Imas Hatori

Imas Hatori
Kabar baik


__ADS_3

Setelah Usep dan Ujang pulang, aku kembali ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Aku tahu bahwa keputusan untuk pergi ke Australia adalah sebuah peluang besar bagi masa depanku, tetapi juga berarti aku harus meninggalkan orang-orang terkasih di belakang.


Ibu melihat kebingunganku dan berkata dengan lembut, "Imas, ini adalah keputusan yang sulit, tetapi kamu harus memikirkan masa depanmu. Jangan biarkan kekhawatiran dan kerinduan menghalangimu untuk menggapai impianmu."


Aku mengangguk, merasa terharu dengan dukungan ibu. "Terima kasih, Bu. Aku tahu ini bukan keputusan yang mudah, tetapi aku percaya bahwa ini adalah langkah yang tepat bagi masa depanku."


Kemudian, aku mulai merencanakan segala persiapan yang diperlukan untuk perjalanan ke Australia. Aku harus mengurus visa, mencari tempat tinggal, dan mengorganisir segala hal terkait kuliah dan kehidupan di sana. Usep juga menawarkan bantuan untuk membantu dengan semua itu.


Beberapa hari kemudian, kami berdua pergi ke kedutaan untuk mengurus visa. Meskipun prosesnya memakan waktu dan cukup rumit, akhirnya aku berhasil mendapatkan visa pelajar yang diperlukan. Rasanya seperti impian menjadi kenyataan saat aku memegang pasporku dengan visa Australia di dalamnya.


Sementara itu, bisnisku yang sedang berkembang juga perlu dikelola dengan baik. Aku mempercayakan Usep untuk mengurus segala urusan bisnis tersebut selama aku berada di Australia. Kami membuat jadwal rutin untuk mengirimkan laporan bisnis, berkomunikasi melalui video call, dan memberikan saran satu sama lain. Aku sangat berterima kasih atas dedikasi Usep yang begitu besar dalam membantu menjaga bisnisku tetap berjalan lancar.


"Kamu tidak perlu khawatir, bisnis Belut kita akan tetap jalan, Imas." Ujar Usep sambil tersenyum.


"Aku percaya sama kamu, Usep." Aku bicara dengan hati terharu atas bantuan Usep.


Hari perpisahan pun tiba. Keluarga dan teman-teman terdekat berkumpul di rumah untuk memberikan keberangkatanku yang penuh doa dan harapan. Usep dan Ujang juga hadir di sana, memberikan dukungan dan cinta mereka.


"Imas, jaga dirimu dengan baik di sana. Tetap semangat mengejar impianmu, dan jangan pernah lupakan kita di sini," Ujang mengucapkan dengan mata berkaca-kaca.


Aku melihat Ujang dan berkata, "Tentu saja, Ujang. Kamu akan selalu ada di hatiku, dan aku berjanji akan kembali dan melanjutkan momen-momen berharga kita bersama."


Kemudian, tiba giliranku untuk berpamitan dengan Usep. Kami saling memeluk erat dan berkata kata-kata terakhir sebelum perpisahan.


"Usep, aku sangat beruntung memiliki kamu sebagai pacar yang begitu pengertian dan mendukung. Terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan untukku. Aku akan selalu merindukanmu, tetapi aku percaya bahwa cinta kita akan kuat meskipun jarak memisahkan kita."


Usep menatapku dengan penuh cinta dan berkata, "Imas, jangan khawatir tentang hubungan kita. Kita akan tetap saling mendukung dan menjaga komunikasi yang baik. Aku akan selalu di sini untukmu."

__ADS_1


Dengan hati yang penuh haru dan keyakinan, aku mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang tercinta. Meskipun ada rasa sedih dalam hatiku, tetapi juga ada kegembiraan dan semangat untuk memulai petualangan baru.


Setelah perpisahan itu, aku berangkat ke Australia dengan perasaan campur aduk. Sesampainya di sana, aku dijemput oleh petugas universitas yang mengatur akomodasi mahasiswa internasional. Aku memulai hidup baru di negara yang baru, dengan bahasa dan budaya yang berbeda.


Proses adaptasi tidaklah mudah, tetapi aku bertekad untuk menjalani ini dengan baik. Aku bergabung dengan kelompok mahasiswa Indonesia di kampus, yang menjadi tempat aku dapat berbagi pengalaman dan mendapatkan dukungan dari teman-teman sebangsa. Aku juga berusaha untuk belajar bahasa Inggris dengan lebih baik dan mengenal budaya Australia.


Satu hari, Laura seorang wanita yang berasal dari negara Amerika menghampiriku dan menyapaku dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata. "Hallo, perkenalkan nama saya Laura. Kamu Emas asal Indonesia, Kan?"


Aku kaget namun segera menjawabnya, "Bukan, tapi, dari mana kamu bisa mendapatkan nama Emas?"


Laura menunjuk name tag yang menggantung didadaku. "Ooh, maaf. Aku belum terbiasa membaca bahasa Indonesia," kata Laura sambil tersenyum malu.


Tidak apa-apa," jawabku sambil tertawa. "Senang bertemu denganmu, Laura. Kamu baru datang ke sini juga?"


"Iya, aku juga mahasiswa internasional. Aku berasal dari Amerika dan akan kuliah di jurusan yang sama denganmu," ujar Laura dengan senyum yang ramah.


Dari situlah, kami mulai berbicara lebih banyak dan menjadi teman baik. Laura membantu aku dalam memahami beberapa materi kuliah yang sulit dalam bahasa Inggris, dan aku membantu dia dalam memahami budaya dan kebiasaan di Indonesia.


Tak terasa, waktu berlalu dengan cepat. Aku semakin menyesuaikan diri dengan kehidupan di Australia dan mendalami ilmu dalam kuliahku. Meskipun aku merindukan keluarga, teman-teman, dan Usep di Indonesia, tetapi aku juga merasa senang dengan pertumbuhan dan pengalaman baru yang aku dapatkan di sini.


"Imas, hari ini kamu ada acara?" Laura bertanya kepadaku.


"Tidak ada, memangnya ada apa?" Aku terkejut dan heran dengan pertanyaan dadakan Laura tersebut.


"Aku ingin mengajakmu untuk pergi ke perpustakaan, aku malas jika harus menghabiskan waktu di perpustakaan sendirian." Ujar Laura dengan wajah cemberut.


"Ohh... Tentu saja, aku akan menemani kamu, Laura, aku juga ingin mencari buku soal bisnis." Aku menggangguk dan setuju dengan ajakan Laura.

__ADS_1


Kami berdua pergi ke perpustakaan kampus, berjalan bersama sambil berbincang-bincang tentang kuliah, rencana masa depan, dan kehidupan di Australia. Di perpustakaan, kami mencari buku-buku yang kami butuhkan dan duduk di meja yang terpisah untuk membaca.


Beberapa jam berlalu, aku merasa terpesona dengan atmosfer perpustakaan yang tenang dan fokus pada studi. Aku merasa termotivasi untuk belajar dan meningkatkan pemahaman dalam bidang bisnis yang aku geluti. Laura juga tampak serius membaca buku-bukunya, sesekali mencatat hal-hal penting.


Setelah beberapa waktu, Laura menghampiriku dan berkata, "Imas, aku menemukan buku yang sangat bagus tentang manajemen bisnis. Ayo, mari kita lihat bersama-sama."


Kami saling berbagi pengetahuan dan membahas isinya. Kami saling memberikan pandangan dan pendapat mengenai topik yang dibahas dalam buku tersebut. Rasanya sangat menyenangkan memiliki teman sekelas yang bisa saling mendukung dan belajar bersama.


"Kenapa kamu tertarik dengan bisnis, Imas? apa kamu mau membuka perusahaan sendiri?" Laura bertanya dengan rasa penasaran.


"Aku sudah memiliki bisnisku sendiri, aku menjadi pemasok belut dinegaraku." Ujarku santai.


Laura terkejut, dan lalu bertanya, "Belut? siapa yang butuh belut? dinegaraku belut sama sekali tidak ada peminatnya." Ujar Laura kaget.


Aku tersenyum mendengar komentar kaget Laura tentang bisnisku. Aku kemudian menjelaskan lebih lanjut tentang bisnis belutku dan potensi pasar yang ada.


"Aku memahami bahwa belut mungkin tidak terlalu populer di negaramu, tetapi di Indonesia, belut memiliki permintaan yang cukup tinggi. Belut sering digunakan dalam hidangan khas seperti bakso belut, pecel belut, dan masakan lainnya. Selain itu, beberapa orang juga mengonsumsi belut untuk keperluan kesehatan karena kandungan gizinya yang baik."


Laura mendengarkan dengan antusias dan bertanya lebih jauh, "Bagaimana kamu memasarkan belutmu? Apakah kamu menjualnya secara online?"


"Aku menggunakan beberapa saluran pemasaran, termasuk penjualan online. Aku memiliki situs web dan media sosial yang aku gunakan untuk mempromosikan produkku. Selain itu, aku juga menjalin kerjasama dengan restoran, pasar tradisional, dan pengepul lokal untuk mendistribusikan belut ke konsumen. Aku juga sedang merencanakan untuk menjual produk belut secara internasional setelah mendapatkan pengalaman dan pengetahuan lebih dalam bisnis ini," jelasku.


Laura terlihat terkesan dengan kerja kerasku dan minatku dalam dunia bisnis. Dia mengungkapkan rasa kagumnya, "Imas, aku sangat mengagumi semangat dan dedikasimu dalam mengembangkan bisnismu. Kamu benar-benar inspiratif!"


"Imas, kebetulan ayahku menjalankan bisnis restaurant di Amerika. Aku nanti akan mengajakmu berbincang dengannya dan siapa tau kamu bisa kerjasama dengan ayahku." Ujar Laura dengan mata berbinar.


Mataku terbelalak, aku sangat antusias mendengan ucapan dari Laura tersebut. Aku merasa ini adalah salah satu jalan untuk mengembangkan bisnisku dalam skala internasional.

__ADS_1


__ADS_2