
Aku, Vey, Usep dan Ujang menghabiskan malam dengan makan bersama. Vey yang sengaja membeli makanan untuk kita semua, ingin sekali menunjukan kepadaku bahwa ia sudah bisa move on.
"Tumben Vey, ada acara apa kamu membeli semua ini?" tanyaku dengan perasaan aneh, heran dan sedikit senang karena akhirnya Vey mau menerima keadaan.
"Aku sudah memikirkan semuanya, Imas. Aku pun belajar dari Ujang untuk bisa ikhlas menerima keadaan. Ujang bisa move on dari kamu, aku juga harus bisa." Jawab Vey yang sekaligus membuat Usep merasa lega.
Saat itu, suasana di sekitar kami terasa hangat dan penuh kelegaan. Aku bisa melihat senyuman kecil terukir di wajah Usep, seakan beban yang selama ini ia rasakan telah sedikit terangkat. Ujang, yang telah menjadi teman yang bijak, memberikan senyuman pengertian kepada Vey.
Kami pun duduk bersama di sekitar meja, menikmati hidangan yang telah Vey beli dengan penuh kasih. Rasa makanan yang lezat terasa semakin enak karena suasana hati kami yang sedikit lebih ringan. Kami berbincang-bincang, tertawa, dan saling melempar lelucon ringan.
"Aku sungguh berterima kasih, Vey," kataku dengan tulus. "Tindakanmu menunjukkan kedewasaan dan kebaikan hatimu. Aku senang melihatmu semakin baik dan siap untuk melangkah maju."
Vey tersenyum malu-malu, mengangguk. "Terima kasih, Imas. Aku memang membutuhkan waktu untuk memahami dan menerima kenyataan. Tapi aku sadar bahwa hidup harus terus berjalan, dan kita harus belajar untuk melanjutkan."
Ujang memberikan suara persetujuan, "Benar sekali, Vey. Hidup tidak pernah berhenti di satu titik. Kita harus terus maju dan belajar dari pengalaman. Imas, Vey telah menunjukkan langkah pertamanya menuju kehidupan yang lebih baik. Ayo kita semua mendukungnya."
Kami semua setuju dengan Ujang. Suasana semakin hangat dan penuh kasih, seakan ada ikatan baru yang terjalin di antara kami. Kami saling memberikan dukungan dan memotivasi satu sama lain untuk terus melangkah, menjalani kehidupan dengan keberanian dan kebijaksanaan.
Malam itu, menjadi momen yang berarti bagi kami semua. Perlahan tapi pasti, Vey membuktikan bahwa dia mampu melanjutkan hidupnya dengan lebih baik. Dan aku, sebagai sahabatnya, berjanji untuk tetap ada di sisinya, mendukung dan menyemangatinya dalam setiap langkah yang dia pilih.
Malam semakin larut, Vey, Ujang dan Usep berpamitan pulang dan besok harinya kita sudah berencana untuk menonton film bersama di bioskop untuk merayakan persahabatan kita yang sudah lama rusak.
__ADS_1
Pagi hari, Usep menjemputku mengggunakan sepeda motor kesayangannya. Aku segera menaiki motornya dan kami pun meluncur menuju kota.
Kami tiba di bioskop dengan antusiasme yang tinggi. Saat masuk, kami memutuskan untuk menonton film bergenre komedi karena ingin menghabiskan waktu dengan tawa dan keceriaan.
Setelah memesan tiket, kami duduk bersama di kursi yang nyaman. Layar bioskop mulai menyala, dan kami menikmati cuplikan film-film yang akan tayang.
Sambil menunggu film dimulai, kami memanfaatkan waktu untuk berbincang-bincang. Usep bercerita tentang bisnis ayahnya yang sedang berjalan lancar, Ujang berbagi pengalaman dari perjalanan mencari cintanya, dan Vey mengungkapkan minatnya dalam mengembangkan hobi baru.
Waktu berlalu dengan cepat, dan akhirnya film dimulai. Kami terlibat dalam alur cerita yang lucu dan menghibur, tertawa bersama dengan adegan-adegan yang mengocok perut.
Setelah film selesai, kami keluar dari bioskop dengan senyum lebar di wajah kami. Malam itu, kami telah menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama, menguatkan ikatan persahabatan kami yang telah pulih.
Kami memutuskan untuk mampir ke kafe kecil di sebelah bioskop untuk melanjutkan perbincangan kami. Di sana, kami memesan minuman dan kue sebagai penutup malam yang indah.
"Terima kasih, teman-teman," kataku sambil tersenyum. "Kalian telah membuat hari ini menjadi salah satu momen berharga dalam hidupku. Aku bersyukur memiliki kalian dalam hidupku."
Vey, Usep, dan Ujang juga memberikan senyuman hangat. Mereka merasa serupa dan berjanji untuk tetap saling mendukung dan menjaga persahabatan ini ke depannya.
Vey dan Ujang pulang duluan, sedangkan aku dan Usep kembali melanjutkan acara dating kita. "Imas, sebentar lagi ujian tiba, apa kamu sudah siap?" Usep bertanya singkat.
"InshaAllah, Usep. Aku sudah mempersiapkan semuanya dari jauh-jauh hari, Aku ingin sukses." Ujarku dengan suara mantap.
__ADS_1
"Sebenarnya kamu sudah sukses saat ini, Imas. Bisnis Belut online kamu berkembang pesat dan sekarang kamu sudah bisa menaikan taraf hidup keluargamu." Ujar Usep dengan nada antusias dan terlihat bahagia.
"Ahhh.. ngomong-ngomong keluarga. Minggu depan aku mau merenovasi rumah, Usep. Alhamdulillah sudah ada rejeki lebih, aku ingin menjadikan hunian kami lebih layak dan nyaman." Ujarku dengan bersemangat.
Usep tersenyum dan mengangguk mengerti. "Itu adalah keputusan yang bagus, Imas. Merenovasi rumah adalah cara yang baik untuk memberikan kenyamanan kepada keluargamu. Aku yakin mereka akan sangat bahagia."
Kami melanjutkan percakapan kami sambil menikmati minuman di kafe. Usep menjadi pendengar yang baik, dia mendengarkan dengan penuh perhatian saat aku berbicara tentang rencana dan harapanku untuk masa depan.
Tiba-tiba, aku melihat sebuah papan iklan di dekat jendela kafe yang menarik perhatianku. Iklan tersebut mempromosikan sebuah acara penggalangan dana untuk yayasan anak-anak kurang mampu.
"Apa kamu pernah berpikir untuk terlibat dalam kegiatan sosial, Usep?" tanyaku dengan penuh minat.
Usep memandang papan iklan tersebut dan berpikir sejenak. "Sejujurnya, belum, Imas. Aku lebih fokus pada sekolahku dan kehidupan sehari-hari. Tapi aku menyadari bahwa menjadi bagian dari kegiatan sosial adalah cara yang baik untuk memberi kembali kepada masyarakat."
Aku tersenyum. "Aku setuju denganmu, Usep. Kita telah diberkati dengan banyak hal dalam hidup ini, dan memberikan sedikit dari apa yang kita punya kepada mereka yang kurang beruntung adalah tindakan yang mulia."
Setelah puas menghabiskan waktu bersama, kami memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing. Aku harus belajar lebih tekun agar ujian nanti nilaiku tidak jeblok dan cita-citaku untuk kuliah di luar negeri bisa tercapai.
Usep belum tau bahwa aku berencana untuk kuliah di luar negeri. Aku tidak mau membuat Usep kecewa karena mendengar rencanaku di masa depan. Aku berjanji harus menjaga perasaannya.
Pulang ke rumah, aku mulai fokus pada persiapan ujian. Aku menyusun jadwal belajar yang ketat dan memanfaatkan setiap waktu luang untuk membaca dan mengulang materi. Aku tahu pentingnya usaha dan dedikasi untuk mencapai cita-cita.
__ADS_1
Ibu melihatku saat belajar dengan serius dan dia tiba-tiba menghampiriku dan berkata, "Imas, sudah larut malam. Kamu harus istirahat!"