Imas Hatori

Imas Hatori
Tony mulai bertingkah


__ADS_3

"Usep.. Useeeepp!" Aku berlari mengejar Usep yang terlihat sangat kecewa mendengar jawabanku.


Usep menghentikan langkahnya lalu membalikan badannya, kemudian dia berkata, "Apalagi, Imas?" wajahnya terlihat begitu lesu.


"Aku kan belum jawab, kenapa Usep langsung pergi?" aku bertanya dengan wajah ditekuk dan merasa bersalah.


Usep menatapku dengan mata penuh kekecewaan. "Imas, aku sudah berusaha memberikan yang terbaik untukmu. Aku sudah memberikan segala waktu dan perhatianku, tetapi kau selalu ragu. Aku merasa tidak dihargai," ujarnya dengan suara yang penuh emosi.


Aku menelan ludahku, merasa sedih melihat keadaan Usep yang begitu terpukul. "Usep, maafkan aku. Aku tidak bermaksud meragukan perasaanmu atau mengabaikan apa yang kau berikan padaku. Hanya saja, ada banyak hal yang membuatku bingung dan takut untuk melangkah lebih jauh."


Usep menghela nafas panjang, kemudian duduk di sebuah bangku di taman tempat kami berbicara. "Imas, aku mengerti bahwa kau punya keraguan dan ketakutan. Itu wajar, dan aku tidak bisa memaksamu untuk merasakan hal yang sama sepertiku. Tapi aku juga butuh kepastian, butuh tanda bahwa kau juga merespon rasa ini."


Aku duduk di sebelah Usep, menatap mata cokelatnya yang masih penuh rasa sakit. "Usep, jujur, aku tidak ingin kehilanganmu. Aku menyayangimu, tapi aku takut terluka atau membuatmu terluka. Tapi sekarang aku sadar, tanpa adanya risiko, kita tidak akan bisa tumbuh bersama."


Usep menatapku dengan harapan di matanya. "Apakah itu berarti kau mau menjadi pacarku sekarang, Imas?"


Aku mengangguk pelan. "Ya, Usep. Aku siap untuk mengambil risiko ini bersamamu. Aku tidak ingin mengecewakanmu."


Wajah Usep mulai tersenyum. "Terima kasih, Imas. Aku harap ini bukan prank."


"Apaan sih, Usep." Jawabku malu-malu.


Resmi sudah hubungan kami hari ini, di sekolah Spotaker jam istirahat tepatnya di bangku kantin paling pojok.


Pulang sekolah, Usep mengantarku pulang menggunakan sepeda motornya. Namun, ditengah jalan kami dikejutkan dengan kemunculan Tony.


Tony, dengan wajah yang dipenuhi kemarahan, berdiri di tengah jalan menghalangi Usep dan Imas yang hendak pulang.

__ADS_1


"Kamu bener-bener merasa tidak bersalah, Imas," Tony berkata dengan nada tajam, tatapan matanya menatap tajam ke arah Imas.


Usep, yang masih mengenal Tony, terkejut dengan kehadirannya. Meskipun demikian, dia mencoba untuk tetap tenang. "Tony, apa yang kamu lakukan di sini? Biarkan kami melewati."


Tony tertawa sinis. "Jadi kamu pikir kamu bisa mengambil Imas dariku begitu saja? Kamu benar-benar berpikir terlalu tinggi tentang dirimu sendiri, Usep."


Imas merasa terganggu dengan kehadiran Tony dan mencoba meredakan situasi. "Tony, tidak perlu ada konflik di sini. Kami hanya ingin pulang. Tolong biarkan kami melewati."


Namun, Tony tidak merespon dengan baik. Dia terus memprovokasi Usep, mencoba membangkitkan amarahnya. "Lihatlah dia, Imas. Kamu benar-benar memilih orang ini? Dia hanya sebuah omong kosong."


Usep mencoba tetap tenang, tetapi rasa marah mulai memuncak. "Tony, aku tidak ingin bertengkar denganmu. Tetapi jangan menghina hubungan kami. Ini adalah pilihan Imas dan aku akan melindunginya."


Tiba-tiba, Tony melangkah mendekat dan mendorong Usep dengan keras, mencoba memicu pertikaian. Usep terhuyung beberapa langkah mundur, tetapi dia menahan diri untuk tidak melakukan serangan balik.


Imas yang melihat insiden tersebut, merasa marah dan tak terima. Dia tidak bisa membiarkan Tony semena-mena terhadap Usep. Dengan langkah mantap, dia maju ke depan dan menegur Tony dengan tegas. "Tony, berhentilah! Kamu tidak bisa mengganggu kami seperti ini. Biarkan kami pergi."


Tony, melihat bahwa Imas mendukung Usep, merasa semakin terpojok. Namun, dia tidak ingin menyerah begitu saja. Dengan ekspresi marah, dia berteriak pada Imas, "Kau akan menyesal, Imas! Kalian berdua tidak akan bahagia bersama! Aku akan membuat kalian menyesal!"


Dengan penuh keberanian, Imas dan Usep melewati Tony yang masih berdiri di tengah jalan. Mereka berjalan menjauh, memilih untuk tidak membiarkan Tony mengganggu kedamaian mereka.


Ketika sampai di depan rumah Imas, Usep berhenti sejenak. Dia memandang Imas dengan penuh cinta dan kelegaan. "Imas, aku sangat bahagia bahwa kita bisa melalui momen ini bersama. Aku berjanji akan selalu ada untukmu dan mencintaimu dengan sepenuh hati."


Imas tersenyum dan merasakan hangatnya kebahagiaan di hatinya. "Aku juga sangat bahagia, Usep. Aku berjanji akan memberikan yang terbaik untuk hubungan kita dan tidak akan mengecewakanmu."


Usep menggenggam tangan Imas dengan lembut. "Ayo, masuklah ke rumahmu. Aku ingin memastikan bahwa kamu aman."


Dalam perjalanan pulang, Usep merasa semangat setelah mengantarkan Imas ke rumahnya. Dia menaiki sepeda motornya dengan senyum di wajahnya, tidak menyadari bahwa sebuah bahaya sedang mengintai di depannya.

__ADS_1


Tiba-tiba, ketika Usep melewati sebuah gang sempit, dia dihadang oleh Tony yang berdiri di tengah jalan. Usep terkejut melihat Tony dan mengetahui bahwa dia tidak sendirian. Puluhan teman geng Tony tersebar di sekitarnya, memperlihatkan ekspresi kasar dan penuh kebencian.


"Usep, Usep... Jadi kau pikir kau bisa merebut Imas dariku?" Tony berkata dengan nada yang penuh ancaman.


Usep mencoba untuk tetap tenang meskipun hatinya berdebar-debar. "Tony, ini bukan cara yang baik untuk menyelesaikan masalah. Biarlah Imas membuat pilihannya sendiri."


Tony tertawa sinis dan melangkah mendekati Usep dengan langkah mantap. "Pilihannya? Kau pikir dia akan memilihmu? Kita berdua hanyalah mainan baginya. Tapi kali ini, aku akan memastikan kau menghilang dari hidupnya."


Para anggota geng Tony mulai mendekat dan mengepung Usep. Mereka menunjukkan sikap yang mengancam dan siap untuk menggunakan kekerasan.


Usep mengambil napas dalam-dalam, mencoba untuk tetap tenang di tengah keadaan yang mencekam ini. Dia tahu dia harus bertindak dengan bijak dan menghindari konfrontasi fisik yang bisa melukai semua pihak.


"Dengarkan, Tony. Aku tidak ingin ada pertumpahan darah di antara kita. Biarkan Imas membuat keputusannya sendiri. Jika dia memilihmu, aku akan merelakannya. Tapi jika dia memilihku, kamu harus menghormati keputusannya."


Tony menggeramkan giginya, jelas tidak senang dengan kata-kata Usep. "Kamu sangat percaya diri, huh? Tapi aku akan membuatmu menyesal telah mengganggu hidupku."


Tanpa memberi kesempatan Usep untuk menjawab, Tony memberi isyarat pada teman-temannya untuk menyerang. Mereka melontarkan ancaman dan mulai bergerak mendekati Usep dengan niat yang jelas untuk melampiaskan kemarahan mereka.


Namun, sebelum mereka bisa menyentuh Usep, Imas muncul tiba-tiba di tengah kerumunan. Dia berdiri di antara Usep dan para geng Tony dengan sikap tegar.


"Stop!" serunya dengan suara yang tegas. "Kalian tidak bisa memaksakan kehendak kalian kepada kami. Usep dan aku telah membuat keputusan kami, dan kalian harus menghormati itu."


Tony menatap Imas dengan campuran perasaan kesal dan kecewa. "Imas, mengapa kau memihaknya? Aku telah berusaha untukmu. Kenapa kau memilihnya?"


Imas menjawab dengan penuh kepastian, "Aku memilih Usep karena dia mencintai dan menghormatiku dengan


tulus. Aku tidak bisa mengabaikan perasaan itu. Kalian harus menerima keputusanku dan berhenti mengancamnya."

__ADS_1


Perlahan tapi pasti, suasana mulai tenang. Para anggota geng Tony menyadari bahwa Imas berbicara dengan tekad yang kuat, dan mereka tahu bahwa mereka tidak bisa melawan keputusan Imas.


Tony menggelengkan kepalanya dengan rasa frustasi. "Baiklah, aku akan menghormati keputusanmu, Imas. Tapi jangan harap aku akan berhenti berusaha untukmu."


__ADS_2