
"Maaf, aku lupa yang mana orang yang bernama Ujang." Jawabku singkat dan kepalaku semakin terasa sakit sekali.
Seketika Ujang duduk lemas. "Dia masih belum bisa mengingat dengan baik. Aku pikir aku bisa membantunya mengingat semua kenangan kami."
Saat Ujang mengungkapkan kekecewaannya karena aku tidak bisa mengingatnya dengan baik, ibu dan bapakku menghampiri dan mengelus-elus pundak Ujang dengan penuh empati. Mereka tahu betapa sulitnya situasi yang aku hadapi.
"Ikhlaskanlah, Ujang. Imas sedang mengalami kesulitan yang besar," kata ibu dengan lembut. "Kami semua harus bersabar dan memberinya waktu untuk pulih."
Bapakku menambahkan, "Kita harus mengerti bahwa proses pemulihan ingatan membutuhkan waktu dan pengertian. Imas tidak melakukannya dengan sengaja, dan dia pasti berjuang untuk mengingat kembali."
Ujang, meskipun masih merasa kecewa, menganggukkan kepala dan mencoba mengendurkan ketegangan dalam dirinya. "Maaf, Imas. Aku seharusnya lebih sabar dan mengerti situasimu. Aku akan tetap berada di sini untukmu, kapan pun kamu butuhkan."
Bapak kepala sekolah, yang selama ini mengamati dengan perhatian, mengusulkan agar kami semua memberikan ruang dan waktu bagi diriku untuk beristirahat dan memulihkan diri.
"Imas, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untukmu untuk beristirahat dan mengumpulkan energi. Kami akan memberikanmu waktu yang kamu butuhkan dan tetap ada di sini untukmu," ucap bapak kepala sekolah dengan penuh perhatian.
Aku merasa lega mendengar kata-kata itu. Dalam keadaan yang penuh kebingungan, kelelahan, dan sakit, aku sangat membutuhkan waktu untuk beristirahat dan menenangkan pikiranku.
"Terima kasih, semuanya," ucapku dengan suara yang lemah. "Aku menghargai dukungan dan pengertian kalian. Aku akan mencoba beristirahat sekarang dan berharap bisa mengingat lebih banyak suatu hari nanti."
Dengan perasaan yang campur aduk, aku berbaring di tempat tidurku yang nyaman. Ibu, bapak, Ujang, dan semua orang yang ada di kamarku meninggalkanku dalam ketenangan.
"Kaos kaki beda corak, Belut, Ujang, aaahhh... kenapa sulit sekali aku mencari benang merah dari semua ini?" Aku marah terhadap diriku sendiri. "Ya Allah, apalagi yang bisa membuatku mengingat semuanya?" Kembali aku berusaha mengingat hal-hal kecil yang mungkin saja bisa membawa aku kembali mengingat semuanya.
__ADS_1
Aku memandang dinding kamarku, aku melihat begitu banyak poster kartun bergambar Ninja tapi lucu. Kubaca tulisannya, Ninja Hatori.
"Sebentar... rasanya aku familiar dengan kata Hatori." Ujarku dalam hati. Kembali aku memandang poster itu, dan aku melihat gambar pegunungan, sawah, sungai dan bukit-bukit yang menjulang.
"ITU DIA!" Aku tiba-tiba teringat sesuatu. "Ibuuuuuu.." Aku berteriak memanggil ibuku. Mendengar aku berteriak, bukan hanya Ibuku yang datang, tapi semua orang yang ada disana langsung berlarian masuk ke kamarku.
"Ada apa, sayang?" Ibuku bertanya dengan wajah cemas dan penuh harap.
"Bisa antarkan aku ketempat seperti itu?" Aku menunjuk kearah poster Ninja Hatori di tengah hutan.
Semua orang di kamarku menatapku dengan penuh keheranan, namun mereka mencoba memahami maksud dari permintaanku. Ibuku mendekat dan menatap dengan seksama ke arah poster yang kutunjuk.
"Iya, sayang. Aku bisa mengantarmu ke tempat seperti itu jika kamu ingin pergi," jawab ibuku dengan lembut namun sedikit bingung.
Tanpa banyak ragu, aku bangkit dari tempat tidur dan meminta bantuan semua orang di sekitarku untuk menyiapkan perjalanan ke tempat yang aku anggap memiliki benang merah dengan ingatanku.
Ibu mempersiapkan barang-barang yang mungkin akan kubutuhkan, sementara Ujang dan teman-teman sekolahku memberikan dukungan dan semangat. Mereka bersedia mendampingiku dalam perjalanan ini, meskipun mereka sendiri tidak tahu apa yang kami cari atau apa yang aku harapkan ditemukan di sana.
Dalam waktu singkat, kami berangkat menuju tempat yang tergambar di poster Ninja Hatori. Perjalanan kami melewati jalan daerah pedesaan yang hijau dan damai.
Kami berjalan menyusuri jalan setapak, melewati pepohonan yang rimbun, dan mendengar suara gemericik sungai yang mengalir di dekatnya. Udara segar dan keindahan alam seakan memberikan harapan baru bagi perjalanan ini.
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kami tiba di tempat yang memang sangat mirip dengan pemandangan di poster. Aku berdiri di atas bukit kecil dan memandang sekeliling dengan penuh harap.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Imas. Apapun hasilnya, kami akan tetap di sini untukmu," ucap ibu dengan lembut, memahami ketegangan dan kecemasanku.
Aku menghela nafas panjang dan mencoba merasakan setiap detail di sekitarku. Aroma tanah, bunyi daun berdesir, dan angin lembut yang menyapu wajahku. Semuanya memberikan getaran yang akrab dan membuatku merasa dekat dengan sesuatu yang hilang.
Dalam ketenangan dan kesunyian, aku memejamkan mataku. Aku berusaha menghubungkan antara poster, ingatanku yang hilang, dan pemandangan di depanku. Aku merasakan kehadiran yang begitu kuat, suatu kekuatan yang menarikku ke dalam.
Ketika aku membuka mata, aku melihat wajah-wajah tercinta yang hadir di sekelilingku. Mata mereka penuh harap dan dukungan. Lalu, suatu keajaiban terjadi.
Ingatan-ingatan yang hilang mulai kembali dalam kilatan-kilatan cahaya. Aku melihat gambar-gambar dari masa kecilku, petualangan bersama teman-teman, momen-momen bahagia di keluarga, dan setiap detik berharga yang pernah kualami.
Ketika aku melihat ke arah ibuku, ada kehangatan dan kasih sayang yang begitu dalam dimatanya. Aku tahu, aku telah menemukan benang merah dalam hidupku yang hilang.
Dengan perasaan bahagia dan penuh syukur, aku memeluk ibuku dan berterima kasih kepada semua orang yang telah mendampingiku dalam perjalanan ini.
"Aku mengingat semuanya!" seruku dengan suara riang. "Aku mengingat keluargaku, teman-temanku, dan kenangan-kenangan berharga dalam hidupku."
"Aku adalah, IMAS HATORI!" Aku berteriak keras karena aku merasa sangat bahagia bisa mengingat kembali semuanya.
Semua orang yang mendengar dan melihatku saling berpandangan dan merasa heran. "Imas sembuh!" Ujang berteriak bahagia, sedangkan bapak kepala sekolah masih bingung. "Siapa Imas Hatori?"
Sontak saja melihat pak kepala sekolah yang kebingungan semua siswa tertawa terbahak-bahak. "Ya pak, kami memanggil Imas dengan julukan Imas Hatori karena setiap hari dia berangkat sekolah dengan mendaki gunung, melewati lembah, menyusuri sungai, seperti Ost. Ninja Hatori." Jawab anak-anak serentak.
Senyum dan riuh tawa mengisi udara. Semua orang di sekitarku merayakan momen ini dengan kegembiraan yang tak terhingga.
__ADS_1
Kami kembali ke rumah dengan hati penuh sukacita. Ingatan yang kembali membuatku merasa lengkap, dan aku tahu bahwa tidak ada yang bisa merenggut benang merah itu dariku lagi. Dalam pelukan keluarga dan teman-teman, aku merasakan kebahagiaan yang tak terhingga.