji Eun melepaskan tangannya dari rambut Liam dengan kasar sehingga Liam terhuyung dan hampir saja terjatuh jika Norin tidak menahannya. Setelah itu, dia menghentak kan kakinya dan beranjak pergi membawa amarah yang membuncah di dadanya.


"Dasar pembantu tidak tau diri,"umpat Liam geram.


"Bibi baik baik saja?"tanya Norin, sembari membantunya berdiri tegak.


"Ah, iya nyonya, terima kasih banyak," ucap Liam, kemudian merapikan rambut nya yang terlihat acak acakan akibat ulah Ji Eun.


Norin menghela nafas pendek, kemudian melanjutkan kembali langkahnya menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.


Sore hari.

__ADS_1


Sebuah ketukan pintu terdengar nyaring di telinga Norin yang baru saja selesai melaksanakan ibadah ashar. Tanpa melepas mukena dia melihat layar monitor dan nampak Liu sedang berdiri di ambang pintu. Norin memencet tombol kecil di tangannya dan pintu otomatis terbuka.


Liu memasuki kamar nyonya muda setelah terbuka lalu menutup kembali pintu itu. Kemudian dia berjalan ke arah Norin yang sedang berdiri dan melepaskan mukenanya. Tampak rambut indah tergerai panjang milik Norin menambah rasa kagum Liu pada wanita yang penampilan kesehariannya itu tertutup dan baru kali ini dia bisa melihat mahkota indah milik wanita cantik yang selama ini ditutupinya. Dalam hati Liu berkata pantas saja tuan muda Hoon sangat mencintai nyonya muda karena dia memiliki fisik yang nyaris sempurna. Selain itu, hati nya pun selembut sutera.


"Nyonya cantik sekali."puji Liu, pandanganya tak lepas dari rambut indah itu.


"Ah, bibi bisa saja," ucap Norin, kemudian menggulung rambut panjangnya lalu memakai kembali hijab panjangnya.


"Sungguh nyonya saya tidak bicara bohong kalau nyonya sangat cantik. Pantas saja tuan muda Hoon sangat mencintai nyonya."


Norin tersenyum tipis."Terima kasih bibi atas pujiannya. Oya, bibi ada perlu apa datang kemari?"Norin berucap sekaligus bertanya pada Liu.


Pertanyaan Norin menyadarkan tujuan utama Liu menemuinya bahwa dirinya ingin mengingatkan kan wanita itu untuk membantunya memasak menu yang tuan besar inginkan nanti malam. Meskipun sebenarnya Liu tidak enak hati namun dia tidak memiliki pilihan lain.


"Ah, ya nyonya maaf. Sebenarnya tujuan saya kesini untuk mengingatkan nyonya bahwa malam ini tuan besar Hoon ingin memakan menu yang sama dengan menu tadi malam nyonya."


"Maaf kan saya nyonya, gara gara saya yang menyarankan ide itu sekarang nyonya di repotkan."


Norin tersenyum sekaligus tertawa kecil lalu berkata," justru saya berterima kasih pada bibi, karena berkat bibi ayah mertua saya mau memakan hasil olahan saya meskipun dia tidak mengetahuinya. Selagi saya mampu saya akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua mertua saya."


"Mestinya tuan serta nyonya besar bersyukur memiliki menantu seperti nyonya yang lebih mengutamakan diri mereka daripada uang mereka."


"Ya sudah bibi, saya bersiap siap dulu nanti saya akan menyusul."


"Baik nyonya, kalau begitu saya permisi dulu." Liu membungkukkan sedikit punggungnya kemudian beranjak pergi.


Setelah kepergian Liu, pintu terdengar di ketuk kembali. Norin melihat pada layar monitor, nampak Liam sedang berdiri di ambang pintu sembari membawa spray yang Norin minta sebelumnya.

__ADS_1


Liam pun memasuki kamar besar itu setelah pintu terbuka otomatis kemudian menutupnya. Dia berjalan ke arah Norin yang sedang melihat ke arahnya." Maaf nyonya, saya membawakan spray yang nyonya pinta."


"Oh, iya bi, terima kasih. Tolong simpan saja di situ?"tunjuk Norin pada sebuah sofa.


"Apa tidak sebaiknya saya pasang sekarang saja nyonya?" Liam menawarkan diri karena itu memang sudah tugasnya.


"Tidak perlu bibi Liam, saya akan memasang nya sendiri nanti "tolak Norin.


"Tapi nyonya...."


"Tidak apa apa Bi, lebih baik bibi kerjakan pekerjaan yang lain saja karena saya sendiri akan segera turun."


"Oh, begitu nyonya."


Norin mengangguk.


Dengan berat hati Liam meninggalkan kamar tuan serta nyonya muda nya. Setelah menutup pintu Liam berucap,"andai saja nyonya besar Hoon bersikap seperti menantunya tapi....rasanya mustahil sekali."Kemudian dia beranjak pergi.


Norin menuruni anak tangga satu persatu menuju lantai dasar. Namun baru saja sebelah kakinya menapak di atas lantai dasar, dia merasa telapak sandal jepit yang sedang di gunakan nya bergeser. Norin mengernyitkan dahi seraya menatap pada lantai marmer putih itu. Kemudian dia mengangkat kembali satu kaki yang sempat turun lalu berjongkok.


"Kenapa lantai nya terasa licin sekali?gumam Norin.


Setelah itu, Norin mencolek lantai yang terasa licin itu dengan jari telunjuknya untuk memastikan apakah lantai itu benar benar licin atau sandalnya saja yang salah. Setelah di colek, lantai itu terasa basah dan sedikit berbusa. Norin sempat berfikir apakah salah satu pelayan di rumah besar itu sedang mengepel? jika demikian kenapa tidak langsung di keringkan karena ini cukup berbahaya jika di lintasi oleh orang yang tidak mengetahuinya.


Di rumah besar itu terdapat lima pelayan, empat orang wanita dan satu orang pria. Liu, Liam, Ji Eun, Suhe dan Yuan. Ke lima pelayan itu memiliki tugasnya masing masing.


Ekor mata Norin mengitari ke sekitar siapa tau menemukan sosok pelayan yang tengah mengepel. Namun, dia tidak menemukan siapa siapa di area itu.

__ADS_1


Norin ingin menapaki lantai itu karena dia harus segera memasak di dapur namun dia takut tergelincir kemudian Norin pun berteriak memanggil nama nama pelayan yang ada di rumah itu." Liam....Ji Eun...Suhe..." Norin hanya memanggil tiga pelayan itu saja karena mereka bertiga sebagai penanggung jawab kebersihan area dalam, karena Liu seorang koki dan penanggung jawab bagian dapur pasti sedang berada di dapur. Sementara Yuan sudah pasti berada di luar rumah karena dia sebagai penanggung jawab taman serta kolam renang.


__ADS_2