
"Ai si Vey kenapa yah sering banget main kerumah?" aku bertanya didalam hati. Aku bingung, kenapa si Vey teh sering banget main ke rumah, padahal rumahku jelek dan gak pernah disuguhan alias dijamu makanan.
"Assalamualaikum." Terdengar suara orang memberi salam didepan rumah. Aku bergegas kedepan untuk membukakan pintu. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokaatu." Jawabku sambil membuka pintu.
"Ehh, ceu Epon, aya naon ada apa, ceu?" tanyaku sambil tersenyum manis.
"Eh, neng Imas. Ibu ada, neng?" Ceu Epon mencari ibuku. Ceu Epon adalah ibunya Ujang yang kebetulan bekerja sebagai petani yang menggarap sawahnya orang lain.
"Aduh, nuju kapasar alias lagi kepasar, ceu Epon. Ada apa? nanti Imas kasih tau ibu kalau sudah pulang." Jawabku dengan perasaan kepo dan ingin tau.
"Punten, Neng Imas. Ceu Epon mau pesen Belut bisa?"
"Ahh, jadi Ceu Epon ingin memesan belut," jawabku kepada Ceu Epon sambil tersenyum. "Tentu saja bisa, Ceu. Ibu saya sangat pandai dalam memasak belut. Berapa kilogram yang Ceu Epon inginkan?"
Ceu Epon berpikir sejenak, lalu menjawab, "Belut hidup, Neng Imas. Kalau bisa, 3 kilogram saja, itu sudah cukup untuk keluarga kami."
Aku mengangguk mengerti. "hehehe.. kirain Belut matang, Baik, Ceu. Imas tanyain nanti ke Ibu kalau sudah pulang dari pasar. Tapi, kalau Belut hidup mah kenapa harus sama Ibu? kan yang nangkep belut mah Imas, Ceu?" Jawabku agak bingung.
Ceu Epon tersenyum mendengar kata-kataku. "Neng Imas, walaupun belutnya hidup, tapi untuk memasaknya tetap membutuhkan keahlian yang khusus. Ibu kamu memang pandai dalam memasak belut, jadi ceu Epon sekalian mau tanya cara memasak Belut yang baik dan benar."
Aku mengangguk mengerti. "Baik, Ceu. Saya akan memberitahu ibu nanti ketika ia pulang dari pasar."
Ceu Epon tersenyum puas. "Terima kasih, Neng Imas. Eceu senang bisa mendapatkan belut yang segar dan resepnya."
Saat kami asik berbincang, tiba-tiba aku jadi kepikiran sesuatu. "Nah, itu dia yang sering membuat Vey main ke rumahku," gumamku dalam hati. Aku teringat bahwa ibuku sering memasak belut, sebuah hidangan lezat buat keluargaku. Kebetulan, ibuku sangat ahli dalam memasak belut dan sering menerima pesanan dari tetangga dan teman-teman.
__ADS_1
"Ok, fix kalau Vey sering kesini karena kecanduan Belut." Ujarku mantap dan pede. "Nanti malam aku harus cari Belut yang banyak, soalnya ceu Epon pesennya lumayan juga, sampe 3kg." Aku berencana berangkat mencari Belut selepas Sholat Isya.
Setelah Sholat Isya, aku bersiap-siap untuk pergi ke sawah. Aku sudah siap dengan mengenakan Armor lengkap seperti ember besar, benang layangan dan umpan. Sepatu Bot pun tak lupa aku pakai. "Buuuu, Imas berangkat nangkep Belut dulu yaaa.." Aku pamit kepada ibuku.
Dengan semangat dan antusiasme, aku berangkat ke sawah untuk mencari belut. Aku berjalan dengan hati-hati di sepanjang pinggir sawah, mencari tanda-tanda keberadaan belut seperti liang-liang kecil atau gerakan di dalam air. Aku berharap bisa menemukan belut dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi pesanan Ceu Epon.
Tidak butuh waktu lama, aku berhasil menemukan beberapa liang belut yang menandakan keberadaan mereka. Dengan hati-hati, aku menggunakan ember besar untuk mengumpulkan belut yang bersembunyi di dalam lumpur. Aku berusaha tidak membuat terlalu banyak kebisingan agar belut tidak terkejut dan menghindar.
Setelah beberapa waktu mencari, aku berhasil mengumpulkan belut hidup yang cukup untuk memenuhi pesanan Ceu Epon. Emberku penuh dengan belut bergerak-gerak di dalamnya. Aku merasa senang dan puas dengan hasil tangkapanku.
Kembali ke rumah, aku meletakkan ember berisi belut di tempat yang aman dan memastikan mereka tetap dalam keadaan yang baik. Aku mencuci diri dan bersiap untuk tidur, bersemangat menunggu pagi hari untuk menyerahkan belut kepada Ceu Epon.
Keesokan paginya, aku bangun dengan semangat. Setelah menyiapkan belut hidup dalam wadah yang cocok, aku membungkusnya dengan rapi dan siap untuk memberikannya kepada Ceu Epon.
Ketika Ceu Epon datang ke rumah, aku dengan senang hati memberikan belut hidup yang sudah aku tangkap. Ceu Epon tersenyum bahagia dan mengucapkan terima kasih. "Terima kasih banyak, Neng Imas. Eceu sangat senang dengan hasil tangkapanmu. Keluarga kami pasti akan menikmati hidangan belut yang segar ini."
Ceu Epon mengangguk dengan tulus. "Terima kasih, Neng Imas. Kamu dan keluargamu adalah tetangga yang baik hati. Semoga Allah memberkahi kalian."
Ceu Epon tiba-tiba pergi begitu saja. "Ceu, ceu Epon." Aku memanggilnya berkali-kali.
"Eh, Iya Neng. Ada apa?" Ceu Epon membalikan badan dengan wajah kebingungan.
"Ai Eceu gak akan Bayar?" Aku bertanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Ceu Epon kembali berlari kecil menghampiriku. "Astagfirullah, maaf neng Eceu lupa. Maklum udah tua." Ceu Epon terlihat malu-malu sambil merogoh koceknya.
__ADS_1
Aku tersenyum lebar melihat Ceu Epon yang terkejut dan malu-malu karena lupa membayar. "Tidak apa-apa, Ceu. Itu hanya lelucon dari Imas," kataku sambil tertawa ringan. "Sebenarnya, tidak perlu membayar. Imas senang bisa membantu dan berbagi dengan tetangga. Ini adalah hadiah kecil dari Imas untuk keluarga Ceu Epon."
Ceu Epon masih terlihat sedikit canggung. "Terima kasih, Neng Imas. Tapi tidak baik rasanya jika eceu tidak memberikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih, Eceu kan pesen bukan minta. Eceu punya beberapa sayur dan buah dari kebun. Mungkin bisa menjadi tanda terima kasih dari eceu."
Aku mengangguk dan tersenyum. "Baik, Ceu. Jika Ceu Epon ingin memberikan sesuatu, kami terima dengan senang hati. Tetapi ingatlah, tetangga tidak selalu harus memberi dan menerima dalam bentuk materi. Kita bisa saling membantu dan berbagi tanpa harus menghitung-hitung."
Ceu Epon mengangguk setuju. "Kamu benar, Neng Imas."
Kami saling tersenyum dan berpelukan sebagai tanda persahabatan dan kebersamaan. Meskipun rumahku sederhana, tetapi hubungan yang terjalin dengan tetangga membuatnya menjadi tempat yang hangat dan penuh kasih.
Setelah itu, Ceu Epon pulang dengan membawa beberapa sayur dan buah dari kebun mereka sebagai ucapan terima kasih. Aku merasa bahagia dan berterima kasih atas semua pengalaman ini.
Saat aku hendak masuk kedalam rumah, tiba-tiba Vey muncul sambil memanggil namaku pelan sekali. "Imas.. Imas."
"Eh, kamu Vey. Ada apa?" Tanyaku sambil memberikan senyuman. "Sakau yaaa sama Belut masakan ibuku?"
"Eh, bukan, nggak ih." Jawab Vey gugup. "Aku kesini cuma mau ketemu kamu, Imas." Vey kembali menegaskan maksud dan tujuan dia kerumahku.
Aku merasa sedikit kaget mendengar Vey mengatakan bahwa ia hanya ingin bertemu denganku. Pikiranku seketika teringat kembali pada pertanyaan yang pernah muncul di dalam hatiku, "Ai si Vey kenapa yah sering banget main ke rumah?" Aku jadi semakin penasaran dan ingin tahu apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Vey.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Vey?" tanyaku dengan rasa ingin tahu yang semakin menguat.
Vey mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Imas, sebenarnya aku..."
Belum sempat Vey menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Ujang datang membawa sebungkus mentimun. "Imas, ini kata mamaku mentimunnya ketinggalan." Ujang memberikan mentimun itu sambil melirik sinis kearah Vey.
__ADS_1
"Si Vey ngapain kesini?" Ujang berpikir didalam hati.