
Vey memperhatikan aku dari kejauhan, sesekali dia menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian, Vey mendekatiku. "Imas, sejak kapan kamu punya handphone?"
Aku, yang sulit untuk serius menjawab, berkata, "Sejak zaman kerajaan api menyerang."
Vey terlihat kecewa dengan jawaban anehku. Dia mengambil napas dalam-dalam. "Imas, tolong jawab dengan serius."
"Kenapa, Vey? Haruskah setiap aspek kehidupanku diumbar ke publik?" Aku menjawab dengan nada kesal karena privasiku mulai diusik.
"Bukan begitu maksudku, Imas. Aku hanya penasaran kenapa kamu tiba-tiba tertarik pada teknologi, padahal sebelumnya kamu tidak begitu peduli." Vey terlihat tidak senang saat aku terlihat asyik bermain dengan handphone baru.
"Vey, kamu sudah mengganggu privasiku dan aku tidak suka itu." Jawabku dengan tegas.
"Tapi, Imas. Aku hanya ingin tahu alasannya..." Vey belum selesai berbicara, aku memotongnya dengan cepat, "Daripada kamu penasaran tentang handphone baruku, bagaimana jika kamu minta nomor WhatsAppku? Kita bisa berkomunikasi dengan lebih mudah, bukan?" Ucapku sambil mengangguk.
Vey tampak terkejut dengan saran yang kuajukan. Dia memperhatikanku sejenak dengan pandangan heran.
"Apa kamu serius?" Vey bertanya dengan ekspresi campur aduk.
Aku mengangguk mantap. "Iya, Vey. Kita bisa lebih mudah berkomunikasi dan bertukar informasi jika kamu memiliki nomor WhatsAppku. Lagipula, kita sudah berteman baik, kan?"
Vey tampak sedikit ragu, tetapi akhirnya dia tersenyum. "Baiklah, kalau begitu, tolong berikan nomor WhatsApp-mu."
Aku menyodorkan handphone baru dengan senyuman. Vey mengambilnya dan mengisi nomor teleponnya di kontakku. Setelah selesai, dia mengembalikan handphoneku dengan terima kasih.
"Terima kasih, Imas. Ini akan memudahkan komunikasi kita," kata Vey dengan penuh apresiasi.
Aku tersenyum puas. "Tentu saja, Vey. Sekarang kita bisa tetap terhubung dengan lebih baik. Jadi, ada hal lain yang ingin kamu bicarakan?"
Vey menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang mendesak saat ini. Hanya ingin tahu alasan di balik perubahanmu dengan handphone. Tapi, sekarang aku sudah tahu. Terima kasih sudah mau berbagi."
Aku merasa lega bahwa Vey memahami alasan di balik keputusanku. Kami melanjutkan perjalanan menuju sekolah sambil bercerita tentang hal-hal lain yang menarik.
Selama perjalanan, kami tertawa dan saling menggoda seperti biasa. Kehangatan persahabatan kami kembali terasa, dan kekhawatiran awalku tentang ketegangan di antara kami pun lenyap.
__ADS_1
Sesampainya di sekolah, kami berpisah untuk menuju kelas masing-masing. Aku merasa senang bahwa kami bisa memperbaiki hubungan kami dan tetap menjadi teman yang baik.
Jam istirahat tiba, Usep menghampiriku yang sedang duduk di meja kantin. "Imas, aku sudah menghubungi teman ayahku, nanti kita beritahu Ujang. Dia meminta ayahnya Ujang untuk pergi ke kantor dan membawa surat lamaran kerjanya." Usep menjelaskan dengan perasaan senang.
"Woaah.. kabar bagus itu." Seruku dengan perasaan bahagia, karena akhirnya kami bisa membantu keluarga Ujang dalam kesulitan ekonomi.
Usep melanjutkan, "Teman ayahku juga bilang bahwa perusahaan tempatnya bekerja sedang mencari karyawan baru. Jadi, jika ayahnya Ujang berhasil meyakinkan mereka dengan surat lamarannya, kemungkinan besar dia akan mendapatkan pekerjaan di sana."
Aku tersenyum semakin lebar mendengar berita tersebut. "Semoga saja ayahnya Ujang diterima di perusahaan tersebut. Itu akan menjadi langkah awal yang baik baginya untuk mengatasi masalah keuangan keluarganya," ucapku sambil merasa lega.
Kami berdua sepakat untuk memberitahu Ujang secepatnya. Setelah jam istirahat usai, kami bergegas mencari Ujang yang sedang belajar di perpustakaan. Kami duduk di sampingnya dan memberitahunya tentang rencana yang telah kami susun.
"Dengar, Ujang. Usep telah menghubungi teman ayahnya dan mendapatkan informasi bahwa ada lowongan kerja di perusahaan tersebut. Mereka meminta ayahmu untuk membawa surat lamarannya ke kantor," paparku dengan antusiasme.
Ujang terlihat terkejut dan senang mendengar kabar itu. Dia berterima kasih kepada Usep dan padaku atas bantuan kami. "Terima kasih banyak, Imas dan Usep. Ayahku pasti senang mendengar kabar ini," ucapnya sambil tersenyum.
Kami berjanji untuk selalu mendukung Ujang dalam proses lamaran kerjanya dan berharap semoga semuanya berjalan lancar. "Tenang Ujang, aku yakin ayahmu bisa diterima disana." Ujar Usep sambil menepuk pundaknya.
"Oya, Sep. Tadi aku memberikan nomor WhatsApp-ku sama Vey. Dia kelihatannya tidak senang dengan kepemilikan handphone baruku ini." Ujarku sambil membuka buku bacaan Matematika.
"Handphone ini kan pemberian kamu, Sep. Kamu harus tau aku gunakan untuk apa dan siapa saja yang berhak tau nomornya." Jawabku polos.
"Apa? Usep memberikan handphone sebagai hadiah?" Ujang terkejut mendengar obrolan kami.
"Iya, Jang. Kemarin Usep memberikan hadiah berupa handphone, lumayan untuk memudahkan komunikasi." Aku kembali menjelaskan kepada Ujang.
"Kamu ulang tahun? kan masih lama, Imas?" Ujang kembali bertanya.
"Ini hadiah atas kesembuhanku dari amnesia." Jawabku lagi.
Ujang terdiam, lalu menundukan kepalanya. "Andaikan aku punya uang, aku akan melakukan hal yang sama, Imas." Ujang berkata dengan ekspresi kecewa diwajahnya.
Aku melihat kekecewaan yang terpancar dari wajah Ujang, dan hatiku terenyuh mendengarnya. Aku ingin menghiburnya dan membuatnya merasa lebih baik. "Jangan khawatir, Ujang. Bukan hadiah yang paling penting, tapi persahabatan kita. Kamu selalu ada untukku dalam masa sulit, dan itu tak ternilai harganya."
__ADS_1
Usep menambahkan, "Betul, Ujang. Persahabatan kita bukan hanya tentang memberi hadiah, tapi saling mendukung dan berbagi."
Ujang mengangguk perlahan, mengangkat kepalanya, dan tersenyum. "Aku yakin, hadiah itu lebih dari sekedar tanda persahabatan."
Aku terdiam dan melirik kearah Usep. "Benarkah itu, Usep?" aku bertanya dengan rasa penasaran.
Usep tidak menjawab; dia hanya tersenyum dan berkedip. Saat itu aku tidak sepenuhnya memahami, tetapi kemudian perutku yang keroncongan memecah kekakuan kami. "Waaahhh... Imas, perutmu menggerung, apakah kamu lapar? Ayo kita beli bakso. Aku yang membayar semuanya," ujar Usep sambil menarik tangan kami berdua.
Di kantin terlihat Vey duduk sambil memainkan sendok dengan pandangan kosong kearah depan. "Itu si Vey kenapa?" tanya Ujang keheranan.
"Entahlah, dari pagi sikapnya jadi aneh. Apa gara-gara aku pakai handphone baru dan si Vey iri?" Tanyaku dengan candaan.
Kami bertiga menghampiri Vey, lalu aku menyapanya. "Vey, kamu kesambat? kok diem aja dari tadi?" tanyaku.
"Aku hanya heran saja, dimana letak kekurangan aku sampai-sampai gadis pujaanku bersikap tidak peduli denganku." Vey menjawab dengan nada pelan dan pergi meninggalkan kamu begitu saja.
Kami bertiga saling bertukar pandangan dengan perasaan bingung dan heran. "Sejak kapan Vey naksir sama cewek?" Ujang berkata lalu bengong.
"Gak tau." Jawab Usep sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Aku diam, lalu aku berkata, "Aku yakin, cewek yang Vey maksud adalah aku." Ujarku pelan.
"Apa kamu yakin Vey bicara tentangmu?" Ujang bertanya, mencoba mencari kejelasan dalam situasi yang membingungkan ini.
"Aku tidak yakin, tapi ada perasaan aneh di dalam diriku. Mungkin aku harus berbicara dengannya dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi," jawabku sambil mencoba mengumpulkan keberanian.
Tanpa banyak berpikir, aku berlari mengejar Vey yang telah meninggalkan kantin. Tapi gerakanku ditahan oleh Usep, dia menarik lenganku.
"Usep, kenapa?" tanyaku dengan hati berdebar.
Usep menoleh ke arahku dengan pandangan penuh harapan. "Jangan kamu kejar, biarkan dia mengambil waktunya untuk merenung," ucapnya dengan suara yang pelan.
Usep menghela nafas. "Jangan kamu sakiti hati yang lain, cukup satu hati yang kamu sakiti." ucapnya dengan raut wajah yang sedikit cemas.
__ADS_1
Aku semakin tidak mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini.