
Kali ini kita berbicara soal Ujang. Sore itu Ujang sedang duduk disamping sungai dekat rumahnya. Ujang merasa berat hati dan kecewa setelah mendengar curhatan Imas tentang Usep. Dia tidak pernah membayangkan bahwa Imas bisa tertarik pada cowok lain, apalagi cowok baru yang baru saja pindah ke sekolah mereka.
Pikiran Ujang melayang ke belakang, teringat semua momen indah yang mereka habiskan bersama. Ujang selalu berpikir bahwa dia memiliki hubungan khusus dengan Imas, bahwa Imas hanya melihatnya sebagai teman terdekat. Namun, sekarang semuanya terasa berbeda.
Ujang memandangi foto mereka berdua yang diambil di acara sekolah beberapa bulan yang lalu. Dia melihat senyum Imas yang begitu tulus, dan dia merasa hatinya remuk. Ujang merasa seperti ada yang hilang dalam dirinya.
"Dari dulu aku suka sama kamu, Imas," gumam Ujang dalam hatinya. Dia berharap bisa mengungkapkan perasaannya kepada Imas, tapi dia takut akan penolakan. Dia takut kehilangan persahabatan yang telah mereka bangun selama ini.
Ujang mengangkat kepalanya dari atas meja dan menatap Imas yang sedang berbincang dengan teman-temannya di seberang ruangan. Imas terlihat bahagia, dan Ujang tidak ingin mengganggu kebahagiaannya.
"Mulai besok, aku tidak mau bertemu Imas. Terlalu sakit melihat Imas behagia berimajinasi memikirkan orang lain." Ujang bertekad dalam hatinya.
Tanpa Ujang sadari, dari tadi dibelakangnya sudah ada Vey yang sedang memperhatikan sikap Ujang yang terlihat sedih.
Vey, tetangga baru Ujang, melihat kegelisahan Ujang dan merasa prihatin. Dia menyadari bahwa sesuatu yang tidak beres dengan Ujang, dan dia ingin membantu.
Dengan langkah hati-hati, Vey mendekati Ujang yang masih terdiam dengan pandangannya yang tertuju pada foto Imas. Dia duduk di samping Ujang dan memberikan senyuman hangat.
"Ujang, apa yang sedang terjadi?" tanya Vey dengan suara lembut, mencoba merangkul Ujang dalam kepedulian.
Ujang terkejut oleh kehadiran Vey dan cepat-cepat menghapus air mata yang sudah mulai mengalir di pipinya. Dia tidak ingin memperlihatkan kelemahannya pada orang lain, termasuk pada Vey.
"Tidak apa-apa, Vey. Aku hanya merasa sedikit lelah," jawab Ujang dengan cobaan tersenyum.
Namun, Vey tidak terkecoh dengan usaha Ujang untuk menyembunyikan perasaannya. Dia merasa ada yang lebih dalam yang terjadi, dan dia bertekad untuk membantu Ujang melewati masa sulit ini.
"Ujang, aku tahu ada sesuatu yang membuatmu terluka. Kita adalah teman, dan aku ingin mendengarkanmu. Jangan takut untuk berbagi dengan aku," kata Vey dengan penuh perhatian.
Mendengar kata-kata Vey yang penuh perhatian, Ujang merasa kehangatan di hatinya. Dia tahu bahwa dia bisa mempercayakan perasaannya pada Vey.
Setelah beberapa saat berpikir, Ujang akhirnya memutuskan untuk berbagi perasaannya kepada Vey. Dia menceritakan tentang Imas, perasaannya yang tersakiti setelah ditolak Imas, dan rasa takutnya kehilangan persahabatan mereka.
__ADS_1
Vey mendengarkan dengan penuh pengertian dan empati. "Ujang, aku tahu betapa sulitnya menghadapi situasi seperti ini. Namun, kamu laki-laki Ujang. Jangan lemah gitu lah, masih banyak wanita cantik diluar sana." kata Vey dengan lembut.
Ucapan Vey membuat Ujang terkejut. Dia tidak mengharapkan Vey akan mengatakan hal seperti itu. Ujang memandang Vey dengan kebingungan.
"Vey, aku menghargai perhatianmu dan nasehatmu, tapi itu tidak sesederhana itu bagiku," Ujang menjawab dengan suara gemetar. "Perasaanku terhadap Imas tidak bisa dihilangkan begitu saja. Aku benar-benar mencintainya, dan itu tidak mudah bagiku untuk melupakannya."
Vey merasakan keputusasaan dalam suara Ujang dan menyadari bahwa ia tidak sepenuhnya memahami perasaannya. Dia menyesal telah menyampaikan pendapatnya dengan kurang sensitivitas.
"Maaf, Ujang. Aku mungkin tidak sepenuhnya mengerti perasaanmu," Vey mengakui dengan tulus. "Tapi, sebagai teman, aku ingin mendukungmu. Jika perasaanmu terhadap Imas begitu kuat, mungkin kamu perlu mempertimbangkan untuk berbicara lagi dengannya dan mengungkapkan perasaanmu sekali lagi."
Ujang menggelengkan kepala. "Aku takut, Vey. Aku takut akan penolakan lagi dan kehilangan Imas sebagai teman. Aku tidak ingin merusak hubungan yang telah kami bangun selama ini."
Vey merasa iba melihat keputusasaan Ujang. Dia ingin membantunya menemukan jalan keluar dari situasi ini. Dengan penuh empati, Vey menepuk pundak Ujang.
"Ujang, aku bisa merasakan betapa sulitnya bagimu saat ini. Tapi kadang-kadang, kita harus mengambil risiko dalam cinta. Jika kita tidak teguh mengungkapkan perasaan kita, kita akan selalu hidup dalam ketidakpastian. Jangan biarkan ketakutan mengendalikan hidupmu," kata Vey dengan lembut.
Ujang merenungkan kata-kata Vey dan perlahan-lahan mulai membuka diri terhadap gagasan tersebut. Dia menyadari bahwa jika dia tidak mengambil langkah maju, dia akan terus berada dalam kebuntuan dan tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi.
Vey memberikan senyuman penuh semangat. "Katakanlah yang ada di hatimu, Ujang. Jujurlah tentang perasaanmu. Biarkan Imas tahu apa yang telah kamu simpan selama ini."
"Tapi, Imas sudah tau dan sudah menolak aku kemarin. baiklah, aku akan coba bilang sama Imas sekali lagi saat kita mencari belut." jawab Ujang lurus.
Keesokan harinya, Dengan tekad yang baru ditemukan, Ujang dan Vey mencari belut di sepanjang sungai. Ujang masih merasa gugup, tetapi dukungan Vey membuatnya merasa sedikit lebih percaya diri.
Saat mereka berjalan di sepanjang sungai, suasana yang tenang dan alam yang indah memberikan kesempatan bagi Ujang untuk mengumpulkan pikirannya. Dia mulai mempersiapkan kata-kata yang ingin dia sampaikan kepada Imas.
Setelah beberapa saat, mereka menemukan sebuah spot di pinggir sungai yang cukup tenang. Ujang melihatku yang sedang duduk termenung dipinggir kali memainkan batu dan melemparnya.
"Imas," panggil Ujang dengan suara bergetar. Aku berbalik dan menatapnya dengan heran.
"Iya, Ujang. Ada yang ingin kamu bicarakan?" tanyaku, yang masih kebingungan.
__ADS_1
Ujang mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian yang ada dalam dirinya. Dia menatapku dengan tulus.
"Imas, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Dari dulu, aku merasa memiliki perasaan yang lebih dari sekadar persahabatan terhadapmu. Aku mencintaimu, Imas," ucap Ujang dengan jujur.
Aku terdiam sejenak, mataku memperlihatkan keheranan dan kebingungan. Ujang merasa hatinya berdebar dengan harapan. Apakah aku akan menerima perasaannya atau menolaknya lagi?
Setelah beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam, Aku akhirnya menjawab dengan suara lembut, "Ujang, aku tidak tahu harus berkata apa. Aku sudah bilang kemarin, aku tidak memiliki perasaan apapun dan aku menganggapmu sebagai teman yang sangat berarti bagiku."
"Jadi kamu lebih memilih si murid baru itu?" Ujang kecewa dengan jawabanku.
"Bukan, aku tidak tau apa itu cinta, yang aku tau, aku bahagia saat kita mencari belut Sama-sama." Ucap Imas masih dengan suara lirih, dibalut kesedihan.
Ujang terdiam sejenak, mencerna kata-kataku. Dia menyadari bahwa aku tidak menganggapnya sebagai pacar potensial, tetapi dia juga merasakan kehangatan dalam kata-kataku. Mereka masih bisa bersama sebagai teman, dan itu penting baginya.
"Denganmu, aku juga bahagia, Imas. Aku tidak ingin merusak persahabatan kita. Mungkin aku hanya perlu waktu untuk memahami perasaanku sendiri," kata Ujang dengan lembut.
Aku mengangguk, memahami keputusan Ujang. "Aku menghargai kejujuranmu, Ujang. Dan aku berharap kita tetap bisa menjadi teman yang saling mendukung. Jika ada apapun yang kamu butuhkan, aku di sini untukmu."
Ujang tersenyum, merasa lega bahwa kita masih bisa mempertahankan persahabatan kita. Dia merasakan kehangatan dan dukungan dariku, meskipun perasaan cintanya tidak terbalas.
"Terima kasih, Imas. Aku beruntung memiliki teman seperti kamu," ucap Ujang dengan tulus.
Vey, yang diam-diam mendengarkan percakapan mereka, merasa senang melihat penyelesaian yang baik antara Ujang dan Imas. Dia melangkah mendekati mereka dengan senyuman.
"Aku bangga padamu, Ujang. Kamu telah berani mengungkapkan perasaanmu, dan kamu juga bijaksana dalam menerima tanggapannya. Itu menunjukkan kekuatan dan kedewasaanmu," kata Vey dengan penuh kekaguman.
Ujang tersenyum kepada Vey, merasa berterima kasih atas dukungan dan perhatiannya. "Terima kasih, Vey. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpa kamu di sini."
Kami bertiga duduk bersama di pinggir sungai, menikmati keindahan alam di sekitar kita. Meskipun ada kekecewaan dan ketidakpastian, Ujang merasa lebih lega setelah berbagi perasaannya denganku dan mendapatkan dukungan dari Vey.
Satu hal yang Ujang dan aku tidak tau. Vey diam-diam naksir aku juga. "hahahaa.. sukurin Ujang, kamu ditolak lagi. Sekarang ini kesempatan aku untuk mendekati Imas." Pikir Vey didalam hatinya.
__ADS_1