
Kami semua terkejut mendengar teriakan histeris tersebut dan segera melihat ke arah suara. Terlihat seorang wanita berteriak dengan panik sambil menunjuk ke laut. Kami berlari mendekatinya dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
Saat mendekat, kami melihat seorang anak kecil terombang-ambing di tengah ombak yang cukup kuat. Tanpa ragu, Usep segera melepas sepatu dan baju, dan melompat ke dalam air untuk menyelamatkan anak tersebut.
Dengan keberanian dan kekuatan yang luar biasa, Usep berhasil mendekati anak tersebut dan mengangkatnya dari tengah ombak. Namun saat Usep berusaha menuju pinggir pantai, ombak kembali menghantam badannya dan membuat mereka berdua tergulung ombak besar.
Disaat genting tersebut tim penyelamat dengan cekatan menyelamatkan anak kecil tersebut dan juga Usep yang nampak pingsan tidak sadarkan diri.
"Usep... Usep..." Aku berteriak memanggil namanya ditengah-tengah pertolongan pertama yang diberikan oleh regu penyelamat pantai.
Aku merasa panik dan cemas melihat Usep yang tergulung ombak dan tak sadarkan diri. Sementara itu, tim penyelamat dengan sigap memberikan pertolongan pertama kepada Usep dan memastikan bahwa anak kecil tersebut dalam kondisi aman.
Setelah beberapa saat yang terasa begitu lama, Usep akhirnya sadar dan mulai menggerakkan tubuhnya. Aku merasa lega melihatnya sadar, namun kekhawatiran masih menyelimuti pikiranku.
"Apa yang terjadi? Apakah anak itu baik-baik saja?" Usep bertanya dengan suara lemah, masih terlihat lelah akibat kejadian tadi.
"Aku tidak yakin, tapi tim penyelamat sedang memeriksa anak itu sekarang. Kamu harus beristirahat, Usep. Kamu melakukan hal yang sangat bodoh tapi berani," jawabku sambil mencoba menenangkan Usep.
Beberapa anggota tim penyelamat menghampiri kami, dan salah satunya memberikan kabar bahwa anak kecil tersebut dalam kondisi stabil dan akan dibawa ke pusat medis terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut. Mereka juga memarahi Usep namun juga kagum dengan keberaniannya.
"Apa yang kamu lakukan tadi, Nak... Itu begitu bodoh dan konyol," kata salah satu regu penyelamat dengan suara tergugah.
Usep tersenyum lemah. "Aku tidak bisa hanya berdiri dan melihat orang lain dalam bahaya, pak. Walaupun ini adalah keputusan insting, aku tidak menyesalinya. Kehidupan seseorang lebih berharga daripada apapun."
Meskipun beberapa anggota tim penyelamat memarahi Usep atas keputusannya yang dianggap bodoh, mereka juga mengakui keberanian dan niat baik di balik tindakannya. Mereka memberikan pertolongan pertama kepada Usep dan memastikan bahwa kondisinya stabil sebelum akan membawa kami kembali ke daratan.
Sementara kami menunggu bantuan kedua, aku duduk di samping Usep yang terbaring lemah. Tangisku tidak dapat tertahan karena terlalu banyak emosi yang melanda. Usep melihatku dengan lemah, dan meskipun lelah, dia mencoba tersenyum untuk menenangkanku.
"Jangan khawatir, Imas. Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit lelah," Usep mencoba meyakinkanku.
__ADS_1
"Aku tahu kamu melakukan itu karena niat baik, Usep. Tapi aku tidak bisa tidak khawatir. Kamu mengejutkanku dengan tindakanmu," kataku dengan suara terisak.
"Maafkan aku, Imas. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Aku hanya tidak bisa berpikir panjang ketika melihat anak itu dalam bahaya," Usep menjelaskan sambil menggenggam tanganku dengan lemah.
Waktu terasa berjalan lambat saat kami menunggu bantuan kedua tiba. Tim penyelamat yang berpengalaman telah mengambil alih situasi dan melakukan semua yang mereka bisa untuk menjamin keselamatan kami. Mereka memberikan pertolongan pertama kepada Usep dan memastikan kondisi Usep stabil sebelum membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Ibu dan bapakku mencoba menenangkan aku yang memang saat itu begitu cemas dan khawatir. "Tenang, Nak. Usep dan anak tersebut sudah berada ditangan yang tepat. Kita percayakan semuanya kepada mereka." Ujar ayahku sambil memeluk pundakku.
Kami menunggu dengan cemas di rumah sakit saat Usep menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Setelah beberapa waktu yang tak terhitung lama, dokter akhirnya datang memberikan kabar tentang kondisi Usep.
"Dokter, bagaimana keadaan Usep? Apakah dia baik-baik saja?" tanyaku dengan suara yang penuh kekhawatiran.
Dokter tersenyum lembut. "Tenang, dia akan baik-baik saja. Usep mengalami kelelahan dan beberapa lecet di tubuhnya akibat tergulung ombak, tetapi tidak ada cedera serius. Dia akan membutuhkan istirahat dan pemulihan, tetapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Aku merasa lega mendengar kabar tersebut. Meskipun Usep mengalami kelelahan dan cedera ringan, dia akan pulih. Aku bersyukur bahwa keputusannya untuk menyelamatkan anak kecil tersebut tidak berakhir dengan konsekuensi yang lebih buruk.
"Imas, kamu datang," kata Usep dengan suara pelan.
Aku duduk di samping tempat tidur dan menggenggam tangannya. "Tentu saja, aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini. Bagaimana perasaanmu sekarang?"
Usep menghela nafas lelah. "Aku masih merasa lemah dan sedikit nyeri, tapi aku bersyukur bahwa semuanya berakhir dengan baik. Aku tidak menyesal melakukan apa yang aku lakukan, Imas."
Aku tersenyum bangga. "Kamu benar-benar pahlawan, Usep. Tindakanmu menunjukkan betapa besar hatimu dan keberanianmu. Aku sangat bersyukur bahwa kamu ada di sini."
Kami menghabiskan waktu bersama di kamar rawat, saling berbicara dan memberikan dukungan satu sama lain. Usep menceritakan pengalamannya ketika berusaha menyelamatkan anak kecil tersebut, dan kami berbagi perasaan kami yang bercampur aduk saat kejadian itu terjadi.
Beberapa hari kemudian, Usep diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Kami berjalan pelan di sepanjang koridor rumah sakit, dan di luar, udara segar menyambut kami.
"Aku merasa lega bisa keluar dari sini," kata Usep sambil menghirup udara dengan dalam.
__ADS_1
"Aku juga," jawabku sambil tersenyum. "Tapi jangan pernah melupakan apa yang kamu lakukan, Usep. Keberanianmu telah menginspirasi banyak orang, termasuk aku."
Usep tersenyum lembut. "Aku tidak akan melupakannya, Imas. Pengalaman ini akan selalu menjadi bagian penting dari hidupku. Aku berharap dapat terus menjaga semangat dan keberanian ini, dan mungkin bisa melakukan hal-hal baik lainnya di masa depan."
Kami berjalan bersama menuju rumah, saling berpegangan tangan. Tiba-tiba muncul sosok pria tinggi besar lengkap dengan seragam polisi yang didampingi oleh pengawalnya.
"Anak bodoh, mau bunuh diri?" Kata-kata dia terdengar begitu kasar dan belum sempat aku terkejut, aku kembali kehabisan kata-kata ketika pria tersebut menapar wajah Usep dengan sangat keras.
Aku terkejut dan tak percaya mendengar perkataan pria tersebut. Dia adalah ayah Usep? Bagaimana mungkin ayahnya bereaksi seperti itu setelah keberanian yang ditunjukkan Usep?
"Pak, mengapa bapak berbicara seperti itu? Usep melakukan sesuatu yang sangat berani dan menyelamatkan nyawa anak kecil. Bukankah itu sesuatu yang patut kita banggakan?" ucapku dengan suara gemetar, mencoba memahami situasi yang tak terduga ini.
Ayah Usep menghela nafas panjang dan terlihat agak tertekan. "Kamu tidak mengerti, Nak. Itu hanya kebodohan dan tindakan sembrono dari Usep. Dia seharusnya berpikir lebih jernih dan menghindari risiko tersebut. Apa yang dia lakukan hanya membahayakan dirinya sendiri."
Aku merasa marah dan kesal dengan sikap ayah Usep. Bagaimana mungkin dia tidak menghargai keberanian anaknya? Aku tidak bisa membiarkan ayah Usep berbicara seperti itu terus-menerus.
"Dia melakukan apa yang menurutnya benar, Pak. Usep memiliki hati yang mulia dan keberanian yang tak terbantahkan. Jika bapak tidak dapat menghargai itu, maka aku tidak tahu apa yang bisa mengubah pikiran bapak," ucapku dengan tegas.
Ayah Usep terdiam sejenak, mungkin terkejut dengan ketegasanku. Dia tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengeluarkan kata-kata dengan nada yang lebih lembut.
"Mungkin aku bereaksi terlalu keras, Nak. Tapi sebagai seorang ayah, aku khawatir akan keselamatan Usep. Aku tidak ingin dia mengambil risiko yang berbahaya seperti ini. Aku ingin melindunginya."
Aku mengerti kekhawatiran seorang ayah, tetapi aku juga melihat sisi positif dari tindakan Usep. Keberaniannya menginspirasi banyak orang, termasuk diriku sendiri. Aku ingin membuat ayah Usep melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
"Pak, apakah bapak tahu bahwa tindakan Usep telah mempengaruhi banyak orang? Dia telah menginspirasi kami dengan keberaniannya. Dan aku yakin dia akan belajar dari pengalaman ini. Usep adalah seorang pahlawan," kataku dengan tulus.
Ayah Usep mendengarkan kata-kataku dengan cermat, ekspresinya berubah menjadi lebih lembut. Setelah beberapa saat yang penuh keheningan, dia mengangguk perlahan.
"Kamu benar, Nak. Tapi, tunggu sebentar. Kamu siapa? kenapa membela Usep begitu gigih?" Ayahnya Usep mengangkat alisnya pertanda dia sangat kebingungan.
__ADS_1