
"Imas, Imas, Imas." Semua teman sekolah memanggil namaku setiap kali berpapasan. Aku mendadak famous pasca insiden kecelakaan aku kemarin. Aku yang tidak terbiasa dengan ketenaran menjadi agak risih dengan sikap mereka. Namun, walaupun begitu aku tetap mencoba bersikap ramah terhadap mereka.
"Imas, tolong beritahu kami, gimana sih rasanya hilang ingatan?" Tanya Rani teman deketku. Aku menjadi semakin risih dengan pertanyaan yang sama dan berulang-ulang.
"Rasanya tuh... gurih gurih nyoi." Jawabku sambil tertawa cekikikan.
"Ihh.. dikata tahu bulat?" Rani cemberut dengan ekspresi kecewa. Aku menyadari bahwa pertanyaan Rani sebenarnya berasal dari rasa ingin tahu dan keprihatinannya yang tulus. Aku pun berhenti tertawa dan mengambil sikap yang lebih serius.
"Maaf, Rani. Sebenarnya, rasanya sangat sulit untuk menggambarkan secara tepat bagaimana rasanya kehilangan ingatan. Setiap orang mungkin memiliki pengalaman yang berbeda dalam menghadapinya. Bagiku, itu seperti kehilangan bagian dari diriku sendiri, seperti puzzle yang tak lengkap."
Wajah Rani berubah menjadi serius, dan aku bisa melihat kekhawatirannya yang sebenarnya. Dia mengerti betapa sulitnya proses penyembuhan dan pemulihan setelah mengalami kehilangan ingatan.
"Aku hanya bisa berusaha menerima dan menghadapinya satu langkah sekaligus," lanjutku dengan suara lebih lembut. "Berkat dukungan kalian semua, keluargaku, dan teman-teman seperti Ujang, aku merasa semakin kuat. Semuanya memainkan peran penting dalam proses pemulihanku."
Teman-teman sekelas yang mendengarkan ceritaku itu menunjukkan rasa empati dan simpati.
"Imas, kami selalu di sini untukmu," ucap Rani dengan tulus, menggenggam tanganku dengan erat. "Kami akan mendukungmu dalam proses pemulihanmu, dan siap membantu jika ada yang bisa kami lakukan."
Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Dibelakang kerumunan teman-temanku, aku melihat sosok yang tidak asing bagiku. Dia menghampiriku dan mulai bertanya satu hal.
"Imas, kamu beneran gak inget sama kaos kaki kita?" Usep berharap aku mengingat semuanya dengan baik.
Aku memandang Usep dengan tatapan penuh penyesalan. "Maaf, Usep. Aku masih belum bisa mengingat semuanya dengan jelas, termasuk mengenai kaos kaki kita."
Usep mengangguk dengan ekspresi yang campur aduk antara kecewa dan pengertian. "Tidak apa-apa, Imas. Aku mengerti bahwa ini bukanlah sesuatu yang bisa kamu kendalikan. Yang terpenting adalah kesembuhanmu dan proses pemulihanmu."
Lalu Usep melihat kearah kakiku, dia terkejut lalu mengangkat pandangannya kearah wajahku. "Lah.. itu kamu masih mengenakan kaos kaki beda corak." Usep semakin bingung.
__ADS_1
"eh.. bukannya kewajiban siswa adalah memakai kaos kaki seperti ini? coba lihat teman-teman yang lain, mereka memakai kaos kaki yang beda corak kok." Jawabku polos.
"Astagfirullah, kalian kenapa jadi ikut-ikutan gila sih?" Usep menggerutu kesal kepada teman-teman yang lain.
Sementara Usep menggerutu kesal kepada teman-teman yang lain, aku merasa semakin bingung dengan kebingungan mereka. Aku mencoba mengingat kembali kebiasaan atau alasan di balik pemakaian kaos kaki berbeda corak, tetapi kepalaku masih terasa kosong.
"Usep, mungkin ada alasan tertentu mengapa kami memakai kaos kaki seperti ini," ujarku sambil berusaha mencari jawaban. "Mungkin saja ada tren atau kebiasaan di kalangan siswa yang belum aku ingat."
"Ya Allah, kamu lupa, Imas?" gumam salah satu teman sekelas. "Kita juga mengikuti gaya kamu yang selalu memakai kaos kaki berbeda corak, bukan kewajiban dari sekolah." Dia menambahkan alasannya.
Ketua kelas kami, Rani, yang selalu cerdas dan berpengetahuan luas, mencoba memberikan penjelasan. "Sudah-sudah, biarkan Imas mengembalikan ingatannya sedikit demi sedikit."
Jam pelajaran pertama segera dimulai, kami bersiap-siap menyambut guru yang akan mengajar.
"Assalamualaikum, anak-anak." Ibu guru menyapa kami dengan ramah dan senyuman manis.
Ibu Guru melanjutkan, "Hari ini, kita akan belajar tentang sejarah Indonesia. Kita akan membahas perjuangan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan negara kita."
Kami duduk dengan tegap, siap untuk mendengarkan pelajaran sejarah yang menarik. Ibu Guru memaparkan materi dengan antusiasme, membagikan informasi dan cerita menarik tentang peristiwa-peristiwa bersejarah yang membentuk Indonesia.
Selama pelajaran berlangsung, aku mencoba memusatkan perhatianku dan mencerna informasi yang disampaikan oleh Ibu Guru. Meskipun aku masih berjuang untuk mengingat ingatan masa lalu, aku berharap bahwa pembelajaran ini bisa membantu menghidupkan kembali memori-memori yang terkait dengan sejarah Indonesia.
Ibu guru melihat kearahku, lalu ia bertanya dengan rasa simpati. "Imas, kamu tidak apa-apa? kalau masih pusing dan sakit, jangan dipaksakan ya." Ibu guru mengelus-elus kepalaku.
Aku tersenyum kepadanya dan menjawab, "Terima kasih, Bu Guru. Aku baik-baik saja dan berusaha sebaik mungkin untuk mengikuti pelajaran. Meskipun masih ada sedikit kebingungan, tapi aku akan tetap berusaha."
Ibu Guru mengangguk dengan penuh pengertian. "Baiklah, Imas. Jika ada yang perlu kamu tanyakan atau jika ada yang membuatmu kesulitan, jangan ragu untuk bertanya padaku atau teman-teman sekelasmu, ya."
__ADS_1
Aku mengangguk sebagai tanda pemahaman dan melanjutkan mendengarkan penjelasan Ibu Guru. Meskipun masih ada rasa frustrasi dan kebingungan dalam diriku, aku merasa terbantu dengan dukungan dan pemahaman dari Ibu Guru.
Pembelajaran sejarah berlanjut dengan interaksi yang aktif antara kami, guru, dan teman-teman sekelas. Kami saling bertukar pendapat, mengajukan pertanyaan, dan mencoba memahami konteks sejarah yang disampaikan.
Saat pelajaran berakhir, Ibu Guru memberikan tugas terkait materi yang telah dipelajari. Aku mencatat tugas tersebut dan berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan berusaha mengerjakannya dengan baik.
Setelah itu, kami semua bersiap-siap untuk pelajaran berikutnya. Aku mengambil napas dalam-dalam dan berusaha mengatasi kegelisahan yang masih menghantui diriku. Meskipun masih sulit untuk mengingat masa lalu, aku bertekad untuk tidak menyerah dan terus berjuang.
Aku melihat kearah Ujang, dia sedang menatapku dan tiba-tiba dia mengeluarkan kantong plastik putih berisi Belut yang masih hidup. Seketika kepalaku terasa sakit sekali, seperti ada hal yang memaksaku untuk mengingat hal tersebut, namun semakin dipaksa semakin sakit sekali. Penglihatanku semakin buram dan makin lama makin gelap.
Bagaikan Deja Vu, saat membuka mata begitu banyak orang disampingku dengan suara sangat riuh. Aku baru tersadar, ternyata aku jatuh pingsan setelah mengingat hal yang berkaitan dengan Belut.
"Aduhh.. kepalaku sakit." Aku mengerang dan kembali terjatuh setelah mencoba untuk bangkit dari tempat tidur di UKS.
Saat aku terjatuh dan mengerang kesakitan, segera ada beberapa orang yang datang membantu. Ibu Guru, Usep, dan beberapa teman sekelasku cepat menghampiriku dengan wajah cemas.
"Imas, kamu baik-baik saja?" Ibu Guru bertanya sambil memeriksa keadaanku.
Aku merasakan tangan Ibu Guru yang mengecek denyut nadi dan meraba bagian kepala yang terasa sakit. Aku mencoba mengatur nafas dan menjawab dengan napas terengah-engah, "Kepalaku terasa sakit... aku tidak tahu kenapa."
Usep menunjukkan kekhawatirannya, "Mungkin ingatanmu yang mencoba kembali ke memori lama membuatmu pingsan. Kamu harus beristirahat, Imas."
Ibu Guru memanggil perawat UKS untuk memeriksa keadaanku. Perawat dengan lembut memeriksa suhu tubuhku, tekanan darah, dan melakukan beberapa tes sederhana. Mereka memberikan penjelasan bahwa pingsan bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk stres dan tekanan emosional yang mungkin aku alami akibat kehilangan ingatan.
Perawat menyarankan agar aku beristirahat dengan cukup, dan lebih baik jangan mengikuti pelajaran disekolah dulu karena kondisiku belum pulih dan sembuh secara total.
Aku dibawa pulang orang guruku dan sebagian temanku ada yang ikut mengantar aku juga. Disampingku, aku melihat Ujang tertunduk kecewa.
__ADS_1