
Aku kembali terbangun dengan kepala terasa sakit sekali. Saat mataku mulai fokus, aku melihat beberapa wajah yang asing namun penuh kecemasan menatapku. Aku merasa bingung dengan situasi ini.
"Imas, kamu tidak apa-apa?" tanya seorang ibu paruh baya dengan suara bergetar, sambil menahan tangisnya. Disampingnya, ada seorang laki-laki tua yang mengelus-elus pundaknya dengan tatapan khawatir yang mendalam.
Aku mencoba mengingat kembali siapa mereka, namun ingatanku masih kabur. Aku meraba-raba memegang kepalaku yang terasa sakit, mencoba mencari petunjuk tentang apa yang mungkin terjadi padaku.
"Dik, kamu terjatuh kesungai dan kepalamu membentur sebuah batu besar," ujar laki-laki tua dengan suara serak.
Ketika mendengar penjelasan itu, sedikit kilatan ingatan tentang berdiri di pinggir sungai terlintas dalam pikiranku. Aku merasakan kebingungan dan kegelisahan, karena aku tidak bisa mengingat kejadian secara keseluruhan.
Di rumah sakit, aku terbaring lemah dengan rasa kebingungan yang semakin menguat. Pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan yang sulit dijawab. "Aku siapa? Aku berada di mana? Mengapa ini terjadi padaku?" Pikiranku berkecamuk, tapi tidak ada jawaban yang muncul.
Petugas medis dan perawat di sekitarku berusaha menenangkanku dan memberikan perawatan yang diperlukan. Mereka menjelaskan bahwa aku mengalami cedera kepala yang cukup serius akibat jatuh ke sungai dan membentur sebuah batu. Cedera itu mungkin menyebabkan hilangnya ingatan sementara atau amnesia.
Aku merasakan keputusasaan dalam kebingungan ini. Aku mencoba memanggil nama-nama yang mungkin terhubung dengan identitasku, namun semuanya terasa asing dan tidak memberikan gambaran yang jelas. Pikiranku terasa seperti labirin yang tak terurai.
Selama di rumah sakit, aku menjalani serangkaian tes dan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada cedera serius lainnya dan untuk memantau perkembangan pemulihan. Aku diberikan pengobatan untuk mengurangi rasa sakit dan mempercepat proses penyembuhan.
Keluarga dan teman-teman yang datang menjenguk memberikan dukungan emosional yang sangat penting bagi diriku. Meskipun mereka juga bingung dan sedih melihatku dalam keadaan ini, kehadiran mereka memberiku harapan dan kekuatan untuk terus berjuang.
"Imas, maafkan aku. Semua gara-gara aku memanggil nama kamu diseberang sungai." Usep menangis dan merasa bersalah melihat aku yang terbaring lemah.
"Udah, Sep. Namanya juga kecelakaan, semua bukan 100% kesalahan kamu." Ibunya Imas mencoba menenangkan hati Usep.
__ADS_1
Aku menatap Usep dengan pandangan bingung. Meskipun namanya terdengar akrab, tetapi wajahnya tidak memicu kenangan apa pun dalam ingatanku. Aku mencoba mengingat setiap detail yang mungkin terhubung dengannya, tetapi semuanya masih kabur.
"Maaf, tapi aku tidak ingat siapa kamu," ujarku dengan suara lemah, memperlihatkan raut kebingungan.
Usep terdiam sejenak, tampak sedih dan kecewa. Ia mencoba mengontrol tangisnya dan berkata, "Aku Usep, teman sekolahmu. Kemarin-kemarin kita pergi mencari Belut bareng, Imas."
Aku merasa sedih dan bingung dengan situasi ini. Bagaimana mungkin aku tidak bisa mengenali teman sekolahku sendiri? Perasaan bersalah pun menghampiriku, karena Usep tampak sangat terpukul.
Beberapa orang di sekitar kami mencoba menenangkan suasana. Mereka memberikan penjelasan bahwa amnesia yang aku alami bisa mempengaruhi ingatan mengenai orang-orang terdekat. Mereka menyarankan agar aku memberikan waktu pada diriku sendiri untuk memulihkan ingatan secara perlahan.
Setelah beberapa waktu, ibu dan bapakku datang dengan tergesa-gesa. "Imaaaaasss!" teriak ibuku dengan suara histeris. Wajahnya penuh kelegaan ketika melihatku terbangun.
Mendengar suara ibuku, aku merasa ada kehangatan yang tumbuh di dalam hatiku. Meskipun aku masih bingung dan tidak ingat banyak hal, kehadiran mereka memberi kekuatan dan harapan.
Ibu dan bapakku segera menghampiri tempat tidurku di rumah sakit. Mereka mencoba menenangkan diriku dengan penuh kasih sayang. Tangis ibu yang tadinya dipenuhi kekhawatiran, berubah menjadi tangis bahagia.
Bapak, yang biasanya lebih tenang, juga terlihat sangat gembira melihatku sadar. "Kamu membuat kami takut, Imas. Tapi yang penting sekarang kamu sudah pulih," kata bapak dengan suara lembut.
Aku mencoba memperhatikan wajah mereka dengan seksama, mencari tanda-tanda keakraban atau kenangan yang mungkin muncul. Namun, pikiranku masih terjebak dalam kebingungan. Aku tidak dapat mengingat hubunganku dengan mereka, meskipun aku bisa merasakan ikatan emosional yang kuat.
Bertanya-tanya, aku pun akhirnya berkata, "Maafkan aku, ibu, bapak. Aku tidak bisa mengingat banyak hal. Apa kalian bisa memberi tahu siapa aku dan bagaimana hubungan kita?"
Ibu dan bapak saling pandang sejenak, lalu ibu dengan lembut menggenggam tanganku. "Kamu adalah putri kami, Imas. Kami adalah orangtuamu yang mencintaimu."
__ADS_1
Bapak menambahkan, "Kamu adalah seorang yang penuh semangat dan keceriaan. Kamu suka menghabiskan waktu di sungai, menjelajahi alam, dan bermain bersama teman-temanmu."
Aku merasa haru mendengar kata-kata mereka, meskipun ingatan itu sendiri masih belum datang. Aku merasa terhubung dengan mereka melalui ikatan keluarga yang tak tergantikan.
"Mungkin ingatanmu akan kembali seiring waktu, Imas. Kita akan mendukungmu dalam proses pemulihan ini," ucap ibu dengan penuh harapan.
"Ujang, Vey, bisa jelaskan sama bapak tadi kronologisnya bagaimana?" Bapak bertanya kepada Vey dan Ujang. Namun, mereka hanya diam dan seperti bingung seraya menatap ke arah Usep.
"Jadi, waktu itu Imas sedang berdiri dipinggir sungai, pak. Saya yang kebetulan ada diseberang sungai memanggil Imas dan melambaikan tangan. Saya tidak tau kenapa Imas tiba-tiba terpeleset dan jatuh kedalam sungai." Usep menjelaskan detail kejadiannya.
Bapak mendengarkan penjelasan Usep dengan wajah serius, mencoba memahami kronologi kejadian yang terjadi. Vey dan Ujang masih terlihat bingung, namun mereka berusaha mendengarkan dengan seksama.
Setelah Usep selesai menjelaskan, Bapak mengangguk pelan. "Terima kasih atas penjelasannya, Usep. Kami mengerti apa yang terjadi sekarang." Bapak menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Namun, apakah kalian menyadari adanya faktor lain yang mungkin mempengaruhi kejadian ini? Apakah ada orang lain yang berada di sekitar sungai saat itu?"
Usep terdiam sejenak, mencoba mengingat kembali detail-detail yang terjadi saat itu. Setelah beberapa saat, Usep mengangguk perlahan. "Ya, Bapak. Saat itu ada seorang pria yang berlari di sepanjang sungai. Dia terlihat tergesa-gesa dan tidak memperhatikan Imas yang berdiri di pinggir."
Usep menambahkan, "Dia terus berlari dan tidak melihat Imas. Saat Imas terpeleset dan jatuh, pria itu sudah menjauh."
Bapak mengernyitkan keningnya, mencoba menghubungkan informasi yang baru saja didapat. "Jadi ada kemungkinan bahwa kehadiran orang itu berkontribusi terhadap kejadian jatuhnya Imas. Kami perlu mencari tahu lebih lanjut tentang siapa orang tersebut dan apa yang sedang terjadi pada saat itu."
Dia mengarahkan pandangannya kepada petugas medis yang ada di sekitar. "Apakah ada kemungkinan bahwa ada rekaman CCTV di sekitar sungai? Atau apakah ada saksi lain yang melihat kejadian ini?"
Petugas medis bengong kurang mengerti. "Sejak kapan disungai ada CCTV pak?"
__ADS_1
"Ahh.. maaf, bapak lupa." Jawab bapaknya Imas dengan wajah tertunduk malu.
Bapak mengucapkan terima kasih kepada petugas medis, lalu memalingkan pandangannya kembali ke arahku. Dia meraih tangan ibu dan berkata, "Kita harus bersabar, Sayang. Kita akan mencari tahu kebenaran dan mencari jalan untuk membantu Imas pulih sepenuhnya."