Imas Hatori

Imas Hatori
Rumit


__ADS_3

Lomba band antar sekolahan sebentar lagi akan digelar. Murid-murid yang hobi bermusik sibuk mempersiapkan diri mereka masing-masing untuk tampil sebaik mungkin. SMA Spotaker mengirimkan 2 Band yaitu Supersound Band dan Bobolokot Band sebagai perwakilannya.


Supersound Band diisi oleh kakak kelas yang sangat mahir dalam memainkan alat musik, sedangkan Bobolokot Band diisi Oleh Yayat, Ebod, Denok dan Usep. Mereka berempat bukan musisi, mereka sebenarnya dipaksa untuk membentuk band karena menurut guru kesenian, hanya mereka yang mau mendaftar dari semua murid kelas 11.


"Yat, kamu teh beneran bisa main Drum?" Usep bertanya dengan kekhawatiran yang tinggi, karena setau Usep Yayat bukan pemain drum, tapi pemain kendang pencak silat. "Tenang, sama aja kayak mukul kendang, Sep." Jawab Yayat.


"Trus kamu, Ebod. Beneran bisa main Bass?" Usep melihat kearah Ebod. "InshaAllah Sep, Ebod pernah nonton Bassisnya Repot Chilli pepper main." Jawabnya santai.


"Red Hot, Kenapa jadi Repot?" Usep mengerenyitkan dahinya.


"Nah iya itu, Sep." Jawab Ebod lagi.


Ebod, Yayat dan Usep lalu menatap Denok. Denok hanya tertunduk malu dan diam. "Kalo kamu, Nok. Bisa main gitar kan?" Tanya Yayat penasaran.


"Hehhe.. maafkan aku kawan, Denok teh sebenernya gak bisa main gitar." Jawab Denok sambil menggaruk kepalanya dan nyengir karena malu.


"Laahh.. kenapa kemarin daftar?" Ebod keheranan mendengar jawaban Denok.


"Jadi gini, kemarin tuh aku melihat cewek-cewek pada histeris ketika kalian daftar jadi anak band, trus Denok juga mau atuh dikagumin sama mereka, makanya Denok ikutan daftar." Jawab Denok membuat Usep, Yayat dan Ebod terjengkang kebelakang.


"Astagfirullah, Denooookkk." Usep menepuk jidatnya.


Ternyata Denok benar-benar tidak bisa bermain gitar. Dia hanya ingin dikagumi sama gadis-gadis disekolahan dan terlihat keren dimata mereka. "Jadi kita cuma bertiga dong?" Yayat tiba-tiba melontarkan pertanyaan.


"Sebentar, aku hubungi seseorang dulu, siapa tau dia bisa bantu." Usep mencoba menenangkan hati sahabatnya tersebut.


Handphone-ku berbunyi, ada notif WhatsApp dari Usep. "Assalamualaikum, Imas."


Dengan segera aku membalas pesannya. "Wa'alaikumussalam, Usep. Ada apa?" Tanyaku pada Usep. Tak lama kemudian Usep membalas lagi. "Temui aku di Kafe depan sekolah nanti pulangnya." Usep mengirim pesan seperti diburu-buru, gada basa basi sama sekali.

__ADS_1


Sepulang sekolah, aku menuju Kafe dimana kita udah janjian sebelumnya. Aku melihat disana sudah menunggu Usep, Yayat, Denok dan Ebod duduk dengan gelisah.


"Alhamdulillah, Imas akhirnya kamu datang." Usep mengelus dadanya. Aku heran dan bingung, maksudnya apa Usep bicara seperti itu. "Ada apa, Sep?" Tanyaku kebingungan.


"Kamu jadi Vocalist ya, Imas." Tiba-tiba Usep menodongku untuk menjadi vocalist Bobolokot Band. Sontak aku terkejut, karena aku benar-benar tidak ada keturunan, hobi ataupun basic bernyanyi.


"Ihh.. Usep minum baygon ya? Aku mana bisa nyanyi ai kamu." Jawabku ketus.


"Tenang, Imas. Aku percaya kamu bisa melakukannya," kata Usep dengan penuh keyakinan.


Aku masih ragu-ragu. "Tapi, Sep, aku benar-benar tidak memiliki pengalaman bernyanyi. Aku takut membuat band kita menjadi malu di depan semua orang."


Yayat menambahkan, "Imas, kami tahu kamu tidak memiliki latar belakang musik seperti yang lainnya, tapi kita butuh bantuanmu. Kita harus bekerja sama agar bisa tampil sebaik mungkin di lomba band ini."


Denok mengangguk setuju, "Iya, Imas. Kami punya keyakinan besar padamu. Kita bisa saling melengkapi dan membantu satu sama lain. Kamu harus mencobanya."


Ebod mendukung, "Banyak yang bisa dipelajari, Imas. Kita bisa mulai dari nol dan bekerja keras untuk mempersiapkan diri. Percayalah, kita bisa membuat sesuatu yang luar biasa."


Semua temanku tersenyum senang. Usep memberikan lembaran lirik lagu yang sudah dia tulis. "Ini adalah lagu yang akan kita nyanyikan di lomba band. Ayo, kita mulai berlatih!"


Yayat memukul drum dengan sangat keras, "Bletakk.. cessss... dug dug dug... Bletak." Usep mulai memainkan gitarnya dan Ebod mencabik-cabik Bassnya. Entahlah, karena kita memang tidak punya basic memainkan alat musik, maka yang terdengar hanyalah suara bising dan tidak karuan.


Kami mulai menghabiskan waktu setiap hari untuk berlatih bersama. Usep memberikan pengajaran tentang dasar-dasar bernyanyi dan bagaimana mengendalikan suara.


Setelah beberapa hari berlatih, Vey, mulai merasa cemburu melihat aku yang sibuk dengan persiapan band bersama Usep. Vey merasa terancam oleh kedekatan aku dan Usep.


Satu hari, Vey berjalan menghampiriku dengan langkahnya yang gontai ketika kami sedang istirahat di kantin sekolah. Dengan wajah cemberut, Vey berkata, "Imas, apa kamu tidak memikirkan aku? Mengapa kamu begitu asyik dengan band itu? Apa Usep lebih penting daripada aku?"


Aku terkejut dengan ekspresi Vey dan mencoba menjelaskan, "Vey, maksudnya gimana? lagian ini juga hanya persiapan untuk lomba band sekolah. Dan, kenapa kamu harus marah? kita kan teman." Ujarku kesal.

__ADS_1


Vey tetap skeptis. "Tapi kenapa kamu harus bersama Usep? Aku bisa main alat musik juga, Imas. Aku bisa menjadi bagian dari band itu."


Aku mengambil napas dalam-dalam, mencoba menjaga ketenangan. "Vey, kalau kamu bisa, kenapa dulu kamu tidak mendaftarkan diri? Ini juga bukan kemauanku, mereka yang mengajak aku bergabung."


Vey terlihat kecewa dan merasa terpinggirkan. "Tapi aku pikir kamu tidak ikut ambil bagian. Kalau tau kamu bakalan ikut, mungkin aku akan daftar diawal."


Aku benar-benar bingung, kenapa Vey harus marah? kita tidak ada hubungan khusus atau apapun. Pikiranku terhenti saat aku menyadari satu hal. "Apa si Vey naksir sama aku?" tanyaku dalam hati.


Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu memandang wajah Vey. "Vey, jawab jujur! apa hak kamu untuk marah-marah gak jelas sama aku?" Kutatap matanya tajam supaya Vey mau jujur kepadaku.


Vey melirik kearah Usep, Denok, Yayat dan Ebod. Vey mencoba meraih tanganku, tapi aku reflex menolaknya. "Bicara saja, Vey. Gak usah pegang-pegang tangan segala." Ucapku sedikit kesal.


Dalam keheningan yang mencekam, Vey menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memberikan jawaban. Tatapannya terlihat gugup, dan terasa ada ketegangan saat kami berdua saling menatap.


"Maafkan aku," ucap Vey dengan suara bergetar sedikit. "Aku tidak bermaksud untuk marah atau mengungkit apapun. Aku hanya merasa cemburu melihatmu begitu akrab dengan mereka, padahal aku berharap kita yang seharusnya seperti itu."


Saat itu, sebuah kejutan menghampiriku. Sudah kuduga bahwa Vey memiliki perasaan seperti itu terhadapku. Hatiku berdegup kencang, dan di dalam hati kecilku, sebuah perasaan bingung muncul.


"Aku tidak tahu, Vey," ucapku dengan suara yang sedikit lembut, namun tetap berusaha tegas. "Kita tidak pernah membahas hal-hal seperti ini sebelumnya, dan aku merasa sedikit terkejut dengan ucapanmu."


Tatapanku tidak lepas dari wajah Vey yang terguncang. Namun, aku mencoba untuk tetap mempertahankan kejernihan pikiran dalam situasi yang rumit ini. "Aku berpikir bahwa kita hanya teman biasa, Vey. Aku tidak berpikir untuk lebih dari itu. Maaf jika aku tidak dapat memenuhi harapanmu."


Vey terdiam sejenak, dan aku bisa melihat kekecewaannya terpancar dari matanya. Kemudian, dia menggenggam tangannya sendiri dan mengangguk perlahan. "Aku mengerti," gumam Vey dengan suara yang hampir teredam.


Hati ini terasa berat saat melihat Vey seperti itu. Aku tidak ingin merusak persahabatan hanya karena cinta yang tak terbalas.


"Ayo, lanjut latihan. Vey, kamu mau ikut?" kataku dengan lembut, mencoba mengalihkan perhatian kami dari situasi yang rumit. "Kita masih bisa bersenang-senang sebagai teman, kan?"


Vey mengangguk perlahan, mencoba tersenyum walaupun palsu. Dan disaat kami hendak beranjak pergi, tiba-tiba Ujang menepuk bahu Vey. "Ohh.. jadi selama ini kamu berpura-pura, Vey?"

__ADS_1


"Plaaaakkk." Satu pukulan telak tepat mendarat diwajahnya Vey sehingga ia terjungkal kebelakangan.


__ADS_2