
Sementara aku berada di Australia, Usep benar-benar fokus dalam mengembangkan bisnis belutku. Meskipun dia tidak tertarik melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah, dia terus berinovasi dan melakukan berbagai eksperimen dalam sistem bisnisnya tanpa sepengetahuanku.
Usep menghabiskan banyak waktu dan upaya untuk melakukan penelitian dan eksperimen dengan tujuan meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam usaha belutnya. Dia membaca buku, mengikuti seminar, dan mengikuti perkembangan terbaru di industri tersebut. Dia juga menjalin hubungan dengan peternak belut lainnya untuk bertukar pengalaman dan informasi.
Selain itu, Usep melakukan inovasi dalam hal teknologi dan sistem manajemen. Dia mencoba menerapkan teknologi terbaru untuk memonitor kondisi lingkungan dan kesehatan belut, seperti penggunaan sensor untuk memantau suhu, kelembaban, dan kualitas air di kolam belut. Hal ini membantunya untuk memahami kondisi yang optimal bagi pertumbuhan belut dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memperbaiki kondisi tersebut jika diperlukan.
"Usep, apa Imas tidak akan marah dengan banyaknya perubahan ini?" Ujar ibuku kepada Usep dengan perasaan cemas.
"Tenang saja, Ibu. Apa yang aku lakukan demi kelangsungan bisnis Imas juga." Usep menjawab dengan senyuman.
Usep melanjutkan penjelasannya kepada ibuku dengan penuh keyakinan, "Aku memahami kekhawatiran Ibu, tetapi aku yakin perubahan ini akan memberikan dampak positif bagi bisnis belut Imas. Aku melakukan semua ini dengan tujuan meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan usaha kita."
Usep menjelaskan bahwa dengan melakukan inovasi dan eksperimen, dia dapat menemukan cara-cara baru untuk meningkatkan kualitas produk belut dan efisiensi produksi. Hal ini akan membantu memperluas pangsa pasar dan meningkatkan keuntungan yang dapat dihasilkan.
"Dalam upaya ini, aku juga menjaga komunikasi yang baik dengan Imas. Meskipun aku tidak memberi tahu semua perubahan yang aku lakukan, aku selalu memastikan bahwa keputusan-keputusan yang aku ambil berdasarkan pertimbangan matang dan demi kebaikan bisnis kita," jelas Usep kepada ibuku.
"Oya, Imas menyuruhku untuk merenovasi rumah ibu kemaren. Imas sudah mengirimkan denah rumah yang ia mau." Usep menambahkan kalimatnya.
Usep melanjutkan penjelasannya kepada ibuku. "Selain fokus mengembangkan bisnis belut, Imas juga mempercayakan aku untuk merenovasi rumah ini. Dia telah mengirimkan denah yang ia inginkan dan aku sudah mempelajarinya. Aku berharap dengan renovasi ini, rumah ini akan lebih fungsional dan nyaman bagi kalian semua."
"Aku mengerti bahwa rumah ini adalah rumah keluarga, dan aku berusaha untuk membuatnya menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi kalian semua," tambah Usep dengan penuh semangat.
__ADS_1
Dia menjelaskan kepada ibuku rencana renovasi yang dia rancang, termasuk perubahan pada tata letak ruangan, penambahan fasilitas yang lebih modern, dan peningkatan kenyamanan dalam rumah.
Sementara disini, di Australia, aku semakin sibuk dengan kegiatan diluar kuliahku yaitu mengelola menu yang restaurant ayahnya Laura butuhkan.
"Imas, kita harus mencoba menggunakan Belut hasil ternak kamu. Siapa tau rasanya berbeda dengan belut yang kita beli disini." Ujar Laura memberikan ide kepadaku.
Aku mengangguk setuju mendengar ide Laura. "Ya, ide itu terdengar menarik. Kita bisa mencoba menggunakan belut hasil ternak dari bisnis yang Usep kelola di Indonesia. Aku akan berbicara dengan Usep tentang hal ini dan melihat apa yang bisa kita lakukan."
Keesokan harinya, aku berbicara dengan Usep melalui panggilan video. Aku menjelaskan ide Laura tentang menggunakan belut hasil ternak dalam menu restoran ayahnya.
"Usep, Laura memberikan ide yang menarik. Dia mengusulkan untuk menggunakan belut hasil ternak dari bisnis kita di Indonesia dalam menu restoran. Apa menurutmu ini mungkin dilakukan?"
Usep mendengarkan dengan seksama dan mengangguk. "Aku pikir itu adalah ide yang brilian. Menggunakan belut hasil ternak kita akan memberikan rasa dan kualitas yang berbeda pada hidangan. Aku senang mendengarnya. Aku akan memastikan bahwa belut yang kita hasilkan memenuhi standar kualitas dan kebersihan yang diperlukan untuk digunakan dalam restoran."
"Alhamdulillah, semoga bisnis belut kita semakin go internasional ya, Usep." Sahutku dengan perasaan bahagia.
"Tentu saja, Imas. Tapi jangan lupakan kewajiban kamu disana, kamu disana untuk menuntut ilmu." Jawab Usep mencoba memberikan aku peringatan.
"Iya dong, aku tidak akan pernah lupa dengan visi dan misi utamaku disini." Ujarku berharap jawaban itu bisa membuat Usep sedikit lebih tenang.
Kami berdiskusi lebih lanjut tentang langkah-langkah selanjutnya. Aku memastikan Usep bahwa aku akan tetap fokus pada pendidikanku di Australia dan menjalankan tanggung jawabku dalam mengelola menu restoran. Aku berjanji akan tetap berkomunikasi dengan Usep secara teratur untuk memastikan kerjasama yang baik antara bisnis belut dan restoran.
__ADS_1
Selama aku berada di Australia, aku terus bekerja keras dalam mengelola menu restoran. Aku mencari tahu tentang bahan-bahan lokal yang tersedia di sini dan memadukannya dengan ide-ide kreatif untuk menciptakan hidangan yang lezat dan unik. Aku juga memastikan bahwa kualitas bahan-bahan yang aku gunakan tetap terjaga dan sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Sementara itu, Usep terus berfokus pada pengembangan bisnis belut. Dia terus melakukan penelitian dan eksperimen untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Kami tetap saling berbagi informasi dan berdiskusi tentang perkembangan terkini di industri masing-masing.
"Nampaknya hubungan kalian sudah sangat serius ya." Laura tiba-tiba mengeluarkan kalimat yang mencengangkan.
"Hahaha.. bisa aja kamu, Laura." Jawabku sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Kesibukan kami setiap hari ternyata menarik perhatian Ridwan. Dia adalah mahasiswa asal Indonesia juga sama seperti aku. Ridwan nampaknya penasaran karena aku dan Laura memang terlihat begitu sibuk diluar jam pelajaran.
Tentu saja, saya akan melanjutkan dalam Bahasa Indonesia.
Ridwan mendekatiku dan Laura ketika kami sedang membahas menu andalan untuk restoran ayahnya. Dia terlihat penasaran karena kami berdua terlihat sibuk di luar jam kuliah.
"Hey, aku melihat kalian berdua sedang sibuk dengan sesuatu yang menarik. Bolehkah aku ikut berdiskusi?" tanya Ridwan dengan senyuman ramah.
Aku menyambut Ridwan untuk bergabung, dan Laura mengangguk setuju. Kami menjelaskan kepadanya ide menggunakan belut hasil ternak dari bisnisku di Indonesia untuk menu restoran.
"Ide ini unik," komentar Ridwan. "Menggunakan bahan lokal dapat memberikan cita rasa yang khas dan mendukung petani lokal. Saya rasa ide ini patut untuk dijajaki."
"Ini bukan perkara soal belutnya, sekarang tinggal membahas soal menunya." Ujarku sambil terus berpikir.
__ADS_1
"Aku akan berbicara dengan Usep tentang hal ini dan melihat bagaimana kita bisa bekerja sama untuk mewujudkannya," aku meyakinkan mereka.
Ridwan terkejut mendengar nama Usep kusebut. "Usep? siapa Usep, Imas?" Dia bertanya sangat penasaran.