
Norin berjalan tertatih ke arah dapur, tiba di sana ekor matanya mencari keberadaan bibi Liu namun dia tidak menemukanya.
"Kemana bibi Liu? kenapa selalu tidak ada ketika aku ke dapur." Norin bergumam, kemudian dia menghela nafas besar.
Awalnya Norin hendak meminta bantuan beliau untuk membuatkan minuman kembali karena dia sendiri ingin melihat lututnya yang terluka. Namun hal itu dia urungkan karena ketidakberadaan bibi Liu di dapur dan mengingat permintaan nyonya Hoon yang memintanya untuk segera membuatkan minuman. Dengan terpaksa luka nya pun dia abaikan dan memilih untuk melaksanakan perintah nyonya Hoon terlebih dahulu.
Norin mulai sibuk membuat minuman segar dari buah buahan yang harus di proses terlebih dahulu dan proses pembuatannya itu membutuhkan waktu yang cukup lama.
Ketika dia tengah berjibaku dengan kegiatannya, seseorang membentaknya dari arah belakang punggungnya. Norin tersentak kemudian berbalik, ternyata nyonya Hoon sedang berdiri dan berkacak pinggang serta menatap tajam ke arahnya.
"Heh, bodoh, kenapa lama sekali hah? apa kau sengaja supaya teman teman ku kehausan? Nyonya Hoon berbicara dengan suara tinggi. Dia terlihat marah sekali karena minuman yang dia pesan belum saja di antar kan oleh Norin sehingga dia menyusulnya ke dapur.
Norin rasa nyonya Hoon sengaja hanya ingin mengerjainya saja karena mana mungkin teman teman nyonya Hoon kehausan, sebab, sebelumnya dia sudah membawakan tujuh gelas minuman segar dan meletak kan nya di atas meja meskipun satu gelas telah tumpah karena ketidaksengajaan nya.
Norin sedikit menunduk kan wajahnya kemudian berkata," maaf nyonya besar, stok minuman segar telah habis dan saya harus membuat ulang terlebih dahulu."
Nyonya Hoon melirik ke arah meja dimana Norin sedang meracik buah buahan segar untuk di jadikan beberapa minuman.
"Baik, aku beri waktu kau lima menit dan jika lebih dari lima menit aku akan membuat perhitungan dengan mu," kata nyonya Hoon, tegas dan bernada mengancam.
__ADS_1
Sebenarnya Norin merasa keberatan dengan waktu yang telah nyonya Hoon berikan. Bagaimana dia bisa menyelesaikan membuat minuman dalam waktu lima menit? andai saja ada bibi Liu mungkin akan sedikit lebih cepat. Namun Norin tidak ingin membantah karena hanya akan menambah urusan menjadi panjang. Oleh karena itu, dia menyanggupinya saja apa yang nyonya Hoon katakan, urusan berapa menit dia menyelesaikannya itu urusan nanti, pikir Norin.
Nyonya Hoon beranjak dari dapur dan Norin mulai membuat minuman kembali. empat menit kemudian, akhirnya Norin dapat mengembang kan senyum di bibirnya melihat tujuh gelas berisi minuman segar di hadapannya yang sudah selesai serta tertata rapih di atas sebuah nampan. Tak ingin membuang waktu yang ada Norin segera mengangkat nampan itu namun ketika dia hendak melangkah, sebelah kaki yang terluka terasa sakit sekali. Norin meringis sembari menahan nampan agar tidak terjatuh. Di tengah dia menahan rasa sakit dan nampan di tangannya tiba tiba bibi Liu datang dan terkejut melihatnya.
"Astaga nyonya," teriak bibi Liu, kakinya melangkah cepat agar segera dapat menahan tubuh sang nyonya muda yang hendak terjatuh. Tangan bibi Liu segera mengambil alih nampan yang sedang di pegang oleh Norin dan meletak kan nya di atas meja kitchen set.
"Apa yang terjadi nyonya?" bibi Liu bertanya, wajahnya terlihat cemas sekali.
"Tolong saya bibi, saya ingin duduk." Norin meminta bantuan pada bibi Liu sembari sebelah tangannya memegang lutut yang terluka.
"Ah ya Nyonya, mari saya antar ke kursi." Bibi Liu meraih pinggang Norin lalu menuntunnya perlahan menuju sebuah kursi. Setelah itu, dia mendudukkan Norin di atas kursi tersebut.
"Saya bukan nyonya besar Hoon, saya sama dengan anda, tolong bersikap biasa saja pada saya bibi Liu," Norin berujar kembali dan dengan ragu bibi Liu berdiri mengikuti keinginan Norin.
"Apa saya boleh minta tolong lagi bibi?" tanya Norin kemudian.
"Tentu saja nyonya, apa yang bisa saya lakukan untuk nyonya?"
"Tolong bawakan minuman itu pada nyonya Hoon dan teman temannya," Norin meminta bibi Liu mengantar kan minuman yang telah di buatnya untuk nyonya Hoon serta teman temannya sembari menunjuk pada nampan yang sempat Bibi Liu letak kan di atas meja kitchen set dan Bibi Liu menyanggupi perintah Norin kemudian mengantarkan minuman itu pada nyonya Hoon.
__ADS_1
Setelah bibi Liu beranjak pergi, Norin mencari keberadaan kotak obat untuk mengobati kakinya yang terluka. Setelah mendapatkannya Norin segera pergi dari dapur karena dia pikir tidak mungkin mengobatinya di tempat terbuka karena Norin tidak ingin orang lain melihat bagian tubuhnya yang terbuka selain suaminya sendiri.
Sementara di tempat perkumpulan wanita sosialita, bibi Liu berjalan mendekati nyonya Hoon beserta teman temannya sambil membawa nampan. Dari jarak yang masih terlihat jauh bibi Liu sudah mendapat tatapan tajam dari nyonya Hoon. Nyonya Hoon kesal kenapa bukan Norin yang membuatkan minuman untuk mereka melainkan pelayannya.
"Heh, Liu, kenapa kau yang membuatkan minuman itu? kemana wanita bodoh itu?"tanya nyonya Hoon dengan nada membentak, ketika bibi Liu sudah mendekat dan berjongkok mensejajarkan tingginya dengan meja.
"Ma...maaf nyonya besar, nyonya muda sedang kesakitan." Bibi Liu menjawabnya dengan ketakutan. Pandangannya dia tunduk kan.
"Nyonya muda? jangan pernah kau sebut wanita bodoh itu nyonya di hadapanku serta teman teman ku karena hanya ada satu nyonya di rumah ini yaitu aku. Dia derajatnya sama saja seperti mu hanya seorang maid, paham kau!" Nyonya Hoon berujar dengan nada tinggi serta tatapan tajam membuat bibi Liu menciut tak berani membantah perkataannya.
"Ba...baik nyonya besar." Kemudian bibi Liu segera meletak kan minuman itu satu persatu di atas meja.
Norin berjalan tertatih menaiki satu persatu anak tangga yang cukup panjang menuju kamarnya. Setelah bersusah payah dia menaiki anak tangga itu, akhirnya tiba pula di pintu kamarnya. Norin menghela nafas lega, dia akan mengurung diri di kamar sampai suaminya pulang.
Setelah berada di dalam kamar, Norin membuka jilbab serta gamisnya dan menggantinya dengan dress panjang sederhana tanpa lengan dan sebatas mata kaki. Jika di dalam kamar Norin memang kerap kali memakai baju terbuka dan itu hanya dia tujukan pada suaminya Shin. Namun jika di luar kamar Norin akan berpakaian tertutup.
Kali ini Norin sengaja memakai dress panjang karena dia takut Shin melihat luka di kakinya dan akan mempertanyakannya. Mengingat takut di ketahui oleh Shin, Norin segera mengobati lukanya. Dia duduk di sofa dan menyibak kan dress panjangnya hingga sebatas lutut. Terlihat lukanya cukup lebar dan darah segar yang sempat keluar terlihat sudah mulai mengering karena cukup lama dia membiarkannya. Norin segera membubuhi luka itu dengan obat luka agar tidak terjadi infeksi di kemudian hari.
Baru saja Norin meletak kan obat luka itu di dalam laci nakas, sebuah panggilan video call dari Shin muncul di layar ponsel yang dia letak kan di atas nakas. Norin tersenyum melihatnya padahal baru tiga jam Shin meninggalkannya dan sekarang dia melakukan video call. Dengan senyuman yang tersungging di bibirnya, Norin segera mengangkat video call dari suaminya dan nampak suami tampannya sedang tersenyum kepadanya. Norin merasa rasa sakit hati serta fisik yang baru terjadi padanya hilang begitu saja setelah melihat senyuman sang suami yang amat sangat dicintainya.
__ADS_1