Imas Hatori

Imas Hatori
Gara-gara Belut


__ADS_3

Hari ini di SMA Spotaker, aku duduk sendirian di kantin. Aku merasa khawatir karena Ujang tidak keliatan dari pagi. Saat aku melamun, tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan Vey.


"Imas, kamu ngapain bengong sendirian di kantin?" Vey menyapaku dan itu membuat aku kaget setengah mati.


"Loh... sejak kapan kamu sekolah disini?" Aku bingung karena selama ini, yang aku tau Vey hanyalah tetangga sebelah rumahku yang baru pindah dari kota.


"Kamu terlalu sibuk dengan leluconmu setiap hari, bertingkah seperti Ninja Hatori, sampai kamu lupa ada murid baru disini. Ya, aku sudah masuk sekolah disini sekitar seminggu yang lalu." Jawab Vey dengan senyum genitnya.


"Ihh.. ganjen banget kamu, Vey." Ucapku sambil tertawa. "Oya, kamu gak liat si Ujang?" aku kembali bertanya sama Vey, siapa tau dia melihat Ujang.


"Entahlah, mungkin dia gak masuk sekolah, Imas. Biasa, sakit hati ditolak cinta sama kamu kemarin." Vey menjawabnya dengan nada bercanda.


"Iya, aku merasa bersalah sama Ujang, tapi aku juga tidak mau berpura-pura dan mengorbankan perasaanku sendiri." Aku mencoba menjelaskan semuanya pada Vey.


"Aku paham, Imas. Aku paham posisi kamu ataupun Ujang." Vey berlagak so bijaksana.


"ahh.. Ujang kan lagi gak masuk sekolah, bagaimana kalau pulang sekolah kita mampir di Kafe depan? kita ngobrol sambil ngopi." Vey tiba-tiba mengajakku ngopi. Aku yang sedang kosong pikiran hanya bisa mengiyakan saja.


Sepulang sekolah, Vey sudah menungguku didepan kelas. Kami pun segera berangkat menuju Kafe sesuai rencana. Vey tiba-tiba mencoba meraih tanganku, aku yang kaget dan tidak biasa segera menepisnya. "Maaf Vey, aku gak nyaman dan gak terbiasa." Jawabku menolak Vey dan mencoba tetap ramah.


"Ahh.. tidak apa-apa, Imas. Mungkin kebiasaan di Kota tidak sama dengan disini." Vey mencoba menenangkan aku yang memang kaget saat Vey mencoba meraih tanganku.


Tiba di kafe, kami duduk di kursi pojok yang menghadap kearah taman. Vey menarik kursi dan mempersilahkan aku untuk duduk, aku seperti seorang putri yang sedang dilayani oleh pengawalnya.


"Imas... ada sesuatu dikantong samping Tasmu." Vey melihat kearah tasku yang bagian sampingnya memang terbuka. Aku menarik tasku kedepan dan aku lihat sesuatu bergerak di kantong bagian sampingnya.


"Astagfirullah, Imas. Kamu ngapain bawa belut ke sekolah?" Vey kaget sekaligus ketakutan melihat belut yang bergerak liar didalam tasku.


Sontak saja teriakan Vey menjadi pusat perhatian pengunjung Kafe. Aku yang baru sadar dengan situasi itu, segera memasukan belutnya kedalam kantung keresek. "Astagfirullah, siapa yang memasukan belut kedalam tasku?" aku bingung dan sedikit curiga sama bapakku. Bapak memang selalu bercanda, tapi kadang-kadang candaanya diluar nalar.


"Cantik-cantik bawa belut, buat apaan?" salah satu pengunjung Kafe berbisik kepada temannya. Saat itu aku benar-benar malu sekali. Aku memutuskan untuk membatalkan acara ngopinya, aku segera pamit dan bergegas berlari meminggalkan Vey di Kafe sendirian.


Sepanjang jalan aku benar-benar merasa malu. "Gila, bapak ngapain pake naruh belut di tasku?" aku bertanya dalam hati dan masih bingung dengan maksud bapakku. Aku mulai marah dan ingin membuat perhitungan dengan bapak, aku mempercepat langkah kakiku menuju rumah.


Setelah tiba dirumah, aku segera mencari ibuku. "IBUUUUU!" Aku setengah berteriak kesal memanggil ibuku.

__ADS_1


Setelah beberapa saat mencari, akhirnya aku menemukan ibuku di dapur, sibuk memasak. Ibu tampak terkejut dengan suaraku yang keras.


"Ibu, kenapa bapak bisa naruh belut hidup-hidup di tasku? Aku malu sekali di depan banyak orang!" aku mengeluh dengan nada kesal.


Ibu menatapku dengan wajah bingung. "Belut? Apa maksudmu, Imas? Ibu tidak tahu apa-apa tentang belut di tasmu. Ibu juga baru saja selesai masak. Pantesan aja belut yang semalam tidak ada di sini."


Tiba-tiba, suara tawa dari belakang menghampiri kami. Aku dan ibu berbalik, dan di sana berdiri bapak dengan wajah penuh keceriaan.


"Hahaha! Maafkan bapak, Imas. Itu hanyalah lelucon kecil. Bapak menaruh belut di tasmu untuk membuatmu terkejut," bapak menjelaskan sambil terkekeh.


"Bapak! Ini bukan waktu yang tepat untuk lelucon seperti itu. Aku hampir dihina di depan orang karena belut itu!"


Bapak mengangguk dengan serius. "Maaf, Imas. Aku tidak bermaksud membuatmu malu. Lelucon itu hanya untuk melihat reaksi dan memberikan sedikit kejutan. Tapi sepertinya bapak tidak mengira dampaknya akan sebesar ini. Bapak minta maaf."


Sambil menggelengkan kepala, aku melihat bapak dengan tatapan tajam. "Baiklah, tapi jangan lakukan lelucon semacam itu lagi nanti. Aku benar-benar malu tadi."


Bapak mengangguk paham. "Baik, bapak janji. Tidak ada lagi lelucon seperti itu. Maafkan bapak sekali lagi, Imas."


Setelah kejadian itu, kami berdua kemudian berbicara tentang kejadian di Kafe dan bagaimana aku merasa sangat malu. Bapak meminta maaf dan berusaha membuatku merasa lebih baik dengan berbagai lelucon dan candaan lainnya.


Perlahan-lahan, suasana kembali menjadi ceria di rumah. Meskipun masih sedikit kesal dengan lelucon bapak, aku tidak bisa menahan tawa melihat caranya mencoba memperbaiki suasana hatiku. Setidaknya, lelucon itu berhasil membuat kami tertawa bersama.


"Imas kamu kenapa? kok kamu tiba-tiba lari pas di Kafe?" Aku terkejut melihat Vey berdiri di depan pintu rumah kami. Matanya tampak khawatir, dan napasnya terengah-engah seperti dia baru saja berlari.


"Apa yang terjadi, Vey?" tanyaku, khawatir dengan kondisinya.


Vey menarik nafas panjang sebelum menjawab, "Imas, ada sesuatu yang buruk terjadi di Kafe tadi. Ada keributan besar-besaran dan polisi datang. Aku khawatir kamu terlibat di dalamnya."


"Laahh... kan kamu tau, tadi aku pamit pulang duluan, aku merasa sangat malu dengan kejadian di Kafe tadi," kataku dengan suara gemetar.


Bapak yang mendengar percakapan kami dari ruang tengah, ikut mendekat. "Ada apa, anak-anak?" tanyanya dengan wajah penuh kekhawatiran.


Aku menjelaskan tentang keributan di Kafe dan bagaimana aku kebetulan memutuskan untuk pergi sebelum kejadian di Kafe. Bapak dan ibu terlihat lega mendengar bahwa aku aman.


Baru saja kami mengobrol sebentar tiba-tiba beberapa orang berpakaian polisi datang kerumah. Mereka mengikuti Vey karena menyangka Vey adalah komplotanku. Vey yang menyadari dirinya diikuti terdiam, bengong seperti monyet kehilangan pisangnya.

__ADS_1


"Selamat sore semuanya, maaf kedatangan kami mengganggu aktifitas kalian. Kami hanya mendapatkan laporan bahwa di Kafe yang kalian kunjungi tadi, kalian membawa ular. Mereka mengira kalian adalah pencuri dengan modus menebar ular ditempat kejadian. Ijinkan kami untuk memeriksa kalian berdua." Satu polisi menjelaskan kronologi secara detail.


"Ular? maksud bapak ini?" Aku lalu mengeluarkan belut yang ada dalam keresek hitam didalam tas.


Polisi yang menjelaskan kronologi tadi terlihat terkejut melihat belut yang aku keluarkan dari dalam tas.


"Bukan ular, Pak. Ini hanya seekor belut," aku menjelaskan dengan cemas, sambil memperlihatkan belut itu kepadanya.


Polisi itu mengamati belut tersebut dengan heran. Ia tampak sedikit malu karena telah salah mengartikan situasi.


"Mohon maaf atas kekhawatiran kami sebelumnya. Ternyata kami telah keliru memahami laporan tersebut," kata polisi itu dengan nada meminta maaf.


Kemudian, polisi lainnya meminta izin untuk memeriksa tas yang aku bawa. Aku dengan sigap memberikannya dan menjelaskan bahwa tas tersebut hanya berisi barang-barang pribadi dan tidak ada yang mencurigakan.


Setelah memeriksa tas dengan cermat, polisi tersebut menyatakan bahwa tidak ada barang-barang mencurigakan di dalamnya. Mereka juga meminta klarifikasi kepada saksi-saksi lain di Kafe untuk memastikan bahwa aku dan Vey tidak terlibat dalam kegiatan yang mencurigakan.


Setelah klarifikasi dari beberapa saksi yang ada di Kafe, polisi akhirnya yakin bahwa kami tidak terlibat dalam tindakan kriminal apa pun. Mereka meminta maaf sekali lagi atas kekhawatiran dan gangguan yang telah terjadi.


Aku merasa lega ketika semua itu berakhir. Meskipun kejadian ini sangat memalukan dan mengganggu, aku bersyukur bahwa keadaan telah terselesaikan dengan baik.


"Terima kasih atas pengertian dan kerjasamanya. Kami akan mengambil tindakan lebih berhati-hati dalam merespon laporan seperti ini di masa depan," kata polisi yang memimpin.


Kami mengucapkan terima kasih kepada polisi yang telah menangani situasi dengan profesionalisme dan menjaga keamanan di lingkungan kami. Setelah mereka pergi, kami kembali ke dalam rumah dengan perasaan lega dan sekaligus tertawa atas kejadian yang baru saja terjadi.


"Aku tidak pernah membayangkan bahwa belutku akan membuat kekacauan seperti ini," ucapku sambil tertawa.


Bapak dan ibu juga bergabung dalam tawa kami. Mereka merasa lega bahwa semuanya berakhir baik-baik saja dan kejadian tersebut hanya sebuah kesalahpahaman.


Bapak meminta maaf kepadaku karena lelucon dia dengan menaruh belut di tasku berakibat fatal hingga membuat kegaduhan di Kafe.


Aku melihat ekspresi tulus penyesalan di wajah Bapak ketika dia meminta maaf. Matanya penuh dengan penyesalan dan dia benar-benar menunjukkan rasa menyesalnya.


"Bapak, tidak perlu meminta maaf lagi. Kejadian ini adalah kesalahpahaman, dan aku tahu bahwa bapak tidak bermaksud menyebabkan kekacauan seperti itu," kataku dengan lembut, mencoba menenangkan hatinya.


Ibu menganggukkan kepala setuju. "Benar, sayang. Bapak telah belajar dari kesalahannya. Kami sangat menyesal jika lelucon itu membuatmu merasa malu dan tidak nyaman."

__ADS_1


Bapak menggenggam tanganku dengan penuh penyesalan. "Imas, maafkan Bapak. Bapak berjanji untuk lebih berhati-hati dan mempertimbangkan dampak dari lelucon-kejutan bapak di masa depan."


Saat momen haru itu, Ujang tiba-tiba datang sambil berlari. "Imas, ada apa? kenapa banyak polisi tadi disini?"


__ADS_2