Imas Hatori

Imas Hatori
Kejutan itu datang


__ADS_3

Aku merasa ngeri dan terkejut saat semprotan cat tiba-tiba mengenai tubuhku. Wajahku terasa panas, tidak hanya karena cat yang mengotori tubuhku, tetapi juga karena rasa malu dan kesedihan yang meluap.


Ridwan dan teman-temannya terkekeh dengan riang, seolah-olah mereka merasa senang melihatku dalam keadaan seperti ini. Aku merasa diriku terhina dan dihina di depan semua orang yang berada di sekitar kami.


Laura segera melindungi diriku dengan berdiri di hadapanku, mencoba menghentikan mereka. "Apa yang kalian lakukan?! Ini adalah perilaku yang sangat tidak pantas dan kejam!"


Ridwan tertawa dengan keras, "Oh, lihatlah Imas sekarang! Bagaimana perasaanmu sekarang, Imas? Ingin meminta tolong pada pacarmu di Indonesia?"


Aku merasa marah, kesal, dan sedih. Tapi aku juga merasa didukung oleh Laura yang berada di sisiku. Aku menatap Ridwan dengan tegas dan mengucapkan, "Ridwan, perilaku seperti ini sangat tidak manusiawi dan tidak akan pernah dibenarkan. Kamu harus bertanggung jawab atas tindakanmu."


Laura mengambil langkah maju dan mengambil ponselnya untuk merekam situasi ini sebagai bukti. "Kalian berdua akan menghadapi konsekuensi dari tindakan kalian. Kami akan melaporkan ini kepada pihak berwenang kampus dan memastikan bahwa kalian tidak bisa sembarangan merusak martabat dan kenyamanan orang lain."


Ridwan tampak sedikit terkejut dengan ketegasan kami, tetapi kemudian ia mencoba meremehkan kami lagi. "Kalian pikir laporan itu akan berarti apa-apa? Kami memiliki teman-teman di sini. Siapa yang akan mempercayai cerita kalian?"


Aku memandang Ridwan dengan penuh tekad. "Kamu mungkin memiliki teman-temanmu di sini, tapi kami juga memiliki teman-teman yang akan mendukung kami dalam mencari keadilan. Tindakanmu tidak akan terlewat begitu saja."


Laura menganggukkan kepala, "Kami tidak akan membiarkan kamu melarikan diri dari konsekuensi atas tindakanmu. Kalian harus belajar menghormati orang lain dan berhenti melakukan intimidasi dan pelecehan."


Kami berdua segera meninggalkan tempat itu dengan langkah tegap, berusaha menenangkan diri kami dan mengumpulkan bukti-bukti untuk melaporkan tindakan tidak pantas Ridwan dan teman-temannya kepada pihak berwenang kampus.


Setelah meninggalkan tempat kejadian, aku dan Laura merasa perlu untuk menenangkan diri dan mengumpulkan bukti-bukti yang cukup kuat untuk melaporkan tindakan tidak pantas Ridwan dan teman-temannya kepada pihak berwenang kampus. Kami berdua merasa bahwa ini bukan hanya masalah pribadi, tetapi juga tentang menjaga keamanan dan martabat semua mahasiswa di kampus.


Kami menuju ke kantor administrasi kampus untuk mencari bantuan. Di sana, kami bertemu dengan Nyonya Linda, seorang staf administrasi yang terkenal karena kepeduliannya terhadap keadilan dan kesejahteraan mahasiswa. Kami menceritakan kejadian yang baru saja terjadi, dengan memberikan detail tentang tindakan semprotan cat yang dilakukan oleh Ridwan dan teman-temannya, serta perilaku mereka yang melecehkan dan mengintimidasi.


Nyonya Linda mendengarkan dengan serius, menunjukkan rasa empati dan kekhawatirannya terhadap situasi tersebut. Dia memastikan kami bahwa pihak berwenang kampus akan mengambil tindakan yang tepat dan memberikan keadilan kepada semua pihak yang terlibat. Dia juga memberi tahu kami bahwa kampus memiliki kebijakan yang melarang pelecehan dan intimidasi, dan tindakan semacam ini akan ditindak tegas.


"Baiklah, Imas. Kami akan memanggil Ridwan dan teman-temannya untuk mengkonfirmasi semua tindakannya." Ujar Nyonya Linda sambil memberikan aku tisu karena aku menangis saat itu.

__ADS_1


Aku yang sudah tidak kuat dengan perlakuan Ridwan segera memberitahu keadaanku disini kepada Usep. "Usep, aku mendapat perlakuan kurang mengenakan disini."


"Perlakuan bagaimana, Imas?" Usep terdengar marah ditelepon.


"Ada orang yang mengejar-ngejarku dan melakukan teror karena aku menolak cintanya." Jawabku sambil menangis.


Usep terdiam sejenak, lalu dia memberikan saran kepadaku. "Laporkan kepada pihak kampus!" Setelah itu Usep tiba-tiba menutup teleponnya.


Aku merasa sedikit kecewa dengan sikap Usep yang terkesan cuek dan kurang peduli terhadap masalahku.


Nyonya Linda memberikan kami formulir laporan insiden dan meminta kami untuk mengisi detail kejadian dengan sejelas mungkin. Aku dan Laura duduk bersama di ruang tunggu, saling memberi dukungan dan mencoba mengatasi perasaan cemas yang masih melingkupi kami.


Setelah selesai mengisi formulir, kami menyerahkan laporan tersebut kepada Nyonya Linda. Dia memberi tahu kami bahwa pihak kampus akan segera memanggil Ridwan dan teman-temannya untuk melakukan pendalaman lebih lanjut. Kami merasa lega mendengar bahwa tindakan mereka tidak akan diabaikan.


Beberapa hari kemudian, kami dipanggil untuk menghadiri pertemuan dengan panitia etika kampus. Ridwan dan teman-temannya juga hadir, dengan sikap yang agak tegang. Panitia etika telah melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan.


Pada pertemuan tersebut, aku dan Laura memberikan keterangan lengkap tentang kejadian yang terjadi. Kami menyampaikan rasa takut, malu, dan ketidaknyamanan yang kami rasakan akibat perilaku Ridwan dan teman-temannya. Kami menunjukkan bukti-bukti yang kami kumpulkan, termasuk rekaman video yang diambil oleh Laura.


Panitia etika melihat dengan jelas bahwa tindakan Ridwan dan teman-temannya melanggar aturan kampus dan melanggar martabat kami sebagai mahasiswa. Mereka menyimpulkan bahwa Ridwan dan teman-temannya bersalah atas perilaku mereka yang melecehkan dan mengintimidasi.


Sebagai konsekuensi dari tindakan mereka, panitia etika memberikan sanksi kepada Ridwan dan teman-temannya. Sanksi tersebut termasuk pembatasan kegiatan kampus, peringatan resmi, dan kewajiban untuk mengikuti program rehabilitasi yang mengajarkan tentang etika dan penghormatan terhadap sesama.


Ridwan dan teman-temannya memandang sinis kepadaku. Dia memberikan isyarat kepadaku menandakan ancaman. Aku semakin takut dengan sikap Ridwan tersebut. Bagiku itu terlihat seperti psycho.


Keesokan harinya, disaat aku baru saja bangun tidur. Pintu kamarku diketuk seseorang dari luar. Aku terkejut dan ketakutan, karena dibenakku itu pasti Ridwan yang akan melakukan tindakan teror lanjutan.


Perlahan aku membuka pintu dan alangkah terkejutnya aku ketika melihat sosok yang berdiri tepat didepan pintu.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja?" Usep secara mengejutkan sudah berada tepat didepan pintu.


"Kamu.... kamu.... kenapa kamu bisa ada disini, Usep?" Tanyaku sambil terkejut bercampur rasa tidak percaya.


"Ya, aku langsung berangkat ke Australia setelah mendengar pacarku dianiaya oleh orang lain, apalagi cowok." Ujarnya terlihat begitu marah dimatanya.


Aku merasa ketenangan yang sangat dalam muncul disaat aku melihat sosok Usep hadir disisiku. Tapi, aku juga penasaran dengan apa yang akan Usep lakukan kepada Ridwan nanti.


Setelah beberapa saat terkejut dan terharu dengan kehadiran Usep, aku menjawab, "Aku tidak bisa berkata-kata, Usep. Aku sangat senang kau datang ke sini."


Usep tersenyum dan memelukku erat. "Aku tidak bisa membiarkanmu berurusan dengan masalah ini sendirian, Imas. Aku di sini untuk mendukungmu dan melindungimu."


Kami berdua duduk di ruang tamu, sambil aku menceritakan detail kejadian-kejadian terakhir yang terjadi. Usep mendengarkan dengan penuh perhatian, dan ketika aku selesai, dia menegaskan kepadaku, "Ridwan dan teman-temannya tidak boleh dibiarkan begitu saja. Mereka harus bertanggung jawab atas tindakan mereka."


Usep kemudian bertanya kepadaku tentang kebiasaan Ridwan dan tempat biasanya Ridwan hangout. "Tolong beritahu aku, dimana Ridwan biasa berkumpul bersama teman-temannya?"


"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanyaku penuh ketakutan. Aku takut karena Usep akan berbuat nekat jika tau aku tersakiti.


"Mengajaknya berolahraga!" Jawab Usep dan kali ini dia terlihat santai sambil meninju angin.


Meskipun aku khawatir dengan reaksi Usep, aku juga tahu bahwa dia ingin melindungiku dan menghadapi Ridwan dengan cara yang tidak melanggar hukum. Jadi aku memberitahu Usep tentang tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh Ridwan dan teman-temannya.


Kami berdua berjalan mencari-cari keberadaan Ridwan saat ini. Suasana terasa lebih mencekam karena dalam pandanganku semuanya terlihat begitu tegang.


Setiap sudut kampus kita susuri namun tidak terlihat Ridwan disana. Aku mengusulkan kepada Usep untuk mencarinya disekitar luar.


Setiap sudut kamu perhatikan dan mencoba mempertajam penglihatan kami dengan satu tujuan, yaitu mencari Ridwan.

__ADS_1


"Sebentar, Usep. Beri aku waktu 5 menit." Pintaku kepada Usep.


"Kamu kenapa, Imas?" Usep bertanya-tanya sambil menggaruk kepalanya.


__ADS_2