
Aku dan Usep kini semakin solid dalam mengelola bisnis belut on-line ku. Usep ternyata sangat hebat dalam berbisnis. Semakin banyak sekali orderan yang masuk setiap hari.
"Usep, aku gak nyangka bisnis ini akan berkembang sangat cepat. Kini, aku tidak hanya bisa membeli kaos kaki, aku bahkan bisa membuka toko kaos kaki." Ujarku sedikit diselingi candaan kepada Usep.
"Hahaha.. aku senang mendengarnya, Imas. Namun, yang paling utama adalah, kamu tetep sayang sama aku. Jangan gara-gara usaha kamu sudah maju, lalu kamu lupa dengan keberadaanku." Ujar Usep sedikit memberikan peringatan.
"Kamu pikir aku tipe orang seperti itu? enak aja." Jawabku agak kesal dengan ucapan Usep.
Usep melihat ekspresi kesalku dan tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Tenang, Imas. Aku hanya bercanda kok. Aku tahu betul bahwa kamu tidak akan pernah melupakan keberadaanku. Kita telah bersama sejak awal membangun bisnis ini, dan kita saling mendukung satu sama lain."
Aku merasa lega mendengar kata-kata Usep yang penuh pengertian. Kami berdua memang telah melewati banyak hal bersama sejak memulai bisnis belut online ini. Dari mengatur strategi pemasaran hingga menghadapi tantangan dalam mengelola stok dan pengiriman, kami saling melengkapi dan saling memperkuat.
"Terima kasih, Usep. Aku sungguh beruntung memilikimu sebagai mitra bisnis dan juga sebagai kekasih tercintaku. Kesuksesan bisnis ini adalah buah kerja keras kita bersama," kataku sambil tersenyum.
Usep mendekatiku dan menggenggam tangan dengan penuh kehangatan. "Sama-sama, Imas. Aku juga sangat beruntung memiliki kamu di sampingku. Kita akan terus saling mendukung dan menghadapi segala tantangan yang ada."
Kami berdua saling bertatap mata, penuh kepercayaan dan keyakinan. Bisnis kami terus berkembang dengan pesat.
Dengan semangat yang baru dan semakin solid, kami melanjutkan perjalanan bisnis kami. Kami bekerja keras untuk memenuhi setiap pesanan yang masuk dengan kualitas terbaik. Kami juga terus berinovasi dan mencari peluang baru untuk mengembangkan bisnis ini lebih jauh.
"Imas, sudah waktunya kita berhenti mencari belut. Kita cari pegawai saja untuk memasok belutnya. Jujur saja, kita kewalahan jikalau kita yang mencari bibit belutnya." Ujar Usep sambil mengerutkan dahinya.
"Usep, saranmu untuk mencari pegawai yang akan memasok belut daripada kita melakukannya sendiri memang masuk akal. Aku mengerti kekhawatiranmu bahwa kita mungkin akan kewalahan jika harus mencari benih belut sendiri."
Aku berhenti sejenak, memikirkan saran dari Usep. Memang benar bahwa tugas mencari benih belut dapat menjadi memakan waktu dan melelahkan. Namun, aku juga ingin mempertahankan budidaya belutku sendiri.
__ADS_1
"Usep, aku rasa budidaya belut kita memiliki keuntungan tersendiri. Kita bisa mengendalikan kualitas dan pertumbuhan belut secara langsung. Selain itu, dengan budidaya sendiri, kita memiliki kontrol penuh atas pasokan belut kita."
"Aku setuju, Imas," kata Usep seraya mengangguk. "Tapi, kita harus mengatasi tantangan mencari bibit belut. Bagaimana kalau kita mencari solusi lain seperti bekerjasama dengan peternak belut lokal?"
Usul Usep membuatku berpikir. Memang, dengan menjalin kerjasama dengan peternak belut lokal, kita bisa mendapatkan pasokan bibit belut secara lebih mudah dan teratur. Selain itu, hal itu juga dapat mendukung pengembangan bisnis kami.
"Aku setuju dengan saranmu, Usep. Kita bisa mulai mencari peternak belut lokal yang dapat menjadi mitra kita dalam memasok bibit belut. Dengan cara itu, kita bisa tetap fokus mengelola budidaya belut sendiri dan mengembangkan bisnis kita dengan lebih baik."
Usep tersenyum dan mengangguk setuju. "Baiklah, mari kita mulai mencari peternak belut yang dapat kita ajak bekerja sama. Dengan demikian, kita bisa mengatasi tantangan mencari bibit belut dan lebih fokus pada pengembangan bisnis kita."
Kami berdua pun sepakat untuk mencari mitra peternak belut lokal yang dapat membantu memasok bibit belut untuk bisnis kami. Dengan solusi tersebut, kami berharap bisa mengoptimalkan produksi dan memperluas jangkauan bisnis kami tanpa terbebani oleh tugas mencari bibit belut secara langsung.
"Kita coba minta tolong Ujang dan Vey, siapa tau mereka bisa bantu kita untuk mencari peternak belut yang unggul." Ucap Usep penuh keyakinan.
"Aku gak yakin mereka mau bantu aku, mereka masih marah sama aku, Usep. Kamu masih ingat saat Vey aku tolak, terus dia pergi begitu aja dan menghilang sampai sekarang." Ujarku agak kurang yakin dengan usul Usep.
Aku mencoba memberikan pandangan realistis dalam situasi ini. Meskipun Ujang dan Vey mungkin memiliki pengetahuan atau koneksi yang dapat membantu kami, kami harus mempertimbangkan dinamika hubungan kami yang terganggu.
"Tapi siapa tahu, Imas. Mungkin mereka telah memaafkan kita dan bersedia membantu. Kita tidak akan tahu kecuali kita mencobanya," jawab Usep dengan penuh keyakinan.
Mendengar argumennya, aku merasa ada benarnya juga. Mungkin ini adalah kesempatan untuk memulihkan hubungan kami dengan Ujang dan Vey. Meskipun aku masih merasa ragu, aku memutuskan untuk memberikan kesempatan pada usul Usep.
"Baiklah, Usep. Mari kita mencoba. Aku akan menghubungi Ujang dan Vey, dan melihat apakah mereka bersedia membantu kita. Siapa tahu, ini bisa menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita dengan mereka."
Aku mengambil telepon genggamku dan mencari nomor kontak Ujang dan Vey. Setelah menemukannya, aku memutuskan untuk mengirim pesan singkat yang isinya meminta maaf atas apa yang terjadi dan menjelaskan bahwa kami membutuhkan bantuan mereka dalam mencari peternak belut yang unggul.
__ADS_1
Sementara menunggu balasan dari Ujang dan Vey, aku merasa campur aduk antara harapan dan kecemasan. Kami berharap bahwa mereka menerima permintaan maaf kami dan bersedia membantu kami dalam mencapai tujuan bisnis kami.
Aku memang pernah mengalami konflik dengan Ujang dan Vey, tetapi aku berharap bahwa kita semua dapat saling memaafkan dan bekerja sama untuk kepentingan yang lebih besar. Semoga ini menjadi awal baru bagi hubungan kami dan membawa keberhasilan bagi bisnis kami.
Setelah menunggu dengan penuh harapan, akhirnya kami menerima jawaban dari Ujang. Meskipun hanya Ujang yang memberikan respons, kami tetap bersyukur bahwa ada tanggapan dari salah satu dari mereka.
"Apa kabar, Imas? Maaf, aku tidak bisa membantu kalian mencari peternak belut. Aku sedang sibuk dengan pendidikanku. Semoga bisnis kalian sukses."
Melihat jawaban singkat dari Ujang, aku merasakan kekecewaan sedikit. Namun, aku juga mengerti bahwa setiap orang memiliki kesibukannya sendiri dan mungkin Ujang tidak dapat membantu kami saat ini.
"Usep, tampaknya Ujang tidak bisa membantu kita dalam mencari peternak belut," ujarku dengan sedikit kekecewaan.
Usep mengangguk dan menunjukkan sikap yang tetap positif. "Tidak apa-apa, Imas. Setidaknya kita sudah mencoba. Kita harus tetap bergerak maju dan mencari solusi lain. Kita bisa mencari sumber daya lain, seperti melalui jaringan bisnis atau mencari informasi online."
Aku menghargai sikap positif Usep. Kami berdua sepakat bahwa meskipun tidak mendapatkan bantuan dari Ujang, kami harus tetap berusaha mencari cara lain untuk mencapai tujuan kami.
"Kamu benar, Usep. Kita tidak boleh menyerah begitu saja. Mari kita cari sumber daya lain dan terus bergerak maju. Aku yakin kita bisa menemukan peternak belut yang unggul untuk mendukung bisnis kita."
Kami kembali fokus pada tujuan kami dan berkomitmen untuk terus mengembangkan bisnis kami dengan segala upaya yang kami miliki. Meskipun mendapatkan bantuan dari Ujang dan Vey tidak terwujud, kami tidak akan membiarkan hal itu menghentikan langkah kami.
Dengan semangat pantang menyerah, kami mulai mencari sumber daya dan informasi lain yang dapat membantu kami menemukan peternak belut yang berkualitas. Kami menghubungi kontak bisnis, melakukan riset online, dan menjalin komunikasi dengan para ahli di bidang ini.
Kami berdua percaya bahwa dengan ketekunan dan kerja keras, kami akan menemukan peternak belut yang unggul yang dapat menjadi mitra kami dalam bisnis kami. Meskipun prosesnya mungkin tidak mudah, kami tetap optimis dan siap menghadapi tantangan yang ada.
"Imas, coba lihat ini!" Usep marik lenganku dan menunjukan satu gambar didalam handphonenya.
__ADS_1
"Waaaaahhhh... jodoh mah gak akan kemana." Ujarku bahagia begitu melihat gambar di handphone Usep.