
Menunggu hasil ujian, aku duduk termenung sendiri didalam kamar. Aku memikirkan langkahku kedepannya. Aku memang ingin mengembangkan diri dengan menuntut ilmu setinggi-tingginya agar taraf hidupku membaik tanpa harus bergantung kepada orang lain.
"Aku bingung harus bicara apa kepada Usep. Aku tidak mau membuatnya kecewa." Ucapku didalam hati.
Ibuku menghampiriku dengan senyum lembutnya lalu ia berkata, "Kamu yakin dengan keputusanmu untuk kuliah diluar negeri?" Ujar Ibuku dengan nada sedih.
"Aku belum tau, Ibu. Aku ragu, tapi aku ingin mengejar cita-citaku." Jawabku penuh dengan keraguan.
"Usep bagaimana?" Ibuku kembali memberikan pertanyaan yang membuatku semakin ragu.
"Aku juga bingung, Ibu. Aku gak mau Usep sedih." Aku menundukan pandanganku dan ibuku lalu memeluku dengan erat.
Ibuku memelukku erat sebagai ungkapan dukungannya. Setelah beberapa saat, dia melepaskan pelukannya dan duduk di sampingku. Dengan lembut, dia mulai berbicara.
"Ibu mengerti perasaanmu, Nak. Kamu ingin mengembangkan dirimu dan mencapai cita-citamu, itu adalah hal yang sangat mulia. Ibuku hanya khawatir tentang jarak dan perpisahan yang akan terjadi antara kamu dan Usep," kata Ibuku dengan lembut.
Aku mengangguk, memahami kekhawatiran Ibuku. "Ibu, aku tidak ingin membuat Usep sedih. Tapi di dalam diriku, ada keinginan yang kuat untuk mengejar impianku. Aku ingin belajar dan berkembang di luar negeri. Namun, aku belum sepenuhnya yakin apakah itu adalah keputusan yang tepat," ungkapku dengan jujur.
Ibuku mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia kemudian berkata, "Nak, keputusan itu ada di tanganmu. Tetapi, jangan lupakan bahwa hubunganmu dengan Usep akan selalu bertahan, meskipun jarak memisahkan. Jika Usep adalah pacar yang sejati, dia akan mendukungmu dalam setiap langkah yang kamu ambil."
"Mungkin aku bisa berbicara dengan Usep dan menjelaskan perasaanku. Kita bisa mencari cara untuk menjaga hubungan kita, meskipun aku berada di luar negeri. Aku ingin dia tahu bahwa dia masih penting bagiku," kataku dengan harap.
__ADS_1
Ibuku tersenyum bangga padaku. "Itu adalah langkah yang baik, Nak. Bicarakanlah dengan Usep dan dengarkan juga pendapat dan perasaannya. Jangan biarkan kekhawatiranmu membuatmu menyerah pada impianmu. Ibuku akan selalu mendukungmu dalam setiap pilihan yang kamu ambil."
Aku tersenyum lega mendengar kata-kata Ibuku. Kekhawatiran dan keraguan masih ada, tetapi aku merasa lebih mantap dalam keputusanku. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tetap mempertahankan hubungan dengan Usep dan mencari jalan untuk menjaga hubungan kami, sekaligus mengejar impianku.
Dengan semangat baru dan dukungan dari ibu, aku memutuskan untuk membicarakan perasaanku kepada Usep. Beberapa hari kemudian, saat kami berdua duduk di taman favorit kami, aku merasa gugup namun juga bersemangat untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranku.
"Usep, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," ucapku dengan lembut.
Usep melihat ke arahku dengan perhatian dan berkata, "Tentu, apa itu?"
"Aku sudah menunggu hasil ujianku dan ada peluang aku bisa melanjutkan kuliah di luar negeri," kataku perlahan. "Ini adalah kesempatan besar bagi aku untuk mengembangkan diri dan mengejar cita-citaku. Tapi, aku juga takut membuatmu sedih atau kecewa."
Usep merenung sejenak, lalu tersenyum padaku. "Tentu saja, aku tidak ingin menahanmu untuk meraih impianmu. Aku tahu betapa pentingnya itu bagimu. Aku adalah pacarmu dan aku ingin mendukungmu sepenuhnya."
Kami sepakat untuk berkomunikasi secara teratur melalui panggilan video, pesan teks, dan surat. Kami juga berencana untuk mengunjungi satu sama lain secara berkala dan mengatur waktu khusus untuk saling berkunjung.
Meskipun ada keraguan dan ketakutan, aku merasa lebih lega setelah berbicara dengan Usep. Kami berdua berkomitmen untuk menjaga hubungan kami sambil mengejar impian masing-masing. Dalam prosesnya, kami berharap dapat tumbuh sebagai individu dan tetap bersama sebagai pasangan yang kuat.
Tibalah hari pengumuman ujian sekolah, kami semua merasa deg-degan menunggu hasil yang akan kami terima. Dan, Alangkah terkejutnya aku karena hasil yang dinanti tidak sesuai dengan harapan. Aku gagal mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah diluar negeri.
"Imas, jangan bersedih. Akan ada waktunya nanti kamu bisa kuliah disana." Ujar Usep mencoba menenangkan hatiku yang sedang kalut.
__ADS_1
Aku menatap Usep dengan mata yang penuh kekecewaan, namun juga terharu melihat dukungan dan kekuatan yang dia berikan. Meskipun keputusan ini tidak sesuai dengan harapanku, aku tahu bahwa Usep ada di sampingku, siap mendukungku dalam setiap langkah yang aku ambil.
"Terima kasih, Usep," ucapku dengan suara terbata. "Aku sedih karena gagal mendapatkan beasiswa untuk kuliah diluar negeri. Tapi kamu benar, mungkin ini bukan waktu yang tepat. Aku masih bisa mencapai impianku di dalam negeri. Aku akan mencoba lagi di masa depan."
Usep menggenggam tanganku erat. "Kamu memiliki potensi yang luar biasa, Imas. Aku yakin suatu hari nanti kamu akan mencapai semua impianmu. Jangan pernah menyerah."
Ketika aku melihat raut wajah Usep yang penuh keyakinan, hatiku menjadi lebih tenang. Aku menyadari bahwa kegagalan ini hanyalah satu rintangan kecil dalam perjalanan hidupku. Aku masih memiliki banyak peluang untuk belajar dan tumbuh, dan Usep akan selalu ada di sampingku.
"Kita bisa mengembangkan bisnis Belut kita, Imas." Usep mengingatkan aku soal bisnisku yang sedikit aku lupakan.
"Kamu benar, Usep. Aku masih bisa sukses dalam bidang lain. Apalagi bisnis ini sudah berjalan dengan baik." Ujarku sedikit merasa terobati oleh ucapan Usep.
Dengan semangat baru dan dorongan dari Usep, aku mulai melihat peluang-peluang lain di depanku. Meskipun kegagalan mendapatkan beasiswa membuatku sedih, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku masih memiliki impian dan tujuan yang ingin aku capai, dan aku yakin bahwa dengan kerja keras dan tekad yang kuat, aku akan mencapainya.
Aku dan Usep memutuskan untuk tetap fokus pada pengembangan bisnis Belut kami. Kami merencanakan strategi baru, melakukan riset pasar, dan menjalin kerjasama dengan pihak-pihak terkait. Kami berkomitmen untuk mengembangkan bisnis ini menjadi sukses dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Selain itu, aku juga memutuskan untuk melanjutkan kuliah di dalam negeri. Meskipun aku awalnya bermimpi untuk kuliah di luar negeri, aku menyadari bahwa kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri tidak hanya terbatas di luar negeri. Ada banyak universitas dan institusi pendidikan yang berkualitas di dalam negeri yang dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman yang berharga.
"Imas, aku bangga padamu. Meskipun rencana awalmu tidak berjalan sesuai harapan, kamu tetap tegar dan tidak menyerah. Aku yakin kamu akan sukses dalam apa pun yang kamu pilih untuk dijalani," kata Usep dengan tulus.
Aku tersenyum dan merasa terharu mendengar kata-kata Usep. Kepercayaan dan dukungannya memberiku kekuatan untuk menghadapi tantangan yang akan datang. Aku tahu bahwa dengan cinta dan dukungan yang kami miliki satu sama lain, kami bisa melewati segala rintangan dan meraih impian kami masing-masing.
__ADS_1
"Kamu akan kuliah dimana, Imas?" Usep tiba-tiba menanyakan hal yang belum aku pikirkan sama sekali.