
"Imas, kita pulang lewat jalan Hatori kamu." Ajak Usep begitu antusias.
Aku mengangguk namun merasa heran dengan keinginan Usep. "Jauh loh, Usep." Ujarku sambil mengangkat alis, aku ingin meyakinkan bahwa perjalanan pulangku memang sangatlah jauh.
"Selama bersamamu, semua akan terasa dekat, Imas." Usep menepuk-nepuk pundakku.
"Gombal!" Ucapku sambil tersenyum lebar.
Kami akhirnya berjalan menyusuri pesawahan dan kebun yang luas. Usep terlihat begitu menikmati perjalanannya. "Pantas saja orang memanggilmu Hatori, memang perjalanannya seperti lagu Ninja Hatori." Ujar Usep sambil tertawa renyah.
"Imas, warung terdekat disini dimana?" Usep bertanya dengan wajah terlihat kelelahan.
"Haus?" tanyaku dengan santai.
"Gila, ini benar-benar menguras energi, Imas." Sahut Usep sambil memegang lututnya dengan napas terengah-engah.
"100 meter lagi ada warung pertama, kita beli air mineral disana." Ujarku sambil menarik tangan Usep untuk segera melanjutkan perjalanan kami.
Kami berjalan terus sampai menemukan warung ibu Rukayah. Warung itu terletak ditengah-tengah hutan yang lebat sekali. Aku sendiri heran, kenapa Ibu Rukayah membuka warung disana, padahal jarang sekali orang melewati jalur tersebut.
"Ibu... Ibuuuuuuu." Aku berteriak memanggil bu Rukayah.
"Iya, Neng Imas. Mau beli apa?" Ibu Rukayah bertanya dengan senyum ramahnya.
"Beli Aqua, Bu." Jawabku singkat.
"Waahh, tumben Imas pulang sekolah sama laki-laki baru. Ujang kemana?" Ibu Rukayah mulai kepo melihat kami berdua.
"Ujang sudah kelaut, Bu." Aku bicara seenaknya karena aku malas untuk ngobrol dan basa-basi.
"Wahh, Ujang hebat yah. Waktunya sekolah malah liburan ke Laut." Ibu Rukayah berkata dengan polosnya.
Aku dan Usep mengerutkan dahi, kami saling bertukar pandang lalu tertawa terbahak-bahak. Ibu Rukayah keheranan melihat kami tertawa ngakak tidak jelas.
__ADS_1
Setelah beberapa menit berlalu, kami akhirnya tiba disebuah kolam yang sudah lama tidak diurus. Aku beranggapan disini banyak belutnya. "Usep, target kita sepertinya banyak sekali disini." Ujarku penuh keyakinan.
Aku dan Usep begitu menikmati kebersamaan dalam mencari belut. Aku tidak menyangka kalau Usep sangat ahli dalam menangkap belut.
"Kamu hebat juga, Usep. Aku kagum melihat keahlian terpendam kamu dalam menangkap belut." Aku menatap wajah Usep yang penuh dengan lumpur, yang terlihat hanya matanya saja.
Setelah dirasa cukup, kami segera melanjutkan perjalanan menuju rumahku. Jaraknya masih lumayan jauh dari tempat kami mencari belut.
Setibanya dirumah, aku dan Usep membersihkan kaki dan tangan kami diluar. Kebetulan aku selalu menyediakan air di gentong besar tempat menampung air hujan. Jaga-jaga kalau air PDAM lagi gangguan.
Ibuku menyambut kami dengan senyum riangnya. "Imas anakku sudah pulang ternyata. Waahh.. ada Usep juga, masuk masuk!" Ibuku mempersilahkan Usep untuk masuk kedalam rumah.
Kami masuk ke dalam rumah dengan senyum di wajah. Aku merasa senang bisa membawa Usep ke rumahku. Ibuku selalu menyambut teman-temanku dengan hangat.
"Makasih, Bu. Kami agak kehausan tadi jadi mampir sebentar ke warung Ibu Rukayah," aku menjelaskan kepada ibuku sambil melepaskan sepatu dan memasukkannya ke rak sepatu.
"Oh, begitu ya. Ibu Rukayah pasti senang bisa melayani kamu," ucap ibuku sambil menuangkan minuman untuk kami berdua.
"Mana ada? tetap aja Imas bayar, Bu." Jawabku menggerutu.
"Rumahmu bagus, Imas. Lingkungannya juga sejuk dan asri," komentar Usep sambil mengangguk puas.
"Aku senang kamu suka, Usep. Rumah ini memang sederhana tapi kamu harus tau saat musim hujan," jawabku sambil ngakak.
"Memang kenapa?" Ujar Usep penasaran sambil melihat hal-hal yang janggal yang mungkin dia temukan disekitar rumahku.
Ibuku bergabung dengan kami dan duduk di sampingku. Dia menatap kami berdua dengan penuh kasih sayang.
"Usep, Imas selalu bercerita tentangmu. Dia bilang kamu teman baiknya di sekolah dan selalu membantunya," ujar ibuku sambil menatap Usep.
"Benar, Bu. Kami sering bermain dan belajar bersama. Imas adalah teman yang baik dan selalu membantuku jika aku kesulitan," Usep menjawab dengan ramah.
Ibuku tersenyum puas. "Aku senang kamu memiliki teman seperti Usep, Imas. Teman yang baik sangat berharga."
__ADS_1
Kami melanjutkan obrolan kami di ruang tamu. Ibuku menanyakan tentang keluarga Usep dan bagaimana kegiatan kami di sekolah. Usep dengan antusias menceritakan tentang kehidupannya dan hobinya yang menyenangkan.
Waktu terus berlalu dan senja mulai turun. Usep menyadari bahwa sudah waktunya pulang. Dia berdiri dan mengucapkan terima kasih kepada ibuku.
"Terima kasih, Bu, atas sambutan hangatnya. Saya senang bisa bertemu dan berkunjung kerumah ini," kata Usep sambil membungkukkan badannya.
"Ibu juga senang bisa bertemu denganmu, Usep. Jangan ragu untuk datang lagi ke rumah kami lain kali," ucap ibuku sambil tersenyum.
Usep berpamitan lalu dia segera berlalu meninggalkan rumah kami. Ibuku melihatku dengan tatapan nakal. "Ehmm.. ehmm.. Anakku sudah punya pacar sepertinya." Ibu tersenyum memandangku dengan senyum menggoda.
"Apaan si buuuu.. Usep hanya teman sekolah, bu." Jawabku malu-malu Singa.. ehh.. malu-malu kucing.
Dikamar, Aku tersenyum sendiri saat mengingat kembali kejadian sore tadi yang aku habiskan bersama Usep. Ada saat dimana Usep terlihat konyol, tapi ada kalanya Usep bersikap sangat dewasa, sikap yang Ujang dan Vey tidak miliki.
"Mungkin Ibu benar, aku sepertinya jatuh cinta sama Usep." Ujarku dalam hati. Namun, tiba-tiba imajinasiku terhenti saat aku memikirkan, "Cinta artinya apa ya?"
Aku beranjak pergi menemui Ibuku. "Ibuuuuu... Imas mau tanya." Ujarku berteriak gak jelas.
Ibuku yang sedang sibuk di dapur segera membalas, "Ada apa, Imas?"
Aku duduk di kursi di sebelah meja dapur, memandangi ibuku dengan wajah penuh pertanyaan. "Ibu, Imas mau tanya, apa itu cinta?"
Ibuku terkejut dengan pertanyaanku. Dia meletakkan pisau yang sedang dipegangnya dan duduk di depanku. "Cinta, Imas, adalah perasaan yang sangat istimewa. Cinta adalah ketika kita merasa sangat dekat dan peduli dengan seseorang, ketika kita merasa bahagia saat bersama mereka, dan ingin melakukan segala yang terbaik untuk mereka."
Aku mengangguk paham, tapi masih penasaran. "Lalu, Ibu, bagaimana kita tahu kalau kita sedang mencintai seseorang?"
Ibuku tersenyum lembut. "Cinta bisa dirasakan dalam berbagai cara, Imas. Ketika kamu merasa ingin selalu bersama seseorang, merasa senang dan nyaman saat bersamanya, dan memikirkannya setiap saat, itu bisa menjadi pertanda bahwa kamu mencintainya."
Aku berpikir sejenak, mencoba menghubungkan penjelasan ibuku dengan perasaanku terhadap Usep. Perasaan rindu saat berpisah dengannya, kebahagiaan saat bersama-sama, dan senyum yang tak terbendung saat melihatnya. Semua itu mungkin merupakan tanda-tanda bahwa aku benar-benar mencintai Usep.
"Ibu, apa mungkin aku mencintai Usep?" tanyaku khawatir.
Ibuku tersenyum lembut melihat kekhawatiranku. Dia merangkulku dengan penuh kasih sayang. "Cinta adalah perasaan yang kompleks, Imas. Tapi jika kamu merasa begitu, tidak ada yang salah dengan itu. Cinta bisa muncul di antara teman-teman juga. Yang utama, penting untuk saling menghormati dan berkomunikasi terbuka."
__ADS_1
Ibuku melanjutkan, "Jika kamu merasa memiliki perasaan khusus terhadap Usep, penting untuk memperhatikan tanda-tanda dan isyarat yang dia tunjukkan. Mungkin saja perasaanmu bersifat romantis, atau mungkin hanya perasaan sayang dan kedekatan sebagai teman yang kuat."