Ikatan Cinta Suami Korea

Ikatan Cinta Suami Korea
Diamnya Norin 2


__ADS_3

Norin merebahkan kembali tubuhnya di tepi ranjang tanpa mengganti pakaiannya dengan kimono atau lingerie bahkan hijab nya pun masih menempel di kepalanya. Entah mengapa dia merasa tak ada lagi keinginan untuk berpenampilan se xi di depan suaminya, tak ada lagi keinginan untuk menggodanya bahkan tak ada lagi keinginannya untuk memiliki seorang anak mengingat masih ada cinta wanita lain di hati sang suami. Bahkan Norin berpikir selama ini dia hanya sebuah objek pelampiasan hasrat suaminya semata.


Shin menatap punggung Norin yang tengah tidur membelakanginya. Dia yang tidak biasa tidur berjauhan dengan sang istri mendekatinya dan merapatkan tubuhnya pada wanita yang sedang kesal padanya, lalu melingkarkan sebelah tangan nya pada pinggang rampingnya.


"Tolong lepas kan tangannya aku gerah,"tolak Norin, dan dalam keadaan mata terpejam.


Shin terdiam mendapat penolakan dari Norin. Ini untuk pertama kalinya dia menolak di peluk olehnya. Namun bukan Shin namanya jika menyerah begitu saja. Bahkan dulu sebelum mereka menikah Norin pernah lebih marah dari saat ini namun Shin dapat menaklukannya. Dan Shin berkeyakinan istrinya yang sedang merajuk itu pasti bisa ditaklukkan kembali.


"Sayang, kau kan tahu bahwa aku tidak bisa tidur berjauhan dari mu. Please, biar kan aku memeluk mu seperti ini hingga pagi,"bujuk shin, tangan nya masih tetap melingkar bahkan memeluknya lebih erat.


"Mulai saat ini belajar lah untuk bisa agar terbiasa. Supaya nanti ketika Allah menjodohkan kita hanya dalam waktu yang singkat kita sudah biasa."


Shin tertegun mendengar kalimat ambigu yang di ucapkan oleh Norin. Dia terduduk lalu menatap wajah sang istri yang sedang tidur miring.


"Kau bicara apa? kenapa bicara seperti itu? aku minta maaf sudah membuat hati mu terluka. Tolong jangan bicara seperti itu. Aku tidak sadar bicara seperti itu sayang,"ucap Shin dengan suara di naikan satu oktaf.


"Biasanya orang yang bicara tanpa sadar itu adalah orang yang berkata jujur dari hatinya langsung.Tidak apa apa aku mengerti bahwa cinta pertama itu memang sulit untuk di lupakan. Tidurlah, aku sudah mengantuk."


"Tidak, aku tidak ada perasaan apa apa lagi padanya. Aku sudah tidak mencintai nya, tolong lah percaya padaku sayang." Shin masih membujuk dan meyakinkan sang istri yang masih saja tidak mempercayainya.


Hening..


Shin tak lagi mendengar respon dari Norin. Lalu dia menoleh ke wajah nya, nampak matanya terpejam sempurna dan terdengar dengkuran halus nafasnya. Norin tertidur dengan pulas. Shin tersenyum tipis melihat tingkahnya, dia bisa tertidur pulas setelah berdebat seolah olah tidak terjadi apa apa. Shin tak menghiraukan tolakan Norin untuk tidak memeluknya. Karena dia sendiri tidak bisa tidur tanpa memeluk tubuh sang istri yang sudah menjadi candu baginya. Shin tak peduli jika istrinya marah padanya karena dia telah memeluknya sepanjang malam.


Sebelum shin memejamkan matanya dia melabuhkan ciuman lembut pada kening serta pipinya terlebih dahulu.

__ADS_1


" I love you so much honey. Tolong percaya padaku, aku tidak memiliki perasaan apa pun pada wanita masa laluku lagi. Hanya kamu yang aku cintai, hanya kamu seorang." Setelah berucap, Shin memejamkan matanya dan memeluk erat tubuh rampingnya. Dan tanpa Shin ketahui, air mata mengalir dari sudut mata wanita yang tengah di peluk olehnya.


Pagi menyapa, Shin meraba ruang kosong yang mana semalam di tempati oleh sosok tubuh yang menghangatkan tidurnya namun pagi ini dia tidak menemukannya. Shin duduk lalu meregangkan ototnya. Tak sengaja netra matanya tertuju pada sebuah pakaian kerja yang terlipat rapih di tepi ranjang dan di atas pakaian itu terdapat sebuah kertas kecil berisi catatan kecil. Shin menyibak kan selimutnya lalu meraih catatan kecil itu dan membacanya.


"Maaf, aku keluar kamar tanpa seijin mu karena kamu masih tertidur. Aku sedang membantu bibi Liu di dapur. Mandilah dan pakai lah pakaian kerja ini, aku menunggumu di meja makan."


Shin menghembuskan nafas kasar. Tak biasanya Norin meninggalkannya sebelum terbangun dan kali ini cukup membuatnya sedikit kesal.


Sementara di dapur Norin sibuk membuat saos untuk sandwich. Sebuah saos yang menurut Shin dan ayah mertuanya sangat lezat di lidah mereka dan siapa sangka saos itu merupakan saos buatan istri serta menantu mereka sendiri.


Sementara bibi Liu sibuk bolak balik mengantar makanan ke atas meja makan karena sepuluh menit lagi semua majikannya akan turun dan sarapan.


"Bibi," panggil Norin, menoleh ke arah Liu yang sedang berjongkok untuk mengambil sesuatu di dalam lemari kitchen set. Liu mendongak tinggi melihat ke arahnya." Iya nyonya,"sahut Liu, kemudian berdiri lalu mendekatinya.


"Sudah nyonya, tinggal menunggu saos saja."


"Oh, ini sudah selesai,"ucap Norin sembari menutup rapat penutup sebuah botol berisi saos di tangannya.


Bibi Liu tersenyum senang melihatnya." Nyonya, terima kasih sudah membantu pekerjaan saya sehingga saya..."


"Tidak usah berlebihan bi, ini semua untuk sarapan suami serta kedua mertua saya bukan? sudah sepantasnya saya menyiapkan nya untuk mereka."


"Tapi.."


"Liu.." teriakan nyonya besar terdengar nyaring di kedua telinga Norin dan Liu sehingga mereka menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Seperti nya nyonya besar sudah berada di meja makan, saya permisi dulu nyonya," pamit Liu, lalu bergegas pergi sembari membawa satu botol saos buatan Norin.


Setelah kepergian Liu, Norin bergegas membuka celemek dan mencuci tangannya. Setelah itu, dia merapikan penampilannya sebelum menyusul Liu ke meja makan dan ikut sarapan bersama kedua mertua serta suaminya.


Norin berjalan ke arah meja makan, nampak Shin dan kedua mertuanya sudah berada di sana serta bibi Liu seperti biasa berdiri di belakang nyonya besar Hoon. Sebelum mendekati mereka, dia menghela nafas panjang terlebih dahulu.


"Selamat pagi dad, mom?"sapa Norin tanpa menyapa Shin, karena Norin pikir mereka terpisah hanya dua jam saja dan tidak perlu menyapanya.


Seperti biasa, tuan serta nyonya Hoon tidak menyahuti sapaan Norin dan itu sudah biasa baginya. Oleh sebab itu dia tidak ingin ambil pusing dan membiarkan nya saja.


Norin duduk di samping Shin setelah menyapa mereka dan dia melihat piring Shin serta tuan besar secara bergantian masih dalam keadaan kosong kecuali piring nyonya besar yang sudah terisi oleh makanan.


Kemudian Norin menoleh pada tuan besar dan bertanya," apa Daddy ingin saya buatkan sandwich? kebetulan saya sudah membuat saos nya."


Tuan besar melirik Shin, wajahnya nampak kesal. Dia tau penyebab Shin kesal dan dia juga tau kenapa Norin lebih lebih dulu menawarinya sandwich.


Tak lama kemudian tuan besar mengangguk tanpa bicara. Nyonya besar melirik suami nya dengan kesal dan dia merasa suaminya benar benar sudah berpindah haluan.


"Kenapa kamu menawari Daddy, sementara suamimu sendiri belum kamu tawari? Daddy punya istri biarkan saja mommy yang melayani Daddy jangan kamu." Shin protes sekaligus menyindir nyonya besar, sehingga dia menetap kesal ke arah putera satu satunya yang telah memintanya untuk melayani suaminya secara tak langsung.


"Aku bukan pelayan Hoon, suruh saja Liu yang melayani Daddy mu,"tolak nyonya Hoon mentah-mentah. Tolakan nya membuat tuan besar Hoon nampak semakin kesal pada istrinya.


"Daddy itu ayahmu dan juga ayah mertuaku, apa yang salah jika aku menawarinya terlebih dahulu? toh dia orang tua kita yang patut kita mulia kan bukan?"


"Iya aku tau, tapi bukan kah Surga seorang istri itu berada di telapak kaki suaminya bukan mertuanya?"sindiran Shin cukup membuat Norin bungkam begitu pula dengan tuan besar Hoon namun tidak dengan nyonya besar yang nampak menyunggingkan senyum miring.

__ADS_1


__ADS_2