
"Treeengg... treeeengg." Saat bel sekolah berdentang, tanda dimulainya pelajaran pertama, semua siswa sibuk mengeluarkan buku-buku mereka. Tapi, saat aku meraba-raba tasku, aku langsung terkejut karena menyadari bahwa buku matematika yang seharusnya ada di sana tertinggal di rumah. "Astaghfirullah! Kenapa aku bisa sampai lupa?" ujarku panik, hatiku berdegup kencang.
"Ada apa, Imas?" tanya Anis dengan wajah bingung.
Aku mencoba menenangkan diri dan menjelaskan pada Anis, "Aku lupa membawa buku matematika, Anis. Aku tidak tahu harus bagaimana, tugas PR belum beres pula!" ucapku dengan kecemasan yang meluap.
Anis, temanku yang selalu cerdas dan bisa diandalkan, memberikan senyum dan menepuk bahunya. "Tenang saja, Imas. Aku punya ide. Kita bisa meminjam buku dari perpustakaan atau minta izin guru untuk menggunakan buku teman sekelas."
"laahh.. pinjam gimana? itu buku tugas, Anis." kepanikan aku mulai memuncak.
"Tidak apa-apa, Imas. Aku punya ide lain," ujar Anis dengan semangat. "Kamu tahu, Pak Iswanto, guru matematika kita, adalah penggemar makanan unik, kan? Bagaimana kalau kamu menawarkan beberapa belut kepadanya? Barangkali dia bersedia meminjamkan bukunya sebagai imbalannya."
"Aelaahh, buku tulis yang ketinggalan, Anis. Bukan buku pelajarannya." Jawabku makin kesal.
Anis memahami kegelisahanku dan mencoba memberikan alternatif lain. "Imas, tenang dulu. Kita bisa mencari solusi lain. Bagaimana kalau kita meminta izin pada teman sekelas kita yang memiliki buku cadangan? Mungkin mereka bersedia meminjamkan bukunya untuk satu pelajaran."
"Bagus juga, tapi PR nya gimana? aku belum mengerjakannya, Anis." Ujarku mencoba lebih tenang.
Anis tersenyum penuh pengertian. "Tidak perlu khawatir, Imas. Kita masih punya waktu sebelum pelajaran dimulai. Kita bisa memanfaatkan waktu istirahat untuk mengerjakan PR. Aku akan membantumu menyelesaikannya."
Hatiku merasa lega mendengar dukungan dan tawaran bantuan dari Anis. Setelah jam pelajaran pertama selesai, kami berdua bergerak cepat, mencari tempat yang tenang untuk mengerjakan tugas PR. Dalam waktu singkat, kami berhasil menyelesaikan PR matematika yang belum selesai.
"Waahh... makasih, Anis. Akhirnya kelar juga." Aku tersenyum puas atas hasil kerja kami berdua.
Anis tersenyum nakal kepadaku, lalu dia berkata, "enak aja, gada yang gratis. Traktir aku makan bakso." Ujar Anis sambil menepuk pundakku.
"Dasar teman tidak berakhlak!" Seruku sambil bercanda kepada Anis.
Kami berdua tertawa riang, menikmati momen kebersamaan setelah berhasil menyelesaikan tugas dengan baik. Aku memang merasa berutang budi kepada Anis atas bantuan dan dukungannya, jadi ajakan Anis untuk makan bakso sebagai ungkapan terima kasih terdengar wajar.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mentraktirmu makan bakso favoritmu," ujarku sambil tersenyum. "Tapi jangan lupa, ini hanya sekali ya!" Lalu kami berdua melangkah ke warung bakso favorit kami.
Setelah makan bakso, kami kembali ke kelas dengan semangat yang baru. Namun, dikoridor sekolah, kami dihadang oleh Ujang yang terlihat sangat sedih.
"Kamu kenapa, Ujang?" Tanyaku sambil melirik kearah Anis, kode bertanya. Anis hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku gak bisa move on, Imas." Jawabnya singkat.
"Ujaaaanng, udah dong! aku tidak memikirkan soal cinta-cintaan, aku fokus belajar." Ujarku kesal.
"Tapi, sama Usep kok beda ya?" Jawabnya dengan senyum sinis diwajahnya.
"Maksudmu?" Aku terkejut dengan ucapan Ujang.
"Kamu begitu akrab sama Usep, bahkan terlihat sedang berpacaran." Ujang mengucapkan kalimat yang membuatku langsung terdiam.
Sungguh diluar dugaan, ternyata dibelakangku Usep sedang menyimak obrolan kami.
"Ohh.. aku ternyata sudah salah, ternyata aku terlalu berharap." Suara itu membuatku kaget dan segera menengok kebelakang.
"Usep?" Tanyaku, semakin gugup dan serba salah. Aku takut Usep salah sangka dengan ucapanku itu.
Usep menatapku dengan ekspresi campuran antara kekecewaan dan kebingungan. Hatiku mulai berdegup lebih cepat, takut bahwa perkataanku tadi telah membuatnya sakit hati.
"Imas, aku pikir kita punya hubungan yang lebih dari sekadar teman," ucap Usep dengan suara serak. "Aku mengira kita memiliki perasaan yang sama, tapi mungkin aku salah."
Aku merasa jantungku hampir berhenti. Rasanya seperti ada benang tipis yang siap putus antara hubungan kami. Aku berusaha menjelaskan dengan cepat, tak ingin kesalahpahaman ini berlarut-larut.
"Usep, maafkan aku jika ada kesalahpahaman. Aku benar-benar menganggapmu sebagai teman baikku. Tapi, aku tidak pernah melihatmu lebih dari itu. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu," ujarku dengan suara bergetar.
__ADS_1
Usep menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Aku berharap dia dapat memahami posisiku dan tetap menjaga hubungan persahabatan kami. Namun, dia hanya tersenyum pahit dan berbalik pergi tanpa berkata apa pun.
Aku merasa hampa dan menyesal melihat Usep pergi begitu saja. Aku berusaha memanggil namanya, tetapi suaraku hanya tercekat di tenggorokan. Rasanya seperti ada yang putus di antara kami.
Anis yang melihat kejadian tersebut mendekatiku dengan wajah penuh kekhawatiran. "Imas, apa yang terjadi? Apa kamu baik-baik saja?"
Aku hanya bisa menggelengkan kepala, terlalu terkejut dan terluka untuk bisa mengungkapkan perasaanku dengan kata-kata. Anis menggenggam tanganku erat dan memberikan dukungan tanpa banyak bicara. Dia tahu bahwa saat ini aku butuh seseorang yang mendengarkan dan memahami tanpa banyak kata.
Hari-hari berikutnya terasa hampa tanpa kehadiran Usep. Meskipun kami masih berada di kelas yang sama, namun kebersamaan kami terasa tegang dan canggung. Aku merindukan tawa dan cerita kami yang dulu begitu akrab.
Suatu hari, saat istirahat, Usep mendekatiku dengan wajah yang terlihat sedikit lembut. "Imas, maafkan aku jika aku bereaksi terlalu berlebihan. Aku terlalu terjebak dalam perasaan sendiri dan salah menafsirkan sikapmu. Aku menghargai persahabatan kita dan ingin kita bisa kembali seperti dulu."
Aku merasa lega mendengar kata-kata itu. Hatiku masih terasa sedikit rapuh.
"Aku yang meminta maaf, sebenarnya... aku juga suka sama kamu, Usep. Tapi, aku tidak mau membuat Ujang atau Vey menjadi cemburu." ucapku dengan tulus.
Usep terkejut mendengar pengakuan tersebut. Tatapannya penuh harap, namun terlihat juga ada kebingungan dalam matanya. Dia mencoba memahami kata-kataku dengan seksama.
"Imas, aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi, bukankah kita tidak bisa menentukan perasaan kita sendiri? Jika memang ada perasaan di antara kita, tidak adil untuk menutupinya hanya karena takut melukai orang lain," ujar Usep dengan lembut.
Aku terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Usep. Memang benar, aku tidak bisa mengendalikan perasaan yang ada di dalam diriku. Namun, rasa hormatku terhadap teman-teman yang lain membuatku ragu untuk mengungkapkannya.
"Imas, aku hanya ingin kita jujur satu sama lain. Biarkan kita menyelesaikan masalah ini dengan baik. Jangan khawatir tentang orang lain, yang penting adalah bagaimana kita menjaga hubungan kita dengan baik," sambung Usep dengan lembut.
Aku merasa terharu dengan sikap dewasa dan pengertian yang ditunjukkan oleh Usep. Mungkin memang saatnya aku menghadapi kenyataan dan mengambil keputusan yang tepat. Aku menghela nafas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian dalam diri.
"Dalam hal ini, aku setuju denganmu, Usep. Aku juga memiliki perasaan yang lebih dari sekadar persahabatan terhadapmu. Dan aku ingin menjalin hubungan yang jujur dan tulus denganmu," kataku dengan mantap.
Usep tersenyum bahagia, "Jadi...? kita jadian?" Usep menunggu jawaban dengan harap-harap cemas.
__ADS_1