Imas Hatori

Imas Hatori
Melebarkan sayap bisnis


__ADS_3

Aku begitu sibuk dengan orderan belut on-line ku. Bahkan, aku sampai kewalahan mengatur jadwal sekolah dan bisnis. Hal ini membuat ibu semakin khawatir dengan keadaanku.


"Imas, sudah waktunya kamu untuk merekrut pegawai untuk membackup bisnismu." Ibuku berkata dengan wajah penuh rasa kasian kepadaku.


"Iya, Ibu. Aku juga mulai kewalahan dengan orderan yang membludak ini." Ujarku sedikit mengeluh kepada Ibu.


Ibu pun mengangguk mengerti sambil meletakkan tangannya di atas pundakku. "Kamu melakukan pekerjaan yang hebat, Imas. Tapi kamu perlu mengenali batas kemampuanmu dan memprioritaskan kesehatanmu serta pendidikanmu."


Aku menyadari bahwa ibu benar. Aku tidak bisa terus-menerus mengabaikan kewajiban sekolahku dan mengorbankan kesehatan hanya untuk bisnis belut online ini. Aku perlu melakukan langkah-langkah untuk mengatasi situasi ini.


"Baik, Ibu. Aku akan mulai mencari pegawai yang dapat membantu mengelola bisnis ini," ujarku dengan tekad. "Aku juga akan mengatur jadwal dengan lebih baik, memberi waktu yang cukup untuk sekolah dan waktu istirahat."


Ibu tersenyum lega mendengar perkataanku. "Itu keputusan yang bijaksana, Imas. Kamu harus menjaga keseimbangan antara tanggung jawab sekolah dan bisnis. Jangan ragu untuk meminta bantuan jika kamu membutuhkannya."


Aku merasa lega mendengar dukungan dan pengertian dari ibu. Dalam beberapa hari berikutnya, aku memulai proses rekrutmen pegawai untuk bisnisku. Aku meminta bantuan teman-teman dan mengiklankan lowongan pekerjaan tersebut.


Sementara itu, aku juga membuat jadwal yang lebih teratur. Aku menetapkan jam kerja untuk diriku sendiri dan memastikan memiliki waktu yang cukup untuk belajar dan istirahat. Aku menyadari bahwa menjaga keseimbangan adalah kunci untuk tetap produktif dan sehat.


Sekian lama mencari pegawai, ternyata aku kesulitan menemukan karyawan yang sesuai dengan kriteria yang aku mau. Usep melihatku dengan rasa ingin membantu.


"Bukannya kemarin kamu punya pegawai, Imas?" Usep bertanya dengan nada kebingungan.


"Cuma tetangga yang lagi nganggur aja, Usep. Mereka sekarang sudah punya pekerjaan, jadi mereka sudah gak bisa bantuin aku lagi." Ujarku menjelaskan inti dari permasalahannya.

__ADS_1


"Aku mengerti, Imas," Usep menjawab sambil mengangguk. "Tapi kamu masih bisa mencari pegawai baru, bukan? Mungkin ada orang lain yang tertarik untuk bekerja di bisnismu."


Aku menggelengkan kepala dengan sedikit kekecewaan. "Sudah kucoba mencari, Usep. Tapi sepertinya sulit menemukan orang yang cocok dan mau bekerja di sini. Bisnisku masih kecil, dan banyak orang lebih memilih pekerjaan dengan gaji tetap dan manfaat lainnya."


Usep berpikir sejenak, lalu dia memberi saran, "Bagaimana kalau kamu mencari alternatif lain, Imas? Misalnya, menggunakan teknologi untuk membantu mengelola bisnismu. Apakah ada sistem atau aplikasi yang bisa membantu otomatisasi beberapa tugas?"


Aku mengangguk mempertimbangkan saran Usep. "Mungkin itu ide yang baik, Usep. Aku akan mencari tahu tentang sistem atau aplikasi yang dapat membantu mengelola bisnis belutku. Mungkin dengan bantuan teknologi, aku bisa mengurangi beban kerja yang aku tanggung sendiri."


Setelah percakapan dengan Usep, aku memulai riset tentang sistem atau aplikasi yang bisa membantu otomatisasi bisnisku. Aku menemukan beberapa solusi, seperti sistem manajemen pesanan online, aplikasi pengaturan jadwal, dan alat pelacakan inventaris.


Aku mulai mengimplementasikan beberapa solusi tersebut dalam bisnisku. Sistem manajemen pesanan online membantu mengatur dan memantau pesanan dengan lebih efisien. Aplikasi pengaturan jadwal membantu menetapkan jadwal kerja karyawan dengan mudah dan menghindari bentroknya dengan jadwal sekolahku. Alat pelacakan inventaris membantu mengelola persediaan belut dan memastikan ketersediaan stok yang tepat.


Dengan adanya solusi teknologi ini, aku merasa lebih terorganisir dan dapat menghemat waktu dalam menjalankan bisnisku. Meskipun aku masih bekerja keras, beban kerjaku berkurang dan aku dapat lebih fokus pada pendidikanku.


Disaat keputus-asaan melanda, tiba-tiba Ujang datang kerumahku. Dia datang menggunakan celana pendek seperti habis bermain sepakbola.


"Iya, Ujang. Kenapa memangnya?" Tanyaku agak penasaran.


"Mungkin sepupuku bisa membantumu, dia kebetulan baru lulus sekolah tapi belum punya kerja sampai sekarang." Ujang menjawab dan memberikan penawaran kepadaku.


Aku mengangguk berterima kasih kepada Ujang atas penawarannya. "Terima kasih banyak, Ujang. Aku sangat menghargainya. Bisakah kamu memperkenalkanku pada sepupumu?"


Ujang tersenyum. "Tentu saja! Ayo, dia sedang menunggu di warung. Aku akan mengantarmu ke sana."

__ADS_1


Kami berjalan ke luar dan menuju warung yang dimaksud. Di depan warung, Ujang memperkenalkanku pada sepupunya yang bernama Rizki. Rizki terlihat ceria dan siap membantu.


"Jadi kamu butuh bantuan di bisnismu, Imas?" tanya Rizki.


Aku mengangguk. "Iya, Rizki. Aku membutuhkan bantuan untuk mengatur dan mengelola bisnis belut onlineku. Aku kewalahan dengan tugas-tugas yang semakin banyak, dan aku butuh seseorang yang dapat bekerja sama dengan baik dan bertanggung jawab."


Rizki mengangguk paham. "Aku baru lulus sekolah dan belum punya pengalaman kerja, tapi aku siap belajar dan memberikan yang terbaik. Aku juga tertarik dengan dunia bisnis, jadi ini kesempatan bagus untukku."


Aku tersenyum. "Bagus sekali, Rizki! Aku senang mendengarnya. Ayo, mari kita bicarakan detailnya, termasuk tugas dan jadwal kerja. Kita juga perlu membuat kesepakatan mengenai gaji dan hal-hal lainnya."


Kami berbicara dengan serius dan memastikan semua hal terkait pekerjaan dijelaskan dengan jelas. Setelah mencapai kesepakatan, aku merasa lega dan bersemangat memiliki Rizki sebagai pegawai baru.


Setelah beberapa hari, Rizki mulai bekerja di bisnisku. Dia menunjukkan dedikasi dan keinginan untuk belajar. Kami bekerja sama untuk mengatur jadwal kerja yang memadai, membagi tugas dengan baik, dan saling mendukung dalam menjalankan operasional bisnis.


Dengan bantuan Rizki, bisnisku semakin lancar dan berkembang. Aku tidak lagi merasa kewalahan mengatur semuanya sendirian. Kami terus berkomunikasi dan memberikan umpan balik satu sama lain untuk meningkatkan efisiensi bisnis.


Tidak hanya itu, Rizki juga membawa semangat baru dan ide-ide segar ke dalam bisnisku. Kami berdiskusi tentang strategi pemasaran, inovasi produk, dan pengembangan usaha di masa depan. Keberadaannya membantu merelaksasi ibu yang selalu khawatir tentang keadaanku.


"Alhamdulillah, Imas. Bisnis kamu semakin maju dan berkembang. Aku yakin beberapa waktu kedepan, kamu akan segera memahami bagaimana cara mengirim jualanmu ke luar negeri dan bagaimana sebaiknya menjadi eksportir belut pertama." Ujar Usep memberikan opininya.


"Wahh... Aku belum berpikir jauh kearah sana, Usep." Ujarku sambil tersipu malu.


"Aku sendiri malu melihat diriku. Sebagai laki-laki, aku belum bisa sukses didalam bidang usaha. Aku salut sama kamu, Imas." Usep kembali memberikan pujian kepadaku, dan hal itu benar-benar membuat aku semakin malu dan canggung.

__ADS_1


"Aku harus berterima kasih kepada Ujang, dia sudah membantuku mencarikan pegawai untuk membackup semuanya selama aku sekolah." Aku bicara dengan nada terharu.


"Siapapun itu, kamu sudah berjasa mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia, Imas. Aku salut dan bangga punya pacar seperti kamu." Usep meraih tanganku dan hal itu membuat jantungku berdetak kencang.


__ADS_2