
Disekolahan SMA Spotaker, Vey terlihat begitu tidak bersemangat. Jalannya gontai dan pandangannya kosong. "Imas sekarang berpacaran dengan Usep, aku benar-benar merasa hampa." Gumamnya dalam hati.
Sementara itu teman-teman sekelasnya merasa iba melihat Vey yang begitu lemas dan tidak bersemangat untuk sekolah.
"Vey, kamu kenapa?" Rokayah mencoba menanyakan hal yang mengganggu pikiran Vey saat ini.
"Ahh.. tidak ada apa-apa." Jawab Vey yang berubah sikapnya menjadi kikuk.
"Aku melihat kamu sangat tidak fokus, walaupun untuk berjalan." Rokayah kembali mendesak Vey untuk menceritakan masalahanya.
"A...A.. Aku fokus kok." Vey menjawab dengan gelagapan.
"Kalau kamu fokus, gak mungkin kamu gak sadar kalau kamu baru saja menginjak tai kucing." Jawab Rokayah sambil tersenyum.
Vey terkejut mendengar apa yang dikatakan Rokayah. Wajahnya memerah karena merasa malu, namun ia juga tidak bisa menahan tawa kecil karena kejadian lucu itu.
"Apa? Serius? Aku tidak sadar!" Vey berkata sambil mencoba membersihkan sepatunya dari tai kucing yang menempel.
Rokayah dan teman-teman sekelas yang lain tertawa melihat reaksi Vey. Mereka merasa lega melihat Vey akhirnya menunjukkan sedikit tanda keceriaan meskipun hanya karena kejadian kecil tersebut.
"Lihat, Vey, kamu perlu lebih rileks dan mencoba menemukan kebahagiaan kecil di sekitarmu," kata Rokayah dengan penuh empati. "Aku tahu kamu sedang menghadapi masalah dengan satu hal, tapi jangan biarkan hal itu membuatmu kehilangan semangatmu untuk sekolah dan menikmati kehidupan di sekitarmu."
Vey menatap Rokayah dengan rasa kagum, "Terima kasih, Rokayah. Aku tahu kamu peduli padaku. Memang, aku merasa hampa karena masalah hati, tapi kamu benar, aku tidak boleh mengorbankan kebahagiaanku yang lainnya."
Teman-teman sekelas yang lain juga menganggukkan kepala setuju. Mereka berharap Vey bisa kembali menjadi Vey yang ceria seperti sebelumnya.
"Dengarlah, Vey. Kami semua di sini untukmu. Jika kamu ingin berbicara atau membagikan bebanmu, kita siap mendengarkan dan membantu," kata Rokayah dengan penuh dukungan.
__ADS_1
Vey tersenyum dihadapan teman-temannya yang peduli. Ia merasa beruntung memiliki teman-teman sekelas yang memperhatikannya dan siap mendukungnya. Meskipun masalahnya belum selesai, Vey merasa sedikit lebih ringan dan bersemangat untuk menghadapi hari-harinya.
"Jadi, kamu sekarang mau bercerita?" Rokayah kembali bertanya karena masih penasaran.
"Imas. Imas membuatku patah hati. Dia sekarang sudah punya pacar namanya Usep teman sekolah kita." Jawab Vey dengan nada pelan.
"Ahh.. kamu naksir si cewek gesrek itu?" Tanya Rokayah kembali.
"Woyy.. jangan panggil Imas dengan sebutan itu. Imas adalah wanita sempurna dimataku." Jawab Vey sedikit kesal.
"Maaf, aku hanya melihat dari kacamata manusia normal, Vey. Mana ada orang mau memakai kaos kaki beda corak dan kesekolah membawa belut, kalau dia manusia normal." Ujar Rokayah mencoba menyadarkan Vey.
Vey merenung sejenak setelah mendengar kata-kata Rokayah. Ia mulai mempertimbangkan apa yang dikatakan temannya itu. Mungkin benar, Imas memang tidak biasa dalam berperilaku dan penampilan. Namun, Vey selalu melihat sisi baik Imas yang lainnya, seperti kebaikan hatinya, keceriaannya, dan sikap perhatiannya terhadap lingkungan sekitar.
"Tapi Rokayah, aku percaya bahwa di balik penampilan dan kelakuan yang unik, Imas adalah orang yang istimewa," kata Vey dengan mantap. "Dia memiliki keunikan dan kepribadian yang membuatku terpesona."
Rokayah mengangguk mengerti. "Aku mengerti, Vey. Setiap orang memiliki preferensi dan pandangan yang berbeda dalam mencari pasangan. Jika Imas membuatmu bahagia, maka kamu harus mengikuti hatimu. Tapi ingatlah untuk tetap memperhatikan perasaanmu sendiri dan berkomunikasi dengan Imas secara jujur tentang apa yang kamu rasakan."
Vey menghela nafas dalam-dalam, merasa sedih dan kecewa dengan keputusan Imas. Ia berusaha memahami bahwa setiap orang memiliki hak untuk memilih pasangan yang mereka anggap cocok untuk mereka.
"Tidak semua hubungan romantis berakhir dengan kita menjadi pasangan hidup, Vey," kata Rokayah dengan lembut. "Terkadang, orang lain memilih jalan yang berbeda, bukan karena kita tidak layak, tetapi karena setiap individu memiliki preferensi dan keinginan yang unik."
Vey mengangguk dengan perlahan, menerima kata-kata Rokayah. "Mungkin memang belum saatnya bagi kami untuk bersama, dan itu bukan berarti ada yang salah dengan diriku. Aku harus menerima kenyataan ini dan belajar untuk melanjutkan kehidupan tanpa merasa terlalu hampa."
Teman-teman sekelas yang lain memberikan dukungan dan menguatkan Vey. Mereka mengingatkannya bahwa hidup masih penuh dengan kesempatan dan kemungkinan untuk menemukan kebahagiaan, baik dalam hubungan romantis maupun di aspek lain kehidupannya.
Dalam beberapa minggu berikutnya, Vey berusaha untuk menyembuhkan luka hatinya dan memfokuskan diri pada pertumbuhan pribadinya. Ia terlibat dalam berbagai aktivitas di sekolah dan mengembangkan minat dan bakatnya.
__ADS_1
Teman-teman sekelasnya tetap berada di sisinya, memberikan dukungan dan menyenangkan Vey dalam perjalanan pemulihannya. Mereka mengajak Vey untuk terlibat dalam kegiatan sosial, bermain game, dan berbagi tawa bersama.
Perlahan tapi pasti, Vey mulai menemukan kembali semangat dan kebahagiaannya. Ia menyadari bahwa hidup terus bergerak maju, dan ada banyak peluang dan pengalaman yang menunggunya di masa depan.
"Walaupun Imas memilih orang lain, aku tidak akan membiarkan itu menghentikan langkah-langkahku untuk mencapai impian dan kebahagiaanku sendiri," ujar Vey dengan tekad yang baru. "Aku akan terus berjuang dan berkembang sebagai pribadi yang lebih baik."
Teman-teman sekelasnya memberikan tepuk tangan dan senyuman penuh semangat untuk Vey. Mereka bangga melihat teman mereka bangkit dan menemukan kekuatan dalam diri sendiri.
Rokayah kembali menghampiri Vey dan dia sedikit membawa kabar gembira untuknya.
"Vey, coba lihat kearah jam 2 dari sisimu. Kamu akan terpesona." Rokayah secara tiba-tiba membuka obrolan dengan pernyataan yang menohok.
"Maksudmu gadis dengan pita merah dikepalanya?" Jawab Vey memastikan pandangannya.
"Betul, Namanya Saidah. Anak Lurah dilingkungan sini. Cantik bukan?" Rokayah sedikit menggoda Vey.
"Iya, dia memang cantik. Tapi, apa hubungannya dengan aku?" Vey menjadi bingung dengan maksud Rokayah menunjukan Saidah kepadanya.
"Dia Jomblo!" Jawab Rokayah sambil berbisik tepat ditelinganya Vey.
Vey mencoba mencerna maksud dan tujuan Rokayah dengan kalimatnya tersebut. "Maksudmu, kamu mau menjodohkan aku dengan Saidah?" Vey sepertinya mengerti dengan apa yang Rokayah mau.
"Aku hanya ingin membuatmu kembali bersemangat dalam menjalani hidup, Vey." Ucap Rokayah penuh pengertian.
"Aku tau, Rokayah. Saidah memang cantik, tapi dia tidak memiliki apa yang Imas miliki." Vey masih tetap dengan pendiriannya untuk tetap setia menunggu Imas.
"Kamu belum tau siapa Saidah sebenarnya. Kenapa kamu bisa begitu yakin?" Tanya Rokayah.
__ADS_1
"Hhmm.. Aku tidak tahu. Mungkin kamu benar, mungkin saja Saidah punya kelebihan yang Imas tidam punya." Ujarnya sedikit menurunkan ego nya.
"Naaahhh.. Itu baru bijaksana." Ucap Rokayah sambil menepuk pundak Vey.