
Pagi itu suasana sekolah SMA Spotaker masih sangat sepi, hanya ada mang Ajat yang sedang sibuk menyapu koridor sekolah. Aku berjalan menuju ruang kelasku, dan disitu berpapasan dengan Usep. "Astagfirullah, kok Usep pagi-pagi udah ada disekolah?" aku tertegun melihat Usep yang melemparkan senyuman kepadaku.
"Wahh.. Imas rajin banget ya, pagi-pagi sudah muncul disekolah." Sapa Usep dengan ramah.
"Lah, Iya. Usep sendiri udah ada disekolah, ada tugas yang gak sempat dikerjakan dirumah?" tanyaku sedikit gugup.
"Gak lah, aku sengaja pagi-pagi datang untuk ngasih surprise sama kamu." Usep berbicara seraya mengeluarkan bungkusan kecil di tasnya. Usep lalu memberikannya kepadaku.
"wahh.. kenapa jadi merepotkan sih?" aku menjadi salting diberi hadiah sama Usep, lalu aku membuka bungkusan kecil tersebut.
Aku kaget dan sedikit tergelitik melihat isi bungkusan itu. "Usep maksudnya apa ini?" tanyaku dengan tertawa kecil dan malu-malu.
"Iya, Imas. Aku melihat kamu senang sekali menggunakan kaos kaki yang berbeda corak. Aku mau kita melakukannya berdua. Jadi kita pakai kaos kaki sebelahan." Usep berkata dengan mimik wajah serius.
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Usep yang unik itu. Meskipun terdengar konyol, aku merasa senang dengan keisengan itu.
"Hahaha, Usep, kamu memang selalu punya ide-ide unik. Tapi kenapa harus kaos kaki?" tanyaku sambil masih tertawa.
Usep menjawab dengan mantap, "Karena kaos kaki adalah bagian dari pakaian yang sering kita lewati begitu saja, tanpa terlalu diperhatikan. Tapi dengan melakukan hal ini, aku ingin menunjukkan bahwa kita bisa membuat momen kecil menjadi spesial, bahkan dari hal yang sederhana seperti kaos kaki."
Aku merasa terkesan dengan kata-kata Usep. Meskipun terlihat sepele, tindakan itu sebenarnya memiliki makna yang dalam. Aku menyadari bahwa dalam hubungan, momen-momen kecil seperti ini dapat mempererat ikatan antara dua orang.
"Aku mengerti apa yang kamu maksud, Usep. Walaupun awalnya bukan karena kesengajaan aku memakai kaos kaki 2 merk, tapi Aku setuju untuk melakukannya," ujarku sambil tersenyum.
Kami berdua kemudian duduk di bangku di depan ruang kelas sambil mengenakan kaos kaki sebelahan. Meskipun terlihat aneh, kami merasa bahagia bisa berbagi momen kecil yang menyenangkan seperti ini.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, teman-teman kami mulai datang ke sekolah. Mereka terkejut melihat kami berdua mengenakan kaos kaki dengan corak berbeda dan kami kompakan.
"Ide apa lagi yang kalian punya?" tanya teman sekelas kami, Rani, sambil tertawa.
Kami berdua menjelaskan ide kami dengan antusias. Beberapa teman tertarik dan memutuskan untuk bergabung dengan keisengan ini. Tak berapa lama, beberapa siswa lain juga ikut serta, sehingga saat itu sebagian besar murid di SMA Spotaker memakai kaos kaki sebelahan.
"Waahh.. kita menjadi trend center." Aku kagum melihat semua siswa sekarang mengikuti ketololanku. Mereka pikir ini trend, padahal aku memang gak punya uang buat beli kaos kaki baru, jadi aku pake yang ada saja dirumah.
"Imas, aku masih penasaran. Dari awal aku masuk sekolah disini, aku belum tau sebenarnya apasih Spotaker itu?" Usep mengerutkan dahinya sambil berpikir keras.
"Kamu mau tau, Sep?" Aku bertanya dengan tatapan jahil.
"Iya, kasih tau aku. Apa sih kepanjangan dari Spotaker?" Usep makin penasaran dengan gelagatku.
Usep mengerutkan keningnya, bingung dengan jawaban konyol yang kuberikan. Dia mengikuti langkahku ke arah kantin sambil memikirkan apakah jawabanku itu serius atau hanya lelucon belaka.
"Apaan sih Imas, kamu nggak serius kan?" Usep menggertakkan giginya, tetapi terlihat bahwa dia sendiri juga menahan senyum.
"Aku hanya bercanda, Sep. Sebenarnya Spotaker itu singkatan dari 'Sports and Arts Maker'. Spotaker adalah komunitas di sekolah kita yang fokus pada kegiatan olahraga dan seni," jelasku sambil mencoba menenangkan Usep.
"Oh, begitu." Usep mengangguk mengerti. "Jadi, apa yang biasanya mereka lakukan?"
"Aktivitas Spotaker cukup beragam, Sep. Mereka sering mengadakan pertandingan olahraga antarkelas, seperti sepak bola, bola basket, atau bulu tangkis. Mereka juga mengorganisir acara seni, seperti pementasan drama, konser musik, atau pameran seni," aku menjelaskan.
"Wow, terdengar seru. Apakah kita bisa bergabung?" Usep bertanya dengan antusias.
__ADS_1
"Tentu saja! Spotaker terbuka untuk semua siswa yang tertarik dengan olahraga dan seni. Kita bisa berpartisipasi dalam kegiatan mereka, atau bahkan mengusulkan ide baru untuk acara-acara di sekolah," jawabku.
Usep tampak bersemangat mendengar itu. Dia memang memiliki bakat dalam seni musik dan suka bermain sepak bola. Bergabung dengan Spotaker akan memberinya kesempatan untuk mengeksplorasi minatnya dan bertemu dengan orang-orang sebanyak mungkin.
"Terima kasih sudah menjelaskan, Imas. Aku benar-benar ingin ikut Spotaker sekarang!" Usep berbicara dengan semangat yang menyenangkan.
"Ayo, kita langsung mendaftar setelah makan siang. Siapa tahu, kita bisa menjadi bagian dari tren baru di sekolah ini," kataku sambil menarik tangan Usep menuju kantin.
Kami berjalan bersama dengan senyum di wajah kami, bersemangat untuk menjelajahi dunia Spotaker yang baru. Meskipun awalnya aku hanya bercanda tentang kepanjangan Spotaker, namun kini kami berdua berharap dapat membuat pengaruh positif dan membangun koneksi baru di sekolah kami yang kami cintai.
"Tapi cabang olahraga mencari belut ada gak?" tiba-tiba Usep membuatku semakin ngakak.
Kami berdua terkekeh mendengar lelucon Usep tentang mencari belut di cabang olahraga. Meskipun terdengar konyol, itu membuat suasana semakin riang.
"Aku rasa kita harus mengusulkan cabang olahraga mencari belut ke Spotaker. Siapa tahu, itu bisa menjadi tren baru yang unik!" ujarku sambil terus tertawa.
Saat kami tiba di kantin, kami duduk di meja favorit kami dan memesan makanan. Sambil menunggu pesanan datang, kami membicarakan rencana kami untuk mendaftar ke Spotaker. Usep yang bersemangat ingin mengungkapkan bakat musiknya, sementara aku berharap dapat menemukan kesempatan untuk mengeksplorasi minat dalam seni dan desain.
Setelah selesai makan, kami bergegas ke ruang klub di sekolah kami di mana pendaftaran Spotaker sedang berlangsung. Ruangan itu ramai dengan siswa yang antusias, semua ingin menjadi bagian dari komunitas Spotaker yang menarik.
Kami menemui panitia pendaftaran dan mengisi formulir yang dibutuhkan. Kami juga memberikan sedikit informasi tentang minat dan bakat kami dalam musik dan seni. Kami berharap hal itu akan membantu mereka menempatkan kami dalam kelompok yang tepat.
Setelah selesai mendaftar, kami bergabung dengan siswa-siswa lain yang telah menjadi anggota Spotaker. Ada banyak kegiatan yang sedang berlangsung, mulai dari sesi musik, kelas tari, hingga pertemuan kelompok seni rupa. Kami merasa antusias melihat kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan ini dan bertemu dengan orang-orang baru yang memiliki minat yang sama.
Hari itu, kami pulang dengan semangat dan kegembiraan yang tinggi. Kami berdua berharap dapat memberikan pengaruh positif dan membangun koneksi baru di sekolah kami melalui keanggotaan kami di Spotaker.
__ADS_1