
"Jadi selama ini kamu menusuk dari belakang, Vey?" Ujang terlihat begitu marah kepada Vey dengan napas yang menderu dia berbicara.
"ehh.. bukan begitu, Ujang. Aku.. aku..." Plaaaakk." sekali lagi pukulan Ujang mendarat dimukanya Vey.
Aku, Usep dan teman-teman yang lain langsung memisahkan perkelahian itu. "Stooooppp." Ujarku sambil menutup kuping dan berteriak keras.
"Aku... Imas... bukan gadis spesial, bukan Selebritis, bukan pula bintang film, buat apa kalian rebutan cintaku?" Aku semakin geram dan marah dengan tingkah laku mereka berdua.
Usep yang memegang badan Vey ikut terkejut melihat kemarahanku yang memuncak.
"Aku sudah muak dengan semua ini!" lanjutku sambil menatap tajam Ujang dan Vey. "Kalian berdua berteman baik denganku selama ini, tapi tindakan kalian sangat tidak pantas. Mengapa harus berkelahi hanya karena urusan cinta?"
Vey yang terlihat terluka dan kesal kemudian berkata, "Imas benar, ini semua salahku. Aku tidak seharusnya terlibat dalam persaingan semacam ini. Maafkan Aku, Imas."
Aku merasa sedih melihat Vey terluka dan juga merasa bersalah karena membiarkan hal ini terjadi. "Vey, maafkan aku juga. Aku seharusnya lebih jelas mengungkapkan perasaanku kepadamu. Tapi itu bukan alasan untuk Ujang dan kamu saling melukai satu sama lain."
Ujang yang masih penuh amarah mencoba mengendap-endap mendekatiku, tapi Usep dan teman-teman lainnya menghalanginya. "Ujang, sudahlah. Hentikan semuanya sekarang juga. Bukan hanya Imas yang terluka, tapi juga persahabatan kita semua."
Ujang merenung sejenak, tampaknya menyadari kesalahannya. Dia menghembuskan napas panjang dan kemudian menatap Vey. "Maafkan aku, Vey. Aku tidak seharusnya mengambil jalan yang salah ini. Persahabatan kita lebih berharga daripada cinta."
Vey, yang masih merasa sakit karena pukulan Ujang, menatap tajam lalu berkata, "Kamu pikir bisa dengan mudah meminta maaf setelah pukulan itu?"
Vey bangkit lalu beranjak pergi dengan suasana hati kurang baik dan terlihat menyimpan dendam. Aku mencoba mengejar Vey, akan tetapi Usep menarik lenganku lalu mengatakan, "Biarkan dia, Imas. Usahamu akan sia-sia dalam situasi seperti ini. Biarkan dia tenang dulu, baru kita bicara."
Aku mengangguk, "Benar juga apa kata Usep, mau dipaksakan pun akan percuma." Aku bicara sendiri dalam hati.
__ADS_1
Aku menoleh ke arah Ujang yang terlihat menunduk malu dan menyesal. "Maksudmu apa sih, Ujang? kamu semakin membuat semuanya semakin rumit, baik itu untukku ataupun untukmu." Aku merasa emosiku memuncak setiap kali melihat Ujang.
Usep lalu menyuruh teman-teman yang lain untuk membawa Ujang pergi, kemudian dia menarikku dan membawa aku kesebuah tempat dibelakang taman sekolah.
Situasi yang chaos itu akhirnya mereda, semua orang membubarkan diri. Usep mendudukan aku disebuah bangku berwarna coklat, dia lalu duduk jongkok didepanku. "Imas, tarik napasmu dalam-dalam lalu keluarkan."
Aku mengikuti instruksi Usep dan hatiku mulai merasa tenang. Semakin aku mengatur napasku, semakin aku bisa mengendalikan diri.
"Terima kasih, Usep. terima kasih untuk tidak ikut emosi saat terjadi keributan tadi." Ujarku dengan suara perlahan.
Usep menatapku dengan lembut, "Imas, kita semua emosi, tapi penting bagi kita untuk bisa mengendalikannya. Aku tahu kamu marah pada Ujang, tapi saat-saat seperti itu, membiarkan emosi kita menguasai hanya akan membuat semuanya menjadi semakin buruk."
Aku mengangguk mengerti, menghargai nasihat dan dukungan Usep. "Kamu benar, Usep. Aku harus belajar mengendalikan emosiku, terutama ketika situasi menjadi sulit. Tapi terkadang, rasanya begitu sulit untuk tidak terbawa oleh amarah dan kekecewaan."
Usep tersenyum lembut, "Sudahlah, Imas. Emosi itu wajar dan manusiawi. Yang penting adalah bagaimana kita meresponsnya dengan bijaksana. Ketika kamu merasa emosimu mulai memuncak, cobalah untuk mencari ruang dan waktu untuk menenangkan diri. Tarik napas, fokus pada perasaan positif, dan pikirkan konsekuensi dari tindakan impulsif."
Usep tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... kamu kalau sedang bingung memang bikin gemes yaa." Ujarnya sambil mencubit pipiku.
Aku tersenyum malu mendengar kata-kata Usep. "Ah, maaf ya, Usep. Kadang-kadang aku agak lambat dalam memahami hal-hal tertentu. Tapi, sekarang tolong jelaskan padaku, apa yang kamu maksud tadi?"
Usep masih tertawa, tapi dia kemudian mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. "Maaf, Imas. Aku tidak bermaksud membuatmu bingung. Yang ingin kukatakan adalah, ketika negara api mulai menyerang, disitulah Avatar akan datang."
Usep menjawab dengan lelucon yang menurutku garing. "Hah, Lucu!" Jawabku dengan senyum sinis dan pergi meninggalkan Usep tertawa sendirian.
Di koridor sekolah, Ujang berpapasan denganku. Dia spontan menundukan kepalanya, mungkin karena malu, sedangkan aku yang masih kesal dengan sikapnya, memalingkan kepala dan tidak mau memandang Ujang.
__ADS_1
Saat aku berjalan pergi, terdengar suara Ujang memanggilku dari belakang, "Imas, tunggu sebentar!"
Aku menghentikan langkahku, tapi tidak berbalik menghadapnya. "Ada apa, Ujang?" tanyaku dengan nada dingin.
Ujang mendekatiku dengan langkah ragu. "Imas, aku minta maaf atas semua yang telah terjadi. Aku tahu aku membuatmu marah dan kecewa. Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu."
Aku masih enggan menghadapnya, tetapi aku mendengarkan apa yang dia katakan. "Ujang, tindakanmu sudah menyakiti tidak hanya aku, tapi juga Vey. Persahabatan kita tercoreng karena persaingan tidak sehat ini."
Ujang terdiam sejenak, seolah sedang merenung. "Kamu benar, Imas. Aku menyadari kesalahanku sekarang. Aku terjebak dalam cemburu dan tidak berpikir dengan jernih. Maafkan aku."
Aku berbalik dan menatap Ujang dengan serius. "Maaf saja tidak cukup, Ujang. Kamu harus memperbaiki hubungan kamu dan Vey. Aku tau butuh waktu dan usaha untuk membangun kembali kepercayaan yang hilang."
Ujang mengangguk tulus. "Aku bersedia melakukan apa pun untuk memperbaiki hubungan kami, Imas. Aku akan belajar dari kesalahan ini dan berusaha menjadi teman yang lebih baik."
Aku tidak menjawabnya, aku pergi begitu saja karena aku masih kesal terhadap Ujang. tiba-tiba Usep mengagetkan aku dengan muncul secara tiba-tiba disamping kiriku. "Daaarrrr." Ujarnya sambil tertawa.
"Duuhh... Useeeeppp!" Aku pukul Usep sekencang-kencangnya.
"Duh, Imas. Mukulnya jangan keras-keras dong!" Usep meringis kesakitan memegang pergelangan tangannya.
"Mau ngapain kamu?" Aku berpura-pura bersikap jutek dan memalingkan wajahku.
"Cari belut yuk!" Usep tiba-tiba mengajakku melakukan hobi yang sudah beberapa hari tidak aku lakukan.
Mataku berbinar, hatiku serasa cerah dan melupakan sejenak amarahku kepada Ujang. "Siaaaapp! Ayo, kebetulan sudah berapa hari aku libur memburu belut." Ujarku bersemangat.
__ADS_1
Usep benar-benar tau dan ahli cara mencairkan suasana. Itulah kenapa aku tertarik sama Usep, dan mungkin perasaan ini lebih dari sekedar kata tertarik sebagai teman, getaran ini terasa berbeda sekali, apakah mungkin ini yang namanya Cinta?