Imas Hatori

Imas Hatori
Naluri Belutku tumbuh lagi


__ADS_3

Aku terbaring diatas kasur dan segera bangkit setelah mendengar suara ribut diluar rumah. Aku penasaran suara siapa itu, dan kenapa sampai teriak-teriak. Saat pintu kamar aku buka, aku melihat sosok yang sepertinya aku kenal. Aku fokuskan penglihatanku, lalu... "Aha... Ceu Epon!" Sahutku.


Ceu Epon sedang ngobrol dengan Ibuku, beliau sangat khawatir dengan kondisiku. "Alhamdulillah, Neng Imas sudah baikan?" Tanya ceu Epon dengan ekspresi khawatir.


"Alhamdulillah, Ceu Epon. Sekarang Imas sudah lebih baik, bahkan Imas langsung kenal ceu Epon." Aku tersenyum bahagia karena aku bisa mengingat ceu Epon.


"Euceu mau pesen Belut lagi?" Tepat setelah aku bilang Belut, kepalaku mendadak sakit lagi. "Aduuhhh... kenapa kepalaku?" Aku heran dan tidak mengerti.


Ceu Epon menghampiri dan duduk di sebelahku dengan wajah penuh kekhawatiran. "Neng Imas, mungkin kepalamu masih sedikit lemah setelah sembuh. Jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang bisa membuatmu sakit lagi," ujarnya dengan lembut.


Aku mengangguk, mencoba meredakan sakit kepala yang datang tiba-tiba. "Maafkan aku, ceu Epon. Aku tidak tahu mengapa kepala ini terasa sakit begitu mengingat kata 'Belut'," kataku sambil memegangi kepala.


Ibuku menambahkan, "Kamu mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu, Imas. Mungkin ada kaitannya dengan itu."


Ceu Epon mengangguk paham. "Mungkin ada hubungannya dengan trauma yang kamu alami, Neng Imas. Kondisi tubuh dan pikiran kita saling terkait, jadi kadang-kadang pengalaman traumatis bisa memicu reaksi fisik yang tak terduga."


Ibuku memberi tahu, "Sejak kecelakaan itu, Imas, kamu sempat kehilangan ingatanmu. Kita khawatir dan sangat berdoa agar kamu segera sembuh sepenuhnya."


"Sekarang aku berusaha mengingat kembali setiap detail, tapi sepertinya kata 'Belut' masih memicu sakit kepala," ujarku sambil menahan rasa frustasi.


Ceu Epon memberikan saran dengan penuh perhatian, "Sabarlah, Neng Imas. Tubuhmu membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya. Jangan terlalu memaksakan ingatanmu. Pikirkan hal-hal yang membuatmu bahagia dan perlahan-lahan, semoga sakit kepalamu akan berangsur hilang."


Aku mengangguk, merasa bersyukur memiliki dukungan dari Ceu Epon dan ibuku. "Iya, aku akan lebih bersabar."


Sudah seminggu aku tidak masuk sekolah, aku sebenernya rindu. "Spotaker, duh.. aku pengen masuk sekolah." Ungkapku dalam hati.

__ADS_1


Saat aku duduk diteras depan rumah, Vey datang menghampiriku. "Imas, kamu mau keluar denganku sebentar?" Vey mengajak aku untuk jalan keluar.


"Mau kemana, vey?" Tanyaku agak bingung. "Aku belum mandi juga."


"Gak usah mandi, kita jalan kedepan sebentar saja." Vey menarik tanganku dan mulai membawaku kesuatu tempat.


Kami berjalan sejauh 100 meter dan disana ada sawah kecil tempat dimana aku dan Vey pertama kali mencari belut.


"Aahh... aku ingat sekarang, aku adalah Imas Hatori sang pemburu belut." Sahutku dengan nada antusias. "Wait... aku sudah tidak sakit kepala lagi mendengar kata belut, Vey!" Aku bahagia sekali, lalu berjingkrak kegirangan.


Vey tersenyum melihat kegembiraanku. "Lihatlah, Imas. Kadang-kadang, saat kita menghadapi tempat atau situasi yang memicu kenangan yang kuat, tubuh dan pikiran kita bisa sembuh dengan sendirinya. Sepertinya mengunjungi tempat ini membantu menghilangkan sakit kepalamu."


Aku mengangguk paham sambil tersenyum lebar. "Terima kasih, Vey. Aku sangat senang bisa mengunjungi tempat ini lagi. Ini seperti mengembalikan sebagian kepingan kenangan yang hilang."


Kami berdua duduk di dekat sawah kecil itu, mengenang saat-saat ketika kami pertama kali mencoba menangkap belut.


Aku mengangguk setuju. "Iya, Vey. Aku akan memastikan diriku sepenuhnya pulih sebelum kembali ke sekolah. Aku ingin memberikan yang terbaik dan tidak ingin mengulangi kecelakaan yang sama."


Kami menghabiskan waktu sejenak di sana, mengobrol dan tertawa. Rasanya seperti angin segar yang menyegarkan pikiranku dan mengembalikan semangatku. Sambil berjalan pulang, aku merasa lebih siap untuk kembali ke sekolah dan melanjutkan kehidupanku dengan penuh semangat.


Setibanya di rumah, aku berterima kasih kepada Vey atas dukungannya. "Terima kasih, Vey. Kamu benar-benar teman yang baik. Aku berhutang kepadamu."


Vey tersenyum dan membalas, "Ya, Imas. Satu waktu aku ingin kamu membayar hutangmu."


Saat aku memasuki rumah, aku merasa semangat dan bersemangat. Aku bergegas mengambil alat tempurku untuk mencari belut, Ibuku yang melihat langsung kaget.

__ADS_1


"Aduhh.. Imas, mau kemana? Istirahat, jangan macem-macem." Ibuku mengambil peralatan perangku.


"Ibu, Imas sudah sembuh. Imas sekarang tau, kalau hobi Imas itu mencari belut. Imas sudah tidak sakit kepala lagi saat mengucap atau mengingat kata belut.


Ibuku memandangku dengan campuran kekaguman dan kekhawatiran. "Imas, ibu senang mendengar bahwa kamu sembuh dan bisa mengingat kembali hobi kesukaanmu. Tapi, pergilah mencari belut dengan hati-hati dan jangan terlalu berlebihan. Ingat, keselamatanmu tetap menjadi prioritas."


Aku mengangguk sambil mengambil peralatan perangku dengan hati-hati. "Terima kasih, Ibu. Aku akan berhati-hati dan tidak berlebihan. Aku hanya ingin merasakan kegembiraan mencari belut lagi dan menghabiskan waktu di alam."


Ibuku tersenyum lega dan merangkulku. "Aku percaya padamu, Imas. Jika itu membuatmu bahagia, aku akan mendukungmu. Tetapi, jangan lupa menjaga kesehatanmu dan selalu berkomunikasi dengan kami."


Aku merasa bahagia mendapatkan dukungan dan pengertian dari ibuku. Aku tahu bahwa mereka peduli padaku dan ingin yang terbaik bagiku.


Setelah berbincang dengan ibuku, aku memutuskan untuk pergi ke sungai dekat rumah. Aku mengenakan pakaian yang sesuai dan membawa peralatan yang diperlukan. Saat berjalan menuju sungai, aku merasakan semangat dan kegembiraan yang membakar dalam diriku.


Tiba di sungai, aku berhati-hati dalam setiap langkahku. Aku mengamati sekeliling, mencari jejak-jejak belut yang mungkin ada di sekitar. Aku merasakan adrenalin mengalir dalam tubuhku saat aku menangkap belut pertamaku setelah pulih dari kecelakaan.


Rasa gembira dan kepuasan memenuhi hatiku. Aku menikmati setiap momen di alam, bersama dengan suara gemericik air dan cahaya matahari yang memancar. Saat itulah aku benar-benar merasa hidup.


Pulang dari petualangan mencari belut, aku merasa lelah namun bahagia. Ibuku menyambutku dengan senyuman di wajahnya. "Bagaimana petualanganmu, Imas?"


Aku tersenyum lebar. "Ibu, itu luar biasa! Aku merasa hidup dan bahagia di tengah alam. Terima kasih, Ibu, karena sudah mendukung hobi dan kebahagiaanku."


Ibuku mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang. "Selama kamu bahagia dan aman, aku akan selalu mendukungmu, Imas. Tetapi, jangan lupa tetap menjaga kesehatan dan berkomunikasi dengan kami."


"Iya, Ibuku sayaaaaaang." Sahutku dengan gestur tubuh manja kepada Ibuku. "Jangan lupa pisahkan buat ceu Epon belutnya ya bu." Pintaku kepada Ibu.

__ADS_1


"Iya, Imas sayang." Ibuku memeluk aku dengan erat dan meneteskan airmata bahagianya.


Aku merasa diberkati memiliki ibu yang begitu pengertian dan penyayang. Dengan semangat yang baru ditemukan dan dukungan keluargaku, aku siap menjalani hidup penuh dengan kegembiraan, petualangan, dan pencarian belutku.


__ADS_2