Imas Hatori

Imas Hatori
Ada apa ini?


__ADS_3

Aku dan Ayahnya Usep mengobrol tentang masa kecilnya Usep. Aku sebentar terkekeh-kekeh mendengar kisahnya, ternyata Usep dulunya seorang penakut, apalagi soal hantu.


"Hari ini Usep boleh pulang, kami akan langsung pulang kerumah. Kalian mau ikut sekalian?" Ayahnya Usep menawarkan kebaikannya kepadaku.


Aku hanya mengangguk saja karena yang ada dalam benakku adalah kesehatan Usep. Momen saat aku melamun ternyata menarik perhatian ayahnya Usep. Dia lalu bertanya singkat kepadaku. "Seberapa dekat kamu dan Usep?"


Aku yang merasa terkejut mendengar pertanyaan dadakan tersebut lalu menjawab, "Teman dekat!"


Ayahnya Usep tersenyum, dia sepertinya paham dan mengerti dengan hubungan aku dan Usep. "Sekarang mau kuliah dimana?" Dia menambahkan.


"Untuk tahun ini, aku gak kuliah dulu, Om. Aku mau fokus sama bisnisku." Jawabku dengan lugas dan percaya diri.


"Bisnis apa, Imas?" Dia kembali bertanya kepadaku.


"Bisnis Belut online, Om."


Jawabanku tersebut membuat ayahnya Usep terkejut dan semakin penasaran kepadaku. "Wahhh... baru kali ini Om mendengar ada gadis berbisnis belut." Ujarnya dengan tatapan kagum.


Aku tersenyum mendengar reaksi kagum Ayah Usep terhadap bisnisku. Terlihat jelas bahwa dia tertarik dengan cerita-cerita dan pengalaman yang aku miliki.


"Aku memang memilih bisnis yang unik, Om," jawabku sambil tertawa kecil. "Awalnya, aku tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang bisnis belut. Aku hanya hobi menangkap belut saja. Tapi setelah melakukan riset dan belajar, aku semakin tertarik dengan potensi bisnis ini."


Ayahnya Usep mengangguk mengerti. "Belut memang memiliki banyak potensi, terutama di era digital seperti sekarang. Bagaimana bisnismu berjalan?"


Aku menceritakan kepadanya tentang perjalanan bisnisku. Aku menjelaskan bahwa aku memulai dengan membangun sebuah website dan memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produk belutku. Aku juga menjalin kerja sama dengan peternak belut di daerah sekitar untuk memastikan pasokan yang stabil.


Ayahnya Usep terlihat antusias mendengarkan ceritaku. "Bagus sekali, Imas. Aku bangga melihatmu memilih jalur yang berbeda dan mengembangkan bisnis sendiri. Ini menunjukkan keberanian dan semangat wirausaha yang luar biasa."

__ADS_1


Terima kasih, Om," jawabku dengan tulus. "Aku berharap bisnis ini bisa terus berkembang dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Aku juga berencana untuk memperluas produk-produk turunan dari belut, seperti makanan olahan dan kosmetik."


Ayahnya Usep mengangguk mengerti. "Sukses selalu untukmu, Imas. Jangan pernah ragu untuk bermimpi besar dan bekerja keras untuk mencapainya."


"Ini juga berkat dukungan Usep, Om. Dia yang memiliki ide menjual hobiku ini, Om." Jawabku sambil malu-malu.


Ayahnya Usep tersenyum bangga mendengar keterlibatan Usep dalam bisnisku. "Usep memang anak yang cerdas dan kreatif. Ide untuk menjual hobimu adalah langkah yang brilian. Kalian berdua sepertinya saling mendukung dengan baik."


Aku mengangguk setuju. "Iya, Om. Usep adalah sahabat terbaikku dan selalu memberikan dukungan penuh. Kami saling menginspirasi dan bekerja sama dalam mengembangkan bisnis ini."


Ayahnya Usep mengambil napas dalam-dalam. "Imas, aku senang melihat kalian berdua memiliki semangat dan kerja keras untuk mencapai tujuanmu. Bisnis itu memang penuh dengan tantangan, tetapi jangan pernah menyerah. Jadikan setiap kesulitan sebagai pelajaran dan motivasi untuk terus maju."


Penuh rasa terima kasih, aku menjawab, "Terima kasih, Om. Saya sangat senang."


Ayahnya Usep melanjutkan percakapan dengan senyum hangat di wajahnya. "Saya yakin kamu akan mencapai kesuksesan dalam bisnismu, Imas. Jika ada hal yang bisa saya bantu, jangan ragu untuk menghubungi saya."


Ayahnya Usep mengangguk. "Saya yakin kamu akan menjadi contoh yang baik, Imas. Kalian berdua memiliki semangat dan dedikasi yang luar biasa. Teruslah berkarya dan jangan pernah ragu untuk mengambil peluang."


Keesokan harinya, kami semua akhirnya pulang bersama-sama. Kami diantar sopir ayahnya Usep menuju kerumah kami, sedangkan Usep ikut ayahnya langsung menuju kediamannya.


Dirumah, aku tidak mau menceritakan semua hal yang terjadi selama di pantai. Aku lebih memilih diam dan merahasiakannya karena aku tidak mau bersikap lebay.


Beberapa hari setelah pulang dari perjalanan pantai, aku kembali ke rutinitas sehari-hari dan fokus pada bisnis belutku. Aku terus mengembangkan strategi pemasaran dan menjalin kerja sama dengan lebih banyak peternak belut untuk memperluas jangkauan pasokan.


Waktu terus berlalu, dan bisnisku mulai menunjukkan tanda-tanda perkembangan yang positif. Aku mendapatkan pelanggan baru dan mendapat respon yang baik terhadap produk belutku. Hal ini membuatku semakin termotivasi untuk terus mengembangkan bisnis ini.


Suatu hari, saat aku sedang sibuk mengurus pesanan dan mengupdate media sosial bisnisku, ponselku berdering. Aku melihat nama yang muncul di layar, "Usep." Aku tersenyum dan segera menjawab panggilannya.

__ADS_1


"Halo, Usep! Ada apa? oya, gimana kabarmu?" tanyaku dengan antusias.


"Imas, Alhamdulillah aku sudah agak mendingan. Aku mendengar bisnismu semakin berkembang. Aku sangat bangga padamu!" jawab Usep dengan suara girang.


Aku tersenyum mendengar kata-kata dukungan dari sahabatku. "Terima kasih, Usep. Semuanya berkat dukunganmu juga."


Usep tertawa kecil di seberang sana. "Sama-sama, Imas. Aku senang melihatmu sukses dan bahagia. Jangan lupakan aku ya ketika sudah jadi pengusaha kaya nanti!" Usep bercanda dengan gelak tawanya.


Aku bergelak. "Ngomong apaan sih. Oya, Usep, aku kangen. Boleh aku kerumah?" Tanyaku kepada Usep.


"Tidak boleh, biar aku aja yang kerumah kamu, Imas." Usep menjawab dengan suara semangat.


"Ya udah, kesini aja. Sekalian bantuin aku bersihin Belut." Jawabku sambil terus mencuci potongan belut yang sudah dipotong.


Usep tertawa di seberang sana. "Baiklah, aku akan datang. Aku juga rindu denganmu, Imas. Tapi maaf ya, aku masih belum berani bertemu dengan belut."


Aku tertawa mendengar kekhawatiran Usep tentang belut. "Tapi Belut rindu sama kamu!".


Usep menutup teleponnya dan bersiap untuk datang kerumahku.


Beberapa saat kemudian, Usep tiba di rumahku. Kami duduk di ruang tamu sambil menikmati segelas teh hangat. Kami bercerita tentang pengalaman kami selama beberapa waktu terakhir. Usep menceritakan bagaimana dia menghabiskan waktu di rumah sakit dan bagaimana dia berusaha sembuh dengan baik.


Aku menceritakan perkembangan bisnisku dan betapa senangnya aku melihat pelanggan yang semakin bertambah. Usep memberikan beberapa ide kreatif untuk mempromosikan bisnisku, dan aku sangat menghargainya.


Setelah beberapa jam berlalu, Usep harus pulang. Kami berpelukan dan berjanji untuk tetap saling mendukung dalam situasi seperti apapun.


Saat aku hendak melanjutkan aktivitasku, aku dikejutkan dengan pesan singkat dari guruku. "Imas, ada kesalahan data. Ternyata kamu masuk program beasiswa untuk pergi ke Australia."

__ADS_1


__ADS_2