
Setelah beberapa waktu berlalu, bisnisku semakin berkembang dan aku semakin terampil dalam mengelolanya. Suksesnya bisnis belutku menarik perhatian banyak orang di kampus, termasuk teman-teman sekelasku.
Suatu hari, Laura mendekatiku dengan senyuman lebar. "Imas, kamu tidak akan pernah menebak apa yang terjadi! Ayahku sangat tertarik dengan bisnismu dan dia ingin mencoba menyajikan hidangan belut di restorannya. Dia ingin membuat menu spesial belut dengan sentuhan Amerika yang unik!"
Aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku. Ini adalah kesempatan emas untuk memperluas bisnisku dan menghadirkan belut ke pasar internasional. Kami segera membuat rencana kolaborasi dengan restoran ayah Laura.
Beberapa hari kemudian, aku diajak Laura untuk bertemu dengan ayahnya dan disuruh mempraktekan cara memasak Belut yang baik dan benar. Aku yang memang sudah terbiasa memasak Belut bersama Ibuku dengan gesit mempraktekannya. Respon ayahnya Laura begitu positif dan dia mengajukan penawaran untuk menjalin kerjasama denganku.
"Imas, bisnismu sangat menjanjikan. Aku sangat terkesan dengan cara kamu memasak belut ini," kata Ayah Laura dengan antusias. "Bagaimana kalau kita bekerja sama? Restoranku bisa menyajikan hidangan belut ini dengan sentuhan Amerika yang unik."
Aku merasa sangat beruntung dan setuju dengan tawaran ayah Laura. Kami mulai merencanakan kolaborasi antara bisnisku dan restoran ayahnya. Kami membahas detail mengenai persiapan, pengiriman belut segar, resep yang akan digunakan, dan strategi pemasaran untuk memperkenalkan hidangan belut kepada masyarakat.
Beberapa minggu kemudian, aku dan Laura mendatangi restoran ayahnya untuk mencoba hidangan belut pertama yang mereka sajikan sesuai dengan resepku. Kami berdua duduk di meja, menantikan hidangan dengan rasa campur aduk antara gugup dan antusias.
Tiba-tiba, sepiring hidangan belut yang dihias dengan apik dihidangkan di hadapan kami. Kami mengambil sejumput dan mencicipinya dengan penuh harap.
Rasanya luar biasa! Belut yang garing dan lezat, dikombinasikan dengan saus khas Amerika yang membuatnya semakin istimewa. Kami berdua saling melirik dan tersenyum, merasa sangat bangga dengan hasil kerja keras kami.
"Imas, hidangan ini benar-benar luar biasa!" ucap Laura dengan antusias. "Aku yakin hidangan belutmu akan menjadi favorit di restoran ayahku."
Belut menjadi menu favorit di restoran ayah Laura, dan kabar tentang hidangan unik ini menyebar dengan cepat. Semakin banyak orang yang penasaran dan ingin mencoba hidangan belut yang kami tawarkan.
__ADS_1
Bisnisku semakin berkembang pesat, dan aku mendapatkan lebih banyak pesanan dari restoran-restoran lain di sekitar kota. Aku tidak pernah menyangka bahwa bisnis belutku akan mencapai tingkat ini.
Suatu hari, Laura mendekatiku dengan wajah ceria. "Imas, apa kamu sudah mendengar kabar terbaru? Restoran ayahku akan membuka cabang di Australia, dan mereka ingin membawa hidangan belutmu ke sini!"
Aku terkejut dan tak percaya dengan apa yang aku dengar. Restoran ayah Laura membuka cabang di negara tempatku belajar, dan mereka ingin bekerja sama dengan bisnisku. Itu adalah kesempatan luar biasa untuk mengembangkan bisnisku di Australia.
"Laura, aku masih tidak percaya dengan kabar ini! Restoran ayahmu membuka cabang di Australia dan mereka ingin menghadirkan hidangan belutku di sana. Ini sungguh luar biasa!" Ujarku masih dengan perasaan tidak percaya.
"Ya, Imas! Aku sangat senang bisa menjadi bagian dari proyek ini dan membantu memperkenalkan hidangan belutmu ke pasar internasional. Ini akan menjadi kesempatan yang besar bagi bisnismu." Laura begitu antusias berkata kepadaku dan memelukku.
"Benar, Laura. Ini juga memberiku kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang pasar kuliner di Australia dan bagaimana menyajikan hidangan belutku sesuai dengan selera mereka." Aku langsung berpikir jauh kedepan tentang bagaimana caranya membuat belut yang sesuai dengan lidah penduduk lokal di Australia.
"Aku yakin hidangan belutmu akan sukses di sana. Setelah mencicipi rasanya sendiri, aku tahu bahwa orang-orang di Australia akan menyukainya." Ujar Laura begitu optimis.
"Imas, aku memang sudah menduga dari awal, kamu akan bisa membuat satu hal yang luar biasa," ujar Usep dalam pesan singkatnya.
"Ahh.. terima kasih, Usep. Tapi, jujur aku kangen kebersamaan kita dalam segala hal." Jawabku sambil mengirim emot sedih.
"Yang sabar ya, Imas. Segala sesuatu memang butuh pengorbanan." Usep menjawab dengan kalimat yang sangat bijaksana.
Setelah berbicara dengan orangtuaku dan Usep, aku semakin yakin dan bersemangat untuk menghadapi proyek besar ini. Restoran ayah Laura adalah nama yang cukup terkenal di kota asalnya, dan mereka memiliki reputasi yang baik dalam menyajikan makanan berkualitas tinggi. Ini akan menjadi langkah besar untuk bisnisku, dan aku siap untuk menghadapinya dengan tekad dan keberanian.
__ADS_1
Selama beberapa minggu berikutnya, aku bekerja sama dengan restoran ayah Laura untuk menyusun rencana kerjasama dan mempersiapkan peluncuran cabang di Australia. Kami membahas detail tentang menu, harga, branding, dan strategi pemasaran yang akan kami gunakan. Aku juga belajar lebih banyak tentang selera kuliner di Australia dan bagaimana cara menyesuaikan hidangan belutku agar disukai oleh masyarakat setempat.
"Kamu yakin ini sudah final, Imas?" Tanya Laura dengan mata yang terlihat berharap-harap cemas.
"InshaAllah, aku sangat yakin." Ujarku mantap kepada Laura.
"Kita harus melakukan survey kepada masyarakat sekitar untuk mencicipi hidangan ini?" Laura kembali bertanya.
"Boleh, itu ide yang bagus!" Jawabku dengan perasaan yang sangat antusias.
Kami melanjutkan dengan melakukan survey kepada masyarakat sekitar untuk mendapatkan masukan dan feedback mengenai hidangan belut yang akan kami sajikan di cabang restoran ayah Laura di Australia. Kami menyusun jadwal dan memilih beberapa tempat yang representatif untuk melakukan survey.
Selama proses survey, kami menyiapkan hidangan belut dalam berbagai variasi dan gaya penyajian yang berbeda. Kami juga menyediakan formulir feedback yang sederhana untuk memudahkan orang-orang memberikan pendapat mereka.
Di sebuah Cafe, aku dan Laura bertemu dan kami terus berinovasi dan mencari cara baru untuk memanjakan lidah mereka dan memuaskan selera mereka.
Laura menambahkan dengan senyuman, "Imas, aku sangat bangga denganmu. Kamu telah mengambil bisnismu ke tingkat yang lebih tinggi dan menjadikannya sukses. Ini adalah bukti betapa keras kamu bekerja dan berdedikasi."
"Aku tidak akan bisa melakukannya tanpa dukunganmu dan bantuanmu, Laura," ujarku dengan tulus. "Kolaborasi kita telah membawa bisnis ini ke tempat yang luar biasa. Aku berterima kasih atas segalanya."
Proyek kolaborasi dengan restoran ayah Laura di Australia merupakan titik balik dalam perjalanan bisnisku. Itu membuka pintu bagi peluang baru, pengalaman baru, dan kemungkinan yang tak terbatas.
__ADS_1
Namun, tanpa diduga satu sosok yang tidak asing datang menghampiriku sambil tersenyum dan berkata, "Imas, apa kabar?"