
Hari minggu pagi aku sudah siap dengan sepatu sneakers dan outfit lari. Aku berniat untuk berolahraga sekalian mencari suasana sejuk yang selalu aku lewatkan karena sibuk dengan sekolah.
Seperti biasa, rute menuju tempat olahragaku terbilang cukup jauh dan diluar jangkauan Google Maps. Melewati sawah yang luas, kebun yang segede gaban, hutan rimba penuh misteri dan sungai besar yang deras airnya.
Saat melintas kebun teh yang luasnya melebihi luas istana Bogor, aku melihat Vey sedang duduk berbincang dengan Ujang di antara lorong-lorong kebun teh tersebut. Niat jahilku muncul saat mereka benar-benar fokus saling beradu argumen.
"Jadi kamu beneran belum bisa move on dari Imas?" Vey terkejut mendengar kejujuran Ujang.
Aku memperhatikan percakapan mereka, tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut. Aku menghentikan lari sejenak dan bersembunyi di balik semak-semak dekat mereka, agar tidak terlihat.
"Ya, aku masih belum bisa move on," jawab Ujang dengan wajah sedih. "Imas adalah cinta pertamaku, dan dia menolak aku dua kali tanpa alasan yang jelas."
Vey mengangguk simpatik. "Aku mengerti perasaanmu, Ujang. Tapi kamu harus mencoba melanjutkan hidupmu. Bagaimanapun juga, Mungkin Imas bukan jodohmu saat ini. Kamu harus membuka hati untuk kesempatan baru."
Ujang menggelengkan kepala. "Aku tahu itu, tapi sulit bagiku. Setiap kali aku melihat kebun teh ini, ingatanku langsung terhubung dengan Imas. Kami sering menghabiskan waktu bersama di sini. Rasanya seperti kehilangan sebagian dari diriku sendiri."
Vey memberikan dukungan. "Mungkin kamu perlu waktu untuk sembuh dan menerima kenyataan. Tapi jangan biarkan masa lalu menghentikanmu untuk menemukan kebahagiaan di masa depan. Mungkin ada seseorang yang akan membuatmu bahagia lagi, jika kamu memberinya kesempatan."
Ujang menghela nafas panjang. "Aku akan mencoba, Vey. Terima kasih telah mendengarkan dan memberiku saran."
Mendengar itu, aku tersenyum sendiri di balik semak-semak. "Sialan, si Ujang masih aja belum bisa move on." Ujarku dalam hati.
Aku mengambil batu kecil disampingku, aku lempar kearah mereka. "Ahh.. meleset." Gumamku dalam hati.
"Pletaaakkk." Suara baru jatuh yang jatuh ditanah membuat Ujang dan Vey kaget bukan main. "Wooyyy... siapa itu?" Ujang berteriak dengan wajah ketakutan.
Aku melangkah keluar dari semak-semak dengan wajah polos. "Maaf, maaf. Itu aku, Imas. Aku sengaja melempar batu ke arah kalian," kataku sambil menghampiri mereka.
Ujang masih terlihat ketakutan, sementara Vey menatapku dengan pandangan tajam. "Imas, kamu ngapain lempar batu kearah kami?" tanyanya dengan nada kesal.
__ADS_1
Aku langsung memohon maaf, "Iya, eh.. nggak, eh.. Iya. Aku benar-benar gak tau kalo batunya keras."
Ujang yang masih ketakutannya menegurku, "Laahh... yang bilang Batu itu lembek siapa? emang ada batu lunak?"
"Ujang Lebay!" Aku menjulurkan lidah dan meledek Ujang.
"Waahh... Imas bener-bener ngajak ribut." Ujang bangun dan mengejarku. Aku secepat roket melesat lari melewati kebun bambu yang sangat Luas.
Aku terus berlari dengan nafas tersengal-sengal, mencoba untuk menjauh dari Ujang yang semakin mendekatiku. Keberanian dan semangat bertualangku membuatku semakin bersemangat dalam menjaga jarak.
Aku melompati akar-akar bambu yang melintang di jalanku, berusaha menghindari percikan air yang menyembur dari air terjun bambu yang mempesona di kejauhan. Suara dedaunan bambu yang bergesekan mengisi telingaku saat aku bergerak cepat melewati tanaman yang menjulang tinggi.
Tiba-tiba, aku merasakan sejuknya air mengenai pipiku. Aku berhenti sejenak dan menemukan bahwa aku telah mencapai tepian sungai yang indah. Dengan wajah lelah tapi senang, aku menyadari bahwa aku telah berhasil menghindari kejaran Ujang.
Saat aku beristirahat sejenak di tepi sungai, aku melihat sekelilingku yang penuh dengan keindahan alam. Suasana tenang dan damai di sini membuatku merasa nyaman dan melupakan semuanya.
Tiba-tiba, Ujang muncul di balik semak-semak dengan napas tersengal-sengal. "Imas! Kamu benar-benar cepat!" ujarnya sambil menghela nafas. Vey, yang mengikutinya dengan tenang, tersenyum melihat kami berdua.
"Maaf ya, Jang. Aku cuma mau memecah suasana galaumu yang lebay." Sahutku sambil tertawa.
Ujang hanya terdiam disertai tepukan lembut dibahunya oleh Vey.
Saat matahari tenggelam di ufuk barat, kami berjalan pulang dengan langkah ringan. "Jang, tolong dong jangan bebani aku dengan keinginan kamu tadi. Aku juga ingin bebas, aku gak mau kita jadi canggung hanya gara-gara masalah hati." Aku mencoba negosiasi sama hati Ujang.
"Entahlah." Ujang hanya menjawab singkat dengan langkah kaki lunglai.
Aku merasa kesal dengan sikap Ujang menanggapi ucapanku, aku kait kakinya ketika berjalan hingga kaki Ujang bertautan dan terjatuh ketanah. "Kampreeett." Ujang berteriak.
"Imas, jail amat kamu jadi orang!" Ujang makin kesal dengan kejahilan aku. Aku berlari dengan lidah kujulurkan kedepan. "weeeeeeekkk."
__ADS_1
Vey terdiam melihat tingkah lakuku. "Imas, semakin konyol semakin cantik." Gumamnya dalam hati.
"Udah, Jang. Udah gak usah dikejar." Vey bicara dan menyarankan Ujang untuk membiarkan aku pergi.
"Vey, semakin Imas jahil, semakin aku jatuh cinta." Ujang terlihat makin tersiksa batinnya.
Aku melanjutkan misiku untuk berolahraga. Saat melintasi sungai yang deras airnya, aku merasakan udara yang begitu menyejukan. Kubentangkan tanganku seperti mau terbang.
"Imaaaaassss!" Usep terlihat melambaikan tangannya diseberang sungai. Aku terkejut melihat Usep yang tiba-tiba nongol dibalik semak belukar yang tinggi tersebut. Kakiku hilang keseimbangan dan aku jatuh kesungai karena terpeleset.
Dalam sekejap pandanganku menjadi kabur, gelap dan aku merasa sesak nafas. Aku hanya merasakan satu benda keras membentur tepat dikepalaku. Setelah itu, aku sudah tidak ingat apa-apa.
Ketika aku membuka mata, pandangan buramku perlahan mulai membaik. Aku menyadari bahwa beberapa orang berdiri di depanku, tampak khawatir dan cemas. Aku mencoba mengumpulkan pikiranku dan memperhatikan situasi sekitar.
Aku berada di tepi sungai, di mana aku jatuh setelah terpeleset. Orang-orang di sekitarku terdiri dari warga sekitar dan mungkin ada juga petugas keamanan atau penolong yang datang untuk membantu. Terlihat ekspresi lega di wajah mereka ketika mereka menyadari bahwa aku telah sadar.
"Kamu baik-baik saja?" tanya seseorang dengan penuh perhatian.
Aku mengangguk pelan, mencoba mengingat apa yang terjadi setelah aku jatuh ke sungai. Namun, ingatanku masih kabur dan aku tidak bisa mengingat dengan jelas.
"Kamu jangan terlalu cepat bergerak. Biarkan kami memanggil ambulans untuk memeriksa kondisimu," kata seorang wanita dengan suara lembut.
Aku mengikuti saran mereka dan tetap tenang. Warga sekitar segera menghubungi layanan darurat dan memberikan informasi tentang kejadian tersebut. Sementara itu, beberapa orang yang berada di sekitarku mencoba memberikan bantuan pertama dengan memberikan air minum dan mengecek luka-luka yang mungkin terjadi pada diriku.
Waktu terasa lambat saat aku menunggu kedatangan ambulans. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum aku kehilangan kesadaran. Namun, kejadian sebelumnya masih terlalu samar di benakku.
Akhirnya, bunyi sirene ambulans semakin mendekat, memberikan sedikit harapan bahwa bantuan medis akan segera datang. Petugas medis yang terlatih segera mengambil alih situasi dan mulai memeriksa kondisiku dengan cermat. Mereka bertanya tentang kejadian tersebut dan mencatat gejala-gejala yang aku rasakan.
Setelah pemeriksaan awal, petugas medis memutuskan untuk membawaku ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Aku dirawat dengan perhatian dan diberikan penjelasan bahwa ingatan yang kabur adalah gejala yang umum setelah kecelakaan kepala.
__ADS_1
Perjalanan menuju rumah sakit berjalan cepat, dan begitu sampai di sana, aku langsung menjalani serangkaian tes dan pemeriksaan lebih lanjut. Dokter menjelaskan bahwa kejadian yang aku alami dapat menyebabkan amnesia sementara dan bahwa ingatan yang hilang mungkin akan pulih seiring berjalannya waktu.
"Aku siapa? aku dimana? aku kenapa?" Ujarku dalam hati. Begitu banyak pertanyaan yang ingin kupecahkan namun setiap kali aku mencoba mengingat, kepalaku semakin terasa sakit.