Imas Hatori

Imas Hatori
Ujang minta maaf


__ADS_3

"kamu kenapa senyum-senyum sendiri, Imas? kemasukan setan?" Ibuku tiba-tiba bertanya diluar nalar.


"Seenaknya aja ngomong teh si Ibu mah." Jawabku sambil cemberut.


Ibu mengangguk, masih terlihat ragu. "Baiklah, tapi jangan asal tersenyum-senyum sendiri, bisa membuat orang lain khawatir."


Aku mengerti kekhawatiran Ibu, jadi aku mencoba menjelaskan dengan lebih jelas. "Maafkan jika tersenyumku membuatmu khawatir, Bu. Sebenarnya, tadi aku hanya teringat sebuah lelucon lucu yang kudengar. Tidak ada yang salah atau berbahaya, hanya saja lelucon itu membuatku tersenyum sendiri. Aku tidak bermaksud membuat ibu bingung."


Ibu mengendus, tapi ekspresinya agak melunak. "Baiklah, tapi jangan lakukan itu di tempat umum atau saat ada tamu. Nanti orang-orang bisa berpikir aneh tentangmu."


Melihat ibu begitu curiga dan khawatir, aku coba ngerjain ibu dengan berpura-pura kerasukan setan.


"Arrrrgggghhh... saha maneh? saha maneh? Auuuummm." Aku bertingkah seolah-olah sosok harimau merasuki tubuhku.


Ibu terkejut mendengar tingkahku dan wajahnya penuh dengan kecemasan. "Imas! Apa yang sedang terjadi? Kenapa kamu bicara seperti itu?"


Aku berusaha menahan tawa dan akhirnya tidak bisa melanjutkan sandiwara palsu itu. "Maafkan aku, Bu. Aku hanya bercanda. Tidak ada yang sedang terjadi, aku hanya ingin sedikit menggoda ibu."


Ibu menghela nafas lega. "Imas, tolong jangan lakukan hal-hal seperti itu. Menyebut tentang setan atau berpura-pura kerasukan itu bukanlah lelucon yang lucu. Itu bisa membuat orang lain takut atau khawatir. Tolong jangan main-main dengan hal-hal seperti itu lagi, ya."


Aku merasa bersalah melihat ibu begitu khawatir. "Maafkan aku, Bu. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Aku akan berhati-hati dan tidak melakukan hal-hal seperti itu lagi."


Ibu tersenyum lembut. "Terima kasih, Imas. Aku tahu kamu hanya ingin bersenang-senang, tapi ada batasan-batasan yang harus kita hargai. Jika kamu ingin bercanda, carilah cara yang tidak menyinggung atau membuat orang lain khawatir, ya?"


Aku mengangguk mengerti. "Baik, Bu. Aku akan ingat itu. Maafkan aku sekali lagi."


Namun, saat ibuku hendak memeluku, tiba-tiba dia melompat seperti seekor kera. "Uuu...aaaa..uuu..aa."


Ibu bersuara seperti seekor monyet, sontak saja aku terkejut dan khawatir. "Ibuuu... sadar bu..!"


Ketika ibuku melompat dan bersuara seperti seekor monyet, aku terkejut dan khawatir. Aku segera mendekatinya dan mencoba untuk memastikan apakah ibuku baik-baik saja.

__ADS_1


"Ibu, apa yang terjadi? Apakah kamu baik-baik saja?" tanyaku dengan nada khawatir.


Namun, setelah beberapa saat, ibuku tersenyum lebar dan tertawa. "Hahaha, kamu terkejut, ya? Maafkan ibu, Imas. Ibu hanya ingin sedikit menggoda kamu sebagai balasan."


Aku merasa lega melihat bahwa ibuku baik-baik saja dan hanya sedang bercanda. Meskipun aku masih agak terkejut, aku mencoba tersenyum mengikuti lelucon ibuku. "seperti anak kecil saja main bales dendam segala."


Ibuku mendekatiku dan memelukku erat. "Maafkan ibu, Sayang. Ibu hanya ingin sedikit melucu. Tapi kamu benar, kita harus berhati-hati dengan lelucon yang bisa membuat orang lain khawatir."


Saat kami sedang bercanda tersebut, bapak lewat hanya menggunakan handuk, terlihat dia mau mandi dan lalu berkata, "Anak sama ibu Sama-sama gesreknya."


Kami berdua terkekeh mendengar komentar jenaka dari ayah. Walaupun kadang-kadang bapak juga bisa mengikuti kegilaan kami, tapi pada umumnya dia adalah sosok yang lebih serius.


"Ayah memang selalu tahu caranya membuat suasana menjadi ceria," kataku sambil masih tertawa.


Ibu setuju, sambil tersenyum dia berkata, "Terkadang, kita perlu momen-momen seperti ini untuk menghilangkan stres dan melihat sisi lucu dalam kehidupan. Terima kasih, Sayang, sudah membuat ibu tertawa."


Ayah bergabung dengan kami dan mengangguk. "Tersenyumlah, hidup ini terlalu singkat untuk tidak menikmati setiap saatnya. Sekarang, siapa yang menyiapkan untuk sarapan?"


Bapak kaget mendengar kekompakan kami, "Ya Allah, ibu anak sama saja." Bapak pergi sambil geleng-geleng kepala.


Kami semua tertawa melihat reaksi bapak yang kaget. Kami memang sering menggoda bapak dengan lelucon dan kelakar, tetapi dia selalu menanggapinya dengan senyuman.


Setelah beberapa saat, bapak kembali ke dapur dengan senyuman di wajahnya. "Baiklah, jika kalian mau bercanda seperti itu, bapak akan memasak sarapan untuk kita semua. Tapi, tolong siapkan meja makan ya."


Kami semua bersorak kecil dan membantu menyiapkan meja makan sambil menunggu bapak memasak. Saat kami duduk di meja makan dan menikmati sarapan bersama, suasana penuh keceriaan dan kehangatan terasa di antara kami.


Ketika bapak menyuguhkan hidangan yang lezat, kami mengucapkan terima kasih kepadanya. Kami tahu bahwa keluarga kami memiliki dinamika yang unik, namun di dalamnya terdapat cinta dan kebahagiaan yang tak tergantikan.


"Pak, kok asin banget belutnya?" ujarku sambil mengerutkan alis.


"Salah sendiri nyuruh bapak masak." Ucap bapakku sambil terkekeh-kekeh.

__ADS_1


Semua orang di meja makan tertawa mendengar komentar lucu dari bapak. Meskipun belutnya agak asin, kita semua tahu bahwa bapakku berusaha membuat sarapan yang enak bagi kami.


"Sudahlah, bapak. Ternyata bapak lebih baik dalam berkelakar daripada memasak belut," kataku sambil tertawa.


Ibu juga ikut tersenyum. "Tapi tetap terima kasih ya, sayang. Bapak berusaha membuat sarapan untuk kita semua. Kita bisa menikmati momen bersama keluarga."


"Maafkan bapak ya kalau belutnya terlalu asin," kata bapak sambil tersenyum. "Tapi, percayalah, ini semua bagian dari cinta bapak untuk kalian. Bapak mungkin bukan ahli masak, tapi bapak selalu berusaha memberikan yang terbaik."


Kami menyadari bahwa bapak memang tidak pandai memasak, tapi setiap hidangan yang dia sajikan memiliki arti dan nilai yang lebih dalam. Itu adalah simbol dari upaya dan cinta kasih yang ia berikan kepada keluarga.


"Dengan cinta bapak, rasa asin belut ini justru menjadi spesial," kataku sambil tersenyum. "Terima kasih, bapak, karena selalu berusaha untuk membuat kami bahagia."


Ibu dan bapak tersenyum bahagia mendengar kata-kataku. Makan pagi yang asyik dan candaan ringan kami nikmati bersama, menciptakan kenangan indah di hati kami.


Ditengah keceriaan kami, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil namaku. "Imas.. Imas... Main yuk!" Aku heran, hari minggu tumben ada orang mencari aku.


Ketika aku melihat Ujang berdiri di depan pintu, aku merasa kaget dan sedikit terkejut. Aku tidak mengharapkan kehadirannya setelah kejadian beberapa bulan yang lalu ketika dia marah kepadaku karena penolakan cintanya.


"Apa yang bisa aku bantu, Ujang?" tanyaku dengan rasa penasaran dan hati-hati.


Ujang menatapku dengan wajah serius, namun juga terlihat ada kelembutan di matanya. "Imas, aku ingin bicara denganmu. Bolehkah aku masuk?"


Meskipun aku masih merasa ragu, aku memberinya kesempatan untuk bicara. Aku membimbingnya masuk ke dalam rumah dan kami duduk di ruang tamu.


Ujang menatapku dengan ekspresi yang penuh penyesalan. "Imas, aku ingin meminta maaf atas semua yang telah terjadi. Aku menyadari bahwa aku telah melebih-lebihkan perasaanku dan membuatmu tidak nyaman. Aku belajar banyak dari pengalaman ini, dan aku ingin memperbaiki kesalahan-kesalahan itu."


Aku mendengarkan Ujang dengan hati terbuka, mencoba memahami perasaannya. Meskipun ada luka di masa lalu, aku juga percaya pada kemampuan orang untuk belajar dan tumbuh.


"Ujang, aku menghargai permintaan maafmu," ujarku dengan lembut. "Namun, aku juga perlu waktu untuk memperbaiki hubungan ini. Aku ingin memastikan bahwa kita berdua bisa saling menghormati dan saling mendukung dalam persahabatan kita."


Ujang mengangguk mengerti. "Aku sepenuhnya mengerti, Imas. Aku tidak ingin terburu-buru atau memaksakan apapun. Jika kamu butuh waktu, aku akan memberikanmu ruang dan menghormati keputusanmu. Aku hanya berharap kita bisa memulai lagi sebagai teman yang baik."

__ADS_1


__ADS_2