
Aku akhirnya memberanikan diri mengantar Usep untuk menemui Ridwan, walaupun aku tidak tau dengan apa yang akan Usep lakukan terhadap Ridwan.
Kami berjalan disekitar kampus dan menemukan Ridwan sedang bercanda tawa riang bersama teman-temannya. "Yang mana orangnya?" Tanya Usep terlihat kekesalan terpancar di wajahnya.
"Itu, yang mengenakan kaos merah." Jawabku sedikit ragu dan ketakutan.
Tiba-tiba diluar sepengetahuanku, Usep berlari kearah Ridwan dan teman-temannya. Dalam kecepatan yang aku sendiri tidak melihatnya, Usep langsung menghajar Ridwan tepat diwajahnya dan membuat Ridwan jatuh tersungkur.
"Kamu mau macam-macam dengan pacarku?" Usep berteriak keras tepat didepan muka Ridwan.
Kejadian itu mengundang kehebohan di antara teman-teman yang sedang berkumpul. Beberapa dari mereka berusaha meredakan situasi, sementara yang lain terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi.
Aku segera berlari mendekati mereka dengan hati berdebar. "Berhenti! Berhenti!" teriakku sambil mencoba memisahkan Usep dan Ridwan. Aku mencoba menenangkan Usep.
Usep tampak masih marah, wajahnya memerah dan tatapannya penuh dengan kemarahan. "Jangan berani-berani dekat-dekat lagi dengan pacarku! Aku akan membuat hidupmu jadi neraka!" ancam Usep dengan suara penuh amarah.
Ridwan, yang masih terkejut dan sakit karena pukulan tersebut, mencoba bangkit dari tanah. Teman-temannya membantunya berdiri sambil menenangkan dia. Ridwan yang terlihat marah dan terkejut berkata, "Apa maksudmu? siapa kamu? Aku tidak pernah berbuat apa-apa terhadap pacarmu. Ini kejadian yang tidak masuk akal!" Ridwan masih berkelit dengan perbuatannya.
Thomas, teman dekat Ridwan mencoba menyerang Usep dari belakang. Namun, Usep yang memang ahli beladiri berhasil menangkisnya dan memutar balik keadaan. Thomas dibuat tidak berdaya karena tangannya dipelintir oleh Usep. "Kamu... Jangan ikut campur!" Kata Usep penuh dengan amarah dan nada mengancam.
"Jangan karena aku jauh, lalu kamu bisa seenaknya membully pacarku disini!" Usep menambahkan kalimatnya.
Ridwan terdiam, dia tidak menyangka kalau Usep akan nekat terbang ke Australia untuk menyusulku hanya karena masalah ini.
Suasana menjadi hening dan ketegangan sangat terasa diudara. Ridwan dan Usep saling menatap satu sama lain.
Dengan ketegangan yang masih menyelimuti suasana, Ridwan tetap menunjukkan ekspresi cengengesan di wajahnya. Tatapannya menantang Usep, seolah mengatakan bahwa dia tidak gentar meskipun dihadapkan pada situasi berbahaya.
Saat itu, aku mencoba untuk meredakan situasi, "Cukup sudah, kalian berdua! Ini bukan cara untuk menyelesaikan masalah. Usep, aku mungkin penting bagimu, tapi kekerasan tidak akan menyelesaikan apa pun. Dan Ridwan, meskipun kamu merasa terpojok, tersenyum dengan sombong tidak akan membantu juga."
Teman-teman yang hadir mulai mencoba menyela dan menenangkan situasi. Beberapa dari mereka mengajak Ridwan untuk menjauh dari Usep, sementara yang lain berusaha menenangkan Usep agar tidak lagi melampiaskan emosinya dengan kekerasan.
"Kalian berdua harus bicarakan masalah ini dengan baik-baik," kata salah satu teman mereka, "tidak perlu ada perkelahian atau ancaman."
Usep berbicara dengan lantang, "Saat Imas disakiti dan dianiaya sama Ridwan, adakah dari kalian yang membantu Imas? tidak ada, kan?" Usep meninggikan nada suaranya.
__ADS_1
Semua orang yang ada disana terlihat begitu ketakutan melihat sikap tegas Usep membelaku. Dia masih menggenggam tinjunya erat-erat. Usep lalu meraih kerah baju Ridwan dan mengangkatnya sambil menampar pipinya beberapa kali.
"Kalau kamu berani, hadapi aku. Jangan hanya berani kepada perempuan!" Usep membentak Ridwan dan kali ini berhasil membuat ridwan menjadi ciut.
Suasana di sekitar mereka sangat tegang dan penuh ketakutan. Ada desisan angin yang lembut menerpa daun-daun pohon di sekitar kampus, menciptakan suasana yang terasa sunyi dan berdampingan dengan ketegangan di udara. Suara tawa dan percakapan teman-teman yang tadinya riang kini berubah menjadi bisik-bisik cemas.
Langit terlihat mendung, dan beberapa tetes hujan mulai turun perlahan-lahan. Tetesan air yang jatuh ke tanah memberikan kesan dramatis pada situasi yang sedang berkembang.
Dalam keheningan, terdengar suara langkah kaki yang cepat dan napas yang terengah-engah. Aku dan beberapa orang lainnya berusaha menjaga ketenangan dan mencoba mencari jalan untuk menyelesaikan konflik ini dengan damai.
Saat Usep menampar Ridwan, suara benturan telapak tangan dengan pipi terdengar jelas. Beberapa orang berteriak terkejut, dan ada yang menutupi mulutnya dengan tangan. Suasana semakin mencekam dan penuh ketidakpastian.
Namun, beberapa teman yang berada di sekitar Usep dan Ridwan mencoba untuk menghentikan kekerasan tersebut. Suara-suara mereka yang mencoba meredakan situasi dengan mengucapkan kata-kata menenangkan mulai terdengar.
"Ayo, bro, mari kita bicarakan ini dengan tenang," kata salah satu teman mereka dengan suara lembut.
"Pacarmu tidak senang melihat kalian bertengkar seperti ini," kata teman lainnya, mencoba mengingatkan mereka akan dampak dari perselisihan tersebut.
Perlahan tapi pasti, ketegangan di udara mulai berkurang. Usep dan Ridwan saling menatap, wajah mereka masih mencerminkan ketidakpuasan dan kemarahan, tetapi juga tampak ada keinginan untuk mencari jalan keluar dari konflik ini.
Aku berjalan mendekati mereka, mengangkat tangan dengan hati-hati sebagai tanda bahwa aku ingin berbicara. "Mari kita cari jalan untuk menyelesaikan masalah ini dengan damai," kataku dengan suara lembut namun tegas.
Usep menoleh ke arahku, masih memancarkan rasa marah dan ketidakpuasan. Namun, aku tetap berusaha meyakinkannya bahwa tindakan kekerasan bukanlah solusi yang tepat.
"Aku mengerti bahwa kamu marah dan ingin melindungi aku sebagai pacarmu, tapi kekerasan tidak akan membawa kebaikan kepada siapapun," lanjutku dengan penuh kehati-hatian.
Ridwan, yang telah bangkit dari tanah, mengangguk setuju. "Dia benar, Usep. Maafkan aku yang sudah bertindak kurang ajar sama pacarmu, Imas."
"Baik, kali ini aku maafkan. Tapi... hukuman harus tetap dijalankan agar menjadi efek jera buatmu!" Ujar Usep dengan sorotan mata yang sangat tajam.
Di tengah keheningan dan rintikan hujan yang semakin deras, aku melihat wajah Ridwan yang mencoba menenangkan diri. Dia mengangguk setuju, mengerti bahwa tindakannya telah menyakiti perasaan Usep dan Imas.
"Kamu benar, Usep. Aku harus bertanggung jawab atas tindakanku," ucap Ridwan dengan suara yang penuh penyesalan.
Teman-teman yang berada di sekitar mereka mulai mendekat, ingin memastikan bahwa situasi tidak akan berlarut-larut menjadi lebih buruk. Mereka berusaha mendamaikan Usep dan Ridwan serta mencari jalan keluar yang terbaik untuk semua pihak.
__ADS_1
"Ayo, kita bicarakan dengan kepala dingin," kata salah satu teman mereka, sambil menenangkan suasana yang tegang.
Semakin lama, hujan semakin deras dan mengguyur mereka semua. Tetesan air yang jatuh ke tanah menciptakan suara yang lembut, memberikan latar belakang alami untuk pembicaraan mereka.
Dalam keadaan yang kacau dan emosional ini, beberapa orang yang hadir memutuskan untuk mencari tempat yang lebih tenang untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Mereka mengajak Usep, Ridwan, dan aku untuk pergi ke kafe terdekat.
Kami tiba di kafe dengan tubuh basah kuyup oleh hujan. Kami duduk di meja yang terpisah dari pengunjung lain, menciptakan ruang untuk berbicara tanpa gangguan. Bau kopi dan suasana yang tenang membantu menenangkan pikiran kami.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya salah satu teman mereka, mencoba memulai pembicaraan dengan lembut.
Usep dan Ridwan saling menatap sejenak, mereka tahu pentingnya untuk berbicara secara terbuka dan jujur.
Aku memulai untuk menceritakan kronologi kejadian yang terjadi beberapa hari lalu dan menjelaskan bagaimana Ridwan mencoba mendekatiku dan membuatnya merasa tidak nyaman dengan sikapnya.
Ridwan mendengarkan dengan serius, menyesali tindakannya dan berjanji bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi. Dia juga menjelaskan bahwa dia tidak pernah berniat untuk menyakitiku atau merusak hubunganku.
"Maaf, Usep. Aku terlalu meremehkan hubungan kalian." Kata Ridwan sambil mengusap pipinya yang masih berdarah.
Usep menatap Ridwan dengan ekspresi yang sulit dipahami. Wajahnya masih mencerminkan rasa marah dan ketidakpuasan, namun, mungkin ada tanda-tanda keinginan untuk memaafkan.
"Aku masih kesal dengan tindakanmu, Ridwan. Tapi jika kamu benar-benar menyesal dan berjanji untuk tidak mengganggu hubungan kami lagi, maka aku bersedia memberikan kesempatan kedua," kata Usep dengan suara serak.
Ridwan mengangguk dengan tulus, "Aku sangat menyesal dan tidak ada niatan untuk mencampuri hubungan kalian lagi. Aku berjanji akan menjaga jarak dan menghormati hubungan kalian."
Suasana di kafe mulai terasa lebih tenang setelah pembicaraan tersebut. Teman-teman yang hadir memberikan dukungan dan memberi saran agar mereka semua bisa saling memaafkan dan melanjutkan kehidupan dengan lebih baik.
"Aku harap ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa kekerasan bukanlah cara yang baik untuk menyelesaikan masalah. Mari kita belajar untuk berkomunikasi dengan baik dan menyelesaikan perbedaan dengan cara yang damai," kata salah satu teman mereka dengan penuh harapan.
Semua orang mengangguk setuju, menyadari pentingnya komunikasi yang baik dan saling menghormati dalam menjaga hubungan antarmanusia.
Hujan di luar masih turun dengan lebat, menciptakan latar belakang yang tenang dan menenangkan bagi percakapan mereka. Meskipun awalnya penuh dengan konflik dan ketegangan, situasi ini menjadi titik balik di mana mereka semua bisa belajar dan tumbuh bersama.
Setelah beberapa jam berbicara, Usep, Ridwan, dan aku merasa lebih lega dan mendekat satu sama lain. Meskipun masih ada luka yang perlu sembuh, kami semua berkomitmen untuk bekerja sama dan memperbaiki hubungan kami.
Ketika mereka meninggalkan kafe, hujan telah reda dan langit mulai terang kembali. Sinar matahari yang menyelinap di antara awan memberikan harapan dan optimisme untuk masa depan.
__ADS_1